Bendera Kuning

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 March 2013

“Risya.. uhuk uhuk.”
“Iya bu.”
“Tolong ambilkan obat di laci ya, Nak. Uhuk uhuk!”
Risya segera berlari kecil ke arah laci, untuk mengambil obat Ibu. Risya kebingungan, obat Ibu habis, padahal Ibu tak boleh telat ataupun tak meminum obat, atau penyakit kanker Ibu akan parah.
“Umm.. Ibu, obat Ibu habis.” Ucap Risya gugup.
“Oh ya sudah lah, Ibu juga masih kuat, uhuk uhuk..” jawab Ibu dengan suara lirih, mungkin Ibu sudah merasa kesakitan, maklum lah, Ibu tak di rawat di rumah sakit karena uang yang tidak memadai. Memang di rumah hanya ada Risya dan Ibu, Ayah Risya sudah lama meninggal, Kakak Risya, ia pergi entah kemana.

Risya pun keluar dari rumah untuk pergi ke rumah Mang Urib, tetangga dekatnya untuk meminjam uang untuk membeli obat Ibu.
“Mang gak punya acis, Sya. Tau sendiri, uang hasil jualan siomay kan gak seberapa, udah gitu buat beli ini itu.” Ucap Mang Urib, Risya memang begitu kecewa akan semua ini, tapi ia tak putus asa, ia pergi ke rumah Mpok Dini, setau Risya Mpok Dini itu kaya, ia langsung melangkah kan kakinya menuju rumah Mpok Dini.
“Aduh Risya, kamu ini mau minjem uang 500.000, emang kamu bisa bayarnya nanti? ada-ada saja kamu ini, sudah lah Mpok tidak mau meminjamkan uang pada orang yang tidak bisa mengembalikan uang saya lagi!” jelas Mpok Dini. Risya sudah kehabisan akal, mampir sana mampir sini, tak ada yang meminjam kan uang, ia pun langsung pulang ke rumah untuk melihat keadaan Ibu.

“Ibu tidak apa-apa, Nak..”
“Ibu, Risya minta izin yah buat pergi ke Jakarta.” Ucap Risya spontan, sontak semua itu membuat Ibu kaget.
“Mau ngapain kamu di sana?” tanya Ibu kebingungan.
“Risya mau kerja, Risya mau cari uang yang buanyak buat Ibu, biar Ibu bisa sembuh, Risya sedih kalo ibu kaya gini terus…”
“Ibu pasti sembuh, Nak. Kamu jangan ke sana yah?”
“Nggak bu, Risya harus ke sana, Risya harus cari uang yang banyak, Risya gak mau terus begini. Risya janji bu, setelah Risya mendapatkan uang banyak, Risya bakal pulang dan megajak Ibu ke Jakarta, buat cari Kak Ervan, katanya Ibu kangen sama Kak Ervan..”
“Ibu hanya bisa mendo’akan kamu, Nak. Nanti di jakarta sering hubungi Ibu yah :)” ucap Ibu dengan senyum manisnya itu.

Risya bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta, semua nya sudah siap, sebelum ia berangkat. Risya pergi ke rumah Mang Urib terlebih dahulu.
“Mang, Risya mau ke Jakarta, Risya nitip Ibu yah, nanti semua biayanya Risya ganti sepulang dari Jakarta.”
“Oh iya neng iya, Mang pasti akan jaga Ibu, neng hati-hati yah di Jakarta.”
Risya melangkah kan kakinya, ia tumpangi bus dan duduk di salah satu kursi bus. Ia melihat ke jendela bus, dan berkata “Slamat tinggal bu, do’akan Risya, semoga Risya dapat uang yang banyak dan bisa beli obat untuk Ibu. Risya janji, Risya akan pulang jika semuanya telah tercapai, dan akan mengajak Ibu ke Jakarta, Risya tau, Ibu sangat ingin ke Jakarta, tapi mungkin nanti semua itu akan terwujud. Risya sayang Ibu :’)”. Bus yang di tumpangi Risya pun meluncur, Risya pun menghapus air mata yang tak terasa jatuh begitu saja dari pelupuk matanya.

Risya sudah sampai di Jakarta, setelah seharian mencari kerja, akhirnya ia mendapatkan kerja. Risya sangat senang berada di Jakarta, pemandangannya indah, meskipun tak seindah di kampungnya. Risya pun mulai teringat pada Ibu.
“Bu, liat deh disni pemandangannya bagus banget, banyak gedung-gedung gede bu, pasti Ibu seneng kalo ada disini, Risya janji bu Risya akan ajak Ibu ke sini.” Ucap Risya menatap jauh keluar.

Risya pun mulai bekerja seperti biasanya,sudah 3 bulan Risya bekerja, uang gaji selalu ia kirimkan ke kampung untuk berobat Ibunya. Tapi, pada suatu hari, saking asyiknya Risya bekerja, ia tak mendengar dering hp nya, dering hp nya berbunyi tanda telephon masuk. Berkali-kali dering hp Risya memanggilnya, tapi Risya tetap fokus pada pekerjaannya itu.

Hari semakin sore, Risya pun pulang dan langsung beristirahat tanpa melihat hp nya, sebelum tidur, Risya berkata “Besok, Risya akan pulang bu, Risya sudah mempunyai uangnya bu, bos Risya baik banget, sampe mau minjemin uang, pasti Ibu seneng, aku ingin cepat besok bu..!” Risya pun mulai menutupkan kedua matanya.

Esok pun tiba, Risya begitu ceria menghadapi hari itu, ia langsung bersiap-siap untuk pulang ke kampung. Risya pun langsung ke terminal untuk naik Bus. 1 jam 2 jam 3 jam 4 jam, Risya sudah sampai di kampungnya, setelah turun dari mobil, ia bangun senyum manis di bibirnya. Risya langsung melangkahkan kakinya menuju rumah, ia begitu gembira, langkah kakinya pun begitu cepat, karena tak sabar akan bertemu Ibu. Tapi, senyum Risya tak lagi terbangun dalam bibirnya, saat ia melihat bendera kuning tertancap di depan rumahnya, Risya begitu kaget, matanya melotot. Risya langsung berlari, terbesit tanya di benaknya, ada apa ini?

Rumah Risya penuh dengan para warga, Risya begitu bingung akan semua ini, dan akhirnya Risyapun bertanya pada Mang Urib.
“Mang, cepat beritahu Risya, ada apa ini? dan di mana Ibu? Risya tak melihat Ibu dari tadi.” Tanya Risya pada Mang Urib, tapi Mang Urib hanya bisa menangis dan tak menghiraukan pertanyaan Risya tadi. Risya pun berusaha mencari tau sendiri, ia langkah kan kakinya ke dalam rumah. Risya begitu kaget, ia melihat ibunya terbujur kaku dengan di tutupi selebar kain, wajahnya pucat. Risya begitu terpukul akan semua ini, Risya langkahkan kakinya menghampiri sang Ibu, air mata Risya berjatuhan, membasahi pipinya. Risya sudah berada di depan tubuh yang tak lagi bernyawa, Risya langsung memeluk Ibu, dan menjerit sejadi-jadinya.
“Ibu…. kenapa Ibu ninggalin Risya, Risya sudah berusaha agar semua ini tak akan terjadi bu, tapi apa? Ibu jahat Ibu jahat..”

Semua warga hanya bisa menyaksikan tingkah Risya, tiba-tiba datang seorang pemuda bernama Kyky menghampiri Risya, dan berusaha melepaskan pelukan Risya pada Ibu, karena Ibu akan di makamkan.
“Diem kamu, Ky ! kamu itu gak tau, sakit yang aku rasain sekarang, aku banting tulang buat Ibu, tapi semuanya sia-sia, Ibu, Ibu udah gak ada, Ibu udah ninggalin aku :’( satu hal yang belum aku tepatin buat Ibu, Ibu pengen banget ke Jakarta, tapi sekarang ? Ibu udah gak ada… :’(“
“Risya kamu jangan bertingkah bodoh ! semua yang hidup pasti akan mati !, mati itu pasti Sya, dan kamu, kata kamu aku udah banting tulang buat Ibu, tapi semuanya sia-sia, semuanya itu gak sia-sia, semuanya berhasil. Liat sekarang, ibu kamu udah bahagia, bahagia sama Allah, dia tenang disana. Jadi, mulai sekarang kamu harus bisa nge ikhlasin semuanya..”

Risya pun hanya bisa menangis, menangis dan menangis, hingga jasad Ibu di makamkan Risya tetap menangis, ia merasa kecewa akan semua ini.
Jasad Ibu sudah di makamkan, semua warga sudah pulang, hanya Risya dan Kyky saja disana.
“Udah Sya, kamu harus pulang, hari sudah sore..” ucap Kyky.
“Aku ingin disini menemani Ibu, dan menjaga Ibu :’(“
“Ibu sudah ada yang menemani dan menjaga, Sya. Biarkan lah Ibu bahagia di sana, itu kan mau kamu, membahagiakan Ibu. Nah, ibu sekarang sudah bahagia, pasti dia sudah senang di surga sana. Mungkin ini takdir yang memang harus dijalani Ibu, Sya. Tak ada orang yang bisa menentang takdir.” Jelas Kyky
“Kamu benar, Ky. Ibu sudah bahagia, dan aku tak boleh mengganggunya. Ibu, jangan pernah ngelupain Risya ya, bu. Risya slalu sayang Ibu” ucap Risya sembari mengecup batu nisan sang Ibu.
Kini semuanya sudah berakhir, dan hanya BENDERA KUNING lah, yang tertancap di hati Risya.

T A M A T

Cerpen Karangan: Megita Rubiana S.
Facebook: http://www.facebook.com/MeziMezi
Namaku Megita Rubiana Sabella. Dari Majalengka. Duduk di kelas VIII SMP 1 Kadipaten.

Cerpen Bendera Kuning merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Seorang Sahabat

Oleh:
Hari ini cuaca sangat cerah. Seperti hari-hari biasanya, aku menyusuri jalanan untuk berangkat sekolah, aktivitas pedagang dipinggir jalan dan para pengamen dilampu merah sudah menjadi pemandanganku setiap hari. Letak

Aku Yang Mengalah

Oleh:
Kokokan ayam pun mulai memecahkan heningnya pagi.. Aku pun membuka mata dan bangkit dari tidurku, aku bergegas untuk mandi, setelah itu aku sholat shubuh, setelah selesai aku pun rapih-rapih

Goodbye Aura

Oleh:
Hai namaku Salicha Azzhara. Aku bersekolah di SDIT BINA INSANI. Aku memiliki 2 orang sahabat, yaitu Elvyra dan Aura. Suatu hari yang indah.. “Hai, Ichaa!” sapa Elvyra ceria. “Hai

Ayah

Oleh:
Aku masih terduduk di atas tempat tidur yang beralaskan tilam kusut dan lecet. Sebuah ruangan kecil dan sempit hanya berisikan lemari baju dan tempat tidurku. Dengan sebuah daun jendela

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *