Cimissy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 September 2017

Viona Angel Husna itulah nama lengkapku. Aku biasa dipanggil Viona. Aku berumur 11 tahun. aku mempunyai dua adik perempuan dan dua kakak perempuan. Aku sering memanggil ibuku dengan sebutan Bunda dan memanggil ayahkku dengan sebutan Ayah. Nama adikku yang berumur 4 tahun Misca dan nama adikku yang berumur 2 tahun Vionasia. Aku mempunyai 1 kucing anggora putih, dia bernama Cimissy. Kakak perempuanku Riscka, dan Dina.

Minggu pagi jam 05.00, aku segera melaksanakan sholat shubuh. Jam 08.00 aku sarapan pagi. Setelah sarapan pagi, aku bergegas pergi ke kamarku. Aku mengambil handphoneku dan melihat instagram. Setelah itu, aku menghampiri laptop di atas meja belajarku. Aku ingin membuat cerpen. Tiba tiba, pikiranku terbayang 1 tahun lalu, ketika aku masih kelas 4. Ini dia ceritanya. Silakan disimak.

“Viona!” Panggil bunda dari ruang tamu. aku segera menghampiri bunda.
“Ada apa bun?” Kataku.
“Nanti bunda jam 9 ada arisan di rumah Bu Ninta, nanti kalau Micsa bangun, kamu ajak main dulu ya, dan kalau Misca nangis, nanti panggil bibi Kinan, kalau lapar panggil bibi Risa ya kak. Vionasia bunda bawa,” Kata bunda. Aku melihat ke Vionasia. Dia sedang bermain coret coretan di kertas. Dia melihatku dan tersenyum kepadaku.
“Baik bunda. kakak Riscka ke mana bun?”
“Kakak Riscka sedang Osis di sekolahannya,”
“Kak Dina?”
“Sedang pramuka di sekolahnya,”
“Oh,”
“Kak, ini sudah jam 9 nih. Bunda pergi dulu ya kak,”
“Baik bunda,” Kataku sambil mencium tangan bunda. Aku juga menyuruh Vionasia untuk mencium tanganku.
“Dadah Viona,” Kataku sambil melambaikan tangan ke arahnya.
“Dada, tata,” Kata Vionasia.

Aku mengambil remot dan menyalahkan TV. Tiba tiba, Cimissy menghampiriku. Seperti biasa, dia duduk di pangkuanku. Sambil menonton TV, aku mengelus elus badan Cimissy yang lembut. Lama lama, Cimissy tertidur pulas. Aku menaruh Cimissy ke rumahnya. Rumah Cimissy ada di tempat bermain. Aku membeli rumahnya, dari bahan, bukan dari kawat atau besi. Biasanya, Cimissy kalau lapar dia mengeong, kalau mengantuk, dia menghampiriku, kalau mau pup atau pipis, dia ke kamar mandi sendiri.

Setelah menaruh, Cimissy ke tempat tidurnya, aku kembali ke sofa dan menonton TV. Tak lama, Misca bangun. Dia keluar dari kamar bunda, karena dia tidur di kamar bunda. Dia berjalan ke arahku, sambil mengucek ngucek matanya.
“Kak, bunda mana?” Kata Misca suaranya begitu pelan.
“Lagi Arisan di rumah bu Ninta Ica,” Kataku.
“Kamu mau makan?” Kataku.
“Iya kak. Dede laper,”
“Ya udah, kalau kamu mau makan kakak panggil bibi Risa,”
“Iya kak,”
“Tapi, kamu harus mandi dulu. Nanti pas kamu mandi, makanannya udah selesai,”
“Oce,” Kata Misca.

Dia sudah bisa mandi sendiri. Kalau bagian main airnya sih, dia. Tapi kalau sabunin atau samphoin aku. Namanya juga masih kecil, kerjaannya main air doang. Aku juga seperti itu. hehehe.

Setelah selesai memandikan adikku, aku segera memakaikan baju Misca. Setelah selesai dandain Misca sampai rapi, aku ke meja makan bersama Misca.

Pasti kalian berfikir, kenapa ada pembantu, bukan pembantu aja yang memandikan. Padahal kan, ada baby sister juga. Aku dibiasakan oleh bunda untuk tidak merepotkan pembantu. Karena, pembantu itu untuk membantu pekerjaan rumah, bukan untuk mengerjakan semua yang ada di rumah. Dan bunda juga bilang, kalau bergerak itu sehat.

Jam 12 siang, bunda pulang ke rumah. Biasanya, jam segini, Cimissy mengeong ngeong tanda kelaparan. Aku heran, akhirnya aku menghampiri rumah Cimissy. Aku membangunkanku dengan mengelus badannya. Dia membuka matanya dengan lemas, melihat ke arahku tidak seperti biasanya. Aku segera menggendong Cimissy, dan membawa Cimissy ke bunda untuk memeriksa, Cimissy sakit atau tidak.

“Bunda, bunda!” Aku berlari tergesa gesa menuju bunda yang ada di dapur, sedang memasak di bantu bibi Risa.
“Ada apa kak? Sampai berlari larian seperti itu?” Kata bunda.
“Bunda, coba periksa Cimissy apakah Cimissy tidak sakit?” Aku menanyakan kepada bunda karena bunda seorang dosen IPA.
“Cimissy sakit kak. Cimissy harus dibawa ke dokter hewan untuk dikasih obat dan diperiksa lebih lanjut,” Kata bunda.
“Iya bun. Kalau begitu, ayo bun kita ke dokter hewan,”
“Baiklah. Bibi Risa, tolong masakin bentar dulu ya bi. Saya mau antar Viona ke dokter hewan,” Kata bunda.
“Baik nyonya,” Kata bibi Risa.
Aku dan bunda segera menyuruh mang Jaja untuk mengantarkanku dan bunda menuju dokter hewan.

Sampai dokter hewan, aku segera masuk ke perawatan hewan, dan menanyakan semua tentang Cimissy. Dokter segera membawa Cimissy ke ruangan periksa hewan, dan memeriksa Cimissy. Setelah itu, dokter membawa Cimissy lagi di pangkuanku, dan bunda menanyakan Sakit Cimissy.

Dokter bilang bahwa Cimissy telah lama sakit, dokter menyuruh aku untuk memeberikan obat yang dokter kasih kepadaku untuk memberikannya kepada Cimissy, dan mengasih makanan kucing dengan rutin. Kalau Cimissy dalam seminggu bisa sembuh, Cimissy masih bisa diobati. Tetapi kalau Cimissy tidak sembuh juga, bisa konsultasi lagi.

Selama seminggu itu, aku menjaga baik baik Cimissy, mengasih obat Cimissy dengan rutin, dan mengasih makanan Cimissy dengan rutin. Aku tak lupa juga untuk memandikan Cimissy agar terhindar dari kuman kuman dan penyakit.

Sudah seminggu, Cimissy makin lama makin segar. Aku menggendong Cimissy, aku bersorak sorak senang karena Cimissy telah sembuh. Aku sangat senang.

Sekarang hari Sabtu. Bunda mengajakku pergi ke mall. Aku mengajak Cimissy. Bunda memarkirkan mobil di tempat permakiran mobil. Aku dan bunda menyebrang di zebra cross dan sampai di mall.

Setelah selesai belanja, aku menyeberang. Tapi, tiba tiba mobil lewat, menyerobos lampu merah untuk pejalan kaki. Akibatnya, Cimissy tertabrak mobil itu, dan Cimissy tewas. Aku sangat kaget. Aku menangis tersedu sedu, sambil menyebut nyebut nama Cimissy. Aku melihat darah di sekujut tubuh Cimissy aku tidak tega.

Aku segera menuju mobil dan membawa Cimissy ke rumah. Aku mengubur Cimissy di belakang rumahku. Aku menangis tersedu sedu. Tiba tiba, bunda menghampiriku.
“Sudah kak. Kamu jangan menangis terus. Kamu harus mengikhlaskannya kak,” Kata bunda.
“Baik bunda,” aku bergegas dari halaman belakang.

Aku menitikan air mata membayangkan 1 tahun yang lalu. Aku segera mengelap air mataku.
“Viona. Sedang apa kamu?” Kata bunda ke kamarku. Aku memutarkan bangkuku.
“Enggak sedang apa apa kok bun,”
“Oh,”

Aku menuruni anak tangga dan menuju kucingku. Aku sekarang sudah dibelikan kucing baru, untuk pengganti Cimissy. Dia bernama Camissy. Aku tetap sayang Cimissy dan Camissy.

Cerpen Karangan: Fadiah Hamami
Hai, namaku Fadiah hamami. aku berumur 10 tahun, juli 11 tahun. aku dilahirkan di Jakarta pusat 2006. aku suka menulis cerpen dari aku umur 6 tahun. salam kenal.

Cerpen Cimissy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Pengorbanan Itu Nyata

Oleh:
Kringg… kringg.. kringg.. Hoamm.. rasa mengantuk di mataku masih teramat dalam aku rasakan. Insomnia telah melandaku akhir-akhir ini. Membuat hariku yang seharusnya cerah berubah menjadi kemalasan yang kadang sulit

Nggak Beli Lotre Pa?

Oleh:
“Nggak beli lotre Pa?” tanya Juariah ketika Joko suaminya baru pulang dari kantor. Joko memandang Juariah dengan tatapan yang sama seperti kemarin dan seperti kemarin lagi dan seperti yang

Surat Untuk Tuhan di 17 Tahun

Oleh:
Genap 1 tahun ayah ku pergi meninggalkan kita semua di dunia ini. Dunia terasa gelap tak pernah rasanya aku melihat sebercak cahaya kebahagiaan. Namaku Risa. Sudah beberapa tahun ini

Jamu Buatan Ibu

Oleh:
Sang mentari menyinari bumi. Burung-burung berkicau di pagi yang cerah ini. Donna baru bangun. Rambutnya yang panjang teruwel-uwel tak karuan. “Indahnya….” Donna menghirup udara sejuk di pagi ini. “Nak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *