Because You are Our Hero

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Perjuangan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 April 2016

Aku memiliki sebuah cerita. Cerita ini tentang perjuangan diriku dan teman-temanku dalam meraih mimpi kami. Dan cerita tersebut dimulai pada hari itu.

Terengah-engahlah aku di lintasan lari lapangan sekolah. Sambil membawa perasaan kesal sehabis dimarahi semalam, aku terus berlari di putaran terakhir. Rasa bete yang terus menerus mendenyutkan hatiku semakin membuat lariku menjadi cepat. PRITT!! Pak Masato membunyikan peluit. Kebanggaan terpancar di tatapan matanya yang memandangku. Puaskah beliau?

“Kerja bagus hari ini, Hideaki!” tangannya yang juga membawa stopwatch meraih pundakku dan merangkulnya. “catatan waktu berlarimu naik cukup signifikan sebulan ini.”
Aku cuman bisa menampilkan senyum terima kasih, “Terima kasih banyak, Pak Masato. Selanjutnya saya akan terus berusaha meningkatkan catatan waktu saya.” Pak Masato tertawa bangga mendengar perkataanku.

Dalam hati, ku pikir, paling tidak Pak Masato masih memujiku.. nggak seperti orangtuaku yang nggak bosan-bosannya membandingkan aku sama sepupuku yang super duper pintar itu. Ironis banget ya? Kita malah sering dipuji oleh guru kita dan bukannya orangtua yang tinggal tiap hari sama kita. Padahal guru, kan, adalah orang yang nggak tahu sama sekali seluk beluk kehidupan kita. Sambil terus mikirin hal seperti itu aku berjalan sempoyongan ke arah teman-temanku yang sudah menyelesaikan penilaian lari lebih dulu. Melihatku kecapean seperti ini salah satu dari mereka berempat dengan cekatan memapahku. Ya. Dia adalah sahabat karibku sejak SMP, Aoki Mikio. Cowok yang mamanya dari Korea Selatan ini suka membantuku nggak peduli apa pun kondisi yang dialaminya.

“Dimarahi lagi?” tanyanya dibarengi nada mengejek padaku.
“Iya. Gara-gara nilai matematika sama fisikaku yang merosot itu tuh.”
“Ya persis seperti kita, dong. Aku, Noboru, Ren, sama Ryuu juga dapet nilai yang bikin kita semua nggak dapet jatah uang saku satu minggu kedepan.”
Tiba-tiba Ryuu dan Noboru ikut nimbrung dalam pembicaraan kami. “Kenapa, sih? Orangtua itu sok berlagak nggak mengerti apa bakat anak-anaknya! Seenaknya saja menargetkan nilai seratus,” Ryuu mendengus kesal. Sementara kami berlima masih saling mengeyel soal sikap orangtua kami, dari kejauhan Pak Masato berjalan ke arah tempat kami duduk. Gara-gara kakiku masih lemas jadinya cuman Mikio, Noboru, Ren, dan Ryuu yang berdiri menyambut Pak Masato yang melangkahkan kakinya kian dekat dengan kami.

“Selamat pagi, Masato-sensei! Nilai baik hari ini?” Ryuu menyapa Pak Masato yang kini sudah berada di hadapan kami berlima. “Tentu! Oh iya, ngomong-ngomong soal kemampuan lari kalian, Bapak sangat-sangat puas dengan catatan waktu kalian berlima. Hmm.. sayang loh kalau bakat kalian nggak diasah lebih jauh.”
“Bapak ingin kami ikut lomba maksudnya?” tanya Noboru girang.
Pak Masato mengangguk, “Dua bulan lagi ada perlombaan lari cabang estafet tingkat prefektur. Mungkin di sana kalian akan menemukan jati diri kalian yang sesungguhnya. Eng.. yah, tapi itu terserah kalian.” Langsung deh kami nggak bisa menyembunyikan gejolak gembira dalam hati kami.
“Tapi Pak,” Ren berkata pelan, “dua bulan lagi anak-anak tahun kedua ada ujian. Bagaimana?”
“Benar, sensei. Jujur saja kita juga ingin ikut lomba lari estafet yang Bapak bicarakan. Tapi masalahnya..”

“..Orangtua kami berlima nggak mendukung passion kami. Maka dari itu kami takut jika kami menjalani kedua kegiatan itu bersamaan, nilai ujian kami jadi buruk,” aku menimpali perkataan Ryuu. Pak Masato berpikir sejenak. Beliau menopang dagunya dengan tangan kanannya. Yang benar saja. Tanpa ada lomba pun nilai kami nggak terurus, apalagi kalau dibarengi sama lomba.. Arrgh! Sebel mikirnya. Tetapi.. “Tapi, sih, Bapak yakin cuman kalian yang bisa membawa SMA kita menuju kemenangan.”

Seketika kami hening sejenak. Kami tertegun. Waktu itu kami nggak tahu harus berkata apa. Menolak tawaran ikut lomba? Itu mungkin bisa jadi adalah hal terbodoh yang pernah kami lakukan. Namun di sisi lain kami juga harus menaikkan nilai ujian di seluruh mata pelajaran. Dua pilihan yang sama-sama nggak bisa diambil bareng. Frustasi banget! Nggak kebayang deh kedua pilihan yang membuat hati makin rancu itu berputar-putar terus di dalam otak kami berlima. Eh, tapi tiba-tiba suatu suara seperti suara gaib mengganggu pemikiran kami. Suara yang gaib itu seolah mengatakan kalau: “Yakinlah orangtua kalian akan menerima apa pun keputusan kalian.” Lalu..

“Pak,” badan Ren yang cukup jakung itu bergetar, “kami sudah putuskan.. KAMI AKAN MENGIKUTI LOMBA LARI ITU!”
“Hei, tung–” Ryuu terkejut.
“Sungguh para remaja cowok yang penuh dengan semangat muda!” Pak Masato tertawa lebar, “benar? Kalian benar-benar ingin mengikuti lomba lari itu?”
Kami berlima mengangguk gembira, “YA!”
“Ah, tapi sepertinya Bapak nggak bisa menemani kalian di perlombaan nanti. Di hari pelaksanaan lomba jadwal check up di rumah sakit sudah menunggu Bapak. Yah.. berjuanglah meskipun Bapak tidak ada di sisi kalian.”

Mendengar Pak Masato bilang begitu, kami sedikit kecewa. Kalau kata orang zaman sekarang, sih, ‘kurang afdol’. Masa ikut perlombaan tanpa guru pendamping? Sedikit mengganjal rasanya. Tapi maklum, soalnya setahuku Pak Masato itu terkena suatu penyakit yang aku lupa apa namanya. Lalu sehabis membahas tentang perlombaan lari cabang estafet tadi, kami berlima langsung meminta izin orangtua untuk mengikutinya. Kami bilang kami janji akan menorehkan tinta prestasi dalam bidang non akademik, meski kami tahu kami sangat nggak jago di bidang akademik. Dan.. nggak bisa dipercaya! Orangtua dari masing-masing kami berlima menyetujuinya. Tapi, ehem, ya begitulah. Kata mereka kalau aku, Mikio, Ren, Ryuu, dan Noboru nggak berhasil menang, bisa dipastikan uang saku kami kabur dari dompet selama satu bulan. Dalam waktu dua bulan ini kami terus berlatih. Waktu latihan kami mendapat banyak kendala.

Salah satunya adalah kerjasama kami yang kurang baik. Soal stamina kami, jangan khawatir. Cuman tinggal kerjasamanya saja yang masih berantakan. Tiap kali bel masuk belum berbunyi, kami menyempatkan latihan dahulu. Pulang pun juga begitu. Sampai pukul lima sore terkadang kami masih ada di lapangan, loh. And finally.. hari ini tepat perlombaan lari cabang estafet dilaksanakan. Suasana di sekitar lintasan lari ramai banget. Waktu aku melihat di sekeliling tribun, ada salah satu area tribun yang penuh sesak sama kehadiran murid-murid SMA kami. Nggak lupa di situ juga ada orangtua kami yang ikut jadi supporter. Wah, rasanya seperti mimpi. Seumur-umur aku nggak pernah didukung dengan tulus oleh orang-orang yang aku sayangi. Kecuali satu. Aku masih merasa gundah. Ingat, kan, hari ini Pak Masato ada jadwal check up? Tanpa kehadirannya semua seperti berwarna abu-abu. Suram. Seandainya Pak Masato ada di sini mendukung kami.

PUK! Ryuu menepuk pundakku. “Habis gini mau dimulai, loh. Kenapa masih melamun?”
“Nggak apa-apa,” aku menggeleng.

Tak berapa lama terdengar aba-aba akan dimulainya perlombaan. Selang beberapa menit suara pluit terdengar nyaring. Diiringi rasa persaingan yang kuat, kami berlima terus berlari penuh harapan. Berharap akan lari tanpa pantang menyerah kami yang akan membawa prestasi bagi sekolah kami, dan juga kami ingin Pak Masato merasa bangga dengan jerih payah kami berlima. Ayolah! Tinggal sedikit lagi aku menyalurkan tongkat estafet ini dan kami semua menang, pikirku waktu itu sambil berlari. Gerbang kemenangan sudah di depan mataku. Ku rasa.. aku nggak akan bisa mencapainya. Namun Tuhan menuliskan suratan takdir yang lain rupanya. SMA kami berhasil menang dan otomatis akan maju ke tingkat nasional. Segenap piagam penghargaan dan sebuah piala hasil peluh kami diberikan panitia lomba untuk kami berlima.. ah, maksudku untuk kami semua. Termasuk Pak Masato kami yang tercinta.

“Hei, setelah ini jenguk Masato-sensei yuk!” ajak Ryuu yang masih berkeringat saking senangnya.
“Tanpa kau ajak pun kita berempat memang ingin ke sana.” timpal Ren.
Maka sepulang dari perlombaan kami berlima segera ke tempat Pak Masato.

“Begitulah ceritanya, Pak! Awalnya kami juga nggak menyangka kalau piala idaman semua peserta itu akan jatuh di tangan kami berlima,” Noboru nampak semangat menceritakan kisah kami waktu perlombaan. “Kami seneng banget, sensei!!” Ryuu menggenggam kedua tangannya di depan dada sambil memancarkan sinar mata yang bahagia.
Aku menarik napas, “Semoga Bapak bisa ikut bangga dengan apa yang kami raih..”
Lalu Mikio menyambung perkaatanku barusan, “..walaupun Bapak nggak bisa melihat piala ini di saat kami mengangkatnya bersama-sama di hari perlombaan.”

Sementara aku, Ryuu, Mikio, dan Ren berdiri melingkar, Noboru maju selangkah demi selangkah ke arah Pak Masato yang tertidur. Sebuah karangan bunga yang kami rangkai sendiri akhirnya bisa tersandar dengan tenang di depan nisan Pak Masato. Tak lupa juga aku menyerahkah piala hasil keringat kami berlima di samping karangan bunga. Semerbak harum dupa yang berada tepat di atas makam Pak Masato, membuat setitik air mata kami jatuh.

“Terima kasih banyak, Pak Masato. We will never forget everything you’ve taught us. Because you are our hero.”

Cerpen Karangan: Eta
Facebook: Beta Gayatri Puspita

Cerpen Because You are Our Hero merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Sukses Berkat Selendang Ibu

Oleh:
Sebelum ayam berkokok dan pagi belum merekah Adi sudah bangun membantu ibunya membuat kue untuk dijual. Seperti hari-hari biasa Adi harus berjalan kaki menjual kuenya, meskipun gelap masih menutupi

Kithmir Dan Maxalmena

Oleh:
Sinar Matahari mulai sepenggalah naik. Perlahan menyingkap eloknya mozaik alam semesta raya. Namun sesosok pemuda nampak bermandi peluh, perlahan dia menyingkap kain bajunya untuk mengelap bulir keringat yang membasahi

Aku Pergi

Oleh:
Mataku terpejam merasakan rintikan gerimis yang menyerbu di atas kepalaku, Hembusan angin selalu membuatku tenggelam dalam kesepian, desir angin pula yang bisa membuatku bersemangat untuk menempuh cerita hidupku. Inilah

14

Oleh:
Udara pagi terasa dingin sekali, tak biasanya Fanya merasakan seperti ini. Selimut masih berada dalam pelukan Fanya, suara merdu burung tak tahu ke mana untuk pagi ini. Entah mengapa

Abdiku Untukmu Keluarga Kecilku

Oleh:
Seraya bulan mengitari bumi, malam itu aku dan adikku aliyah sedang menonton televisi. Oh ya, perkenalkan, namaku ika, aku anak sma kartika rinaf bangsa, aku kelas x. A, kelasku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *