Cerita Untuk Negeri Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 31 December 2015

Inilah cerita seorang remaja dalam berjuang untuk memerangi keadaan hidupnya saat ini, mungkin ia sangat berbeda dengan kebanyakan remaja lain, sepulang sekolah ia menjual gorengan ke komplek-komplek dan setiap lampu merah. Dia adalah Dini anak usia 17 tahun yang jauh dari hingar bingar kota.
“Din gak malu kamu, seumuran kamu tuh enak main” kata Sari.
“Sari, Sari ngapain malu, ini uangnya kan halal”
“Eh, tak bilangin ya remaja itu cari cowok-cowok ganteng, eh lihat deh kamu jualan kayak gini cowok-cowok pada cuek, coba kalau kamu dandan rapi pasti… eh, eh.. mau kemana?” tanya Sari sambil nyerocos.

Dini pun pulang ke rumah dengan membawa uang hasil jualan.
“Gimana Din, laku?” Tanya ibunya.
“Alhamdullillah laku Bu, banyak yang suka. Oh iya Bu, Dini mau belajar kelompok dulu ya”
“Heeh, tapi nanti bantuin Ibu ya, Nak”

Setiap hari Dini bilang kalau dia belajar kelompok sebenarnya dia jadi guru les privatnya Sari. Sari adalah temannya Dini, ia anak orang kaya tapi otaknya pas-pasan. Kalau soal bahasa inggris, makanya dia percaya ke Dini karena dia itu emang jago.
“Din, nanti lanjut ke mana, udah kelas 3 loh?”
“Gak tahu Sar” jawaban dari Dini selalu itu.
“Lah sayang banget loh Din, otak encer eh malah gak mau terusin”
“Ikutan bidikmisi aja, Nduk” kata ibunya Sari.
“Sulit Bu, banyak daftar-daftarnya, ujungnya pasti uang”
“Dini enggaklah gue pastiin guru muda gue harus kuliah, masa muridnya kuliah gurunya enggak”

Setiap omongan tadi ia ingat selalu, sampai malam ia ingin membincangkan masalah ini ke ibunya.
“Bu, boleh gak Dini kuliah?” Kata Dini was-was.
“Din…. tapi Ibu gak punya uang ”
“Gak apa-apa kok Bu, Dini ikut bidikmisi aja”
“Gini ya Nduk, kalau apa yang kamu yakini itu pasti berhasil, kenapa harus takut?”
“Jadi Ibu ngizinin?”
“Heeh, apa sih yang enggak buat Dini” mereka pun berpelukan bersama.

Dini dan Sari sudah kuliah. Dini berhasil membuktikan kalau dia berhasil mencapai bidikmisi sedangkan Sari mudah saja karena kedua orangtuanya kaya. 2 bulan kemudian pertemanan Dini sedikit agak renggang dengan Sari. Setiap Dini ke rumahnya Sari, dia belum pulang kuliah padahal semasa SMA setiap hari tanpa putus mereka selalu belajar bersama.

“Din, Ibu udah pasrah sama Sari” kata Mamanya Sari.
“Loh kenapa Bu?”
“Ibu sabar aja ya, mungkin Sari sudah punya cowok kali Bu”
“Ibu curiga gitu, tapi Ibu mohon kamu jaga Sari ya?”
“Ya Bu… insya Allah”

Sepulang dari rumah Sari, Dini menelepon Sari tapi direject sama dia. Dini akan menemuinya saat di kampus besok. Saat pagi Dini ke kampus dan setiap harinya dia membawa kue untuk dititipkan di kantin kampus. “Eh Sari baru dateng ya?” sapa Dini. Tapi Sari langsung berlalu tanpa menggubris Dini.
“Sari sebenarnya aku salah apa?”
“Kenapa sih lo? urusin hidup lo yang gak kelar itu”
“Ya ampun Sari! Baru kali ini aku dengar kamu ngomong gitu”

Dari belakang Dini disodok cewek-cewek tengil dan mereka menyapa Sari.
“Hai Sari ke salon yuk?”
“Sari… ini teman baru kamu? pantesan kamu pulangnya sering telat”
“Emang kenapa? gue kan butuh kecantikan gak kayak lo pedagang kue”
“Sar.. sejak kamu berteman dengan mereka kamu boros, dan suka membantah nasihat dari Ibumu dan apa, dandanan kamu ini kayak bukan Sari”
“Kenapa? gue lebih cantik dari lo. Oke guys lebih baik kita ke salon daripada dengerin anak tengil ini.”

Seketika air mata Dini meleleh ia tak menyangka Sari yang dulu pinter, gak gengsian sekarang jadi anak seperti itu. Dan sejak berteman dengan teman-teman itu Sari jadi membantah omongan orangtua. Ya Allah apa ini akibat dari revolusi mental. Pagi-pagi itu Dini ditelepon mamanya Sari dengan hati yang ketakutan.
“Nak apa Dini tadi malam tidur di situ?”
“Ehm… enggak Bu, memangnya ada apa?”
“Ya Allah, ke mana anak itu ditelepon gak diangkat, Nak”
“Ibu tenang dulu nanti aku cari di kampus”

Dini berangkat ke kampus hari ini sebenarnya dia tak ada jadwal ngampus tapi demi Sari ia nekat. Ia cari tidak ada, kemudian dia cari ke rumah temannya Sari si cewek-cewek tengil itu.
“Sari, ayo kita pulang?”
“Eh siapa sih lo ngurusin hidup gue?”
“Ibu kamu nyariin, Sari?”
“Dia gak pantes jadi Ibu gue, karena dia yang bikin gue gini”
“Sari, istighfar!”
“Cukup! sekarang gue mau lo pergi!”

Sejak kejadian itu Sari jarang ke kampus dan setiap Dini melihat Sari seperti ada yang aneh dalam tubuh Sari. Badannya mulai kurus, wajahnya keriput. Tiba-tiba Sari pingsan di rumahnya dan dia dibawa ke rumah sakit. Dini juga ikut. Betapa mengejutkan setelah hasil lab ke luar bahwa Sari positif mengonsumsi nark*ba, dan sebab dia pingsan karena obatnya habis. Pantas banyak sayatan di tangannya. Suasana jadi kacau.

“Sari Ibu malu sama kamu, kamu udah bikin Ibu malu”
“Maafin Sari Bu”
“Enggak Sari kamu harus pergi, kamu bukan anakku lagi!”
Akhirnya ibu dan ayahnya Sari bangkrut dari bisnisnya. Mereka jatuh miskin dan ibunya Sari bunuh diri sedangkan ayahnya hilang ditelan bumi. Kini Sari tinggal di kantor rehabilitasi. Setiap hari Dini menjenguknya.

“Din, gimana keadaan orangtua gue?”
“Sari kamu yang sabar ya, mereka… baik-baik aja kok. Kamu fokus aja sama kesembuhanmu saat ini”
“Din maafin gue ya, lo baik gue jahat”
“Sari ada kalanya manusia melakukan kesalahan, jadi ambil hikmah dari musibah ini”
“Nanti kalau gue udah sembuh, gue mau sungkem sama Mama dan Papa, terutama Mama, gue banyak banget buat salah”
Seketika mereka berpelukan dan di situ tangis Dini semakin menjadi. Ia tak bisa membayangkan kalau Sari mengetahui kondisi keluarganya sekarang.

“Din lo mau kan jadi sahabat gue?”
“Janji.”

Cerpen Karangan: Agustina
Facebook: Agoestiena criestantie

Cerpen Cerita Untuk Negeri Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lose

Oleh:
“I hate to see you with your sunset, somehow. Don’t you know why? ‘cause you forget about the rainbow.” Aku tidak percaya dengan namanya cinta pada pandangan pertama dan

Mimpi Indahku (Part 1)

Oleh:
Suatu hari, Tania menghadiri acara pernikahan temannya, Yogi. Acara pernikahan itu sangat meriah. Tania sempat membayangkan, acara pernikahannya dengan Sandy nanti akan lebih meriah dan megah dari pernikahannya Yogi

Bayangan Matahari

Oleh:
Bayangan Matahari Hitam.. Pantulan atau cerminan? Mereka bermakna dalam, Mereka bayangan.. Matahari harusnya berbayang Jadi, ‘kan kuberi satu Cukup untuk keberadaanmu Satu yang lebih darimu Aku tertegun membaca secarik

Hasil

Oleh:
“yeeeaayyy..” teriak semua murid yang sedang melempar jas sekolah kesayangan mereka. Pada saat itu pengumuman kelulusan sekolah baru saja diumumkan, setelah kami semua melewati banyak ujian, akhirnya kami bisa

Sahabat Tetap Sahabat

Oleh:
Seperti biasa, pukul 06.30 bel berbunyi “kringg” semuanya kembali ke kelas dan memulai pelajaran. Pelajaran pertama adalah matematika. Menurut ku itu pelajaran, yang paling bete dan membosankan. Tapi aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *