Black Ribbon

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 February 2016

Aku menatap pita hitam panjang di tanganku. Pita hitam peninggalan sahabatku, Sora. Kenapa? Kenapa, Sora? Kenapa kau pergi secepat ini? Apa kau tak tahu, betapa berharganya dirimu dalam hidupku? Aku menangis mengingat semua kenanganku dengan Sora. Saat kami berloncatan di atas batu yang ada di sungai, saat kami memanjat pohon bersama-sama, saat kami membuat rangkaian bunga di taman, dan hal menyenangkan lain yang kami lakukan bersama. Aku mengusap air mata di pipiku. Pasti Sora juga tak ingin aku menangis karenanya. Sora, aku ingin bertemu denganmu sekali lagi.

“Misaki! Misaki!”
Eh? Sepertinya aku mendengar suara Sora. Tapi, bukannya ia sudah meninggal? “Sora?”
“Ada apa Misaki? Kenapa ekspresimu begitu? Apa kau tidak suka aku di sini bersamamu?” Sora memiringkan kepalanya.
“So.. Sora..” tanpa ku sadari, air mataku mengucur deras.

“Waaa! Misaki, kenapa kau menangis? Ayolah, jangan menangis! Aduh bagaimana ini?” Sora tampak panik.
“Tidak,” aku tersenyum lebar. “Aku tidak menangis karena sedih, aku bahagia sekali kau ada di sini, Sora,”
Aku tak bisa berhenti menangis. Melihat Sora lagi seperti aku bisa terbang. Sangat bahagia. “Sora… ini di mana?” tanyaku. “Um? Ini di mana? Aku juga tak tahu, tapi tempat ini indah sekali kan? Ayo, kita bermain!” Sora tersenyum.

Tak ku sadari, aku menangis lagi. Senyuman Sora yang ku rindukan terpancar lagi dari wajahnya yang begitu manis.
“Misaki, kau menangis lagi. Apa aku salah?” senyuman Sora memudar.
“Tidak,” aku mengusap air mataku. “Kau tidak salah, mataku hanya kemasukan debu,”
“Syukurlah, aku bisa bertemu denganmu lagi setelah sekian lama!” senyuman Sora mengembang lagi.
Sora mendekatiku, menarik tanganku, dan mengajakku berlarian di sekitar tempat ini.

“Sora…” gumamku pelan. “Jangan pergi lagi,”
“Um? Misaki, kenapa kau berkata seperti itu? Aku tidak akan pergi sebelum waktunya habis,” Sora menoleh ke arahku. “Apa?!” tanyaku.
“Aku diberi waktu untuk menemuimu, Misaki. Saat waktuku habis, aku harus kembali ke tempatku yang seharusnya,”
“Kapan waktunya habis?” Sora menunjuk ke arah sebuah pohon yang tak jauh dari kami. Di pohon itu ada lubang, di dalamnya ada sebuah jam pasir.
“Sisa waktuku ditentukan jam pasir itu,”

Aku jatuh terduduk. Pasirnya tinggal sedikit lagi. Aku menangis lagi.
“Tak apa, Misaki,” Sora duduk di sebelahku. “Walau waktu kita tinggal sedikit lagi, aku memiliki sesuatu yang harus kau simpan,” Sora melepas sebuah pita hitam yang mengikat rambut panjangnya. “Ini, simpanlah, jangan sampai hilang. Waktuku sudah habis,”
Aku memeluk Sora. Ku peluk seerat mungkin agar ia tidak pergi. “Jangan… jangan tinggalkan aku…” air mataku mengucur deras. “Tidak bisa,” Sora balas memelukku. “Tapi, jangan lupakan aku,” Perlahan, tubuh sora berubah menjadi titik-titik cahaya dan terbang ke langit.

“Sora…”

Aku menatap nisan makam Sora, lalu meletakkan sebuah rangkaian bunga lili kesukaannya.
“Sora, aku tak akan melupakanmu, selamanya,”

Cerpen Karangan: Tsuroya M L Azzahra
Facebook: Tsuroya M L Azzahra
Aku suka nulis-nulis cerita. Tapi ini cerpen pertamaku yang kukirim ke sini. ^_^

Cerpen Black Ribbon merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Bersama Bapak

Oleh:
Entah mengapa langit hari ini terasa lebih tinggi bagi Dani. Dani membuka jendela, angin terasa berhembus dengan sangat kencang, sehingga menjatuhkan beberapa daun kering dari rantingnya. Srkkk.. srrk, dari

Awan Itu Kamu

Oleh:
Hampir setiap pagi aku tak dapat melihat senyuman mentari. Awan hitam selalu sibuk untuk menutupi cahayanya. Membuatku harus menggunakan payung untuk melindungiku dari tusukan air yang berjatuhan dari langit.

Sahabat Seperjuangan

Oleh:
Pada suatu yang cerah ada beberapa anak yang sedang bersepeda ke suatu tempat. Mereka terdiri dari 3 orang yaitu Farhan, Rohim, Daffa dan mereka membuat nama untuk grup mereka

Sepotong Roti

Oleh:
Langit cerah matahari merangkak naik semakin tinggi. Burung pipit hinggap di pepohonan bersiul menghangatkan hari. Udara segar ku hirup dalam dalam hingga terasanyaman di hati. Apalagi temanku membawa secangkir

Cellular

Oleh:
Di rumah Hadi. “Aku udah gak bisa ngejalanin hubungan ini lagi Sel.. maafkan aku..” Selly cuma bisa menunduk dan menangis mendengar perkataan Hadi. “Kita udah coba berkali-kali tapi keluarga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Black Ribbon”

  1. Juan says:

    Huaaaaaa sedih banget si… Yang kuat ya Misaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *