Alone

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 June 2015

Banyak sekali orang-orang yang membuatku kesal di dunia ini. Jujur saja, aku jenuh dan muak dengan sikap mereka yang selalu memperlakukan ku seolah aku bukanlah manusia yang pantas mereka perlakukan dengan baik. Ahh, andai Ayah masih ada. Pasti sekarang aku sedang menyender manja di pundaknya. Andai saja waktu itu ibu tak menjadi malaikat maut Ayah….
– Sitta –

Ayahnya adalah seorang fotografer biasa. Tidak terkenal sih, tapi baginya Ayahnya sangat hebat. Sedangkan Ibunya adalah seorang model kelas atas. Terkenal, tapi baginya tidak hebat. Sejak ayahnya meninggal setahun lalu karena alasan yang tidak bisa dia terima, Ibunya menikah lagi dengan seorang lelaki yang tidak diketahuinya dengan jelas. Siapapun dia, apa peduliku?, begitu katanya.

“Hei, bengong.” Airin membuat lamunan Sitta buyar. Gadis itu sedang duduk di taman belakang rumahnya sambil sesekali memotret pepohonan. Dia suka kamera. Sejak kecil dia suka sekali memperhatikan Ayahnya memotret. Tahun lalu, ketika ulang tahunnya yang ke-16, ayahnya memberinya hadiah sebuah kamera. Kamera yang sekarang sedang dia gunakan. Namun, hari itu juga Ayahnya pergi tanpa sempat melihat foto hasil jepretannya.
“Eh, kamu Rin.” Sitta sedikit kaget dengan kedatangan Airin yang terkesan tiba-tiba.
“Iya Sitta, ini aku Airin. Lagi apa sih?” Airin tampak ceria seperti biasanya. Airin, sahabat yang Sitta kenal setahun lalu. Hanya Airin yang mau mendengar semua ceritanya. Dan hanya Airin yang dia percaya.
“Lagi motret aja. Eh, foto yuk?” ajak Sitta
“Boleh.” sahut Airin atusias sambil memperagakan gayanya yang ternarsis.
Jadilah mereka berdua berfoto-foto ria. Bersama Airin, Sitta bisa melakukan apapun yang dia mau. Bisa menjadi diri sendiri tanpa harus dikritik dengan pedas. karena itulah, Sitta bergantung pada Airin. Mungkin dia tak bisa melakukan apapun tanpa Airin.
“Ta, kamu ngerasa ada yang aneh nggak sama papa tiri kamu?” tiba-tiba saja Airin menanyakan hal itu.
“Nggak tau. Peduli amat” jawab Sitta ogah-ogahan.
“Sitta ayolah. Waktu itu aku liat papa kamu itu bawa cewek ke rumah kamu” Airin berusaha membuat Sitta percaya.
“Papa tiri, jangan lupa” ralat Sitta.
“Iya deh. Maaf.”
“Oke, sekarang ceritain kejadiannya” Sitta hanya ingin tau apa yang dilakukan lelaki itu kalau dia dan Ibunya tidak ada di rumah.
Airin menceritakan semuanya pada Sitta. Entahlah, Sitta tak tau Airin mengetahuinya darimana, yang jelas dia mulai percaya pada semua cerita Airin. Sitta juga mulai terhasut dengan perkataan Airin yang menyuruhnya untuk menyingkirkan lelaki itu.
“Benar-benar tidak tau diri. Semua biayanya ditanggung oleh Ibuku. Dia sih enak, hanya duduk manis menghabiskan nilai guna fasilitas yang ada di rumahku. Hufft.” Sitta merutuk dalam hati.

Di sekolah, Sitta adalah pribadi yang tertutup. Dia selalu menyendiri, karena tak ada yang sudi berteman dengannya. Mereka bilang Sitta aneh. Tapi, ada satu orang yang tidak menganggapnya begitu. Di setiap kesempatan, orang itu selalu berusaha mengajak Sitta bicara. karena itulah, Sitta jatuh cinta padanya. Namanya Glenn. Dia orang yang baik, setidaknya menurut Sitta begitu. Mereka sering bercerita, membicarakan hal-hal yang menurut mereka menyenangkan. Semua teman-teman menatap aneh pada Sitta. “Ngapain deket-deket Glenn?”, mungkin itu adalah makna dari tatapan mereka. Melihat Glenn cuek, Sitta pun tak ambil pusing.

“Jangan deket-deket Glenn, dia pacar aku.” Mandy, senior Sitta yang berada satu tahun di atasnya mengancam untuk tidak mendekati Glenn lagi. Mandy mencegatnya ketika dia sedang melewati bekas ruang kesenian yang sekarang tidak terpakai karena terbakar beberapa waktu yang lalu.
“Oh ya?” Sitta hanya berlagak sok cool. Kakak kelasnya ini benar-benar kekanakan dan membuatnya sebal.
“Awas ya, kalau aku masih liat kamu jalan sama Glenn” ancamnya lagi sebelum meninggalkan Sitta sendirian.

“Kak Glenn?” Sitta berpapasan dengan Glenn dan langsung menyapa.
“Eh Sitta… kok belum pulang?” tanya Glenn.
“Hmm tadi bikin catatan dulu kak di kelas.” jawab Sitta berbohong.
“Oh..” kemudian Glenn tersenyum, mengangguk sopan pada Sitta dan berlalu.
Ketika Sitta menoleh ke belakang, dia melihat pemandangan yang benar-benar tidak ingin dilihatnya. Dia melihat Glenn dan Mandy bergandengan. Mereka masuk ke dalam ruangan dimana dia dan Mandy tadi bicara. Sitta sempat melihat Mandy tersenyum penuh kemenangan ke arahnya sebelum masuk ke ruangan itu.

Serat hitam sudah mulai melukis langit. Bayangan jingga mulai memudar dan hilang seiring datangnya malam. Sitta mengintip Ayah tirinya yang sedang bermesraan dengan seorang wanita muda di ruang keluarga. Menjijikan. Wanita itu adalah Mandy, orang yang mengaku sebagai kekasih Glenn. Wanita murahan, kata Sitta dalam hati. Ternyata cerita Airin memang benar. Sitta dengan cepat sigap menjepret moment itu dengan kameranya.
“Aku nggak bohong kan Ta?” Airin mengagetkan Sitta.
“Airin? masuk dari mana?” tanya Sitta pelan.
“Nggak penting. Yang jelas sekarang kamu harus liat apa yang mereka lakuin.” Airin terus menjadi mesin perintah bagi Sitta. Namun Sitta tak pernah menolak apapun yang diminta Airin.

Secepat kedatangannya, secepat itu juga kepergian Airin. Airin tiba-tiba menghilang entah kemana. Sitta hanya melengos dan angkat bahu.
Sitta geram. Ingin sekali dia membunuh dua orang yang sedang dilihatnya ini. Sitta memperhatikan sesuatu yang menggantung di leher Mandy. Sebuah kalung yang sama dengan yang saat ini dipakainya. Melihat itu, Sitta semakin ingin membunuh mereka.

Mandy berjalan menuju dapur, dan ketika kembali ada sebuah pisau di tangannya. Awalnya Sitta hanya ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Mandy dengan pisau di tangannya. Namun Sitta sangat kaget ketika pisau itu terlihat menembus jantung Ayah tirinya. karena takut, Sitta berlari masuk ke kamarnya dan mengunci diri. Kameranya dijatuhkan begitu saja. Tubuhnya gemetar, keringat dingin mengguyur seluruh tubuhnya. Kejadian seperti ini, sudah pernah dilihatnya. Ini yang kedua.

Sitta hanya bisa meringkuk diam di dalam kamarnya. Pertengkaran kedua orangtuanya terdengar menggema. Seharusnya, hari ini dia bersenang-senang. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-16. Namun, kejadian hari ini merupakan kado terburuk yang diberikan kedua orangtuanya. Bukan, hanya dari ibunya. Ayahnya sudah memberinya hadiah, sebuah kamera. Ibunya, hhmm.

Pertengkaran ini memang setiap hari terjadi. Tentu saja Sitta muak dan merasa tertekan. Hari ini adalah puncak semuanya. Ayahnya mengusulkan pada Ibunya agar memberitahu semua orang tentang Sitta. Selama ini Sitta selalu disembunyikan. Ibunya takut, kalau orang-orang tau dia sudah punya anak, maka tawarannya jobnya akan berkurang. Ibunya juga tak ingin, orang-orang tau kalau dia sudah punya anak sebesar Sitta. Malu, begitu katanya.

“Plakk..” tamparan melayang begitu saja di pipi ibunya. Mungkin Ayah Sitta geram mendengar alasan yang didengarnya.
Sitta mengintip dari sela pintu kamar orangtuanya yang sedikit merenggang. Tubuhnya terasa linglung menyaksikan apa yang dilihatnya. Ibunya mencekik Ayahnya sampai tak bernyawa. Kemudian, tubuh kaku itu digantungnya tanpa perasaan. Sebuah alibi, seolah-olah ayahnya mati gantung diri.
Sampai sekarang pun, Sitta tak pernah buka mulut perihal kematian Ayahnya. Dia terus bungkam dan menyembunyikan perasaannya yang tertekan.

“Sitta…” teriakan mamanya membuat Sitta sadar.
Gadis tujuh belas tahun itu berlari menghampiri Ibunya yang baru saja kembali dari pekerjaannya.
“Bukan Sitta ma, bukan Sitta. Mandy yang lakuin ma.” Sitta berkata seolah sudah tau apa yang akan ditanyakan Ibunya. Dia terus berkata kalau bukan dia yang membunuh Ayah tirinya, tapi Mandy.
“Siapa? Mandy? Dia kan kakak kelas kamu yang meninggal sama pacarnya waktu kebakaran ruang kesenian di sekolah kamu. Kenapa dia? Dia udah mati.” Ibunya berkata pelan.

Sejak kematian Ayahnya, Sitta menjadi aneh. Dia menutup semua jaringan pergaulannya. Dia membuat dunia sendiri. Tak ada seorang pun yang boleh masuk dan menerobosnya. Dia selalu menyudut. karena itu, orang-orang menganggapnya aneh.

“Hei, kok kamu nggak pernah bergaul sama temen-temen sih?” Glenn, kakak kelasnya mengajak Sitta bicara. Tampaknya kata “aneh” tak berlaku bagi Glenn.
Awalnya Sitta hanya diam, namun karena Glenn tak mau menyerah untuk membuatnya bicara, akhirnya dia buka suara.
“Sitta” katanya pelan ketika Glenn menanya namanya.
Setelah itu pembicaraan mulai mengalir di antara mereka. Glenn mulai mencairkan kekakuan yang selama ini selalu ditunjukkan Sitta. Gadis itu tak ragu-ragu lagi untuk tersenyum, tertawa atau bercanda.
Sitta pun jatuh cinta pada Seniornya itu. Namun, perasaannya itu tak bertahan lama ketika dia melihat Glenn sedang bergandengan tangan dengan Mandy. Mandy adalah kekasih Glenn. Ternyata, selama ini Sitta salah mengartikan perhatian Glenn padanya. Glenn hanya kasihan dan simpatik melihat dirinya yang selalu menyendiri dan hidup di luar interaksi dengan orang lain.
Sitta marah dan sakit hati. Dia berubah menjadi Sitta yang lain. Sitta si pembunuh. Tanpa ragu dan rasa takut. Dia merancang sebuah rencana. Dan rencana itu diwujudkannya pada waktu yang tepat.

Pulang sekolah.
“Mandy..” panggil Sitta. Mandy berjalan di depannya.
“Kamu Sitta kan? Akhirnya kamu mau bicara lagi. Temen-temen kamu bilang kamu nggak mau bicara. Syukur deh. Oh ya, perlu apa?” Mandy tersenyum ramah ke arahnya.
“Kak Glenn bilang, kalau ketemu kamu di suruh ke ruang kesenian. Nggak tau deh ngapain” kata Sitta datar.
“Oh.. makasih ya pesannya?” lagi-lagi Mandy tersenyum sebelum meninggalkan Sitta.

Sitta tersenyum puas. Sebelumnya, hal yang sama telah dikatakannya juga pada Glenn. Mengatakan bahwa Mandy menyuruhnya ke ruang kesenian. Dan ketika kedua orang itu telah berada di dalam ruangan, dengan cepat dia mengunci ruangan itu. Kemudian tanpa berpikir panjang, ruangan itu dibakarnya dengan kejam. Mungkin hari itu keberuntungan masih berada pada Sitta. Tak ada saksi yang yang melihat kelakukan jahatnya. Semua orang menganggap, kebakaran itu hanya sebuah kecelakaan. Dan ketika Sitta kembali menjadi dirinya yang dulu, dia tak lagi mengingat perbuatannya. Semuanya seolah tak pernah terjadi, hilang begitu saja. Seperti hilangnya sosok pembunuh yang menguasai dirinya.

Sitta kaget dengan penjelasan Ibunya. Tak mungkin Mandy sudah mati, lalu yang bersama Ayah tiriya itu siapa?!
“Sitta ada ma, foto mereka. Tadi Sitta ambil diam-diam.” Kemudian dia berlari ke kamarnya dan memungut kembali kamera yang tadi digolekkanya begitu saja.
Dilihatnya semua foto yang disimpannya di kamera itu. Sitta bertambah bingung, ketika melihat semua fotonya bersama Airin di taman tempo hari. Hanya ada dirinya dalam foto itu, satu pun tak ada Airin. Sitta semakin gemetar dan bingung ketika melihat foto Mandy dan ayah tirinya. Tak ada Mandy di foto itu, melainkan dirinya dan ayah tirinya yang terabadikan disana.
BRRKK
Sitta menjatuhkan kamera itu. Dia seolah tak percaya dengan semuanya.
“Kamu masih bisa bilang, kalau bukan kamu pelakunya? Dengan baju yang berlumur darah kayak gini?” Ibunya berteriak.
“Dan masih mengelak? Kalung itu punya kamu.” Tunjuk ibunya pada sebuah kalung perak yang sudah merah berlumuran darah.
Sitta menggeleng. Diperhatikannya tubuhnya dengan seksama. Benar, tubuhnya penuh dengan darah.
“Mama yang membentuk seorang pembunuh dalam diri Sitta. Mama kan yang bunuh Ayah?” Sitta membentak.
Ibunya hanya diam. Tiba-tiba Sitta mendekat dan mencekik Ibunya sampai mati.

Sitta duduk sendirian di taman belakang rumahnya. Dia sedang asyik memotret. Gadis yang selalu kesepian itu selalu berharap agar punya seorang teman, seorang saja. Agar dia bisa bercerita tentang perasaannya yang tertekan. Dia selalu melukis sosok seorang sahabat dalam imajinya. Seorang sahabat perempuan yang sangat manis dan periang. Tanpa dia sadari, keinginannya yang terlalu diharapkan itu membuatnya tak dapat lagi membedakan antara nyata dan maya. Batas antara dunia khayal dan sebenarnya tak lagi diketahuinya. Sosok yang selama ini selalu hidup di pikirannya saja, seolah muncul menjadi tokoh semu dalam kehidupannya. Itulah Airin. Teman yang berusaha dihidupkannya.

Sitta memotret dirinya sendiri. Tersenyum, tertawa, merangkul, seolah dia sedang bersama seseorang. Padahal, di taman itu hanya ada dirinya. Tak ada siapapun lagi disana.

Ketika di sekolah, dia masih menganggap bahwa Glenn, kakak kelas yang disukainya masih hidup. Dia membuat moment seolah dia dan Glenn sedang bicara. Juga Mandy, karakter Mandy juga dibuatnya sendiri. karena dia menganggap Mandy telah merebut Glenn darinya, dia menciptakan sosok Mandy menjadi yang jahat. Dia merancang sebuah kejadian, dimana Mandy memarah-marahinya untuk menjauhi Glenn. Sebenarnya, waktu itu hanya ada dia di dalam ruang kesenian yang sudah terbakar itu. Mandy dan Glenn hanya tokoh semu yang berusaha dihidupkannya. Sama seperti Airin. Bedanya, Airin memang murni sosok khayalannya. Sedangkan Glenn dan Mandy, kedua orang itu dulunya memang nyata dan pernah terlibat dalam hidup Sitta.

Mandy yang selama ini dianggapnya punya hubungan spesial dengan Ayah tirinya, sebenarnya adalah dia. Ketika dia merasa bahwa dia melihat semua kejadian itu, saat itu juga dia sedang bertindak sebagai pelakunya. Dia seolah-olah hanya sebagai saksi, padahal itu adalah tokoh yang sedang dilihatnya sendiri.

Ketika dia memotret Mandy dan Ayah tirinya, waktu itu dialah yang mengajak Ayahnya itu untuk berfoto bersama. Saat sosok lain dalam dirinya kembali muncul, dalam keadaan tidak sadar dia akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh dirinya yang lain. karena itulah, dia membunuh Ayah tirinya. Bahkan dia baru sadar ketika Ibunya membantah tokoh-tokoh yang dibicarannya. Tokoh ilusinya.

Sitta tak pernah tau, rasa tertekan yang selama ini disimpannya dan dibiarkannya menumpuk, telah mengacaukan semua yang ada dalam dirinya. Semua rasa tertekan itu membentuk pribadi-pribadi lain. Sosok pribadi lain itu muncul ketika Sitta ingin menjadi seperti sosok itu. Sitta si pembunuh, dan Mandy selingkuhan Ayah tirinya yang sebenarnya adalah dia adalah contoh dari pribadi lain itu. Sosok yang tercipta karena rasa tertekan yang sangat besar. Airin si penghasut, sosok Glenn dan Mandy, itu adalah tokoh-tokoh khayalnya yang dilukisnya dalam imajinasi, kemudian sosok itu berusaha dihidupkannya. Dan ketika tokoh itu telah nyata, dia merancang sendiri kejadian apa yang dia ingin untuk terjadi.

Sosok pembunuh itu muncul ketika Sitta sangat shock melihat kelakuan ibunya yang tanpa perasaan menggantung Ayahnya. Sejak itu, Sitta sedikit terganggu. Airin muncul ketika Sitta merasa kesepian dan butuh seorang teman untuk mengeluarkan semua rasa tertekannya. Sedang Glenn dan Mandy, muncul karena dua orang itu pernah terlibat bersama pribadi “pembunuhnya”.

Sinar ultraviolet sudah tampak menggantung membentuk tirai-tirai keemasan. Di sebuah kamar, Sitta menatap keluar jendela. Tatapannya kosong. Sekarang, gadis itu sedang dalam rumah rehabilitasi. Menyatukan pribadi-pribadinya yang terpecah. Juga menghilangkan teman-teman khayalannya. Dia menghadapi penyatuan pribadi itu seorang diri. Tak ada lagi orang-orang yang akan memberinya dukungan. karena semua orang yang seharusnya membuat hidupnya lebih bewarna, dibunuh oleh tangannya sendiri.

Ternyata selama ini aku memang kesepian. Aku memang selalu sendiri. Airin tak pernah ada, begitu juga dengan Glenn dan Mandy. Benar, semua orang itu hanya semu. Tokoh yang aku ciptakan sendiri. Dari dulu sampai sekarang, aku selalu seorang diri. Bahkan nanti pun, aku akan terus sendiri. Sepi, sunyi, akan terus bersemayam dalam hidup yang hampir mati ini…

Cerpen Karangan: Sahila Daniara

Cerpen Alone merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Malam Balunan

Oleh:
Namaku Arin Mudiarani, umurku 17 tahun dan tanggal 12 bulan Desember umurku menjadi 18 tahun. Aku sekolah di salah satu SMA di kota Sukabumi, Jawa Barat. November, dimana sekolahku

Hujan Dalam Gelap

Oleh:
Rintik air menari di jemariku. Aku memandang langit berwarna kelabu sambil terus memainkan jari-jariku di tetesan hujan yang turun tanpa henti. Gelap, gelap! Ku katakan langit kelabu, ketika raja

Pengkhianatan Sang Sahabat

Oleh:
Pagi pagi sekali aku terbangun dari tidurku, jam menunjukkan pukul 5 pagi. “Hmm, waktunya shalat Subuh” gumamku. Aku pun beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi. Setelah itu aku

Memoar Luka

Oleh:
Semesta kerapkali mematahkan, seakan memunculkan kepahitan yang tiada ujungnya. Ketika bahagia, kita akan diingatkan kembali tentang luka. Jalanan basah terlihat seperti diriku yang ingin sudah. Ah, lupakan aku sanggup

Seucap Kata Terakhir Untukmu

Oleh:
Ardiah agnalia putri, yang sering dipanggil dengan sebutan “Rara”. Cewek satu ini sanggat di kagumi oleh teman-temanya karena dia pintar dan juga pandai bergaul. Walaupun dia agak tomboy, namun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *