Asnita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 February 2018

Akhir-akhir ini aku menghabiskan waktu demi buku-bukuku. Buku-buku yang yang tak akan pernah meninggalkanku sendirian, walau dalam diam. Kau terlihat sibuk dengan kawan-kawan sekamarmu itu hingga kau lupa padaku. Kau benar-benar lupa membuang sedikit waktumu untukku. Tapi tak apa, aku baik-baik saja. Lagian aku butuh ditemani oleh sepi. Mungkin aku juga berlagak sibuk di hadapanmu jadi kau tak ingin menggangguku. Yah, aku memang sibuk, bahkan saat kau di hadapanku sekalipun aku selalu merasa sibuk. Bukannya kau sendiri memaklumi itu? Memang agak runyam jika menjadi sepertiku, si juara kelas, yang kerjanya hanya belajar, membaca, berkawan dengan buku-buku, hingga tidur pun di perpustakaan. Apalagi sekarang ini adalah detik-detik akhir menjelang ujian, jadi aku akan (makin) sibuk menjadi buku hingga sibuk setengah mati mencari waktu luang untukmu.

Terkadang saat buku-buku pelajaran menyita waktuku aku mendengar suaramu, kau mengajakku bergurau. Tapi saat aku sadar, tak ada siapa-siapa di sekeliligku. Apa mungkin aku gila? Di balik jendela depan kelas kau terlihat bahagia dengan kawan-kawan sepondokmu itu. Aku iri. Apa mungkin mereka telah menggantikan posisiku sekarang?

Aku merasa aneh jadi diriku sendiri. Seolah-olah aku tak punya siapa-siapa. Jadi orang yang terpopouler karena kecerdasan adalah hal yang menyedihkan bagiku. Hal yang sungguh menyedihkan.

Asnita, aku tak pernah paham dengan permasalahan yang tengah kita hadapi selama ini. Aku merasa bingung sendiri jika teringat akan hal itu. Mengapa akhir-akhir ini kau begitu sulit mengerti pada diriku? Entahlah. Seperti saat tempo hari kau bilang bahwa kau salah karena telah mengabaikanku, membiarkanku sibuk dengan duniaku, sedangkan aku mengaku bahwa akulah yang salah. Biarkan aku menjelaskannya. Yang salah adalah aku. Aku terlalu membiarkan diriku terlarut dalam sepi. Aku sendiri yang memilih, membiarkan spasi itu memberi jarak antara kita. Akulah yang patut menyalahkan diri. Dan pantas disalahkan olehmu. Aku punya alasan. Alasan yang akan membuatmu diam jika mendengarnya. Alasan yang sulit kujelaskan di hadapanmu.

Asal kau tahu saja, aku sungguh rindu padamu. Kau berkali-kali hadir dalam bunga tidurku. Kau kerap menghantuiku. Dan aku senang jika hal itu terjadi setiap malam. Sungguh. Sampai-sampai pada suatu malam hari aku lembur belajar, hingga bertumpuk-tumpuk buku yang kubaca, ratusan lembar soal ujian berserakan di atas mejaku, aku sengaja menyempatkan kepalaku dipenuhi oleh dirimu. Kujelajahi engkau dalam imajinasiku agar aku bisa memimpikanmu lagi malam ini. Agar aku bisa bersua denganmu sambil bercakap-cakap dalam mimpiku. Agar aku bisa menggenggam jemari hangatmu itu. Tak masalalah bagiku walau hanya dalam mimpi. Ah, tak peduli! Yang penting bisa berjumpa denganmu.

Sebuah mimpi:
Aku sedang menunggumu di depan perpustakaan sambil mengamati santri-santri lain berlalu lalang. Kutunggu kau. 37 menit berlalu kau tak datang. Namun kau masih kutunggu. Sejam berlalu, kau belum juga datang. Dua jam. Kuluangkan waktuku untuk membaca Edensor sebentar sambil berjaga-jaga suatu saat kau datang. Jam telah menunjukkan pukul 17.34, aku belum juga pulang. Akhirnya, 18.02 kau datang juga. Kau duduk di sampingku. Tak mengucapakan sepatah katapun.

“Dari mana saja kau?” tanyaku sambil menatap lurus.
Kau diam. Kudengar tarikan nafasmu.
“Kau tau? Aku rindu padamu.”
Kau tetap diam. Membatu.

Saat aku berbalik, aku terkejut melihat wajahmu berantakan. Hitam. Menyeramkan.
Tiba-tiba kau menyerangku, kau cekik leherku, hingga nafasku megap-megap. Itukah kau? Aku rasa bukan. Kau takkan melakukan hal itu padaku (kan)? Tapi…, ah! Entahlah. Kulihat bola matamu saat itu, seperti ingin mengatakan sesuatu. Seperti ada yang dipendam oleh gerak tubuhmu. Tapi mereka enggan memberitahukannya padaku. Dan saat itu juga ketika nafas mulai setengah mati kuhirup, aku melihat kau menggandakan dirimu, namun bukan menggandakan jadi dua saja, melainkan dua berlipat-lipat. Dua bertambah dengan dua, lalu bertambah lagi jadi dua, lalu bertambah lagi. Ah, aku pusing. Aku seperti mengelilingi diriku sendiri. Kau ingin tahu menjelma jadi apa gandaanmu itu? Gandaanmu itu menjelma jadi kawan-kawan sekamarmu. Kawan-kawan yang merebutmu dariku. Kawan-kawan omong kosongmu. Kawan-kawan yang tak pernah membicarakan hal-hal yang berfaedah. Aku muak dengan mereka, jadi kuserang saja kawan-kawanmu itu dengan bolpoin yang kurebut dari sakumu. Lalu kujatuhakan mereka ke lantai dasar.

Itu cukup menenangkan diriku sejak dari tadi menunggumu cukup lama. Aku benci dengan mereka sebenarnya. Mereka terlalu lancang. Aku tak suka ada orang yang lebih dekat denganmu daripada diriku. Untung saja aku pintar.
Namun, setelah kujatuhkan kawanmu itu, kau menghilang. Entah ke mana.

Setelah mimpi itu, aku terus dihantui dengan bunga-bunga tidur lainnnya. Seperti saat aku bermimpi kau pergi meninggalkanku hingga dalam perpisahan pun kita berdua tak hadir.
Aku takut kehilanganmu. Aku memang sahabat yang dingin. Sahabat yang penuh dengan misteri. Sahabat yang selalu sibuk sendiri. Sahabat yang keras kepala, sohib yang paling sulit dimengerti. Namun bisa saja akulah yang paling mencintaimu. Bisa saja aku yang paling mengerti dirimu. Mungkin aku tak selalu ada untukmu, namun akulah yang selalu menyempatkan diri untuk membuang waktu memikirkanmu. Mungkin aku tak sebaik yang kau kira, tapi coba kau pikir, adakah yang mau melakukan semua ini demi dirimu?

Berbulan-bulan aku gelisah memikirkan semua hal. Aku sibuk memikirkan masa depanku. Sibuk memikirkan pendaftaran kuliahku. Sibuk dengan rutinitasku sekarang yang gegabah. Sibuk mencari ruang sepi di tengah ramainya manusia. Aku muak dengan mereka. Bahkan pada dirimu. Aku benci dengan diriku. Kau tau seperti apa aku sekarang? Kau ingin tahu bagaimana kabarku? Aku berantakan. Semua rutinitasku dahulu raib. Kemelankolisanku semakin memburuk. Introvertku sedingin salju. Aku, asal kau tahu saja sudah mati. Diriku sebenarnya telah lama menghilang. Sampai sekarang tak ada kabarnya. Orang-orang tak pernah sibuk mencariku. Mereka tak peduli. Aku memang tak penting. Semua peranku dalam teater tak pernah dihargai, selalu diambil alih oleh orang-orang sepertimu. Orang-orang yang sering mencari perhatian agar dianggap ada, orang-orang yang hidup dalam kepura-puraan, oleh orang-orang yang selalu sibuk unjuk gigi. Aku benci dengan mereka. Tapi dengan dirimu, benciku dibalut oleh kehangatan. Sehangat jari-jarimu saat kau selimuti dinginnya kegugupanku. Aku benci dengan semua ini sebenarnya.

Malam ini, aku sibuk membaca buku, ditemani oleh tumpukan lembaran-lembaran soal ujian, buku-buku pelajaran, tiba-tiba penyakit vertigoku kambuh. Konsentrasiku buyar. Aku cemas karena belajarku tertunda. Jadwal belajarku berantakan. Kusalahkan diriku.

Aku senang dan mulai tenang melihat diriku terkapar dalam sepinya malam. Kubuat diriku tidur sejenak agar buku-bukuku juga ikut terlelap. Pisau itu pandai juga me-nina bobokan diriku, namun tidak dengan buku-bukuku; mereka jadi saksi malam ini, melihat aku membunuh diriku sendiri.

Makassar, Maret 2016

Cerpen Karangan: Faika Alhabsyie
Facebook: Syarifah Faika Muzaenab Al Habsyie
Syarifah Faika Muzaenab Al Habsyi, seoarang mahasiswi jurusan Hukum Ekonomi Syariah di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Hobinya membaca, menulis, dan nonton film.

Alamat: Jl. Tupai Lr. 18 No. 14, Makassar – Sulawesi Selatan
Email: faikalhabsyie[-at-]gmail.com / Faikaalhabsie[-at-]yahoo.com
Instagram: faikalhabyie

Cerpen Asnita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Remang Cahaya Di Sela Ranting Cemara

Oleh:
Remang-remang cahaya di sela ranting cemara, terpancar indah menyorot mataku. Aku menatapnya dengan tatapan kosong dan lamunan di benakku. Aku melamun, melamun merindukannya, merindukan dia yang selalu menemani hari-hariku.

Surat Terakhir Sahabat Ku

Oleh:
Fiha, sahabatku. Ia adalah sahabat sejak kecil bagiku. Tak pernah terpisahkan oleh apa pun. Bagai kepompong dan kupu-kupu. Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan persahabatanku dengan Fiha. Hari demi

Pahit

Oleh:
Rasulullah Saw, bersabda, Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia

Salah Paham

Oleh:
Hari ke dua MOS smp aku datang terlambat tapi untungnya aku tidak dimarahi oleh kakak mosnya. Karena aku tidak tau aku masuk ke kelompok apa aku langsung bergabung dengan

Pentingnya Musik Dalam Hidupku

Oleh:
Aku adalah salah seorang manusia yang sangat menyukai musik, saat hatiku gundah hanya musik yang dapat menemaniku, saat senang pun hanya musik yang aku inginkan di dekatku. Teman tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *