Bad Day

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 February 2017

Butiran air memenuhi dedaunan di halaman rumahku. Cahaya pagi menyongsong dari ufuk timur, udara yang sedikit berkabut, serta sejuknya angin pagi menemani pagiku ini. Tanpa teman, tanpa sahabat. Aku berjalan menuju halte bus dengan pakaian seragam putih dan bercelana abu abu. Tak lupa tas berwarna merah kugendong di punggungku. Entah mengapa hari ini begitu berat aku lalui.

Pertengkaranku dimulai ketika kami semua terkena marah oleh salah seorang guru kami. Semenjak aku membentak dan memarahi teman satu kelasku, aku pun ditinggalkan begitu saja oleh mereka. Kesendirian, kesedihan, kesepian dan kesunyian sudah sering menghampiriku ketika aku masih mengenakan seragam putih biruku, namun tak kusangka, hal itu akan menghampiriku kembali di akhir akhir masa SMA ku ini.

Kulihat bus berwarna biru mulai menghampiriku yang sudah terduduk lesu di halte merah ini. Aku tak ada niat masuk sekolah lagi, namun aku juga tak mau mengecewakan kedua orangtuaku.

Sesampainya di sekolah, seperti biasa aku mengabsen diriku dengan alat sidik jadi yang terletak tak jauh dari gerbang sekolah. Guru pengawas yang biasa menunggu di depan gerbang untuk menyambut murid pun hari ini belum nampak sama sekali. Aku pun melangkahkan kakiku secara perlahan menuju ke ruang kelas yang letaknya berada di lantai dua di tepi tangga timur sekolahku. Aku menghela nafasku sejenak sebelum akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kelasku. Kulihat tatapan sinis tertuju kepadaku dari beberapa teman yang nampak sangat muak dengan perilakuku kemarin. Tak beberapa juga yang menghiraukanku. Untuk hari ini aku putuskan akan duduk di belakang di sudut ruang kelas dengan bangku yang penuh debu dan tak pernah digunakan untuk duduk oleh siswa di kelasku.

Pelajaran pertama pun dimulai, lagi lagi guru yang mengajar adalah guru yang telah memarahi kelas kami kemarin. Aku mengeluarkan buku berwarna hijau serta kotak pensil bergambar kapal dari ransel merahku. Aku berusaha untuk berkonsentrasi pada pelajaran, namun aku masih merasa bahwa mereka menatapku dengan sinis, aku sangat merasa tidak nyaman sehingga akhirnya kuputuskan untuk meminta izin keluar untuk mencuci muka ku di kamar mandi. Untungnya guru itu sepertinya sudah tidak marah dengan kelas kami, namun sikap teman teman terhadapku seperti tak berubah sama sekali.

Sesampainya di kamar mandi, aku pun mengambil sapu tangan dari kantong celanaku dan mengusapkannya pada wajahku. Aku menatap wajahku yang tampak penuh kesendirian.
Sebenarnya bukan hal sulit untuk menghiraukan teman teman sekelasku, yang aku susah untuk lakukan adalah untuk menghiraukan sahabatku yang telah menemaniku sejak pertama kali aku masuk ke SMA ini. Aku sedih sekali, aku pikir sahabatku akan membela diriku jikalau aku melakukan kesalahan atau melakukan kebenaran, namun nyatanya, sahabatku itu sama saja dengan mereka. Aku hanya berusaha menegur dengan cara membentak mereka karena sikap yang mereka lakukan terhadap guru kami itu sudah sangat keterlaluan. Tak ada yang membelaku, tak ada yang menolongku, bahkan hingga sekarang pun aku masih merasa sendiri. Aku akhirnya ingin memutuskan bahwa tanpa teman sekelas pun aku bisa melakukan sendiri. Aku pun bisa melangkahkan kakiku sendiri tanpa mereka, karena sungguh hatiku sudah tergores karena luka yang mereka buat dengan mengucilkanku.

Cerpen Karangan: Mr. I

Cerpen Bad Day merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


You’re Sky, I’m Earth

Oleh:
Kau langit yang tak mungkin tersentuh oleh gapaian tanganku Di sini, bumi, tempatku berpijak Hanya berandai-andai setiap menatapmu Kau yang jauh di sana Akankah bisa bersatu? Nya, lihatlah ke

Amnesia

Oleh:
Seorang gadis berjalan sendiri menyusuri jalan. Dengan membawa tas sekolahnya, Luna, nama gadis itu, berangkat menuju ke sekolahnya. Di tengah perjalanannya, dia disapa oleh seorang temannya, Sarah. Sarah menawari

Cinta Itu Absurd

Oleh:
Sepulang dari pemakaman Reza Ramadan, Ibnu langsung pulang ke kos-kosannya, di pemakaman dia melihat Nisa Nurgus tak kuasa membendung air matanya, padahal yang meninggal bukanlah orangtuanya, bukan juga keluarganya,

Diafy Forever

Oleh:
Halo namaku syafaat dini hari. Kalian bisa memanggilku dini. Aku mau cerita kisah nyataku. Aku sudah kelas 5 SD. Sebenarnya aku mempunyai sahabat bernama sajako anggotanya aku aulia, jingga,

Pertama Kali

Oleh:
Sore itu, hujan datang membasahi bumi. Hujan yang datang cukup besar. Seisi sekolah telah kosong, tapi aku belum dijemput. Aku baru saja selesai dari ekstrakurikuler matematika, pelajaran favoritku sejak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *