Artik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 October 2015

“Hiks.. hiks… Putri!!” tangisan Artik mengagetkanku yang tengah asyik membaca buku.
“Astaghfirullah. Kamu kenapa, Tik?” tanyaku dengan tatapan terkejut.
“Kakakku, hiks, hiks Kakakku, Put…” mengalir deras air matanya di pipi halusnya. Kali ini aku coba mendekat dan merangkulnya.
“Kakakmu kenapa, Kawan? Katakan saja.” pintaku lembut.
“Dia pergi dari rumah, Put.” tangisannya mulai reda. Kaget dan tak ku sangka sebelumnya. Artik, sahabatku akan menangis sesenggukkan di pangkuanku.

Kakak Artik pergi dari rumah dan sudah tiga hari tak kembali. Artik meratapi nasib keluarganya. Dari awal Artik sudah tahu perdebatan antara kedua orangtuanya dengan Kakaknya. Kakaknya tak ingin dijodohkan dengan pilihan kedua orangtuanya. Dan sejak pertengkaran hebat itu, Kakak Artik mencoba kabur dari rumah. Alhasil, dia tak kembali. Ku usap air matanya dan ku rangkul lagi, ya aku hanya bisa menyemangatinya dan menasihatinya. Artik, sahabatku yang tak akan pernah ku lupakan.

“Makan yuk, Put!” Artik nampak sumringah.
“Wah, ada yang traktirin nih.” ucapku merayunya.
“Hehehe, iya deh. Kali ini aku yang bayarin. Oke?” sambil mengacungkan kedua jempolnya. Aku pun ikut tertawa geli dan pergi berlalu bersamanya.
“Tumben gak ada angin, gak ada hujan, gak ada topan, kamu traktirin aku, Tik?” tanyaku yang tak tertahankan sebelum pergi ke kantin tadi.
“Hmm….” Artik nampak berpikir sesuatu sambil mengunyah makanannya.
“Apa?” kini aku mulai tak sabar dan menarik tangannya.
“Sebenarnya…” Artik mulai membuka mulutnya yang penuh siomai, makanan kesukaannya.

“Iiihhh! Kamu nih lama banget. Buruan dong!” pintaku kesal dan mencubit lengannya.
“Aduh! Uhuk.. Uhuk!!” Artik tersedak. Dan segera mungkin aku mengulurkan minuman untuknya.
“Sabar dong, Put! Uhuk.. uhuk!! Jadi keselek nih!” muka Artik memerah menahan batuk yang tak kunjung reda.
“Ups, sorry.” balasku dengan nada bersalah.
“Ehem… Put, Kakakku udah pulang ke rumah.”
“Alhamdulillah, syukurlah, Tik.” aku gembira dan memeluk Artik.

“Yah, Alhamdulillah. Tapi…” Artik tiba-tiba diam.
“Loh?! Kok ada tapinya?” ku renggankan pelukanku dan menatap tajam kepadanya.
“Orangtua masih memaksa Kakaku cepat nikah. Kalau bisa bulan depan. Aku takut Kakakku pergi dari rumah lagi, Put.” Artik tertunduk lesu sambil menahan bening-bening air di pelupuk matanya.
“Kenapa Kakakmu gak mau dijodohin, Tik?”
“Kakakku ada keinginan yang belum dia capai, Put. Menyandang gelar Sarjana adalah impiannya.”
Huft… Artik menghela napas panjang.
“Kakakku membuat sebuah perjanjian dengan kedua orangtuaku. Bahwa setelah tiga tahun ke depan, dia akan menikah dengan pilihan orangtuaku jika dia belum mendapat gelar sarjana.”

“Hah! Perjanjian?! Emmm, apa orangtuamu setuju, Tik?” tanyaku penasaran mendengar cerita Artik.
“Yah…” Artik mengangguk pelan.
“Lalu sekarang apa rencana Kakakmu?”
“Kakakku bilang, dia mau kuliah di Yogja saja. Yang lebih dekat dari Solo, rumah kami.” jelasnya.
“Sruup..” kuseduh teh manis hangat yang sejak tadi utuh meminta untuk diminum segera.
“Aku doakan, Kakakmu berhasil dan di ridhoi Allah, Tik. Dan kamu jangan lupa untuk selalu mendukung Kakakmu, oke?!” jempol kananku ku tempelkan di hidung Artik yang bermuka kalut.
“Iiih… Putri! Bau jengkol!” teriakan Artik menggemparkan kantin sekolah.
“Ow.. ow! Kabur!!” aku lari sekuat tenaga. Yah memang aku pesan semur jengkol pedas. Hehe, gak suka tapi doyan makan.

Begitulah kami, aku dan Artik tak pernah terpisahkan sejak kelas 1 SMP dulu. Dan sekarang, meskipun di kelas 2 dan 3 SMP kami terpisah, kami tetap jalan bersama. Seluruh warga sekolah pun tahu keakraban kami. Bagaikan dua sisi uang logam yang takkan terpisahkan. Kami sering bertukar cerita, membahas mata pelajaran, guru yang paling tidak kami sukai, berdiskusi tentang segala hal termasuk impian di masa depan.

“Insya Allah, aku mau jadi guru, Tik. Kamu sendiri?” aku bertanya balik tentang cita-citanya kelak ingin menjadi apa.
“Emm… Apa ya?” alis sebelahnya naik dan bengkok. Hihihi, aku tertawa geli melihat aksi muka Artik.
“Aku mau kerja saja, Put.” mendadak mukanya berubah serius, sangat serius dan menakutkanku.
“Loh? Kok kerja? Gak mau lanjut sekolah?” tanyaku bertubi-tubi.
“Yah, mau sih. Tapi aku mau membahagiakan kedua orangtuaku. Sebelum waktuku habis tak ku sadari nanti.”

Deg! Jantungku berdetak kencang.
“Tik! Kamu nih ngomong apa sih? Ditanya ini, jawabannya itu.” nadaku kesal mendengar jawaban Artik yang tak pernah ku sangka sebelumnya.
“Iya, aku serius, Put. Aku mau membahagiakan kedua orangtuaku, sebelum…”
“Putri, Artik!” Ibu Tri mengejutkan kami.
“Kalian pergi ke toko fotocopy yah. Ini ada paket buku bahasa Indonesia yang harus difotocopy sekarang.” Ibu Tri mendekat dan menyerahkan buku itu kepada kami.
“Iya, Bu.” jawab kami hampir bersamaan. Kami pun saling berpandangan dan tertawa geli.

“Wah, wah.. Kalian memang sahabat karib yah. Bicara pun sampai bersamaan . Hihihi,” Ibu Tri tertawa geli.
“Ya dah, Ibu mau balik ke ruang guru. Mau ada meeting. Ini uangnya, jangan sampai lupa yah Put, Tik!” Ibu Tri mengingatkan kami dan berlalu pergi.
“Yuk, kita pergi sekarang. Takut gak ada waktu lagi, Put!” ajak Artik yang terburu-buru dan beranjak pergi. Aku menatap heran dengan sikap Artik. Ada yang aneh di balik sikapnya. Prasangka burukku datang menghantui pikiranku. Ah, jangan suuzon, Put. Bisikkan di relung hatiku menenangkanku.
“Putri, ayo!” teriakan Artik menyadarkanku yang masih terpaku di depan pintu kelas kami.
“Eh, Iya, Tik. Tunggu!” dengan berlari kecil aku coba menghampiri Artik yang sudah ke luar pintu gerbang sekolah.

“Yaah… Tik. Uangnya gak cukup nih. Gimana dong?” harap-harap cemas aku luahkan padanya.
“Kurang berapa, Mas?” tanya Artik kepada pemilik toko.
“Dua puluh ribu, Dik.”
Dengan sigap, Artik mengambil dompet dari dalam tasnya dan mengambil selembar uang kertas berwarna hijau, dua puluh ribu rupiah.
“Ini, Mas.” Artik mengulurkan uang kepada Mas-mas itu.
“Makasih, Dik. Lain kali ke sini saja yah, aku gratisin lima ribu deh.” dengan nada merayu dan sedikit malu-malu Mas-mas itu pergi.

“Hish! Itu cowok ada maunya pasti bilang begitu.” kesalku tak tertahankan.
“Sudahlah, Put. Biarin aja.” Artik mencoba menenangkanku.
“Tik, nanti uangnya biar diganti sama Bu Tri ya? Kan tadi udah pake uang kamu.” cetusku teringat uang Artik yang sudah terpakai untuk membayar biaya fotocopy tadi.
“Gak apa-apa, Put. Gak usah.” jawab Artik lembut.
“Kok gak usah, Tik? Nanti aku yang bilang ke Bu Tri.” aku tetap memaksa.
“Aku ikhlas kok, Put. Jangan minta ganti sama Bu Tri. Aku ikhlas, Put. Sudahlah kita balik ke sekolah sekarang.” Artik membalikkan badan dan melangkah pergi.
“Tapi Tik…”
“Sudahlah, Put. Gak apa-apa, aku ikhlas dan Insya Allah jadi tabunganku di sana.” lirih Artik yang mengejutkanku.

Deg! Lagi, dentuman jantungku berdegup kencang, lebih kencang. Aku terpaku sesaat dan memandang lurus tepat ke arah Artik. Hanya punggung dan rambut panjangnya yang terlihat.
“Ayo! Kok ngalamun sih!!? Buruan Put!” Artik tiba-tiba menoleh dan melambaikan tangan padaku. Aku terdiam dan mencoba berlari menghampirinya. Setiap langkahku yang ku pijak, serasa semakin jauh keberadaan Artik di mataku. Ada apa ini? Tanganku ku letakkan di dadaku. Cepat dan sangat kuat detakkan jantungku. Aku mencoba bersenda gurau di samping Artik. Ada perasaa aneh yang menyelimuti hatiku. Entahlah, aku buang jauh-jauh perasaan itu dan ku coba berpikir tenang meski tak mudah melakukannya.

“Eh Put. Kamu tahu kan lagu kesukaanku?” lagi-lagi Artik mengusik konsentrasiku membaca buku. Dengan muka masam aku menoleh dan menatapnya.
“Iyaa… Aku tahu. Lagu dangdut yang judulnya Gedung Tua.” nada bicaraku seolah-olah tak suka. Memang aku tak suka diganggu kalau sedang membaca buku.
“Yap! Betul!” Artik terlihat senang mendengar jawabanku
“Tentu saja betul. Aku tahu pasti lagu kesukaanmu, Tik. Tiap hari selalu kamu dendangkan. Dan gak pernah lupa deh suara fals kamu. Hehehe,” aku tertawa geli bila teringat Artik yang dulu pernah ikut kompetisi di sekolah.
“Wah, kamu pasti suka ya ma suaraku. Hihihi…” Artik menimpaliku dengan tawa khasnya.
“Iyalah! Sangat merdu sampai para juri kabur semua tuh.” aku menyindir bercanda.

“Hahaha… Iya Put. Aku sebenarnya malu, tapi karena udah jatuh cinta sama itu lagu, gak ada rasa malu lagi deh…” cengir Artik.
“Huuu! Kamu nih, emang ratu dangdut.” ejekku dengan mengibaskan tangan kananku.
“Aku mau nyanyi buat kamu Put.” seru Artik tiba-tiba.
“Hah?! Enggak Tik! Tung…” belum habis laranganku, Artik sudah mengambil napas dan bernyanyi.
“Tidaaakkk!” teriakku.

Aku tutup kedua telungaku rapat-rapat. Ku usahakan agar suara-suara kacau itu tak terdengar olehku. Dengan menutup mata dan telinga aku berkomat-kamit agar tak terpengaruh lagu itu. Namun, rasa aneh itu datang lagi. Masuk ke relung hatiku. Kali ini bukan hal yang tak ku ketahui, suara Artik tiba-tiba terdengar sendu dan mendayu-dayu. Aku mulai meregangkan jari telunjukku yang telah menutup kedua telingaku. Ku coba meyakinkan diri, apakah benar ini suara Artik? Ku lepaskan jemariku dan ku buka mataku. Perlahan dan sangat hati-hati aku melakukannya.

Dan ternyata, terlihat olehku Sahabatku yang tak ku duga sebelumnya. Dengan penuh penghayatan dan segenap perasaan. Artik menyanyikan lagu di hadapanku. Sendu, sangat sendu. Seakan-akan, dia tidak akan menyanyi lagi. Aku terperangah dan tak percaya. “Artik, kau kah itu? Sungguh kau terlihat berbeda, Tik.” Ucapku dalam hati.
“Gimana? Bagus kan?” Artik menyentak rasa terpesonaku.
“Ehh, eee.. Iya, bagus-bagus.” aku kelabakan menjawabnya.
“Kamu bengong ya?! Ishh!! Kamu nih. Aku dah nyanyi susah-susah malah kamu bengong. Ya udah deh, lanjutin aja bacanya. Aku mau pergi ke Musala dulu Put. Bye!” hilang bayangannya berlalu dengan cepat.
“Artik, tunggu!” aku berteriak memanggilnya, namun tak sedikit pun dia berpaling dan menatap wajahku. Aku terduduk lemas dan kebingungan. Tiba-tiba saja air mataku menetes dan membasahi lembaran bukuku. “Ya Allah, ada apa ini? Hiks, hiks” hatiku menangis.

Tok, tok, tok!
“Assalamualaikum! Mbak?” suara lantang terdengar dari luar. Aku ke luar dari kamarku dan menengok siapa yang datang.
“Waalaikumsalam. Eh Dik Rtna. Mari masuk, Dik.” ucapku lembut.
“Mbak… Hiks… hiks…” tiba-tiba Ratna menangis dan memelukku.
“Kamu kanapa Dik?” Aku kaget dan mengajaknya duduk.
“Hiks, hiks Mbak Artik… Mbak Artik telah berpulang ke Rahmatullah subuh tadi Mbak.”
Brukk!! Aku terjatuh, terduduk lemas di lantai.
“Ar..tik. Arrtiikk… Artiiikkk!” tangisanku meledakkan seisi rumah dan menggemparkan suasana pagi itu.

“Adinda Wijiartik telah berpulang ke Rahmatullah subuh tadi, Minggu, 2 Mei 2009. Semoga segala amal perbuatan dan ibadahnya diterima di sisi Allah. Diampuni segala dosa-dosanya dan dimuliakan di surga-Nya. Amin.” Kepala desa menutup acara ucapan perpisahan sekaligus doa untuk Artik.
“Artik!! Ibu sudah panggil teman-temanmu Nak. Kamu bilang mau merayakan ulang tahunmu bersama teman-tamanmu. Sekarang mereka sudah datang, Nak. Bangun anakku, bangun! Artiiikk!”

Bruuk! Terjatuh pingsan Ibu Artik yang tak kuasa menahan kesedihannya. Aku dan teman-teman hanya tediam dan menangis pilu. Kami masih tak percaya akan secepat ini kehilangan teman terbaik kami. Artik, sahabatku telah pergi ke sana. Ya, di alam lain yang lebih indah dan abadi. Aku akan selalu menjadi sahabatmu, Kawan. Semoga Allah mempertemukan kita kelak di sana, di Surga-Nya. Amin.

Untuk sahabatku, Almarhummah Wijiartik.

Cerpen Karangan: Putri Cahyo Rini
Facebook: Putri Rini

Cerpen Artik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cupcake Shop

Oleh:
Waktu istirahat… “Girls, kemarin aku beli cupcake di Cupcake Shop,” ujar Manda kepada Aura, Shilla dan Mega. “Cupcake Shop?” tanya Aura, Shilla, dan Mega kaget. “Iya, Cupcake Shop. Toko

Jetitan Hati Seorang Gadis SMA

Oleh:
Kesepian yang membeku. Aku termenung seorang diri menyesali semua yang t’lah menimpaku hingga membuatku seperti ini. Kejadian tadi siang di sekolah membuatku tak bisa berhenti menangis sampai saat ini.

Sahabat Yang Meninggalkanku

Oleh:
Namaku santi, usiaku sekarang 15 tahun. kisahku ini dimulai saat aku berusia 13 tahun yang pada saat itu duduk di bangku smp kelas 1. Di kelasku, aku mempunyai banyak

Hadir Mu, Sang Penolong (Part 1)

Oleh:
“Aku ingin menjadi malaikat bagi malaikat.” Randy. Seorang gadis berjalan ke sekolah sendirian. Rita melangkah santai meskipun sudah terlambat. Sebuah headset besar menggantung di kepalanya. Wajahnya sedikit terangkat dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *