Bersama Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 January 2017

Gerimis masih mengguyur saat Arini mengayuh sepedanya menuju danau di ujung desa. Dengan sigap dia menghindari genangan air yang diciptakan oleh hujan yang turun beberapa saat yang lalu. Mentari tampak malu-malu bersembunyi di balik awan kelabu.
Dari kejauhan sudah terlihat seorang pria tengah berdiri mematung menatap hamparan danau di depannya. “Tepat dugaanku, pasti Ardian datang ke danau ini saat hujan reda. Sebenarnya, apa yang dia lakukan?” Arini menghentikan sepedanya agar kehadirannya tidak disadari oleh Ardian.
Cukup lama Arini memperhatikan Ardian dari kejauhan. Akhinya Arini memberanikan diri untuk menghampiri Ardian. Namun sebelum dia sampai, Ardian sudah melangkah pergi.
“Kok pergi sih? Padahal aku kan mau bertanya?” Tanya Arini kepada diri sendiri. “Semoga saja besok hujan lagi dan sebelum malam sudah reda.” Arini pun pulang dengan seribu tanda tanya di benaknya.

Keesokan harinya hujan turun lagi. Begitu hujan reda, Arini langsung mengayuh sepedanya menuju danau di ujung desa. Arini beruntung, karena Ardian belum datang ke danau itu. Arini memperhatikan sekelilingnya, mencoba menebak apa yang dilakukan Ardian setiap hujan reda di danau itu.

“Arini? Sedang apa kamu di sini? Sendirian lagi.” Sebuah suara mengejutkannya, Ardian sudah datang!
“Eh, kamu, Di? Aku rindu pemandangan di danau ini.”
“Danau ini memang indah, tapi sayangnya penduduk sekitar sini tidak memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.” Ardian menatap lurus ke depan. Arini mengikuti arah pandang Ardian, tampak langit yang sudah mulai membiru.
“Lalu kamu sendiri sedang apa di sini?”
“Aku? Hanya sedang menjernihkan otak saja.”
“Apakah otakmu selalu keruh saat hujan turun?”
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Bukankah kamu selalu kesini disaat hujan reda?”
“Dari mana kamu tahu?”
“Sebenarnya aku selalu memperhatikanmu. Aku selalu ingin bertanya kepadamu tapi selalu saja waktunya tidak tepat.”
“Sebenarnya aku sedang menunggu sesuatu.”
“Menunggu apa?” Pertanyaan Arini tidak dijawab Ardian, Ardian hanya menghembuskan napas dan menatap Arini. “Maaf, aku terlalu mau tahu,” sambung Arini menyadari kesalahannya.
“Apakah kamu menyadari sejak kapan aku sering datang ke sini?”
“Sejak ibumu meninggal, mungkin?” Jawab Arini ragu.
“Ya, benar. Sejak ibu meninggal aku sering datang kesini, terutama setelah hujan turun. Lihatlah! Yang kutunggu sudah datang! Sudah seminggu lebih aku menunggunya. Tapi baru hari ini aku bisa melihatnya.” Ardian menunjuk ke arah langit, Arini mengikutinya, sebuah pelangi!
“Jadi kamu datang kesini untuk melihat pelangi?” Tanya Arini sambil terus memperhatikan goresan warna di langit yang belum terlalu jelas itu.
“Ya, hanya pelangi yang bisa membuatku tenang.”
“Bagaimana bisa?”
“Kata nenek, ibu lahir saat pelangi tercipta di langit. Hal yang sama juga terjadi pada diriku, aku lahir saat pelangi muncul. Dan ibu pergi juga saat pelangi tergores di langit. Jadi jika aku sedang merindukan ibu, aku akan mencari pelangi. Dan seperti yang kau ketahui, di desa kita hanya di sinilah tempat yang tepat untuk melihat pelangi.”
“Tapi, pelangi kan tidak selalu muncul. Meskipun hujan reda, belum tentu pelangi itu akan muncul. Apalagi jika hari tidak hujan, jangan harap pelangi akan muncul.”
“Maka dari itu aku selalu kesini disaat hujan reda, karena aku tidak ingin melewatkan moment munculnya pelangi. Bagiku pelangi itu seperti ayah.”
“Ayah? Bukankah kau mengatakan kau akan mencari pelangi jika kau merindukan ibumu?”
“Memang aku mencari pelangi jika merindukan ibu, tapi sekaligus aku teringat kepada ayah. Ayah seperti pelangi, aku tahu dia ada tapi aku tidak bisa bersamanya.” Tak perlu dijelaskan, Arini pun sudah tahu. Hubungan ayah Ardian dengan ibunya sangat dirahasiakan, karena jika sampai tercium publik, karir ayah Ardian akan hancur.

Mendung masih menggantung di langit, namun Arini sudah berada dalam perjalanan menuju danau. Di tengah jalan Arini dicegat oleh beberapa warga kampung.
“Mau kemana, Arini?”
“Ke danau, Pak. Ada apa ya?”
“Sebaiknya kamu pulang saja, jangan pergi ke sana.”
“Memangnya kenapa, Pak?” Tanya Arini sambil turun dari sepedanya.
“Ada orang tenggelam di danau, sekarang sedang dijaga polisi.”
“Orang tenggelam? Siapa, Pak?”
“Ardian, dia ditemukan mengambang siang tadi.” Seketika Arini menjatuhkan sepedanya. Apa yang didengarnya lebih mengejutkan dari pada petir yang menyambar tubuhnya.
“Apakah Bapak tidak berbohong? Atau mungkin itu bukan Ardian.”
“Tidak, Arini. Itu benar-benar Ardian. Waktu perkiraan kematiannya kurang lebih dua puluh tiga jam yang lalu.”
“Dua puluh tiga jam?” Arini syok mendengarnya, bukankah sekitar dua puluh dua jam yang lalu Ardian masih bersamanya?
Sebenarnya tanpa diketahui Arini, begitu dia pulang Ardian masih tetap berdiri di sana menyaksikan pudarnya warna pelangi. Ardian melangkah tanpa memperhatikan jalan dan terpeleset lalu jatuh ke danau. Ardian yang tidak bisa berenang akhirnya tenggelam ditelan air danau.

“Ardian? Kenapa kamu pergi secepat ini?” Tak terasa air mata Arini mengalir begitu derasnya. Teringat kata-kata terakhir Ardian kepadanya, “aku ingin seperti ibu, datang bersama pelangi, dan pergi bersama pudarnya pelangi.”

Cerpen Karangan: Eka Lestari
Facebook: Eka Lestari
Eka Lestari, penulis yang masih pemula dan pastinya banyak kekurangan. Kritik dan saran ditunggu ^_^ bisa dihubungi di FB Eka Lestari (Ekles Ecles Keles)

Cerpen Bersama Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Ada Lagi

Oleh:
Pada awal 2016, saat aku menginjak bangku kelas 2 SMA, untuk pertamakalinya aku memotong rambutku seperti laki-laki. Bukannya berniat menjadi cewek tomboy, hanya, aku ingin rehat sebentar menjadi perempuan.

Bulan, Inikah Akhir Kisahku?

Oleh:
Siska menatap bulan yang sedang menyinari bumi. Seperti hari-hari biasanya, gadis kecil itu merasakan kedamaian saat menatap sang bulan. Seakan bulan adalah ibunya yang selalu siap untuk menghapus air

Vellyza

Oleh:
suara lonceng mengharukan peliharaan yang mulia disaat tiikaman kau letakan di perisaiku apa kau tau apa yg ingin kulakukan? sesungguhnya aku ingin berlari mendekatimu dan memelukmu tapi jika itu

Bangun Ayah, Jangan Tinggalkan Aku

Oleh:
Saat itu langit tampak mendung, aku masih di kampus untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen namun saat aku mengerjakan tugas aku merasa tak tenang, fikiranku terbayang pada sosok ayah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *