Bahagia Ku Bersama Mu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 May 2016

Setiap manusia tidak ada yang tahu kapan malaikat maut akan menjemputnya dari kehidupannya. Tidak ada manusia yang abadi dan kekal, kita harus menerima apa yang memang seharusnya kita terima. Tak ada yang bisa kita salahkan di dalam hidup atas apa yang kita punya dan kita alami saat ini. Baik itu sakit, senang, sedih, ceria, kaya, miskin, kesehatan bahkan kematian. Itu adalah milik yang kuasa untuk menentukan jalan hidup kita. Tak seorang pun mengaturnya. Hanya dengan menyampaikan doa yang bisa membuat keadaan sedikit lebih baik. Hal itulah yang dialami Echa atau lebih jelasnya Maura Elsa.

Seorang siswa yang sekarang duduk di kelas XII SMA, sejak kecil Echa sudah divonis mengidap penyakit mematikan yaitu kanker kelenjar getah bening, yang mana penyakit ganas ini dapat mengambil nyawa inangnya kapan saja. Terlihat kecil tapi sangat ganas, itulah kalimat pendek yang mendeskripsikan penyakit kanker ini. Tapi tidak untuk Echa, Echa adalah orang yang semangat hidupnya tinggi, cita-cita yang ia inginkan haruslah ia dapatkan, ia tidak mau sia-sia begitu saja. Echa tidak menyalahkan siapa pun atas penyakit kanker yang ia idap mulai sejak kecil.

Semangat Echa yang tinggi membuat kedua orangtuanya untuk membantu Echa, melihat anak satu-satunya ini mereka turut senang tapi di lain hati juga merasakan takut sekaligus sedih, yang mana mereka takut penyakit Echa dapat merenggut nyawanya kapan saja. Echa termasuk orang yang cerdas dan cekatan di sekolahnya. Ia adalah juara kelas sejak kelas 1 SD. Walaupun Echa memiliki penyakit, itu bukan menjadi halangan buatnya untuk meraih citanya, di sekolahnya Echa juga memiliki banyak teman, banyak yang mencintai dan menyayangi Echa. Ia juga memiliki kekasih yang disayanginya, Rendy. Echa dan Rendy sudah berpacaran sejak kelas 2 SMP, mereka dulunya juga bersekolah di SMP yang sama.

Rendy adalah orang yang baik. Ia tidak pernah memandang Echa sebelah mata, Rendy menerima Echa apa adanya, apa yang Rendy lihat itulah yang ia percaya, kesederhanaan kebaikan, semangat, dan keramahan yang dimiliki Echa membuatnya menjadikan Echa belahan jiwanya. Hari ini Echa tidak masuk sekolah karena untuk check-up masalah kesehatannya. Pihak sekolah sudah memahaminya, karena memang dalam satu minggu Echa harus check-up minimal 3 kali demi meringankan penyakitnya, mungkin kecil kemungkinan untuknya hidup bertahan lama, tapi cara inilah satu-satunya yang harus ia lakukan demi kelangsungan hidupnya, karena ia masih memiliki impian sukses yang ingin ia gapai.

Echa memiliki 3 teman yang ia sayangi dan menyayanginya, teman-temannya selalu tahu apa-apa saja jadwal yang Echa akan lakukan dalam satu minggu itu, contohnya saja check-up kali ini. Rendy pun sudah tahu niat Echa untuk check-up, ia selalu memberi semangat untuk Echa. Untuk chek-up kali ini mereka tidak akan ke luar negeri, chek-up di jakarta saja supaya dekat. Apa pun yang ia terima nanti di rumah sakit Echa tidak pernah mengeluh, bila disuntik ia akan disuntik, bila disuruh hanya minum obat ia akan melakukannya.

Setiap malam Echa berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan hidupnya walaupun itu mustahil, tapi Echa bukanlah orang yang mudah putus asa, ia tetap semangat dan ia tidak pernah berhenti untuk meminta kepada Tuhan. Karena Echa yakin Tuhan akan mendengarkan doa-doanya. Pagi hari pun tiba, Echa hari ini akan kembali bersekolah lagi, untuk memulai pelajarannya dan bertemu ketiga teman-temannya, dan juga tidak lupa kekasih kesayangannya, Rendy.

“Pagi Echa kesayangan,” sapa Mei ramah.
“Pagi Mei kesayangan.” jawab Echa sambil tersenyum.
‘Kesayangan’ memang sudah menjadi panggilan mereka sejak mereka bersahabat. Tidak hanya Rendy, ketiga teman Echa, Mei, Gita, dan Gita juga selalu memberinya semangat. Hal itulah yang membuat Echa semakin ceria menjalani kehidupannya. “Cha, gimana check-up kemarin, berjalan baik-baik aja kan? Dan apa yang dibilang dokternya? Kamu udah sembuh atau gimana?” tanya Gita si penasaran. Gita memang orang yang sangat peduli terhadap penyakit Echa, olehnya dia selalu bertanya panjang tentang kelanjutan penyakit Echa.

“Baik-baik aja kok Git, malahan kata dokter mulai sekarang aku enggak usah lagi untuk datang check-up tiap minggu, aku boleh datang kalau ada keluhan aja.”
“Seriusan Cha? Waaa berarti kamu udah mau sembuh dong. Berarti kalau kamu sembuh kita jalan-jalan ya.” ajak Gita dengan polosnya.
“Iya, iya ka.” jawab Echa.

Echa sangat beruntung memiliki banyak orang-orang yang peduli terhadapnya, baik itu saat susah maupun senang mereka selalu ada buat Echa. Pelajaran pun dimulai pagi itu, Echa sangat bahagia akhirnya ia tidak usah memikirkan penyakitnya lagi dan ia dapat melakukan semua aktivitasnya seperti biasanya. Tapi sepertinya kebahagiaan Echa itu hanyalah untuk sementara waktu itu saja. Esok harinya Echa merasakan hal itu lagi, ya dia merasakan sepertinya tubuhnya mulai terguncang lagi. Ia tidak tahan sehingga ia pingsan saat pelajaran berlangsung. Gita teman sebangku Echa langsung melapor kepada guru mata pelajaran yang sedang mengajar saat itu. Tak lupa Gita juga menelepon kedua orangtua Echa, ia juga memberitahu Rendy akan keadaan Echa. Semua orang panik terutama sahabat-sahabat Echa yang sekelas dengannya.

Setelah orangtua Echa datang mereka langsung membawa Echa ke rumah sakit tempat Echa biasa berobat. Setelah sampai di rumah sakit dokter Teddy (dokter yang biasa menangangi Echa). Tampak dari raut wajah kedua orangtua Echa mereka sangat khawatir akan kondisi Echa. Semua sahabat-sahabat Echa dan Rendy kekasihnya juga sangat khawatir. Setelah satu jam menunggu di luar kamar tempat Echa ditangani, akhirnya dokter Teddy ke luar dengan wajah yang pucat dan keringat dingin yang terus menerus turun dari wajahnya. Semua orang panik dan merasa khawatir apa yang sebenarnya terjadi di dalam.

“Dok, gimana keadaan anak saya? Apa Echa baik-baik saja? Apa penyakitnya kambuh lagi?” tanya mama Echa gelisah.
“Maaf Bu, perkiraan tentang penyakit Echa yang sudah tidak akan kambuh lagi salah. Tuhan ternyata berkehendak lain, kondisi Echa saat ini sangat lemah, bahkan bisa dibilang ia mengalami koma.” Air mata semua orang yang ada di tempat itu meluncur dengan derasnya, semuanya tak tahan menahan tangis setelah mendengar perkataan dokter Teddy barusan. Orangtua, sahabat, dan kekasihnya sangat tidak percaya semua ini akan menimpa Echa kembali. Mereka pun diperbolehkan untuk melihat Echa ke dalam, dengan menggunakan peralatan yang steril.

Tiga bulan berlalu. Semua orang melakukan tugasnya seperti biasa, kedua orangtua Echa bekerja seperti biasa, ketiga sahabat-sahabat Echa bersekolah dan melakukan aktivitas seperti biasa, begitu juga dengan Rendy. Tapi mereka juga tidak pernah lupa untuk selalu menjenguk Echa, 4 kali dalam satu minggu Gita, Mei, Gita, dan Rendy menjenguk Echa. Terutama Rendy ia bisa menjenguk Echa secara pribadi dan dalam satu minggu itu ia bisa menjenguk Echa setiap hari. Ia selalu membawakan bunga kesukaannya, dan meletakkannya di atas meja dekat Echa, yang berharap Echa bangun dan melihat bunga pemberian Rendy. Rendy adalah pemain gitar yang hebat juga sering menyanyikan lagu-lagu kesukaan Echa di samping Echa, yang berharap Echa mendengar ia bernyanyi dan bangun dari komanya.

Begitu tulusnya Rendy untuk Echa, ia sangat-sangat menyayangi Echa lebih dari apa pun. Echa adalah orang yang beda dari perempuan-perempuan lainnya, bagi Rendy Echa adalah orang yang sangat spesial di mata dan hatinya, tak akan ada yang akan menggantikan Echa di hatinya. Hanya Echalah satu-satunya bidadari di hatinya dan di hidupnya, kebahagiaan Rendy ada pada Echa. Tanggal terakhir dari bulan agustus tepatnya tanggal 31-08-2013, kondisi tubuh Echa mengalami pergerakan setelah sekian lamanya koma. Semua orang hadir saat itu di rumah sakit untuk melihat bagaimana keadaan Echa. Semuanya harap-harap cemas, bergeraknya tubuh Echa menandakan ia akan selamat atau sebaliknya.

Selama 10 jam semuanya menunggu akhirnya dokter Teddy dengan wajah yang sangat pucat, dan sepertinya sedang menahan tangis mempersilahkan semuanya untuk masuk menggunakan pakaian steril, orangtua Echa yang melihat dokter Teddy seperti itu sudah memiliki firasat yang tidak enak, jika mereka harus kehilangan Echa malam itu juga mereka akan mencoba untuk ikhlas tapi jika berita suka yang akan mereka dengar mereka amatlah bahagia dan sangat berterima kasih kepada Tuhan karena telah menolong anak satu-satunya mereka dari maut. Mereka semua pun masuk, mereka duduk di samping Echa. Semuanya tersenyum bahagia karena melihat Echa susah sadar.

“Sayang kamu sudah sadar? Sayang, Mama sama Papa sangat merindukan kamu sayang.”
“Iya Cha, aku Mei, dan Gita juga sangat kangen sama kamu. Kamu udah baikan, kan?”
Echa hanya dapat menampakkan wajah yang datar, karena hanya itu yang dapat ia suguhkan di depan mereka.
“Cha, kamu..” Rendy bingung ucapan apa yang akan ia ucapkan pada Echa.
“Cha aku sayang kamu, kamu, kamu adalah kebahagiaan buat aku.” ucap Rendy membuat Echa menitikkan air mata.
“Mmm..Aaaa, pp..Aaa?” Ucap Echa terbata-bata.

“Iya sayang?”
“Echa.. Sa-yang kali-an,”
“Me-i, git-a, le-ka, aku sayang kalian, kalian sahabat terbaik aku,”
“Dan Rendy, you’re is the best for me in my life. Love you.” Ucap Echa dengan terbata-bata, membuat semua orang yang ada saat itu disitu menitikkan air mata. Sepertinya mereka mengerti apa maksud perkataan Echa. Perlahan mereka semakin menangis, ketiga sahabat Echa pun menangis sejadi-jadinya, mereka sepertinya belum dan tidak akan siap untuk kehilangan Echa sahabat terbaik mereka.

“Sayang, Mama, Papa, Mei, Gita, Gita dan Rendy ikhlas kalau Echa mau pergi. Mama gak akan larang Echa buat pergi. Tapi satu yang perlu Echa tahu, kamu adalah anak terbaik Mama.”
“Sayang, Papa ikhlas Echa pergi. Papa sayang Echa.” sambil mencium kening Echa.
Begitu juga dengan ketiga teman Echa yang satu persatu mengucapkan salam perpisahannya dengan Echa. “Cha, ini Rendy. Rendynya Echa, Rendy belum bisa ikhlasin Echa pergi jauh dari Rendy, tapi Rendy akan coba ngelakuin itu demi yang terbaik buat Echa. Echa bisa pergi sekarang. Satu hal yang harus Echa tahu Rendy sayang sama Echa, dan Echa adalah kebahagiaan buat Rendy.”

Untuk yang terakhir kalinya Echa bilang bahwa dia juga sangat-sangat menyayangi mereka semua. “Echa sayang sama Mama, Papa, Mei, Gita, Gita, dan Rendy. Echa sayang semua orang yang kenal dan sayang sama Echa. Terima kasih atas kehadiran kalian di hidup Echa. Echa beruntung banget punya kalian.”

Tepat jam 24.00, 31-08-2013 Echa pun menghembuskan napas terakhirnya. Semua orang yang ada di tempat itu saat itu langsung menangis sejadi-jadinya. Sahabat-sahabat Echa langsung memeluk Echa, mereka tidak menyangka Echa akan lebih dulu pergi mendahului mereka. Echa meninggal di umur 18 tahun tepat dimana ia dilahirkan ke dunia yaitu tanggal 01-09-2013. Ya, Echa meninggal di hari ulang tahunnya membuat semua orang tak percaya akan hal itu. Seminggu setelah Echa meninggalkan kedua orangtua, sahabat dan kekasih Echa masih merasa kehilangan. Gita sahabat Echa yang saat itu sedang di rumah Echa masuk ke dalam kamar sahabat tersayangnya itu. Ia melihat seisi kamar sahabatnya itu. Setelah cukup lama di dalam kamar Echa, Gita menemukan satu buku yang mana di dalam buku tersebut terdapat secarik kertas di dekat meja belajar Echa yang ditimpa buku lainnya. Gita membaca isi kertas yang ditulis Echa.

“Siapa pun yang pertama membaca surat ini aku mohon untuk tidak menitikkan air mata, dan harus kuat untuk membacanya. Aku percaya kalian Mama, Papa, sahabat-sahabatku, dan kekasihku tersayang. Ma, Pa pesan Echa buat Mama sama Papa kalau Echa udah nggak ada di dunia ini dan udah nggak bisa hadir di samping kalian lagi Echa mohon jangan terlalu larut di dalam kesedihan, kalian boleh mengasuh anak lain, kalau kalian mengasuh anak perempuan kalian boleh memberikan semua barang-barang aku buatnya, dan kalian harus mengasuhnya dengan sepenuh hati. Tapi kalau kalian mengasuh anak laki-laki kalian harus membelikannya barang-barang yang cocok untuk anak laki-laki. Kalian bisa minta bantuan Rendy dalam hal ini Ma, Pa.”

“Untuk ketiga sahabat aku Gita, Mei, dan Gita. Thanks udah menjadi sahabat terbaik buat aku. Pesan aku buat kalian juga jangan terlalu terlarut dalam kesedihan kehilangan aku. Kalian harus memiliki teman lain untuk mengisi kekosongan kalian. Kalau kalian sudah mendapatkannya anggaplah dia sebagai dia, jangan pernah anggap dia sebagai aku. Kalian harus berteman dengan sangat baik dan saling menjaga satu sama lain. Untuk kekasih tersayang aku Rendy. Love you Ren, aku sayang banget sama kamu enggak akan ada yang bisa ngegantiin kamu di hati aku sampai aku menghembuskan napas terakhir aku.”

“Rendy sayang jangan terlalu larut dalam kesedihan atas kepergianku juga, aku rela dan aku ikhlas kalau kamu punya pacar baru. Dan kamu memang harus punya pacar baru untuk mengisi kekosongan hati kamu. Kamu nggak boleh sedih kamu nggak boleh sering berdiam diri kamu harus bahagia. Karena kalau kamu terlalu larut aku di sini juga nggak akan tenang. Mungkin saat kalian membaca surat ini aku udah enggak ada di samping kalian. Maafin aku yang udah duluan ninggalin kalian. Aku sayang kalian semua. Love you.”

Isi surat yang ditulis Echa membuat orangtua, sahabat, dan Rendy menangis dan mereka berjanji akan melakukan pesan dari Echa. Rendy pun setelah membaca surat Echa mengatakan dalam hatinya, “Bahagiaku bersamamu Maura Elsa, Echa.”

Selamat jalan Maura Elsa (Echa)
(01-09-1997 – 01-09-2013)

Cerpen Karangan: Jessica Tiara
Facebook: Jessica Tiara Sitompul
Nama: Jessica Tiara Br. Sitompul
TTL: Bp. Mandoge, 09-12-1997
Hobi: Menulis
Anak pertama (1) dari dua (2) bersaudara.

Cerpen Bahagia Ku Bersama Mu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Sayang Ayah

Oleh:
Saat aku terbangun, aku melihat ayah sedang kesakitan. Aku kira ayah hanya kesakitan biasa ternyata ayah mimisan. Akhir-akhir ini ayah selalu mimisan. Aku pernah bertanya kepadanya “mengapa ayah selalu

Roommate

Oleh:
Sinar mentari pagi menelisik ke dalam kamar baru ku, membuat aku terbangun dari tidur yang lelap. Ya, kamar baru, karena aku sekarang tinggal di kota Bandung. Aku sangat bersyukur

Kata Terakhirku Untuk Ibu

Oleh:
“Pergi kamu! kamu bukan anakku..” Seorang ibu berkata kasar pada seorang anak perempuan yang memiliki kekurangan pada fisiknya Yaitu fay. Faylina tasya atau lebih akrab dipanggil fay, adalah anak

My Live With My Best Friend

Oleh:
Namaku Arnetta fasya sayyidina, Biasa dipanggil, Fasya. Aku anak tunggal. Setiap hari, aku hanya menari nari kan jari jemariku di keyboard laptopku ini. Ya, hanya untuk berfacebookan, atau sekedar

Sahabat Sejati Takkan Pernah Mati

Oleh:
Jarum jam menunjukan sekarang pukul 06.30 WIB, aku bergegas menuju kamar mandi dan berpakaian sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku di sekolahku yang baru “Pichi buruan berangakat!!!” seru ibuku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *