Bayang Bayang Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 April 2014

Pagi ini hujan lagi, mengingatkanku pada Dido. Dido, sungguh aku menyesal. Andaikan waktu bisa diputar kembali, aku akan kembali pada saat itu. Sebelum kau berpisah denganku, sebelum kau meninggalkanku…

“Jadi, kamu bisa tidak?”
“Aku kurang yakin. Menurutku…”
“Karmin! Sini kamu!”
“Ampuun Bu ampun sabaaarr!”
“Did, aku pulang duluan ya, nanti aku kasih tahu jawabanku, ibuku kalau sudah memanggil tak dapat ditunda,” teriak Karmin.
“Iya, baiklah,” balasku singkat.

Aku dan Karmin sudah menjadi sahabat sejak lama. Kami pertama kali bertemu saat masuk SD di Desa Batur, tempat tinggal kami. Kalau dihitung-hitung sekarang kira-kira sudah lebih dari 10 tahun aku mengenalnya! Aku harap permintaanku pada Karmin dapat ia terima. Penasaran diriku, seperti apa jawabnya nanti.

Aku benar-benar khawatir soal permintaan Dido ini. Ke Jakarta? Kota yang padat dan serba mewah itu? Dido benar-benar nekat, aku tidak bisa mewujudkan permintaannya. Aku tidak mau nasibnya sama seperti Jana tetanggaku, ke Jakarta dan tidak pernah kembali. Aku tidak setuju dengan pendapatnya bahwa di Jakarta lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Tapi bagaimana aku menolaknya… dia sahabatku.

Keesokkan harinya, lagi-lagi seperti kemarin Dido menanyakan hal yang sama.
“Karmin! Ayo kita ke Jakarta! Gimana keputusanmu?”
Dengan berat hati aku menjawabnya, “Maaf, Did, aku gak bisa. Aku…”
“TIDAAKK! Kau memang tidak setia kawan! Aku mengajakmu ikut bersamaku ke Jakarta tapi kau tidak mau ikut! Oke, baiklah kalau begitu tinggalkan aku,” potong Dido.
Dido pun pergi dengan wajah merah memadam. Ia kelihatannya tidak suka kalau aku menolak permintaannya.

Beberapa hari kemudian aku mendengar berita bahwa sahabatku berangkat ke Jakarta bersama seorang yang kebetulan mengajaknya ke kota metropolitan itu. Aku sangat kehilangan dirinya, tapi di sisi lain aku selalu berharap bahwa ia akan kembali lagi ke desa kami.

Setiap hari aku berdoa mengharapkan keselamatan bagi Dido. Tak terasa hampir setahun sudah waktu berlalu. Tanpa sengaja aku melihat orang yang mengajak Dido ke Jakarta. Ia berada di warung kopi ibuku. Spontan, aku mencegatnya ketika ia hendak beranjak dari tempat duduknya.
“Pak, Bapak tahu di mana Dido yang kira-kira setahun yang lalu ikut bersama Bapak ke Jakarta?”
“Dido? Ya saya tahu, dia adalah TKI di Arab Saudi,” balas orang itu.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, aku tidak dapat berkata-kata lagi. Aku memaksa orang itu mengajakku ke Jakarta tapi orang itu malah berusaha menenangkan diriku. Ia berkata, “Tenang, Dik. Sekarang sahabatmu hidup dengan tenang di surga. Saya ke sini dengan maksud untuk menemuimu dan memberikan surat ini untukmu. Ini dari sahabatmu, Dido sebelum ia berangkat ke Arab Saudi.”
Masih dalam kengerian, aku membuka surat itu dengan perlahan dan membacanya dalam hati.

Hai Karmin! Ini aku Dido. Sebentar lagi aku akan ke Arab Saudi. Kudengar di sana gajinya cukup besar dan pekerjaannya juga cocok untukku. Doakan aku ya semoga aku bisa pulang kembali ke Desa Batur. Aku janji deh bakal membagi gaji yang kuterima nanti denganmu. Soal yang waktu aku marah padamu, lupakan saja ya. Aku mengerti kau tidak suka dengan kehidupan metropolitan seperti Jakarta. Sekian suratku. Jangan lupakan aku, tetaplah jadi sahabatku. Satu lagi pesanku, jangan cepat bosan dengan ibumu.

Dido

Air mataku menetes. Ternyata ia sudah memaafkanku. Kemudian orang yang memberiku surat itu berkata, “Beberapa hari setelah Dido sampai ke Arab Saudi ia mendapat pekerjaan sebagai tukang kebun. Tetapi majikannya terlalu keras terhadapnya. Setiap hari hidupnya penuh ancaman dan pukulan. Sampai akhirnya malam itu sang majikan tidak sengaja memukulnya terlalu keras sehingga Dido meninggal. Ia menguburkannya di tempat tersembunyi di belakang rumahnya. Baru beberapa hari kemudian majikannya diadili karena kekerasan yang ia lakukan dan Dido dapat dikuburkan dengan baik di sana.”

Hari itu hujan deras. Aku tak dapat membendung air mataku lagi. Dengan terduduk di warung ibuku aku dan orang itu memandang langit. Dido, aku berjanji akan tetap menjaga kesetiakawananku padamu. Aku hanya bisa berkata selamat jalan sahabatku, semoga kau bahagia di atas sana.

Cerpen Karangan: Patricia Joanne
Blog: http://alicetheuglyducklingsdiary.blogspot.com
Nama Pena: Joeun
TTL: Jakarta, 24 Juni 1999
Facebook: Patricia Joanne http://www.facebook.com/alicetheuglyduckling

Cerpen Bayang Bayang Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Datang Sebuah Buku

Oleh:
Hujan pagi ini membuatku malas untuk kemanapun, lebih baik bermalas malasan di rumah kulihat jam di sebelahku menujukan pukul 8 pagi. Aku masih terbaring di kasurku sambil memandang langit-langit.

Siapakah Dia?

Oleh:
Vina adalah teman baikku, walau kami berbeda negara, hubungan persahabatan kami sangat erat dan takkan terpisahkan oleh apapun. Vina adalah orang asli negara China, dia bisa menguasai 2 bahasa

Miss 5R

Oleh:
‘Romantika Seorang Teman’ Udara pagi begitu menyegarkan, sinar mentari menyembul dari langit biru. Susana seperti ini adalah waktu para siswa berangkat sekolah untuk menimba ilmu. Ralat, kecuali hari minggu.

Sahabat Tinggal Kenangan

Oleh:
“Dasar pengkhianat. Kamu hanya memanfaatkan kami”, itulah kata-kata yang keluar dari mulut CLara dan Giskha setiap kali Devi ingin menjelaskan kepada mereka. Bagaikan bintang yang setia menemani malam, embun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *