Ada Rindu Di Balik Gunung Agung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 November 2016

Aku masih ingat, dua murid di SDN 03 Sebudi. Berada di desa kecil nan asri di lereng Gunung Agung Bali. Selalu kurindu sejak pertama kali meninggalkannya, beberapa tahun lalu. Dalam suatu perjalan rasa, cita, cinta dan harapan. Meski di akhir-akhir petualanganku saat itu, sempat merasa jenuh dan ingin segera pulang ke Bogor. Namun kini berbalik, aku malah ingin kembali berpetualang ke sana. Putu dan Kadek, kakak beradik yang begitu tegar dalam kehidupan.
Saat itu Putu kelas enam, sementara Kadek kelas tiga. Secara perhitungan, jika Putu melanjutkan sekolah, seharusnya sekarang Putu duduk di bangku SMA.

Pagi itu.
Udara dingin merasuk, rasanya sungkan untuk membuka mata. Selimut tebal yang dibawa dari Jakarta seakan memeluk erat, memberi kehangatan dan kenyamanan. Suasana yang membuatku bersama teman-teman masih terlelap di sebuah rumah singgah yang terletak tidak jauh dari SDN 03 Sebudi.

“Dok dok dok…” Suara ketukan pintu memecah suasana.
Aku terbangun malas, mengintip dari celah pintu, hari masih terlalu pagi rupanya. Dari celah pintu, dua orang anak berseragam sekolah terlihat duduk manis di depan pintu. Salah seorang menggenggam serangkaian bunga warna-warni. Seorang lainnya tengah berdiri di ambang pintu.

“Siapa kedua anak itu? Giat sekali datang ke sekolah,” gumamku.

Saat itu hari kedua Ekspedisi kami, jadi aku belum mengenal mereka.
“Hai Adik! Pagi sekali sudah datang,” sapaku sembari membuka pintu.
“Iya Kak!” Kata si anak laki-laki.
“Ini untuk Kakak.” Si anak perempuan bicara perlahan, sambil memberikan rangakaian bunga yang diikat akar rambat.
“Wah, bagus sekali bunganya. Kamu yang buat?” Aku tersenyum dan mengelus kepala si anak perempuan.
“Iya Kak!” Jawabnya tersipu.
“Terima kasih ya. Ayo masuk”. Ajakku sambil menyambutnya untuk digandeng.
“Makasih Kak! Kami tunggu di taman saja”. Si anak laki-laki menolak dengan nada sungkan.

“Oh ya sudah kalau begitu. Kalian sudah sarapan?” Mereka tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala.
Aku mengulangi pertanyaan. Mereka kembali menggelengkan kepala.
“Kalau begitu ayo kita sarapan. Tunggu, Kakak masuk dulu sebentar ya”.
Aku baru sadar, penawaranku akan menjadi hampa. Tidak ada apa-apa, hanya ada penanak nasi yang baru kami beli kemarin malam. Namun belum ada beras atau bahan makanan lain yang bisa dimasak, sementara teman-teman masih tidur.

Aku kembali ke luar.

“Hmm, di sini ada yang jual sarapan Dik?” Tanyaku sedikit bingung, karena sudah terlanjur mengajak mereka sarapan.
“Semoga ada yang menjual makanan di sekitar sekolah,” gumamku.
“Ada kak, Ibu Laksmi” Si anak laki-laki menjawab.
“Di mana?”
“Itu Kak, di depan gerbang sekolah” sambil tangannya menunjuk satu titik.
“Wah, ayo kita kesana,” ajakku.
Tak ada sahutan, hanya senyum terukir dari keduanya. Lalu aku menggandeng mereka.

Pagi masih terasa sejuk. Sepanjang perjalanan menuju penjual makanan, sebuah taman di suatu sekolah nampak tertata sederhana, berpadu bunga warna-warni yang terlihat asri.
Tak berapa lama sampailah di warung makan. Beberapa kursi belum tertata sempurna, menu juga belum sepenuhnya memenuhi tempat saji, ya warung baru saja buka. Sejenak memperhatikan keadaan di dalamnya, warung nampak tua dengan pintu dan jendela besarnya terbuat dari papan yang kokoh. Begitu juga jendela, tidak seperti pada umumnya, cara membukanya seperti kap mobil.
Posisi warung menempel pada rumah yang dindingnya terbuat dari bilik bambu ini, beberapa bagian sudah terlihat ditambal papan dan triplek. Tiang-tiang kayu berdiameter sekitar 10 sampai 20 sentimeter sudah mulai lapuk dan usang, terkena asap dari tungku. Lantainya masih asli dari tanah, karena seringnya terinjak, semakin lama makin mengeras.

Seorang nenek menata makanan di tempat saji.
“Itu yang punya warung Kak”, bisik salah seorang anak.

Si Nenek membuka percakapan, namun agak sulit kumengerti, bahasa Indonesianya tidak terlalu fasih. Beruntung si anak laki-laki bisa menerjemahkan. Setelah diberitahu Putu, di sini menjual makanan serupa pecel atau gado-gado. Aku memutuskan untuk memesan tiga porsi untuk kami.
Cara pembuatan serta tampilannya berbeda, dari yang sering kujumpai di Bogor, membuatku sedikit meragukan kenikmatannya. Nenek tua itu mengulek bumbu dengan cekatan namun perlahan. Maklum di usia yang sudah sekitar 60 tahun, harusnya beliau sudah pensiun dari aktivitasnya, duduk santai menikmati hari tuanya.

Sambil terus mengulek bumbu, perlahan air dituangkan. Apa yang kulihat? Si Nenek menyirakan air ke tangannya hampir mendekati siku. Perlahan air mengalir hingga ke ujung jarinya, membasuh kulitnya yang sudah tak kencang.
Beberapa menit menanti, dua piring pecel siap disantap. Terlebih dahulu ku berikan kepada Putu dan Kadek.

“Silahkan kalian duluan” sambil aku meyodorkan dua piring.
“Iya kak, terima kasih ya” jawab keduanya nyaris serempak.
Aku melihat mereka sangat lahap. Sepertinya enak.
“Enak Dik?” Tanyaku memastikan.
“Enak sekali Kak! Kakak harus coba. Pecel Mbok Laksmi paling enak di sini” Sahut Putu.

Aku hanya bisa menelan ludah, sedikit masih tidak percaya. Tak lama kemudian si nenek kembali, membawa sepiring pesanan lagi. Sembari tersenyum kepadaku.
“Terima kasih Nek!” ucapku.

Mengawali sarapan seolah dengan berdo’a khusus dalam hati. Meski masih terasa berat, perlahan satu sendok suapan mendarat di mulut, lalu kucoba mengunyahnya. Apa yang kurasa? Pecel ini sangat enak. Aroma kencur yang khas, membuat rasanya lebih unik dari pecel lainnya yang pernah kunikmati. Bumbu kacangnya pun tidak terlalu manis, cocok buatku yang tidak terlalu suka makanan manis. Sayur-sayuran yang direbus setengah matang terasa lembut, pas berpadu dengan bumbunya.
Dugaanku salah. Meski cara pembuatannya tidak biasa, menghasilkan rasa yang luar biasa. Pengalamannya bertahun-tahun mengolah sayuran dan bumbu, mampu menghasilkan cita rasa yang tak diragukan kenikmatannya.

Beberapa waktu kami masih bertahan di warung makan Mbok Laksmi, sambil berbincang-bincang.
“Kalian pagi sekali ke sekolah, berangkat jam berapa dari rumah?” Tanyaku penasaran.
“Kita berangkat fajar Kak”.
“Jam berapa?”
“Kayaknya sebelum jam 5 Kak”.
“Wah, sepagi itu? Rumah kalian di mana memang?”
“Di atas Kak!” Kata Kadek, sambil menunjuk ke arah Gunung Agung yang nampak dari tempat kami berada.
“Jauh sekali dari sini” tambah Putu.

“Di gunung Agung? Kalian jalan kaki?” tanyaku takjub.
“Iya Kak!”
“Waduh, kamu kuat jalan kaki sejauh itu setiap hari?” Tanyaku kepada Kadek.
Namun dia tidak menjawab, hanya senyum menggemaskan terukir di wajahnya.
“Aku gendong Kak” Sahut Putu sambil melanjutkan sarapan.
“Kamu yang gendong? Setiap hari?”
“Iya Kak! Kalau kelihatan lelah, berangkat dan pulang aku gendong. Tapi kalau masih kuat dia jalan sendiri.”

“Kalian luar biasa. Oh iya, kakak belum tahu nama kalian. Nama kamu siapa?”
“Aku Putu Kak.”
“Si cantik ini adikmu? Siapa namanya?”
“Iya Kak! Namanya Kadek.”
Masih sambil menyantap makanan, perbincangan terus berlanjut. Suasana terasa hening, hingga suara sendok dan piring yang saling beradu pun terdengar.

“Pantas kalian tidak keburu sarapan ya? Pasti Ibu kalian belum sempat membuatkan sarapan”.
“Kami memang tidak pernah sarapan Kak”. Sahut Putu sambil menghela nafas.
“Kenapa Dik?”
“Ayah biasanya pulang dari tambang pasir jam 8 pagi Kak. Kadang kalau Ayah sedang tidak ke tambang, Ayah membuatkan sarapan.”

“Oh gitu. Kalau Ibu?”
Tidak ada jawaban. Putu seolah tidak mau menjawabnya. Dia terus melahap makananya. Perlahan Putu terdengar mengeluarkan suaranya, nyaris bergumam.
“Ibu tidak ada Kak.”
“Hmm, maaf Putu”. Seketika suapanku terhenti. Beberapa saat menatap ke arah Putu.
“Ibu kalian sudah meninggal?”
“Tidak Kak,” jawab Putu, “tidak tahu Ibu kemana”.

“Ibumu pergi?”
“Iya kak”
Sementara Putu telah selesai sarapan, Kadek masih melahap sarapannya yang belum habis. Bale-bale cukup tinggi, membuat kaki Kadek berayun seolah dia tengah duduk di ayunan.
“Memang Ibu pergi ke mana?”
“Kata Ayah, ibu ke Palembang,” terang Putu, “sejak aku kecil dan Kadek masih bayi. Aku sudah lupa itu, tapi kadang ayah suka cerita tentang Ibu.”
“Ibu kalian kerja di Palembang?”
“Aku tidak tahu Kak,” jawab Putu, “Ibu pergi dan belum kembali.”
“Aku ingin bertemu ibu.” Kata kadek perlahan.
“Aku juga,” balas Putu.

Cerpen Karangan: Al Muh
Blog: almuh.com

Cerpen Ada Rindu Di Balik Gunung Agung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persahabatan Halilintar

Oleh:
Matahari menjerang dan ayam pun berkukuk, mataku perlahan terbuka badanku pun susah untuk bergerak. Banyak perkataan dan pikiran yang menghantui pikiranku hanya untuk menjawab satu pertanyaan ini, apa maksud

Maafkan Aku

Oleh:
Bulir-bulir bening itu kembali menjelajahi lekuk pipi halusnya. Bermuara di kelopak mata, setetes jatuh yang lain pasti mengikuti juga. Seakan sepakat dengan duka, waktu berlagak penat lantas berputar perlahan.

Selamat Tinggal

Oleh:
Namaku Dita Novelina Prasityani, biasa dipanggil Dita. Aku tinggal di Jakarta, sekarang aku duduk di bangku SMA Citra Pahlawan Kristen kelas 11G. Aku adalah bintang sekolah di SMA ini,

Bunda

Oleh:
Aku masih tidak percaya apa yang sedang ku lihat sekarang. Selembar kertas ulangan yang di sana tertera nilai 70. Kenapa nilai ulanganku jelek sekali? Biasanya aku selalu mendapat nilai

Kupu-Kupu Api

Oleh:
Dulu, kakek sempat bercerita tentang legenda kupu-kupu api. Kawanan kupu-kupu kecil dengan warna merah menyala. Semerah warna api yang menyalak. Konon, apa pun yang dihinggapi kupu-kupu api seketika akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *