Andai Kau Tahu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 September 2016

“bukannya gue udah bilang, lo itu nggak usah berhubungan dengan gue lagi. Gue muak harus bersahabatan selama belasan tahun dengan orang munafik kaya elo. Sialnya lagi, elo pura-pura manis di hadapan gue. Cuihh.. menjijikkan. Dan sekarang, elo nangis-nangis di hadapan gue setelah gue tahu elo pacaran sama ito. Dimana sih letak hati lo?”
Aku mengingat kata ani beberapa hari yang lalu di sekolah. Sebenarnya kami adalah dua sahabat yang terlahir di tanggal yang sama, tumbuh bersama dan main bersama. Namun, kata memahitkan itu memutuskan hubungan persahabatan kami berdua. Bermula saat ito mengirim bunga dan surat di mejaku. Kami terlibat kesalahpahaman. Jelasnya, seperti ini…

02 januari 2014 (07.30)
Hari terlambat aku dan ani. Kami berdua akhirnya di hukum dengan membersihkan toilet. “apa-apaan ini, baru terlambat 15 menit saja sudah disuruh bersihkan toilet, apalagi terlambat 30 menit, bisa-bisa seluruh sekolah harus dibersihkan. Huh” keluh ani
“heh.. syut. Gunanya kita mengeluh apa, ni? Tau juga hukuman ini nggak selesai kan?” kataku
Kami pun segera membersihkan toilet. Setelah beberapa menit berlalu, kami pun siap membersihkannya. Lalu dipersilahkan untuk masuk ke kelas dengan catatan namaku dan ani telah masuk di buku hitam. Astaga.. itu memalukan. Aku dan ani mengendap-endap melihat ruangan ada guru atau tidak, namun.. hah, syukurlah, guru tidak ada di dalam kelas.

“hey, din.. ayo buruan, bapak itu nggak ada”
Aku tersenyum dan melangkah masuk kelas. Anak-anak mengoceh semena-menanya ketika tidak ada guru. No problem.. itu sudah menjadi tradisi di kalangan anak sekolah. Tak lama,
“heh.. heh.. diam semua pak zul datang”
Semua hening, merapikan dirinya masing-masing. Pak zul pun masuk, namun pak zul kali ini bersama seseorang yang menurut kami semua dia adalah sosok yang asing. Tidak pernah tampak di sekolahan. Pak zul mempersilahkan anak yang ada di sampingnya itu untuk memperkenalkan dirinya.

“nama saya bagus barsito. Kalian boleh memanggil saya ito. Saya pindahan dari SMA anak indonesia di bandung. Alamat saya di jalan patuan nagari blok B komplek B” anak itu memperlihatkan senyum di bibirnya.
“nama nya ito, ni” kataku dengan perlahan melihat ani. Astaga.. dia bengong, terpelongo melihat laki-laki itu.
“heii aniiii…” teriakku, memang ani terkejut, namun yang lebih nya lagi anak-anak juga mengalihkan pandangannya ke arahku.
“ada apa, dinda?” kata pak zul
“anuh, pak, nggak kok pak. Maaf ya pak” kata ku
“hahaha… kena marah kan lu” ledek ani
Aku menggaruk-garuk kepala sebagai basa-basi karena rasa maluku.
“ya sudah. Kamu ito, silahkan duduk di samping arif. Laki-laki yang bersebrangan dengan yang menjerit tadi”
“hahahaha” gelak tawa anak yang lain.

Sepulang sekolah…
Yang lain sudah pada pulang, tinggal ani, aku dan anak baru itu, ito. Ani langsung berhadapan dengan ito. Aku jelas terpelongo, kenapa dia nekat mendatangi laki-laki?
“haii.. kita belum sempat kenal kan. Gue ani” ani menjulurkan tangannya
“ehhmm haii, aku ito” ito membalas tangan ani. Mata ani tertajam ke ito. Tangannya tak melepas kan salaman itu.
“heyyy…” ito melambaikan sebelah tangannya di wajah ani.
“ehh iya, maaf maaf…” kata ani
Ito sembari tersenyum manis. “kalau gitu, aku balik duluan ya..”
Aku dan ani mengangguk dan membalas senyumannya. Setelah ia pergi, aku terkejut… ani tiba-tiba menjerit dan mengatakan dia sangat bahagia. Aku sudah menebaknya, ani jatuh cinta dengan laki-laki yang bernama ito. Aku ikut merasakan kebahagiaan ani.
“din, rumah kita kan dekat tuh sama rumah ito, gimana kalau entar sore kita belajar bareng sama dia?”
“enggg…” belum lagi aku mengatakan “iya”, ani langsung memelukku dan mengoyang-goyangkan tubuhku. “yee”

Sore harinya, saat aku berada di rumah ani, laki-laki berkaos biru putih datang ke rumah ani. Dia ito. Aku menyambutnya layaknya tamu. Aku berlari ke kamar ani dan mengatakan ada kejutan untukknya. Ani pun ke luar dan nyaris pingsan, rumahnya didatangi laki-laki yang ia sukai.
“kamu, ito? Ada apa ya?” basa-basi ani. Aku melihat ani dengan gelak tawa smiwing.
“ayahku yang menyuruhku untuk datang kesini. Beliau bilang, papa kamu adalah teman dekat ayahku dulu.”
“hah.. masa sih. Ayah kamu siapa namanya?”
“burno sujaya. Ohh.. om burno. Iya iya, kemarin papa pernah bilang ke aku kalau teman dekatnya akan pindah ke komplek ini. Ternyata kamu ya ito..”
Ani menyengir nggak jelas. Aku berbisik pelan ke ani “sejak kapan bahasa kamu jadi lembut gini, ni. Hihih”
“heheh..” nyengirnya lagi.

Sejak kejadian itu kami bertiga mulai akrab layaknya sebagai sahabat. Namun, ani tetap menyembunyikan fakta dariku atau pun ito. Ani memang tidak memberitahukan masalah perasaannya, tapi aku bisa menebak, dia jatuh cinta dengan ito.

02 januari 2015
Sekarang aku, ani dan ito telah menjadi siswa kelas 3. Rencana rahasia kami akan di lakukan di tanggal ini. Aku tidak tahu rencana ito atau pun ani. Yang jelas ini RAHASIA.

Pagi hari…
Ada bunga dan selehai kertas putih di mejaku. Saat itu hanya ada aku dan ani, ito tidak kelihatan di kelas. Padahal, setiap harinya kami pergi sekolah bersamaan. Kali ini ia tidak dengan kami. Ani langsung meledekku. “ciieee… ada bunga tu. Ternyata ada penggemar rahasianya dinda ya. Hahaha”
Aku mengambil bunga dan kertas itu. Mencium aromanya, dan membaca perlahan kata-kata itu. “untuk perempuan yang berhasil menghidupkan semangatku, terimakasih untuk semuanya. Ini adalah rencana rahasiaku, aku ingin mengungkapkan perasaanku selama kita telah menjadi sahabat. Aku berharap kamu membalas perasaanku”
Aku sedikit heran. Tulisan tangan ini tidak asing bagiku. Dan aku mulai membaca.. membaca.. membaca lagi. Aku terkejut dan terkecoh seolah tak percaya. Nama ini bertulisan jelas BAGUS BARSITO. Tenyata ini dari ito.
“hey.. hey.. serius amat sih bacanya, bagi aku lihat dong…” kata ani
Aku tetap menggenggam kertas itu. Jika ani tahu, ani bakal marah besar dan bisa-bisa membenciku.
“din?…”
Ani langsung mengambil kertas saat aku lalai. “nah… uda dapet nih hihihi, aku baca ahh”
Perlahan ia membaca dengan suaranya yang lantang. Saat tiba di kata-kata terakhir, ani sempat meledekku lagi “heii, din. Gimana? Kamu mau jadi pacar nya sihh… eh siapa ya namanya.”
Ani mencari nama penulis itu, saat ia temukan itu adalah nama ito. Ani spontan merintihkan airmatanya. Dan menatap dendam ke arahku
“ni.. kamu baik-baik saja?” Ani langsung pergi meninggalkanku. Selang waktu ito datang tanpa ada rasa apapun. Ia justru bercanda tawa ke aku. Aku meresponnya dengan keheranan. Apa sebaiknya aku yang menanyakan hal ini ke ito? Tapi aku tidak punya nyali yang besar.

Pulang sekolah, ito besikap aneh. Ia gerogi saat ani menatap tajam matanya. Kami mulai berdiaman. Biasanya pulang bertiga, kini pulang dengan sendiri-sendiri. Aku mulai curiga dengan ito. Apa jangan-jangan, ito salah letak bunga itu. Seharusnya ke ani, bukan ke aku.
Beberapa hari, ani mengusir ku dari rumahnya saat aku mencoba meminta maaf dan berterus terang untuk ikut menyelidiki ito. Tapi justru ani bercakap kasar ke aku. karena terlalu banyak air mata yang terbuang hanya gara-gara laki-laki. Aku nekat tegas untuk datang ke rumah ito.

Tokk tokk
Suara pintu terbuka. Ito mempersilahkan aku duduk di terasnya.tanpa basa basi, aku to the point “to, maaf sebelum nya. Aku mau nanya perasaan kamu ke ani? Apakah kamu suka sama ani?”
Ito gugup, ia bingung harus menjawab apa. Rautan wajah nya tidak menentu. “jawab, to. Biar masalah ini selesai”
“i, iya, din. Aku suka sama ani. Lalu masalah apa yang kamu bilang selesai?”
“masalahnya adalah kenapa kamu beri bunga dan surat ini ke meja aku, to. Kamu salah besar, beberapa hari ini ani tidak mersepon perkataanku, dan kamu juga kan?”
“hah? Astaga… maaf din. Aku pikir meja kalian itu sama. Oke besok pagi aku akan bilang ke ani.”

Pagi harinya..
Aku dan ito menanti kehadiran ani. Namun sampai bel berbunyi ani juga belum tiba di sekolah. “to.. apa ani sakit ya?” kataku
“aku nggak tahu, din. Semoga aja tidak”
Aku menghela nafas. Bu sela datang kekelas kami. “ini XII IPA 3?”
Serentak kami mengatakan iya. “ada teman kalian yang tidak datang?”
“ada bu, ani prasetya”
Bu nova terkejut. “kenapa bu?” tanyaku
“teman kalian kecelakaan, sekarang lagi koma. Polisi datang kesini memberitahukannya”
Anak yang lain terkejut termasuk aku dan ito. Belum lagi melakukan rencana rahasia itu, ani mengalami musibah. Sepulang sekolah, anak-anak pun melihat keadaan ani. Kami melihat di kaca jendela, ani terbaring rapuh, kepalanya di perban penuh darah. Pernapasannya di bantu dengan selang oksigen. Tampak kedua orangtua dan sanak saudaranya turut iba melihat kondisi ani. karena hari telah sore, aku dan yang lain berpamitan untuk pulang. Sedangkan aku dan ito akan kembali waktu malam hari.

Beberapa jam kemudian..
Aku dan ito kembali ke rumah sakit, saat hendak menuju ruang ICU, kedua orangtua ani menangis histeris. Apa yang terjadi dengan ani? Aku dan ito berlari cepat ke ruang Icu. “om, kenapa sama ani om?”
Dengan lumuran air mata dan sendak suaranya, papa ani mengatakan jika anaknya tersebut telah tiada. Spontan aku dan ito tidak bisa berkata-kata. Ini tragedi yang mengenaskan dalam cerita persahabatan kami yang berjalan dengan tawa namun berakhir dengan penderitaan. Aku menuliskan selembar kertas dan di menitipkan bunga di makam ani, dengan tulisan “andai kau tahu”

selesai

Cerpen Karangan: Sanniu Cha Putri
Facebook: Sanniucha Putri

Cerpen Andai Kau Tahu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Sebuah Gang

Oleh:
Waktu itu sebenarnya adalah hari paling indah dalam hidupku. Dari pagi sampai menjelang sore tiada hentinya perut ini mendapat makanan Gratis. Teman-temanku banyak yang mentraktirku mulai dari yang ulang

Kertas dan Pena

Oleh:
Waktu begitu kejam tak pernah mempedulikan siapa pun, ia terus berjalan tanpa beristirahat barang sedetik saja. Meninggalkan mereka yang lalai. Dan berjalan beriringan dengan mereka yang sangat menghargainya. Tanpa

Benci Bisa Jadi Suka

Oleh:
Lama-kelamaan aku makin nyaman berada di desa ini, Ayah dan Ibuku pun memutuskan untuk menetap disini. Seperti biasanya pagi itu aku berangkat sekolah bersama Shilla dan Mauline. Ujian dimulai

Dahsyatnya Kekuatan Doa

Oleh:
“Din.. Cepat bangun sudah jam 5! Apa kamu ngak salat subuh?” Teriak ibuku dari dapur. “Ya, allah sudah jam 5. Aduh aku telat, aku telat. Bagaimana ini?” ucapku kaget

Sebuah Karangan Untuk Mama

Oleh:
Awell duduk melamun di atas rumah pohonnya. Dia sedang memikirkan mamanya yang tak pernah menyayanginya. “Ia, itu mama kandungku, tapi kenapa sikapnya selalu kasar padaku?” Tanya Awell dalam hati.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *