Cerita Tentang Sahabatku


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 2 July 2013

Sahabat adalah segalanya dalam hidup. Dia yang selalu memberi kita semangat, perhatian, cinta dan kasih sayang. Aku akan menceritakan kepada kalian tentang sahabatku. Dia sangat baik, sosok yang periang, lucu dan sangat menyenangkan. Bintang adalah namanya. Aku mengenalnya tatkala aku bekerja di sebuah distributor jilbab. Selama bekerja itulah aku kenal dekat dengannya.

Aku tahu begitu banyak beban yang ia sembunyikan dariku. Selama ini, aku merasa dirikulah yang penuh dengan beban hidup. Ternyata, masih ada orang lain yang memiliki beban yang jauh lebih berat dari pada apa yang kita alami. Tapi, sahabatku adalah sosok yang tegar, tabah, dan menerima kenyataan yang harus ia hadapi.

Aku sering menghabiskan waktu istirahat untuk mengobrol dengannya. Aku bercanda dan tertaawa bersama. Kami saling tukar cerita mengenai pekerjaan. Dia adalah sosok yang baik. Dia selalu mengingatkanku jika aku tengah sibuk bekerja, dan aku hampir lupa dengan sholatku. “Mbak brow.. Kok bingung? Pasti ada yang lupa..” Kata Mbak Bintang dengan senyum jailnya. Dia memang seumuran denganku, tetapi aku memanggilnya dengan, Mbak. Begitu juga sebaliknya, dia juga memanggilku dengan mbak.
“Apa, ya?!” Pikirku sambil memutar-mutar bolpoin yang aku pegang. “Sebaiknya sholat dulu, kalau sudah sholat pasti cepat selesai pekerjaannya.” Bintang mengingatkanku. “Memangnya sudah adzan dzuhur?” Tanyaku. “Sudah. Kamu nya saja yang sibuk sama pekerjaan.” Katanya lagi. “Astagfirullahaladzim… iya aku lupa.” Kataku terkejut, padahal tadi aku mendengar suara adzannya. Aku pun segera menutup semua file-file dalam map, dan mengambil air wudhu kemudian sholat.

Pekerjaanku dan Bintang cukup melelahkan. Tak ada jam pasti, dan kalau pekerjaan sudah banyak, pasti kita hanya menikmatinya. Meski ada perasaan capek, kami berusaha mengusir rasa itu dengan candaan dan obrolan. Berharap rasa capek bisa menghilang. Bahkan, terkadang kita lupa dengan waktu makan.

Aku lebih dulu bekerja di sana. Kemudian, Bintang datang menggantikan temanku yang keluar dari pekerjaannya. Menjelang penerimaan gaji, aku melihat raut wajah Bintang menjadi senang. Tetapi, perasaan senang itu tiba-tiba hilang dalam genggamannya. “Iya, Bintang belum gajian, Mbak. Kalau begitu, izinkan Bintang bicara dengan ibu.” Kata Bintang di telepon. Aku hanya diam, dan berusaha menyibukkan diri, seolah-olah membaca buku yang aku saut dari tempat tidur.
“Ibu, ibu baik-baik saja kan?” Tanya Bintang. Ada segurat kecemasan dalam batinnya. “Ibu butuh uang berapa? Nanti kalau Bintang sudah gajian, pasti Bintang akan memberikannya pada ibu” Kata Bintang. Bintang dan ibunya masih terlibat pembicaraan di telepon dan aku hanya diam. Aku tak enak mendengar percakapan ia dengan ibu dan juga kakaknya.

Suatu saat, aku mendapati sebuah foto jatuh dari dompet Bintang. Aku tak sengaja mengambilnya, dan melihatnya sekilas. “Bintang, foto kamu jatuh.” Aku memberikannya pada Bintang. “Oh, iya..” Kata Bintang. Ia melihat foto itu sekilas, kemudian memasukkannya ke dompet. “Itu foto siapa?” Tanyaku. “Itu Foto ayahku.” Jawabnya singkat.
Kemudian Bintang duduk di dekatku. “Dia ayahku. Dia bekerja di Papua. Ini ibuku.” Bintang menunjukkan foto ibunya padaku. Bintang bercerita banyak mengenai keluarganya. Ayahnya menikah dua kali. Dan Ibu bintang adalah istri kedua dari ayahnya. Dia juga mempunyai saudara dari ibu tirinya. Tapi, aku bisa melihat bahwa ia sakit hati dan sedih melihat kehidupan keluarganya yang semrawut.

Keluarganya terpecah-pecah, ibu dan juga bapaknya, dan saudara-saudaranya. Kini, ialah yang bertanggung jawab atas kehidupan ibunya. Kakaknya, – Ema – tak begitu peduli dengan ibunya. Setiap kakaknya telepon, sikapnya menunjukkan bahwa ia ingin ibunya ikut dengan Bintang. Mungkin, ia merasa kerepotan dengan ibunya. Bintang sadar, dan tahu diri. Tapi, kondisinya sekarang dia sedang bekerja dan tinggal dengan bosnya.

Bintang berharap ibunya baik-baik saja. Ibunya memeng sering sakit-sakitan. Ia berada jauh dari sisi sang ibu. Hanya do’a yang bisa ia panjatkan. Semoga, ibunya cepat sembuh dan suatu saat, ia bisa membawa ibunya pergi dari rumah kakaknya. “Sya, kalau kamu pulang, aku nitip gajiku, ya! Ibukku sedang sakit dan dia butuh uang untuk membeli obat.” Pinta Bintang padaku. “Iya, Bintang.” Jawabku.

“Kin, aku sudah tak bekerja lagi. Karena, aku melanjutkan pendidikanku. Aku teringat akan bintang sahabatku. Aku sangat merindukannya. Ia berjanji jika suatu saat ia datang ke Madiun, dia akan menemuiku. “Jika aku ke Madiun, kita bertemu di masjid dekat kampus kamu, ya?” Kata Bintang waktu itu. aku berharap, suatu saat aku dapat bertemu dengannya.

Aku tahu bagaimana kerja keras Bintang demi ibu dan demi cita-citanya. Aku tahu bagaimana peliknya masalah hidup keluarganya. Cobaan dan derai air mata yang selalu ia sembunyikan. Aku bisa merasakan apa yang ia rasakan. Hidup dalam keluarga yang serba penuh dengan masalah. Tapi, aku melihat ketegaran dan kesabaran dalam dirinya.
Hingga suatu saat, aku ada jam kuliah di sore hari. Dan saat itu juga, Bintang sedang istirahat di masjid dekat kampusku. Bintang tengah duduk di depan masjid, aku tersenyum dan berlari memeluknya. “Bagaimana kabarmu, Sya?” Tanya Bintang. “Alhamdulillah, kabarku baik-baik saja” Jawabku. Saat itu, Bintang tengah berjualan jilbab ke Madiun, dan ia tengah beristirahat untuk sholat Asyar di masjid. Saat itulah aku bertemu dengan Bintang, yang kebetulan aku ada kuliah sore.

Bintang bercerita banyak tentangku. Kemarinnya, aku mendapat kabar dari Raya temanku dan juga teman Bintang. Bahwa, Bintang membawa ibunya ikut dengannya. Karena, kakaknya menyuruh Bintang untuk merawat ibunya. “Mbak, sekarang ibuku ikut denganku. Ibu aku koskan di dekat rumah Pak Anwar (bosnya). Dia terkena penyakit diabetes. Aku minta do’anya ya, semoga ibuku cepat sembuh.” Kata Bintang tersenyum. Meskipun ia dalam kesedihan, aku masih melihat senyum dari wajahnya.

Bintang juga berkata bahwa dia terkena kista. Tenyata, rasa sakit yang hebat dan sering menyiksa saat ia menstruasi adalah penyakit kista. Aku pernah melihatnya merintih kesakitan dan menangis. Dan hal itu selalu ia alami tatkala datang bulan. “Tapi, Alhamdulillah, tidak apa-apa ko. Kemarin sudah dikasih obat.” Kata Bintang padaku. Aku lantas memeluknya.

Aku begitu kasihan melihat penderitaan dan ujian yang harus ia alami. Tapi, aku yakin ia bisa melewati masa sulitnya. Karena dia adalah sosok yang sabar dan tangguh. Kesedihan yang ia alami adalah, tatkala ia harus meninggalkan ibunya sendiri di kos, dan sesekali melihat saat jam makan. Karena ia harus bekerja di rumah bosnya. Semua orang akan jijik dengan ibunya, kaerena penyakit diabetesnya. Tapi, ia tetap sabar, telaten dan penuh kasih sayang merawat ibunya. Siapa lagi yang akan merawat ibunya kalau bukan dia. Jika kakak kandungnya dan juga anak kandung dari ibunya saja tidak mau merawat ibunya sendiri.

Selama aku tidak bekerja lagi, aku hanya bertemu sekali dengan Bintang, saat di masjid dekat kampus itu. Setalah itu, aku tak bertemu dengan Bintang. Karena, Bintang sudah tidak menawarkan jilbab. Ia hanya bekerja di rumah, karena harus mengawasi dan merawat ibunya. Tapi, aku berusaha menjaga komunikasi dengan Bintang lewat sms.

Suatu saat aku sms ke Bintang untuk menayakan kabarnya. Aku tahu, bahwa ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi, aku ingin kesibukan tidak akan melupakan kita dengan seseorang yang sangat kita sayangi. Tapi, smsku di malam itu tak kunjung mendapatkan balasan darinya. Aku hanya berfikir, bahwa ia sibuk dengan pekerjaannya.

Tapi, keesokan harinya, ia baru membalas smsku. Aku sangat terkejut tatkala membaca sms darinya. Aku langsung lemas dan mataku mulai berkaca-kaca. Hanya satu yang aku pikirkan. Bagaimana dengannya, siapa yang akan membantunya, siapa orang terdekat yang menemani saat-saat sulitnya? Aku haya bisa menagis tatkala melihat sms Bintang. Karena, dalam duka ia masih bisa tersenyum.
Assalamu’alaikum.. mbak.. Q nyuwun doa ne.. ibukQ meninggal.. pyan kabari mb. Raya ya…. (21 Maret 2013)

Aku haya bisa mendo’akan ibunya, semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT. Diampuni semua dosa-dosanya, dan diterima amal baiknya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Bintang. Dia disana sendiri, ibunya telah tiada. Tak ada sanak dan saudara. Siapakah yang akan membantu proses pemakaman ibunya. Ia merantau di daerah orang lain untuk bekerja. Siapa yang akan menghapus air matanya, siapa yang akan menenangkannya?

Ingin sekali aku hadir di sisinya, memeluknya erat. Membiarkan ia menangis dalam pelukanku. Aku tak kuasa melihatnya bersedih sendiri. Aku juga tak ingin ia terus larut dalam kesendirian dan kesedihan. Aku ingin menemaninya, dan menghiburnya. Aku adalah orang yang tahu bagaimana kehidupannya selama ini, susah senang bersama saat bekerja, tertawa bersama menghilangkan sara lelah. Aku menagis mengingat saat-saat bersama dengannya.

“Barangsiapa Kuambil orang yang dicintainya di dunia tetap mengharapkan ridha(Ku), niscaya aku akan menggantinya dengan surga.” (Al-Hadits)
Hanya kata-kata itu yang aku tuliskan sebagai balasan sms dari Bintang. Aku berharap, kesabaran dan ketabahan akan menyelimuti jiwanya. Bagaimana kasih sayang dan cinta yang ia curahkan kepada ibunya begitu besar. Bakti dan ketulusan merawat ibunya yang sakit. Beban pikiran antara pekerjaan dan merawat ibunya ia tata rapi dan simpan dalam hati dan pkirannya. Ia tetap fokus dengan pekerjaan demi ibunya.

Kini, ibunya telah tiada. Allah Maha Melihat, dan Mengetahui. Aku yakin, bakti, cinta dan kasih sayang Bintang kepada ibunya akan Allah ganjar berlipat ganda. Aku selalu berdo’a demi kebahagiaannya. Kini, ibunya telah dimakamkan di daerah perantauannya. Beliau telah tenang. Miris melihat kisahnya, yang harus terpisah dari kasih sayang anak kandungnya. Bintang hanya mengucap syukur dan terima kasih, orang-orang di sana mau menerima kehadirannya dan juga ibunya.

Mungkin, ada perasaan kecewa dalam hati Bintang dengan sikap kakaknya. Entahlah, apakah ia juga memberikan kabar duka itu pada kakaknya. Tanah yang ada di bumi ini menjadi milik semua orang, di sanalah tempat ibunya beristirahat dalam dekapan bumi. Aku menagis mengingat sahabatku.

Tabahkan hatimu sahabatku. Aku akan selalu berdo’a untukmu dan juga ibumu. Semoga engkau senantiasa diberikan kebahagiaan, kesabaran dan ketabahan dalam menjalani takdir yang sudah Allah gariskan. Bakti, cinta dan kasih sayangmu pada Ibunda tercinta akan menjadi cerita bagi mereka, agar senatiasa menyayangi ibu, apa pun kondisi dan keadaan mereka.

Cintamu akan abadi, dan akan menjadi kenangan terindah dalam sejarah hidupmu. Jangan pernah bersedih atas kepergiannya, karena akan ada ganti setelah kejadian ini. Tunggulah, karena pengganti itu akan datang membawa kebahagian baru dalam hidupmu. Tunggulah, dan bersabarlah. Engkau tidak akan pernah hidup dalam kesendirian, aku sahabatmu akan selalu ada dan senantiasa berdo’a demi kebahagiaanmu.

Selesai

Cerpen Karangan: Choirul Imroatin

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Kisah Nyata Cerpen Pengorbanan Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply