Berkat Ide Wina

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 March 2018

Kelas V-A, terdiri dari 16 murid. 9 Siswa Putri dan 7 Siswa Putra. Dan Siswa Putri malah terbagi, disebabkan karena terbentuknya sebuah ‘Geng’. Nama gengnya ialah BeGir (Beauty Girls) dan BFE (Best Friend Ever). BeGir terdiri dari 5 orang. Anggotanya ialah Shal, Fina, Dania, Nara sebagai Wakil Ketua Geng, dan Ketuanya bernama Lytha. Sedangkan Geng BFE, anggotanya ialah Farah, Ryanti, Kanti dan Ellsha sebagai ketua. Mereka saling bermusuhan. Mereka mempertahankan gengsi dan martabat. Mereka berlomba menjadi yang terbaik. Dibalik itu, Nara tetap ramah jika mereka tidak ada. Nara sangat ramah sama orang lain, terutama sang ‘Geng Musuh Gengnya’.

Pagi itu, Nara datang pagi sekali. Belum terlihat banyak orang. Di kelasnya, masih seepi. Nara melihat karton berisi Jadwal Piket Kelas. “Hari ini, Aku, Kanti, Hadi, dan Rozan,” gumam Nara. Ia mengambil sapu ijuk di pojok kelas. Ia mulai menyapu dari belakang. Tiba-tiba, seorang gadis asing masuk ke kelas Nara. Dia terlihat canggung dari pintu kelas. ‘Siapa, ya… Ah, paling anak baru. Aku sapa, ah,’ gumam Nara.

Dia menghampiri gadis itu seraya memegang sapunya. “Halo,” sapa Nara. “Eh, aku?hai,” ucap anak itu salah tingkah. “Nama kamu siapa? Namaku Nara,” ucap Nara seraya mengulurkan tangan. “Eh, namaku Wina,” ucap anak itu agak canggung. Dia membalas uluran tangan Nara. “Eh, tau nggak. Di sini, tuh, cewek-ceweknya buat geng,” buka Nara seraya menyapu. “Oya, emang kamu ikut geng siapa?” tanya Wina, yang tak canggung lagi. “Aku ikut Geng BeGir. Singkatannya Beauty Girls. Musuh gengku ini namanya BFE. Singkatannya kalo nggak salah Best Friend Ever,” ucap Nara. Wina hanya ber-Oooh.

Tak lama, semakin banyak yang datang. Dan semakin banyak yang berkenalan dengan Wina. Wina senang dengan banyaknya teman.

Waktu istirahat, Wina memilih ke kantin. Ia memesan semangkuk Bakmi dan segelas jus Alpukat dengan susu kental manis. Geng BFE, menghampiri Wina yang asyik menyantap menu makanannya. “Hai, Win!” sapa Ellsha, sang ketua. “Eh, hai!” sapa Wina, lalu menyeruput bakminya. Geng BFE duduk di samping-depan Wina. “Eung, Win. Mau gak, ikut geng kita?” tanya Kanti. “Uhuk,” batuk Wina. Ia tersedak. Lalu ia menyedot jus alpukatnya. “Kamu kenapa?” tanya Ryanti khawatir sementara (mungkin). “Aku tersedak, kok,” hibur Wina. “Mau, nggak?” tanya ulang Farah. “Aku mikir-mikir dulu,” ucap Wina. “Ya udah. Nanti, kalo mau ngomong sama kami aja,” ucap Ellsha disambut anggukan kepala Wina. Mereka meninggalkan Wina.

Sepeninggal geng BFE, Wina maaih asyik menyantap makanannya yang masih agak banyak. Usai makan dan dibayar, ia menuju kelas. Sesampainya, ia membaca buku cerita dari almari buku kelas. “WINAA… HOSHHOSH,” teriak Dania, mengatur nafas karena sehabis lari. “Ada apa, Dan?” tanyanya menurunkan buku yang dibaca. “Kamu… disur..ruh.. sam.. sama… Bo..s… Lyt…Tha…. ke tam…man… belakang,” ucap Dania ngos-ngosan. Wina segera menuju Taman bersama Dania.

Lytha, sang bos duduk di bangku taman dikawal oleh Shal, Fina dan Nara. Nara menunjukkan ekspresi yang artinya ‘Pokoknya jangan pilih yang mana-mana!’ Wina memang jago dalam hal membaca mimik wajah seseorang. Bakat itu memang diturunkan dari ayahnya. “Ada apa, Lyth?” tanyanya. “Em, Wina. Kalau kamu ikut Geng BeGir, nggak?” tanya Lytha to the point. “Huft…Tadi Ellsha nawarin aku keGengnya. Sekarang kamu?” tanya Wina menghela nafas. “Kamu nggak usah ikut geng mereka! Geng nggak jelas. Ke Geng kami aja,” seru Shal. Fina yang pendiam hanya diam mematung. Dan Nara, ekpresinya seperti tadi. “Aku butuh waktu, bisakah?” pinta Wina. “Ya udah, kalo mau bilang,” ujar Ellsha. Ia menuju kelas, setelah pamit ke Lytha.

Nara menyusul Wina. “Wina,” seru Nara, tiba di kelas. “Nara, ada apa?” tanyaku. “Win, plis. Kamu jangan pilih siapa-siapa. Jangan pilih geng BFE atau BeGir,” pinta Nara dengan melas. “Aku juga nggak mau. Tapi, aku bingung,” ucap Wina. “Win, kamu harapanku. Tolong penuhi permintaanku,” pinta Nara. Suasana sungguh dramatis, hehe… “Apa itu? Aku janji!” tegas Wina. “Tolong perbaiki semua ini. Tolong buat kedua geng ini menjadi teman,” ulas Nara. Ia terdiam mematung. “Baiklah,” hela Wina.

Wina menjadi anak yang cerdas dan berprestasi. Ia memenangkan berbagai macam lomba Cerdas Cermat. Namun, ia juga memenuhi janjinya dengan Nara. Berbagai cara ia gunakan. Dari cara sederhana sampai yang teratas. Hasilnya… Nihil! Akhirnya, ia menceritakan idenya kePapanya yang seorang Dokter. Ia punya ide yang paling cemerlang. Ia yakin pasti berhasil. Ia juga menceritakan pada Nara, namun masih dirahasiakan sama anak siswi kelas V-A. Yang siswa juga, tapi tetap dirahasiakan. Dan para guru juga setuju. Para Guru Tahu, geng BeGir dan BFE bermusuhan.

“We, ayo iuran!!” teriak Nara khawatir. “Napa?” tanya siswa perempuan kelas Wina, serempak. “Wina dirawat di rumah sakit. Ia punya penyakit kanker Tulang,” ucap Teguh sedih. Sontak, semua siswa kelas V-A iuran. Totalnya adalah Rp. 47.500.00. Mereka ke Rumah Sakit tempat dirawat Wina. Mereka terkejut melihat kondisi Wina. Tertancap beberapa alat medis di tubuhnya. Bermacam-macam obat berada di atas meja. Wina tampak tersenyum lemah ke arah mereka.

“Ya Ampun, Win. Kamu kenapa?” tanya siswi kelasnya khawatir. “Aku nggak kenapa-napa,” ucap Wina dengan lemah. Nara dan Siswanya diam-diam merekam kekhawatiran Para Siswi. “Aku mau pamit,” ulas Wina dengan penuh kelemahan. “Kamu mau ke mana?” tanya Ellsha berurai air mata. Wina menunjuk kelangit. “Maksudmu, ke surga?!” teriak pelan Lytha. Wina mengangguk sangat lemah. Matanya terlihat sayu. “Kamu jangan pergi. Kamu jangan ke mana-mana,” suport seluruh siswi kecuali Nara. Anehnya, Nara tersenyum ke arah Siswa-siswa.

“Aku punya satu permintaan,” papar Wina saangaaat lemah. “Akan kami turuti, tapi jangan pergi,” tegas Dania sambil mengelap air matanya. Wina menggelengkan kepala. “Aku mau, kalian pecahkan tembok pemisah. Genglah temboknya. Kalian harus berteman,” pinta Wina. Ia tergolek lemah tak berdaya. “Kami akan tepati,” ucap Ryanti disambut anggukan kepala Fina. “Aku pengin melihat kalian maafan sekarang,” tegas Wina namun sangat lemah.

Akhirnya, geng BFE dengan geng BeGir bermaafan. Setelah bermaafan, tepat pula Wina menghembuskan nafas terakhir. “Win,” panggil Fina. “WINA..,” pekik pelan Farah. “Win, jangan tinggalin kami!!” seru mereka. Sayang seribu sayang. Kertas yang diremas tidak akan bisa kembali seperti semula, mereka sungguh sedih.

Esoknya, teman-teman seperempuan dirundung kedukaan. Dan lebih anehnya, Nara dan Siswa sekelas malah tidak apa apa? tidak sedih, tidak senang.

Tiga Hari Kemudian…
Para murid putri mulai akrab. Saat asyik-asyiknya berinteraksi, “Halo!” sapa Wina masuk kekelas. “Hah, Wina!!??” pekik Kanti, Farah, Ryanti, Ellsha, Lytha, Shal, Dania, dan Fina heran. Nara beserta Wina menjelaskan semua dan dibenarkan oleh siswa laki-laki dan para guru. Akhirnya, seluruh siswa/i bisa akrab tanpa ada sebuah geng yang mementingkan Gengsi.

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza blog:
Hai, seru ngak critanya? Sori nggak seru/ panjangan/ gaje/ salah kata/ kategori nggak sesuai dll. Jangan lupa add FBku. Jika udha Add tpi blom dknfirm protes aja diklm komen cerpenku

Cerpen Berkat Ide Wina merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pergi dan Tak Kembali

Oleh:
Shiba menyandarkan tubuhnya di bangku panjang di sebuah taman. Ia memandang amplop berwarna putih berisi kertas hasil pemeriksaannya di rumah sakit barusan. Perlahan ia merobek-robek amplop itu tanpa membukanya.

Happy Mothers Day

Oleh:
Namaku Thalita Amara Permatasari. Kalian bisa memanggilku Amara. Aku duduk di kelas lima SD. Aku mempunyai seorang kakak perempuan bernama Nayla Amira Permatasari. Kak Nayla akrabnya. Kak Nayla duduk

Koki Cilik

Oleh:
Franita Siskya Ayuningtyas, itulah namanya. Dia biasa dipanggil Tyas. Tyas hobi memasak. Tyas juga mempunyai toko kecil-kecilan di gazebo rumahnya. Pagi itu, Tyas jogging-jogging di dekat taman kota bersama

Sabtu Terakhir Bersama Ayah

Oleh:
Sabtu, 08 Oktober 2016 22:35 Malam ini aku tak bisa tidur, teringat padamu. Jadi kuputusan untuk membuat cerpen ini, untuk mengenangmu. Ditemani dinginnya malam disertai gerimis ini. Hari ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *