Aku Hanya Ingin Teman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 July 2016

‘Gubrak’ terdengar bunyi pintu yang ditutup sedikit keras. Seketika aku membaringkan tubuhku di tempat tidur yang empuk menurutku. Teringat aku akan kejadian beberapa menit yang lalu.

“Lin, kok kamu pulang duluan gak sama aku sih, aku udah nunggu kamu loh dari tadi” tanya dan jelasku pada Lina yang adalah sahabat dekatku.
“Kar, kamu juga sama pulang duluannya dengan Lina padahal aku udah nunggu kamu juga dari tadi” aku mencoba menjelaskan perkataanku pada Karin sahabat dekatku juga.
Beberapa detik setelah penjelasanku pada kedua sahabatku lalu Karin pun berbicara padaku, “kamu tahu Aiko, aku dan Lina udah lama banget nunggu kamu, terus ternyata apa yang aku lihat Ai kamu malah asyik mengobrol dengan Danis tanpa menghiraukan aku sama Lina yang ada di depan kamu dari tadi”.
“Apa yang dikatakan Karin itu benar adanya Aiko, Kami udah capek nunggu kamu, malahan apa kamu Ai malah gak menghiraukan kami sama sekali”. Kata Lina ikut angkat bicara.

Kami yang sedari tadi berbicara di jalan akhirnya tiba pula di parkiran motor kampus kami. Lina dan Karin yang terlihat sangat kesal padaku langsung menaiki motor mereka masing-masing dan melaju keluar dari kampus tanpa berpamitan padaku yang biasanya kami kompak bertiga saling berpamitan mengucapkan salam.

“tunggu dulu Kar, Karin…”
“assalamu’alaikum aiko” perkataanku terpotong oleh salam dari Lina.
“Wa’alaikumussalam, Lin kamu juga tunggu dulu aku mau jelasin dan bicarain sesuatu sama kamu” kataku berusaha untuk berbicara dengan Lina.
“Maaf Lin aku harus segera pulang ke rumah” kata Lina tanpa panjang lebar.
Dengan kecepatan sedang motor yang dikendarai Lina pun melaju. “Tapi Lin…” perkataanku terhenti ketika Lina telah pergi meninggalkannya dan begitupun Karin yang juga telah pergi mendahuluinya dan Lina.

‘Tok tok tok’ bunyi suara pintu kamar diketuk membuyarkan semua lamunan dan ingatannya dari dirinya dan sahabat-sahabatnya. “Aiko sayang kamu sudah makan, ayo cepat makan dulu” suara ibu mengagetkan aku setelah ketukan pintu tadi. ‘cekrek’ bunyi pintu kamar dibuka dari dalam dan ditarik hingga lebih ke dalam kamar.
“iya ibuku sayang, aku akan makan nanti setelah aku ganti baju, ibu jangan khawatir aku akan cepat ke meja makan kok” kata Aiko mencoba menenangkan ibunya.
“Baiklah kalau begitu ibu tunggu ya di meja makan” lanjut kata ibu Aiko.
“Iya ibuku” jawab Aiko mengiyakan perkataan ibunya. Kemudian ditutupnya lagi pintu kamarnya setelah ibunya menjauh dari ruang kamarnya yang dianggapnya istimewa.
Dalam hatinya ia berkata ‘besok aku akan bertanya lagi dan menjelaskan semuanya kepada Lina dan Karin, semuanya, termasuk tentang Danis dan aku’.
Tak lama kemudian Aiko beranjak menuju ruang makan dan tiba disana bersama ibunya, ayahnya, dan kakaknya.

Keesokan paginya, tibalah Aiko di kampusnya yang hijau jika mata memandang rumput-rumput bergoyang seakan ikut menari bersama mentari pagi yang begitu cerah. Sengaja Aiko datang lebih pagi hari ini ke kampusnya dengan mengendarai motor dan dengan penampilan yang berbeda menurutnya dan mungkin orang-orang pun berpikir begitu juga. Mulai hari ini Aiko telah berhijrah dengan memakai jilbab panjang yang hampir sampai ke pinggang. Ia pun menyusuri jalanan dari parkiran motor hingga ke ruang belajar kampusnya. Hanya beberapa menit Aiko telah sampai di salah satu ruang belajar, disana ia tidak menemukan Lina, tetapi hanya ada Karin yang ia temui. Langsung ia duduk di sebelah Karin yang bangkunya sedang kosong “hai Kar, aku mau jelasin sesuatu sama kamu, kamu mau dengarin aku bentar kan?” tanya Aiko pada Karin dengan nada lembut.
arin menoleh sebentar dan berkata “sekarang kamu udah berbeda ya sudah pakai jilbab baguslah kalau begitu” kata Karin tanpa panjang lebar.
“Iya Kar aku sudah berhijrah sudah pakai jilbab itulah yang ingin aku katakan padamu dan masih ada hal lain yang ingin aku katakan lebih jelas lagi padamu, biarkanlah aku menjelaskannya padamu sebentar Kar” pinta Aiko pada Karin dengan mimik wajah yang sedikit sedih.
“okelah Aiko kamu boleh menjelaskan apalah penjelasanmu itu tapi ingat hanya sebentar” tegas Karin.
“terima kasih Karin karena kamu mau mendengarkanku, iya aku ingat hanya sebentar saja. Begini kemarin Danis mengembalikan buku pelajaran yang dipinjamnya dan buku pelajaran itu sangat penting untukku, mau tidak mau aku harus mendengarkan Danis dan bukannya aku tidak menghiraukan kalian berdua Kar, tetapi ada hal yang lebih serius lagi yang membuat aku harus mendengarkan Danis hal itu yaitu…”.
“sudahlah Ai kamu sudah terlalu panjang lebar mengatakan hal yang tidak mau aku mengerti, aku memberimu waktu sebentar dan ini sudah cukup lama dan kau bisa mengatakan penjelasanmu pada Lina aku sudah cukup mendengarkanmu” belum selesai Aiko berbicara, Karin sudah memotong perkataan Aiko dan langsung beranjak pergi meninggalkan Aiko sendiri duduk disana. “tapi Karin tunggu dulu aku belum selesai bicara padamu” lalu Aiko hanya terdiam dan menunduk mungkin menahan tangis karena temannya sekaligus sahabatnya meninggalkannya pergi begitu saja tanpa membiarkan ia berkata dan menjelaskan semuanya. ‘Aku masih mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Lina’ kata Aiko dalam hati. Dan Aiko pun bersemangat kembali seraya mengangkat wajahnya, kemudian diambilnya tasnya dan menuju kantin untuk mencari Lina temannya sekaligus sahabatnya.

Selang beberapa menit, Aiko sudah tiba di kantin kampus yang tidak begitu ramai dipagi hari, hanya ada beberapa orang sedang duduk, makan dan minum atau bahkan hanya untuk mengobrol-obrol saja. Aiko berhenti sebentar, melihat-lihat jikalau ia menemukan Lina dan sekejap Lina tidak Aiko temukan. ‘Lina kemana ya, aku ingin sekali mengatakan semuanya padanya, Karin sudah pergi entah kemana’ dalam hati Aiko berujar. ‘Sudahlah aku pergi saja dari sini’ lanjutnya berkata dalam hati. Lalu Aiko membalikkan badan ke arah belakang, ketika menoleh tidak sengaja ia melihat Lina berjalan ke arah salah satu tempat duduk yang ada disitu. ‘Eh itu Lina’ pikir Aiko. Langsung saja Aiko mendekati Lina dan memanggilnya
“Lin, Lina kamu apa kabar?” tanya Aiko basa-basi. Lina menoleh dan melihat Aiko sebentar dan mengambil gadgetnya dari dalam tasnya, “baik, alhamdulillah” jawab Lina singkat.
“Lin, aku mau mengatakan sesuatu padamu, kamu mau kan mendengarkan penjelasanku?” pinta Aiko pada Lina.
“Baiklah, dan kamu sekarang sudah berbeda ya dengan memakai jilbab” pendapat Lina mengenai Aiko.
“Alhamdullilah Lina, aku sudah berhijrah sekarang, aku sudah memakai jilbab. Terima kasih Lin, kamu mau mendengarkanku. Baiklah aku mulai penjelasanku dari ketika aku sedang menunggu Karin dan kamu, lalu Danis datang dan mengembalikan buku pelajaran yang penting untukku.” jelas Aiko dan Lina mendengarkan Aiko sambil bermain dengan gadget yang dipegangnya.
“terus Lin, bukannya aku tak menghiraukan kalian berdua tetapi Danis mengatakan sesuatu yang membuatku harus mendengarkannya, yaitu… kata Danis ia memiliki perasaan kepadaku dan Danis ingin aku menjadi miliknya” jelas Aiko dengan panjang lebar bermaksud bahwa Lina akan lebih mengerti penjelasannya daripada Karin.
“dan aku harus menjawabnya saat itu juga, aku tak ingin menyakiti hati orang lain dengan membuatnya menunggu jawabanku, aku jawab aku tidak bisa, aku harus menyelesaikan studiku dulu” dan dilanjutkan lagi oleh Aiko “maafkan aku Lin, jika menurutmu aku tidak menghiraukanmu” permintaan maaf Aiko pada Lina yang tidak sempat ia ucapkan kepada Karin karena Karin telah pergi duluan.
“Oh begitu, Aiko aku tidak tahu harus berkata apa padamu dan sekarang aku harus pergi ke ruang belajar, assalamu’alaikum” hanya sedikit kata yang diucapkan Lina. Kemudian Lina berdiri dari tempat duduknya, berjalan meninggalkan Aiko yang tertunduk lemas seakan dunia tak berpihak pada Aiko hari ini. Sambil meremas tangan di lututnya Aiko semakin menunduk dan bajunya telah basah ditetesi oleh airmata Aiko. Ia tidak bisa membendung airmatanya. Lalu perlahan ia menyeka airmatanya dengan tisu yang telah ia ambil dari dalam tasnya. ‘Aku hanya ingin temanku sekaligus sahabatku kembali padaku’ kata Aiko dalam hati.

Cerpen Karangan: Wardatus Tsalatsah
Facebook: Wardatus Tsalatsah
Wardatus tsalatsah 3 oktober 1996

Cerpen Aku Hanya Ingin Teman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumahku

Oleh:
Aku membuka pintu rumahku setelah aku membuka kuncinya, dengan perlahan aku membukanya. Ku ucapkan salam tapi tak ada yang menjawab. Sejenak aku duduk di kursi ruang tamu, aku menghirup

Semangat UN, Selamat Jalan Papa

Oleh:
“Ini pa, buat nanti di bus,” Aku memberikan 10 butir permen rasa mint untuk Papaku. Lalu langsung berlari melompat masuk ke dalam rumah dan merebahkan diri di kasur dengan

Persahabatan Itu…

Oleh:
“Tunggu Nit, dengerin penjelasan dari aku dulu! Maafin aku, aku nggak nyangka kejadiannya jadi seperti ini. Nita, tunggu!” teriak cewek berkacamata yang berlensa tebal sambil berlari mengejar sahabatnya, Nita.

Salju Di Hari Valentine

Oleh:
Yokohama, 14 Februari 2010 Aizawa Hanami, duduk termenung di atas kursi meja belajarnya, sambil menatap luar jendela yang sedang turun salju. Suasana yang dingin dan senyap, menekan hati dan

Menari di Langit Senja

Oleh:
Enam anak itu sudah terduduk di sebuah batu yang amat besar. Senyum cerahnya mengembang ketika melihat langit yang berwarna biru indah. Yusi, Tipa, Uti, Sipa, Inge dan Fira. Mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *