Berpulangnya Kawanku Oton

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 October 2017

Malam ini begitu sejuk, aku duduk merenung di koridor lantai tiga. Ingatan itu masih saja melekat ketika kau datang menceritakan segalanya padaku. Begitu juga denganku, sebutan “koplo” darimu masih saja ingin aku dengarkan dari mulutmu.

“Zak, ngapain Ente melamun sendiri? Masih kangen Oton ya?” Usman teman kamarku menghampiri
“Hem… mungkin masih iya man” Jawabku pada Usman
Aku dan Oton begitu dekat, hampir setiap malam kantin pondok adalah tempat kami bercanda, belajar, dan bercerita.

“Bilangin pengurus ya man, aku ke kantin dulu. Mungkin nanti kembali sekitar jam 09.00 lah.” Pintaku pada Usman.
“Oke Zak, gampanglah masalah itu.”

Aku pergi melangkah meninggalkan asrama kamar, menuju ke kantin dengan langkah gontai. Kulihat awan malam tak menunjukkan bintangnya sama sekali. Tiba-tiba rintik hujan mulai berjatuhan dari langit, aku pun mempercepat langkahku.

“Bu.. kopi satu.” Kataku pada ibu kantin.
“Owalah nak Zaki, kok tumben dateng sendirian. Teman satunya mana?” Ibu kantin sedikit heran, mungkin teman yang ia maksud Oton. Aku tak berminat menceritakan, hatiku masih mengatakan bahwa ia selalu datang bersamaku.
“Hahah gak ikut bu.” Jawabku mencoba ramah.

Aku mengambil tempat duduk di pojok, mengeluarkan rok*kku. Tak lama kemudian kopiku datang, aku mulai menyulut rok*kku.
“Seandainya kau masih di sini Ton, mungkin kopi ini tak sendirian seperti sekarang.” Kataku lirih.

Salah satu kebiasaanku di malam hari adalah duduk melihat awan di koridor lantai tiga kamarku, karena bagiku melihat awan dengan beribu bintang sungguh indah dan menyenangkan. Pernah suatu hari aku melihat hanya satu bintang yang muncul dalam langit, “Akankah ia merasa sendiri.” pikirku dalam hati.

“Eh koplo, aku pengen cerita.” Tiba-tiba saja Oton duduk di sebelah kiriku.
“Loh, kapan datangnya?” Aku terkejut melihatnya.
“Udah ah, nggak penting. Aku kangen nih sama pacar.” Ia memasang wajah serius.
“Hahah yakin kangen? Belajar sama mondok dulu yang bener. Baru boleh bilang kangen.” Aku mencoba mencairkan suasana.
“Enggak plo, aku serius ini.” Nampaknya ia benar-benar ingin bercerita.
“Ya udah ceritain aja, mumpung lagi nganggur.” Kataku tersenyum.
“Tapi nggak enak ah di sini.” Oton menoleh ke kanan-kiri. Koridor nampaknya masih ramai dilewati oleh teman-temanku, mungkin ia malu jika teman-teman yang lain ikut mendengarnya.
“Trus ke mana?” Tanyaku heran.
“Ke kantin tempat biasanya bisa? Tapi nggak ada duit nih.” Wajah melasnya keluar, aku sudah tak tahan dengan raut wajah seperti itu.
“Bisa kok, haha salah siapa nggak ada duit? Trus gimana ini?” Aku sedikit menggodanya.
“Beneran plo, ga ada duit nih.” Ia menaggapi serius ternyata.
“Iya udahlah gampang uang kok dipikir.”
“Hahah budal..!!” Ia berlari sambil menjewer telingaku.
“Eh sakit Tonnn..!! Dasar.!!” Kataku mengejarnya berlari keluar asrama.

Beitulah kami, seserius apapun tetap kocak. Tak peduli segalau, sesedih, sekecewa apapun asal mode koplo kita on, semua orang sekeliling kita pasti tertawa. Kami berdua lebih sering disebut double koplo, dan nama Oton sendiri berarti edan dalam sebutan bahasa di daerah kami.

“Ton tunggu…” Kataku sambil berjalan terengah-engah.
“Ah lemot lu.” Dia berjalan ke belakang sambil mengejekku.
“Tungguin dong ton! Apa nggak jadi dibayarin ini!!” Teriakku mengancam. Aku jauh tertinggal di belakangnya, meski sudah kucoba menyusulnya.
“Haha nggak takut plo!!” Ia merogoh saku dan mengeluarkan uang, aku pun terkejut. Kulihat uang saku di kemejaku telah raib.
“Awas kau Ton!” Kataku berlari mengejarnya sekuat tenaga.
“Hahah coba saja kalau bisa.” Ia tak kalah cepat berlari menghindariku. Untung saja aku berhasil mengejarnya, dan langsung saja kujitak kepalanya biar tahu rasa dia.
“Hahah udah plo, ampun plo ampun.” Nampaknya ia kesakitan, aku pun melepaskannya.
“Cari tempat duduk, tak pesenin kopi dulu.”
“Bu, kopi kayak biasanya ya?” Kataku memesan dengan ramah.
“Dua kayak biasanya ya nak Zaki?”
“Iya bu.” Aku pun melangkahkan kaki menuju tempat duduk Oton.

Malam itu ia bercerita banyak tentang pacarnya, kerinduannya terasa berbeda dari sebelumnya. Entah katanya ia ingin sekali bertemu dengan pacarnya. Aku terdiam kali ini, biasanya Oton hanya menceritakan sifat pacarnya atau awal ketika ia berteman lalu jadian. Tapi kali ini ia benar-benar ingin bertemu, padahal yang kutahu Oton adalah anak penakut, ia takut sekali berhadapan dengan perempuan apalagi seumurannya. Ia pernah bercerita ketika pertama kali bertemu dengan pacarnya, ia terdiam seribu kata lalu pergi tak jelas tunggang lari kesana-kemari. Lain hal lagi dengan kisah asmaraku, aku masih tak berani meskipun sekedar kirim message ataupun bertemu langsung dengan wanita semenjak kepergian seseorang yang pernah singgah dalam hati ini.

“Udah malam banget Tonn, balek yok.” Kataku sambil menyeruput habis kopi.
“Yaudahlah ayok, padahal masih betah ngopi sama lu plo. Hahah berhubung nggak ada duit, ya udah deh nurut aja.” katanya tertawa.
“Nanti kalok absenan telat, ujung-ujungnya dihukum jalan jongkok keliling lapangan 5 kali.” Protesku padanya. Meskipun hanya 5 kali tapi keliling lapangannya sama dengan Gelora Bung Karno kalau dilihat.
“Haha gampang, nanti bilang lu yang ngajak kan beres.” Ia tertawa meninggalkan bangku tempat duduknya.
“Sialan, jalan jongkok double nggak lucu sama sekali Ton.” Kataku lirih.
Aku dan Oton lalu berjalan menuju asrama bersama-sama, bergandengan layaknya patrick dan spongebob.

Sahabat sejati…
Selalu ada di hati..
Teman.. Untuk selamanya…

Tak kenal siang malam bagiku untuk meminum kopi, apalagi kopi buatan Bu Inem di kantin langgananku. Serasa dunia ini tak bisa lengkap tanpa kopinya. Saat aku menyeruput kopiku kulihat seseorang berjalan dengan langkah gontai. Aku memperhatikannya dengan seksama, sepertinya aku kenal? Bukankah itu Oton?

“Tonn… Oton!!” Teriakku memanggilnya, ia menoleh menghampiriku tanpa sepatah katapun.
“Mau ke mana bawa tas isi penuh segala?” Tanyaku heran.
“Mau pulang plo.” Katanya.
“Hahah beneran pulang Tonn?”
”Iya plo beneran, kangen orangtua nih.”
“Hahaha tadi malam bilangnya kangen pacar, sekarang kangen orangtua, kangenin Zaki dong Tonn.” Kataku tersenyum sambil mengangkat kedua alisku.
“Hahah ngayal..!! Sana cari cewek biar ada yang ngangenin!!”
“Hahah apa jangan-jangan mau ketemuan sama pacar nih ye….”
“Eh koplo kurap, beneran kangen ortu nih.”
“Awas lu bro sampai ketemuan, traktiran kopi ya?”
“Iya pasti gue traktir kalo ada duit hehe” Jawabnya cengengesan.
“Ya udahlah, keburu hujan cepet berangkat sana!! Salamin ke ortu ya dari zaki, mungkin adek lu bisa diprospek nih” melayanglah tangannya menjitak kepalaku
“Adik ane masih kecil, gak usah aneh-aneh!!” Katanya sambil berlalu meninggalkanku.

Waktu berlalu seperti biasanya, tak ada yang spesial karena Oton sekarang pulang ke rumah. Hanya beberapa yang dapat membuatku tersenyum, tapi tetap saja hanya Oton yang dapat membuatku tertawa lepas.

1 Hari berlalu…
“Eh Zak, Oton masuk rumah sakit.” Tiba-tiba saja Usman mendekatiku.
“Eh yang bener? Sejak kapan?” Jawabku serius.
“Dari tadi pagi, mungkin habis ini anak-anak mau ke sana. Ente ikut nggak?” Usman menawariku.
“Eh ikut-ikut.” Kenapa aku baru tahu, apa mungkin ia pulang karena sakit? Setahuku dia dulu memang pernah dirawat karena memiliki penyakit di area usus. Aku kira ia sudah sembuh total semenjak pulang dari rumah sakit setahun yang lalu.
“Zak, kita mau balek nih… Kayaknya lu masih kerasan.” Kata salah satu temanku.
“Nanti bakal nyusul ke asrama kok, tenang aja.”
“Ya udahlah, Sekalian kita pamit dulu ya?” Teman-temanku lalu melangkah keluar dari kamar rumah sakit satu per satu, kini tinggal aku yang masih betah menengok Oton. Aku sedikit iba melihat wajahnya yang pucat dan lemas, meskipun ia sudah mencoba menyembunyikan kondisinya dengan senyuman.

“Plo lu gak balik?” Kata Oton lirih.
“Nyantai aja Tonn, always setia njagain sobat yang satu ini kok.” Jawabku sedikit menghibur. Tak lama kemudian seorang suster cantik datang membawa makan malam, kurasa ini sudah jam makannya Oton.
“Mas, makanannya dimakan sampai habis ya?” si suster tersenyum ramah kepada Oton.
Aku mendekati Oton, kubisikkan ke telinganya “Enak banget ya makan aja diperhatiin.”
“Mbak sust!!” Oton memanggil si suster, aku kaget salah tingkah tak karuan.
“Ini ada teman saya mau minta diperhatiin juga makannya.” Katanya nglantur, disaat sakit seperti ini masih saja ia sempat membuat orang sekamar tertawa.
“Haha nggak mbak cuman bercanda, jangan ditanggapin serius.” Aku sedikit malu.
“Nak zaki, tolong rayu Oton biar mau makan ya? Dari tadi susah banget makannya. Padahal kepinginnya segera normal biar bisa cepat-cepat dioperasi.” kata Ibu Oton membisikiku.
“Ton ini kok gak dimakan?” Aku mencoba merayu.
“Nggak nafsu plo.” Katanya lemas.
“Dimakan apa tak habisin?” Aku tetap mecoba merayu, tapi kali ini agak mengancam.
“Haha makan aja, habisin sekalian juga gak papa.” Katanya pelan.
“Gak usah banyak omong, ayo buka mulut!!” Kataku menodongkan sendok berisi bubur.
“Aduh susah nih kalau maksa.” Oton tersenyum sambil membuka mulutnya, ibu dan ayah Oton tertawa melihat kelakuan kami berdua. Begitu senangnya kami tertawa lepas, walau aku tahu kondisinya masih belum pulih Total.

“Mas, tolong jangan diajak bercanda terus, mas nya yang sakit butuh istirahat.” Tiba-tiba suster cantik itu membuka pintu.
Aku bisikkan kepada Oton, “Ya udah Ton, pulang dulu. Kayaknya si suster sudah cemburu berat nih.”
“Haha mau dibilangin ke susternya lagi nih.”
“Eh gila, gak usah. Pokoknya tak tunggu di tempat biasanya ngopi.” Aku sekalian berpamitan.
“Oke bos.” Ia lirih mengucapkannya sambil tersenyum. Ton Oton ada-ada saja kau itu, kemarin bilang kangen ortu terus kemarinnya lagi bilang kangen pacar terus sekarang malah ke rumah sakit. Yang sabar ton…

Tetap tersenyum kawan…
Tatap mataku kawan…
Jangan pernah kau merasa sepi sendiri…
Aku di sini kawan…
Tetap menunggumu bersama-sama lagi…

Hari ini seperti biasa, aku bangun sedikit kesiangan. Hanya saja pagi ini aku masih belum melihat Oton sembuh sehingga kita dapat berkumpul di asrama bercanda dan bercerita bersama-sama. Aku pun berjalan ke luar kamar, kulihat di koridor anak-anak sedang ramai membicarakan sesuatu. “Masih sepagi ini sudah ada berita apalagi?” tanyaku heran.

“Woi ada apa ini?” Kataku memecah suasana, Usman teman kamarku mendekatiku. Ia memasang raut wajah tak enak.
“Oton berpulang Zak.” Usman lirih mengucapkannya, semua pergelanganku lemas tiba-tiba.
“Hahah nggak usah bercanda, tadi malam masih sehat kok” Aku tak percaya mendengarnya.
“Nggak Zak, tadi subuh ia sudah dikabarkan sudah berpulang.” Kata usman mencoba meyakinkanku.
Braakk… aku duduk terdiam. Pandanganku kabur… Ini tak mungkin, ia sudah mengatakanku akan menyusul ke kantin. Tuhan, ini begitu berat bagiku.

Sore hari…
Seusai menyolati dan mengantarkan di tempat peristirahatan terakhirnya, aku duduk di teras depan rumahnya. Mataku sembab, tak ada yang bisa kukatakan. Aku tertunduk lemas sendiri, entah tiba-tiba saja air mata ini menetes. Aku tak tahu kenapa air mata ini menetes? Yang jelas sekarang dalam mataku hambar menatap hari esok ketika aku kini dan seterusnya tak dapat berjalan beriringan bersamammu lagi. Sudah lama air mataku berhenti menetes, benar-benar menyedihkan. ”Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya tanpamu kawan.” kataku lirih menangis sesenggukan. Salah satu temanku duduk di depanku, nampaknya ia tahu aku menangis.

“Tak apa, menangislah aku juga tau bagaimana perasaanmu kali ini. Percaya atau tidak, aku pernah mengalaminya.” Ia seakan menutupiku agar tak terlihat orang-orang bahwa aku sekarang dalam kondisi menangis. Biarlah kali ini aku cengeng, tapi aku benar-benar merasakan arti kehilangan.

Selamat jalan kawan…
Mimpilah yang indah dalanm tidur panjangmu…
Selamat tinggal kawan…
Semoga kau abadi dan damai di alam sana…
“Dari kawanmu yang selalu merindukanmmu.” – Zaki

Cerpen Karangan: Abdul Afwu
Facebook: Af Af

Cerpen Berpulangnya Kawanku Oton merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukti Kecantikan

Oleh:
Siswa-siswi SMA Harapan 45 Surabaya berhamburan dari ruangan kelas yang berderet di setiap lorong bangunan. Jam pulang sekolah selalu dinanti oleh setiap siswa di dunia. Ada seribu satu rencana

Sudahkah Hamdan Datang?

Oleh:
“Cepat sedikit, nanti keburu siang!” kata wanita setengah baya sambil mengetuk pintu kamar. “Iya.. sebentar lagi…!” terdengar suara yang tak begitu jelas dari dalam kamar itu. “anak ini sungguh

Hadir Mu, Sang Penolong (Part 3)

Oleh:
“Apakah begitu sulit menjadi malaikat untuk malaikat?” Randy. — Hari ini hari minggu. Hubungan Rita dan Pian sudah berusia seminggu. Mereka menjalani hari-hari seperti biasanya. Tak ada yang terlalu

Gimin

Oleh:
Ketika Gimin sedang bermandi keringat menggenjot sepeda berkaratnya, teman-temannya sudah berdoa di dalam kelas. Pak Ahmad pun sudah berada di dalam ruang kelas 5 akan segera memulai pelajaran jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *