4 Ever

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengorbanan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 May 2017

Aku Salsa, lengkapnya salsabila devanda. Aku saat ini kuliah di salah satu universitas ternama di Bogor. Aku bukan asli berasal dari kota ini, aku berasal dari malang jawa timur. Sebuah keberuntungan bagiku, bisa menjadi mahasiswi berprestasi di kampus ini, sehingga aku tak perlu mengeluarkan sepeserpun untuk biaya kuliah. Kecuali kebutuhan kebutuhan pribadi, seperti foto copy dan yang lainnya.

Hari itu, aku ada kelas pagi, sehingga jam 5 pagi aku sudah bersiap mengeluarkan sepedaku dan mengelapnya hingga bersih. Sebelumnya, aku memang bukan dari keluarga yang sangat berada. Hingga bagiku menghemat uang dan memilih menggunakan sesuatu yang sederhana adalah suatu kewajiban.

“Hoooaamm.. Sudah mau berangkat sa?”
Tanya Nadira, salah satu sahabatku yang tiba-tiba nongol di depan pintu kontrakan. Aku, Nadira, Stevi, dan Lika adalah sahabat dari kecil. Kami nggak pernah terpisah, kecuali waktu smk, karena kami nggak berhasil masuk di sekolah yang sama.
Hingga kami pun berusaha sangat ekstra, supaya saat kuliah kami nggak terpisah, ya meski saat ini kami tidak satu universitas, setidaknya kami bisa tinggal di kota dan bahkan rumah yang sama.
“Eh kamu nad, udah bangun! Iya nih, ada kuliah pagi. Sory ya, aku nggak sempat bikinin sarapan buat kalian. Ya tau sendiri hari ini jadwalnya dosen killer itu.”
“Haha… iya nggak papa santai aja lagi. Aku kan juga bisa masak. Dosen killer kesayangan kamu ya?” Godanya.
“Ah kamu, Nad. Sudah aku berangkat dulu ya, sampaikan ke stevi sama lika kalo aku berangkat pagi.”
“Siap, nona.” Dengan gaya centilnya nadira mengangkat tangannya dan hormat seperti saat upacara bendera. Kami pun berpelukan dan aku segera bersiap meluncur dengan sepeda kesayanganku. Kulambaikan tanganku kepada Nadira.
“Assalamu’alaikum.” Teriakku sembari melambaikan tangan.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati ndok.” Teriaknya dengan panggilan kesayangannya kepadaku. Di antara kita berempat memang akulah yang paling muda. Dan Nadira adalah yang paling tua. Jadi tak heran jika sering kali dia adalah yang paling cerewet ke kita.

Terus kukayuh sepedaku dengan kecepatan pelan. Karena untuk sampai ke kampus aku hanya memerlukan waktu 30 menit. Kelas akan dimulai pukul 6.30 dan sekarang masih pukul 5.00
Aku sengaja berangkat lebih pagi jika ada kelas pagi seperti sekarang. Tujuanku sih, biar aku bisa nikmatin udara segar sebelum warga di sini banyak aktifitas dan udara tak lagi segar.

Saat perjalanan ke kampus, tiba-tiba ada seseorang yang menghadangku. Pak Vito. Dosen muda yang killernya melebihi dosen yang sudah bergelar ssss. Tapi ku akui dia memang sangat pandai dalam hal memberi materi. Kuhentikan sepedaku dan berusaha menyapanya dengan senyumku yang terpaksa.
“Pagi pak!”
“Jangan panggil pak kalo lagi di luar kampus. Memangnya gue terlihat tua apa?”
“Lantas?” Sahutku dengan muka kesal.
“Panggil saja Vito.”
“Emmm… i..iya.. ada apa Vit?”
“Ini kan baru jam 5. Kelas akan di mulai jam 6.30. Kenapa kamu sudah berangkat sepetang ini.”
Kutatap sinis wajah dosen killer itu.
“Berani beraninya dia menghadangku hanya untuk tanya tentang hal yang bukan menjadi urusan dia. Mentang mentang dia dosen apa?” Pikirku.
“Ya suka-suka dong pak. Eh, Vit.”
“Oo.. Begitu. Ya sudah terserah kamu. Gue cuma mau ngasi tau kalo hari ini kelas gue batalin. Karena gue harus ikut seminar di Surabaya selama beberapa hari.” Katanya dengan nada nyinyir.
Aku merasa geram, kenapa dia tidak memberi tau melalui pesan singkat di whatsapp atau bbm.
Dan parahnya nggak satu pun temen kelasku yang ngasih tau tentang ini.
Aku langsung memutar arah sepedaku dan kukayuh sangat kencang menuju kontrakan. Tak lagi kuhiraukan dosen killer itu. Dan langsung kutinggalkan dia.

“Assalamu’alaikum.” Dengan muka yang kusut kuseka keringatku dengan ujung jilbab abu abu yang kukenakan.
“Wa’alaikumsalam. Loh kok kamu pulang sa? Nadira bilang kamu ada kelas pagi.” Tanya Stevi sembari sibuk dengan handuk di kepalanya.
“Tau tuh! Dasar dosen rese’, nyebelin, njengkelin.” Gerutuku.
Stevi malah nyengir melihat tingkahku.
“Kenapa sih?” Tanyanya dengan nada geli.
“Abisnya, dia kan bisa bilang lewat hp kalo hari ini nggak jadi ada kelas. Kenapa musti nunggu aku berangkat baru bilang di jalan.”
“Sudahlah ndok, kan hitung-hitung olahraga.”
“Iya sih. Ya udahlah aku masak dulu. Kamu kuliah pagi juga vi?”
“Enggak, aku libur hari ini.”
“Nah, tumben libur libur udah mandi jam segini. Biasanya juga masi molor.”
“Hehe.. Kamu sa, jadi malu aku. Iya Rendra ngajakin aku keluar.”
“Hmmmm… enaknya yang mau kencan. Aku kapan?” Sungutku.
“Kenapa nggak jalan aja sama dosen killer kesayangan kamu itu?” Goda stevi.
“Apaan sih. Udah ah aku mau masak.”
“Ya sudah gih.” Stevi masi tertawa kecil melihat tingkahku.
Akupun berjalan menuju kamar, kulempar tasku dari luar pintu kamar.
“Awww..” Teriak seseorang dari dalam kamar. Aku segera melihatnya.
“Lika. Sory sory, aku lupa kalo kamu tidur di kamarku semalam.” Aku tertawa kecil lalu memeluk sahabatku itu.
“Kamu ini, suka seenaknya deh, sakit tau.” Manjanya.
“Maaflah.” Kucium pipinya dan kupeluk erat sahabatku yang manja itu.
“Kamu nggak kuliah ndok?”
“Nggak jadi.”
“Loh kenapa?”
“Udah nggak usah di bahas. Mau nemenin masak nggak?”
“Boleh. Tapi aku cuci muka dulu ya.”
“Yaudah. Aku tunggu di dapur ya.”
“Siap.”
Aku pun berjalan menuju dapur.

“Loh ndok! Kok pulang lagi?” Tanya Nadira yang berpapasan denganku di depan kamarnya.
“Iya nggak jadi kuliahnya.”
“Kenapa?”
Tak kuhiraukan pertanyaan nadira dan aku pun menuju dapur.
“DiPHPin dosen killer ganteng tuh.” Sahut stevi.
“Apaan sih. Berangkat sana.” Sungutku.
“Ciyee..marah di PHPin sama dosennya.” Goda Nadira.
“Nadiiira..” Rengekku.
“Iya deh iya enggak. Kamu mau masak ndok. Masak apa?”
“Tau nih di kulkas ada apa?”
“Masi banyak kok, sayur juga masi lengkap. Aku pengen makan sayur bayam sama pepes buatanmu nih ndok.”
“Ya sudah aku masak itu aja ya.”
“Iya ndok, aku juga pengen.” Sahut stevi.
“Oke bos.”

Tiba-tiba terdengar benda jatuh dari dalam kamar mandi kamarku.
“Apa tuh?” Tanya Nadira.
“Lika? Lika di kamar mandiku.”
Kamipun segera berlari menuju kamar mandi di kamarku. Kami dapati Lika terbaring lemah di kamar mandi. Dengan sekuat tenaga kami bertiga berusaha mengangkat Lika ke kamarku.
“Lik.. lika.. Bangun.” Aku berusaha membuatnya terbangun.
“Kenapa Lika Sa?” Tanya Stevi kepadaku sembari menitikkan air matanya.
“Udah! Bukan saatnya kita nangis. Vi kamu ambil mobil di garasi. Kita bawa lika ke rumah sakit.”
Kamipun membawa Lika ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit dokter segera memeriksa Lika. Beberapa waktu kemudian dokter keluar dari UGD.
“Keluarga nona Lika?”
“Iya kami dok.” Jawab Nadira.
“Bisa ikut saya ke ruangan?”
“Baik dok.” Jawabku.
Kami pun menuju ruangan dokter.

“Begini, apakah sebelumnya nona Lika pernah mengeluh sakit pada perutnya?”
Kami saling bertatap muka.
“Pernah dok, tapi nggak sering.” Jawabku.
“Apa dia pernah pingsan sebelum ini?”
“Enggak dok.” Jawab Nadira
“Begini. Sepertinya ada masalah pada ginjal nona Lika. Ini kasus yang langka bila mendengar cerita kalian. Biasanya gejalanya sangat terlihat. Tetapi ini cukup mengejutkan, karena kerusakan pada ginjalnya sangatlah parah. Apa sebelumnya nona Lika pernah terjatuh atau mengalami pukulan pada perutnya?” Tanya dokter.
“Setau kami, Lika memang pernah terjatuh dok.” Jawab stevi.
“Jadi, apa yang harus dilakukan demi kesembuhan Lika dok?” Tanyaku tak kuasa menahan air mata.
“Satu-satunya cara ialah, ginjal Lika yang rusak harus di angkat dan kita harus mendapatkan donor ginjal untuk menggantinya.”
“Naaad..” Aku terisak memeluk nadira. Stevi pun memelukku. Diantara kami berempat, Lika adalah yang paling dekat denganku.
“Sudah ndok, kita harus cari donor ginjal buat Lika. Kamu jangan sedih lagi. Bagaimana jadinya kalo Lika tau kamu sedih ndok. Dia akan lebih sedih.” Nadira berusaha menenenangkanku.
“Dok, apa tindakannya harus kita ambil segera.” tanya stevi pada dokter
“Iya, jika memungkinkan hari ini. Karena keadaan Nona Lika sudah sangat kritis.”
“Kalau begitu cek saja ginjal saya dok. bila cocok maka langsung ambil dan lakukan tindakan.” Sahut Nadira.
“Saya juga dok.” Sahutku.
“Begitupun saya dok.” Sahut stevi.
“Sebelumnya kalian harus mengabari keluarga kalian, bila ada apa-apa supaya tidak terjadi kesalah pahaman.”
“Itu akan memakan waktu lama dok, keluarga kami ada di jawa timur.”
Cukup kami bertiga yang menjadi saksi.” jelasku.
“Baik jika begitu, mari kita lakukan pemeriksaan.”

Setelah pemeriksaan, ternyata yang cocok dengan ginjal Lika adalah Nadira.
“Naad.” Aku kembali terisak dan memeluk nadira.
“Semoga ini yang terbaik untuk Lika. Jika terjadi sesuatu padaku. Berjanjilah untuk tidak memberi tahu apa-apa pada Lika.”
“Ssssttt.. Nad, kamu dan Lika akan baik-baik saja.” sahut stevi.
“Iya, Nad. Kamu dan Lika pasti akan baik-baik saja.”
Wajah Nadira sayu. Dengan penuh keikhlasan dan kesiapan dia segera berganti pakaian rumah sakit untuk melakukan operasi bersama Lika.
“Ingat, jika ada apa-apa denganku. Kalian tidak boleh menceritakan apapun pada Lika. Dan kalian harus berjanji untuk selalu bersama. Aku sayang kalian.” Pesannya sebelum memasuki ruangan operasi.
“Nad kamu akan baik-baik saja. Percayalah.” Kugenggam erat tangan Nadira. Nadira pun berlalu memasuki ruang operasi.

Beberapa waktu kemudian dokter keluar dari ruang operasi.
“Syukurlah, operasi berjalan sangat baik. Keduanya selamat. 30 menit lagi mereka akan sadar dari bius.”
“Terima kasih dok.” Jawab kami serentak.

30 menit berlalu.
Nadira dan Lika sudah dipindahkan ke kamar rawat inap.
Perlahan, Lika membuka matanya.
“Stevi, Salsa. Aku di mana?” Tanyanya dengan nada lemah.
“Kamu di rumah sakit Lik.” Jawabku lirih.
“Nadira mana?” Tanyanya mencari Nadira.
Perlahan stevi membuka selambu pembatas antara Lika dan Nadira.
“Ada apa ini sebenarnya?” Tanya Lika kebingungan. Iapun menitikkan air matanya.
Aku dan Stevi berusaha menyembunyikan semuanya. Namun, Lika memaksa. Dan pada akhirnya kami terpaksa menceritakan semua kepada Lika. Lika pun tak kuasa menahan tangisnya. Dengan lamban ia turun dari tempat tidurnya dan hendak mendekati Nadira yang belum juga sadar pasca operasi.
“Kamu mau ke mana, Lik?” Tahanku
“Jangan menahanku menemui Nadira, ndok.”

Dengan terisak Lika memeluk Nadira yang masih terbaring lemah pasca Operasi.
“Nad.. apa yang kamu lakukan? Ini membahayakan dirimu sendiri. Kenapa kamu tidak membiarkanku saja yang sakit.” Ucapnya.
Aku dan stevi hanya bisa terisak memandang kedua sahabatku itu.
“Lika.” Nadira pun terbangun.
“Kenapa kamu lakukan ini Nad?” Tanya Lika.
Nadira menatap aku dan stevi.
“Maaf Nad. Lika memaksa kita untuk bercerita.” Kataku.
“Sudah. Tak perlu aku menjawab pertanyaanmu Lik. Yang penting sekarang kamu sudah sehat.” Jelasnya. “Ndok, lik, vi. Boleh aku minta sesuatu?”
“Apa, Nad?” Tanya Stevi.
“Bawa aku ke sebuah tempat Vi. Aku akan menunjukkan padamu jalannya.”
Kami bertiga saling bertatapan.
“Baiklah, aku akan izin kepada dokter.” Aku berlalu ke ruang dokter

Dokter pun mengizinkan, dan Nadira menunjukkan kami sebuah tempat.
Di tempat itu ada sebuah rumah pohon yang indah, dan di bawahnya terdapat ukiran bertuliskan ‘4ever’ sebutan grup persahabatan kami.
“Apa ini Nad?” Tanyaku sembari mendorong kursi Roda Nadira.
“Aku sudah menyiapkan tempat ini begitu lama. Rencananya aku akan memberi tahu kalian setelah kita wisuda nanti. Tapi sepertinya waktuku tak lama lagi. Di atas masi sangat kosong. Baru bagian luar yang rampung. Aku ingin kalian yang mengisi rumah pohon itu dengan hiasan hiasan. Dan jangan lupa letakkan barang-barang kesayanganku di sana. Jika kalian merindukanku. Datanglah kemari, kalian akan merasakan kehadiranku di sini.” Lanturnya.
“Apa yang kamu katakan Nad. Kamu akan baik-baik saja.” Jawabku.
“Iya Nad, kamu pasti baik-baik saja. Lihat kamu sudah berhasil membuat Lika terbangun.” Sahut stevi.
Lika beranjak dari kursi rodanya dan bersimpuh di depan Nadira.
“Nad, kamu sudah menyelamatkanku. Maka kamu juga akan baik-baik saja.” Lika memeluk erat Nadira. Aku dan Stevi pun ikut memeluknya.
Tiba-tiba kurasakan tubuh Nadira melemah.
Ia tak sadarkan diri.
Kami segera bergegas membawanya kembali ke rumah sakit. Dkkter pu langsung menanganinya.

“Maaf, sepertinya Nadira terlalu lemah untuk bertahan dengan 1 ginjal saja. Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin.” Jelas dokter.
“Enggak… nggak mungkin!!” Aku berlari memasuki ruang UGD
Stevi dan Lika pun menyusul.
“Nad… Nad bangun Nad…” aku menggoyang goyangkan tubuh Nadira. Berharap ia akan membuka matanya.
“Naaaad…! Jangan tinggalin kita.” Lika histeris memeluk erat tubuh Nadira yang sudah terbujur tak bernyawa.
“Lik, Sa. Ikhlaskan. Kasihan Nadira. Biarkan dia tenang. Ayo kita bawa dia pulang, dan kita kabari keluarga di rumah.” Stevi berusaha menenangkan kami. Dengan terisak ia menggandeng aku dan Lika.
Kami pun membawa Nadira pulang dengan menggunakan mobil ambulance.

Keesokan harinya, sesuai permintaan orang tua Nadira. Nadira pun dimakamkan di salah satu pemakaman terdekat. Keluarganya tak ingin membawa pulang jenazah nadira karena terlalu jauh, dan kasihan apa bila harus menunda pemakaman lebih lama lagi jika harus membawanya ke jawa timur untuk dimakamkan.
Selepas pemakaman. Aku, Stevi dan Lika menuju tempat yang telah dibangun oleh Nadira. Kami menghias rumah pohon itu, kami letakkan barang barang Nadira di sana.

“Nadira!” Aku seperti melihat bayangan Nadira. Ia mengenakan baju putih, wajahnya bersinar dan ia tersenyum manis kepadaku.
“Sa..sa..” Lika memanggil manggil aku.
“Salsa!” Stevi menepuk pundakku. Sontak bayangan nadira tiba tiba menghilang.
“Nadira.. Nadira vi.. Nadira Lik..” Aku terisak, Stevi dan Lika memelukku dengan erat.

Satu bulan berlalu sejak kepergian Nadira. Aku masih merasa bahwa dia selalu ada di antara kita.
“Terima Kasih Nad, kamu telah menjadi hidup bagi Lika, dan kamu telah menjadi ibu kedua bagi kami. Semoga Allah memberi surga untukmu. Kami menyayangimu, dan tempat ini akan selalu menjadi rumah bagi kami, terima kasih Nad.” Ucapku dalam hati dan tak terasa air mataku menetes.

End

Cerpen Karangan: Keyko Dera Vellina Letha
Facebook: Keyko Dera Vellina Letha

Cerpen 4 Ever merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Adalah

Oleh:
“Lo mau kemana, Fel?!,” tanya Billy saat ia tekejut akan sikap Felly karena Felly tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya setelah melihat ponselnya. “Gue mau pergi dulu. Gue ada urusan,”

Cinta Pertama

Oleh:
Bunyi burung yang berkicau begitu indah, ditambah lagi langit yang mendung menambah kan hawa yang sejuk di pagi ini… “Eh ra lo gak papa tuh ngeliatin doi lagi sama

Ikatan Persahabatan

Oleh:
Malam begitu gelap, bahkan bulan yang sedang menggantung di langit itu tak bisa menyinarkan cahayanya, awan-awan hitam menutupinya dengan paksa. Sebuah mobil jeep hitam melaju dengan cepat menusuk ke

3 Sahabat

Oleh:
Ada 3 sahabat anak ke mana-mana selalu bersama, 3 orang itu bernama Hasna, Husna, Husain. Dia dari kecil sudah bertetanggaan dan satu sama lain sudah saling kenal, setiap hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *