Cinta Atau Negara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 25 April 2016

Aku adalah Letnan Wili. Aku adalah seorang mata-mata. Sejak umur enam tahun aku mulai menyukai hal-hal yang bersifat militer. Aku memang berbeda dari anak-anak lainnya. Di mana yang lain sedang bermain, aku sibuk membaca buku strategi dan perang milik ayahku. Aku juga seorang nasionalis, orang yang cinta tanah air dan rela mati demi negaranya. Kehidupan sosialku tidaklah begitu baik. Itu semua karena sikapku yang dingin terhadap orang sekitar dan kemampuan untuk bersosial yang tidak begitu baik. Ditambah lagi ayahku adalah seorang veteran, yang membuat orang-orang seusiaku segan untuk mengajakku bermain bersama.

Satu-satunya temanku yang aku ingat dan aku punya adalah Nana. Dia adalah teman masa kecilku. Aku dan Nana sama-sama menyukai dunia militer. Kami menghabiskan waktu dengan bertukar dan beradu strategi. Namun suatu hari Nana dan keluarganya pindah. Aku tak tahu mereka pindah ke mana. Itu semua terjadi ketika aku baru saja pulang dari sekolah. Aku merasa sedih karena kehilangan satu-satunya sahabat yang aku miliki. Semenjak itu aku menghabiskan waktuku untuk mendalami dunia militer dan hampir tidak pernah mempunyai teman.

Bertahun-tahun aku habiskan hanya untuk mendalami dunia militer. Sekarang aku bertugas sebagai mata-mata yang berada di bawah komando jenderal agung. Saat itu indonesia dan singapura tengah mengalami konflik karena sudah beberapa kali tentara singapura melanggar wilayah perbatasan indonesia-singapura dan menenggelamkan kapal-kapal pengangkut suplai militer indonesia yang melewati wilayah tersebut. Jenderal agung segera menugaskanku untuk menginvestigasi penyebab dan orang yang telah mendalangi kejadian tersebut. Aku pun berangkat ke singapura dengan menyamar sebagai warga sipil yang hendak berlibur.

Setelah seminggu menyelidiki kasus ini, akhirnya aku menemukan siapa yang telah mendalangi peristiwa tersebut. Beliau adalah Jenderal Wahyu, mantan panglima TNI yang dipecat secara tidak hormat karena telah membunuh puluhan warga sipil dalam operasi pembebasan kepulauan riau. Karena tidak dapat menerima keputusan itu, Jenderal Wahyu pergi ke singapura dan menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata negara tersebut. Entah kenapa aku merasa familiar ketika mendengar namanya. Tetapi perasaan itu aku hiraukan agar tidak menggangguku dalam melaksanakan tugas. Berbulan-bulan aku mengintai pergerakan pasukan Jenderal Wahyu. Hingga suatu hari Jenderal Agung mengeluarkan perintah untuk membunuh Jenderal Wahyu.

Pergerakan pasukan Jenderal Wahyu dinilai telah melampaui batas, sehingga dengan mengeliminasinya dapat menghentikan pergerakan pasukannya untuk waktu yang lama. Aku pun segera menuju ke markas Jenderal Wahyu dan menyelinap ke salah satu gedung di sana. Tepat pada saat Jenderal Wahyu memberikan arahan kepada pasukannya, aku segera membidiknya dengan senapan c-tac kesayanganku. Aku pun menarik pelatuk dan peluru segera menancap di kepala Jenderal Wahyu. Keadaan menjadi kacau sehingga dapat aku manfaatkan untuk melarikan diri. Seminggu semenjak kematian Jenderal Wahyu, pergerakan pasukan singapura terhenti dan keadaan di perbatasan telah dapat dikendalikan. Jenderal Agung memberikanku liburan selama dua bulan atas pekerjaan yang telah aku laksanakan dengan sukses. Aku memutuskan untuk tinggal di singapura sementara waktu.

Suatu hari, aku berkunjung ke monumen merlion yang lama. Patung yang menjadi lambang bagi negara singapura telah kehilangan kepalanya akibat serangan artileri kapal TNI-AL saat melakukan serangan di sekitar perbatasan. Keadaan seperti ini membuatku lebih nyaman daripada berada di tengah keramaian. Aku pun menikmati makanan yang baru saja aku beli dari pasar. Aku melihat sekeliling dan seketika pandanganku tertuju pada seseorang. Sepertinya aku pernah mengenal wanita tersebut. Saat wajahnya melihat ke arahku, aku pun langsung mengenalinya. Dia adalah Nana, sahabat kecilku. Sudah 15 tahun aku tidak berjumpa dengannya. Aku langsung menyimpan makanan ke dalam tasku dan pergi menghampirinya.

“Nana,” sapaku.
“Eh.. Wili? Ini benar Wili?” tanya Nana menyakinkan.
“Eh, ternyata masih ingat ya sama aku,”
“Iyalah, masih seperti dulu,”

Ternyata dia juga masih mengenaliku. Kami pun bercerita tentang kisah hidup yang telah kami jalani selama 15 tahun. Dia dan keluarganya pindah ke singapura karena ayahnya ditugaskan di sana. Dia belum sempat memberitahuku karena saat itu aku sedang tidak berada di rumah. Kini Nana bekerja sebagai seorang intel, yaitu orang yang mengumpulkan informasi untuk keperluan negara atau melancarkan suatu operasi militer. Ya, tugasnya hampir sama denganku, tetapi intel hanya mengumpulkan informasi, bukan mengeliminasi seseorang. Ternyata dia masih seperti Nana yang aku kenal, wanita tinggi, putih, berperilaku yang baik, dan yang masih menyukai tentang hal yang berbau militer. Cukup lama kami bercerita, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Hatiku terasa senang karena bertemu kembali dengan sahabat kecilku. Tidak terasa sudah hampir dua bulan aku menghabiskan waktu di singapura. Kini saatnya aku kembali ke indonesia dan menerima tugas yang baru. Aku pun bertemu Nana di bandara dan aku berjanji kepadanya bahwa suatu saat nanti aku pasti akan menemuinya lagi. Bel keberangkatan sudah berbunyi, aku segera menuju ke terminal keberangkatan dan meninggalkan Nana di belakangku. Berat rasanya meninggalkan seseorang yang disayangi. Tetapi harus bagaimana lagi, tugasku kepada negara tetap harus aku laksanakan. Akhirnya pesawatku bertolak dari singapura menuju jakarta, kota tempat pangkalan militer aku mengabdi. Sesampainya aku di pangkalan, Jenderal Agung menyambutku dan menjabat tanganku. Aku merasa senang dapat melihat atasanku puas akan hasil kerjaku. Esok harinya, seorang prajurit datang kepadaku dan menyampaikan amanat dari Jenderal agung. Aku diminta untuk segera menemui beliau. Aku pergi menghadapnya. Seperti yang sudah aku duga, beliau memberikanku tugas yang baru. Aku kembali ditugaskan di singapura.

Aku pun berangkat ke singapura untuk memenuhi tugasku dan seperti biasa aku pun menyamar menjadi warga sipil. Jenderal Agung menyuruhku jika sudah sampai di singapura aku harus bertemu dengan Jenderal Tio, karena ialah yang akan memberiku tugas di singapura. Setelah bertemu dengannya, aku diberikan dokumen yang berisi tentang detil-detil misiku nanti. Aku pun membaca dokumen tersebut, di saat itu juga aku langsung terkejut dengan isi dokumen tersebut. Ternyata misiku kali ini adalah membunuh putri Jenderal Wahyu yang tidak lain adalah sahabat kecilku sendiri. Aku bingung, ini misi terberat yang akan aku laksanakan. Targetku kali ini tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat kecilku sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana perasaanku sekarang.

Akhirnya aku memilih pulang ke rumah untuk merileksasikan pikiranku ini. Aku bingung aku harus melakukan apa. Apakah aku harus melaksanakan misi itu atau aku menceritakan masalah itu kepadanya dan membawanya pergi jauh bersamaku. Jika aku memilih melaksanakan tugas tersebut berarti aku akan kembali kehilangan sahabatku satu-satunya, tapi jika aku memilih untuk membawanya pergi bersamaku, itu berarti aku mengkhianati kepercayaan Jenderal Tio kepadaku dan itu juga berarti aku lalai dalam tugasku. Keesokan harinya, aku bangun kesiangan karena tadi malam aku susah tidur. Jam menunjukkan pukul 10, dengan malas aku bangkit kemudian mandi dan bersiap-siap untuk pergi. Aku kembali ke tempat yang biasa aku bertemu dengan Nana. Ternyata dia sudah tiba di sini. Aku memutuskan untuk duduk di sampingnya.

“Hai teman,” sapa Nana.
“Hai Na, ada yang mau aku omongin ke kamu, sebenarnya ini masalah antara kamu dengan tugasku,”
“Maksudmu? Aku gak ngerti.”
Akhirnya aku pun memilih untuk menceritakannya kepada Nana. Aku rasa aku telah mengambil keputusan yang tepat dan aku akan menanggung segala resiko yang akan aku terima nantinya. Aku sudah tidak peduli dengan resiko yang akan aku terima, yang aku inginkan sekarang hanya teman masa kecilku. Aku ingin terus bisa bersamanya.

“Apa? Jadi kamu harus bunuh aku? Apa salah aku? Apa salah Ayahku? Kenapa kamu tega bunuh Ayah sahabatmu sendiri?” tanya Nana. Sudah aku duga akan seperti ini reaksinya. Sebernanya aku tidak tega melihatnya seperti ini. Tetapi apa boleh buat, aku harus melakukan ini. Aku menarik napasku dalam-dalam kemudian menjelaskan kepadanya.
“Tolong dengar dulu penjelasanku. Aku membunuh Ayahmu karena beliaulah yang menimbulkan kekacauan di negaraku, maka dari itu aku ditugaskan untuk membunuh Ayahmu. Dan sekarang aku ditugaskan untuk membunuhmu agar tidak ada penerus dari Jenderal Wahyu. Tapi keputusanku sudah bulat, aku tidak akan membunuhmu melainkan melindungimu dengan membawamu pergi bersamaku ke negara lain untuk bersembunyi,” jelas Wili panjang lebar.

“Tapi, kenapa? Itu hanya membahayakan dirimu sendiri kalau kamu nekat mau lindungi aku. Bunuh saja aku, kalau itu memang yang terbaik. Lagian aku juga udah gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini,” jelas Nana sambil meneteskan air mata.
“Gak. Gak bisa. Aku gak mau kehilangan sahabatku satu-satunya untuk kedua kalinya. Kamu harus ikut aku. Kita berdua bersama jalani hidup baru, kita sembunyi dari keramaian. Kita jalani hidup seperti orang biasa lainnya,” ujar Wili berusaha menyakinkan Nana.
“Tapi kita akan ke mana?”
“Ke mana aja, yang penting bukan di sini,”

Walau agak susah dibujuk, akhirnya ia menerima tawaranku untuk ikut bersamaku. Sekarang masalahnya adalah aku belum menentukan tempat untuk persembunyian kami nanti. Itu aku pikirkan nanti saja, yang terpenting dia mau dan aku merasa sangat senang mendengarnya. Karena mulai sekarang aku akan selalu bersamanya, aku bisa melindunginya. Aku telah memutuskan untuk mengajaknya pergi ke australia untuk memulai kehidupan baru, hanya bersamanya tanpa memikirkan misi dan tugas yang harus diselesaikan. Dia setuju dengan keputusanku, dan besok pagi-pagi sekali kami akan berangkat ke australia.

Kami mengambil penerbangan pertama ke australia pukul 6 pagi. Aku menjemputnya di rumahnya. Dia tampak sedih, karena dia tidak akan kembali ke singapura lagi. Aku jadi merasa bersalah kepadanya, tapi tidak ada pilihan lain lagi. Kami pun bergegas ke bandara. Sampai di bandara, kami langsung menaiki pesawat kami dan lepas landas meninggalkan singapura ini. Setelah memakan waktu cukup lama, akhirnya kami sampai juga di australia. Kami langsung menaikki taksi yang akan membawa kami ke apartement yang telah aku pesan sebelumnya. Setibanya kami di apartement, kami langsung beristirahat di kamar masing-masing.

Tidak terasa kami sudah 6 bulan menjalani hidup kami sebagai warga sipil biasa. Suatu hari saat aku kembali ke apartemenku, aku merasa ada satu kejanggalan, Nana tidak ada di rumah. Satu jam, dua jam, tiga jam aku menunggu, tapi dia belum pulang juga. Perasaanku berubah jadi tidak enak, aku merasa bahwa dia dalam bahaya saat ini. Namun, segera aku singkirkan jauh-jauh pikiran burukku tentangnya. Aku semakin cemas, aku pun berinisiatif untuk meneleponnya. Pertama ku coba, sambungan terputus, membuatku semakin cemas. Kemudian aku mencoba meneleponnya lagi, telepon tersambung, lega rasanya. Namun suara yang aku dengar, bukan suara Nana melainkan suara pria. Suara pria ini tidak asing lagi bagiku. Aku sangat mengenal suara ini.

“Katakan di mana Nana sekarang,”
“Halo Wili. Apa kabar?”
“Tidak usah basa-basi lagi. Tolong jangan sakiti dia,” mohon Wili.

Aku pun segera pergi ke tempat yang sudah diberitahukan oleh Jenderal Tio. Tak lupa aku membawa senapan kesayanganku. Perjalanannya cukup memakan banyak waktu. Perlu setengah jam untuk sampai di sana. Setibanya aku di sana, aku langsung mendobrak pintu ruangan tersebut. Aku mendengar ada suara tembakan dari arah sebelah kananku. Aku langsung menoleh ke arah kananku, dan ternyata ada seseorang yang tidak aku kenali sudah tergeletak tak bernyawa di sana. Pikiran buruk pun datang menghantuiku. Segera aku buang jauh-jauh pikiranku itu. Dan akhirnya aku menemukan Nana dikurung di salah satu ruangan yang ada di sana. Aku pun segera menghampirinya. Sungguh sakit rasanya melihat orang yang kita sayangi menderita. Dia yang menyadari akan kehadiranku hanya bisa tersenyum melihatku. Aku hanya membalas senyumnya sekilas karena aku merasa ada yang datang dari arah belakangku.

Aku segera membalikkan tubuhku, dan memang benar sudah ada Jenderal Tio beserta yang lainnya di belakangku. Seketika itu juga aku emosi dan rasanya aku ingin segera membunuhnya karena telah menyakiti sahabatku. Segera aku mengeluarkan senapan kesayanganku dan ku arahkan ke arah Jenderal Tio, namun kegiatanku itu terhenti karena ada yang menahan tanganku. Ketika aku menoleh ke belakang, Nana tersenyum berusaha untuk menenangkanku. Aku tidak tega melihatnya sehingga itu membuatku lengah, dan satu peluru berhasil menancap tepat di dada Nana. Dan melihat Nana yang sudah tergeletak tak bernyawa, emosiku semakin memuncak. Aku pun segera kembali mengarahkan senapanku ke arah Jenderal Tio, dan bersiap untuk menembaknya, namun lagi-lagi terhenti karena Jenderal Tio mengatakan hal yang semakin membuatku emosi.

“Lihat wanita yang membuatmu meninggalkan tugas besarmu. Dia sudah mati, mudah sekali untuk membunuhnya,” ujar Jenderal Tio sombong.
“Dasar kurang ajar, dia adalah temanku satu-satunya, sahabatku satu-satunya, dan jenderal telah membunuhnya. Nyawa harus dibayar dengan nyawa,”
“Dan kamu juga mencintainya sehingga kamu melalaikan tugasmu. Letnan macam apa kamu? Gak bertanggung jawab sekali. Di mana sumpahmu yang dulu kau ucapkan? Bahwa kau akan mengutamakan negara dibandingkan dengan kehidupan pribadimu,”
“Hentikan! Itu hanya sumpah, dan itu dulu. Aku akan bertanggung jawab, aku akan menyusulnya mati setelah aku membunuhmu,”

Lagi-lagi suara tembakan terdengar. Satu peluru berhasil tertancap di jantung jenderal dan juga Wili. Mereka sama-sama terkena tembakan dari masing-masing lawan. Seketika itu juga Jenderal Tio hanya tinggal nama karena beliau sudah mati. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Wili meminta maaf kepada Nana.
“Maafkan aku Nana, aku tidak sempat melindungimu dan menolongmu tadi. Sejujurnya, selama ini aku menyayangimu lebih dari sekedar sahabat. Aku juga berharap kita bisa bertemu kembali di kehidupan lain,” kemudian Wili terjatuh tepat di samping tubuh Nana, dan di saat itu juga ia menghembuskan napas terakhirnya. Pasukan yang ikut serta bersama Jenderal Tio memilih untuk mengkuti jejak atasannya dengan menembak diri mereka sendiri dan mati di tempat.

Cerpen Karangan: Sintia Paramita
Facebook: Sintia Paramita Gotama

Cerpen Cinta Atau Negara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dialog Dalam Lemari

Oleh:
Wanita muda dengan posisi tegap, berdiri tepat di depan cermin besar dalam kamarnya. Ia memandang lekat-lekat sosok yang mirip dirinya dalam cermin. Sesekali ia tersenyum. Bibirnya dioleskan dengan barang

Maafkan Kami Nisa

Oleh:
Danissa Nur Azizah, ya gadis berjilbab yang baru berusia 13 tahun itu kini sedang menjajakan gorengan buatan ibunya. Tak kenal letih, teriknya panas matahari atau ejekan teman-temannya. Nisa, itulah

Senyum Ayah

Oleh:
Nadela melihat pemandangan kota New York yang indah dari jendela pesawat. Semua orang mengira bahwa hati Nadela sangat senang saat ini karena menerima penghargaan dari luar negri sebagai penyanyi

Derita Tanpa Batas

Oleh:
Aroma kematian masih menguap ke segala penjuru arah, suasana duka sampai saat ini terus begeriliya menyesakkan dada. Ibunya masih di sini tapi sudah kaku sejak dini hari. Dian menangisi

Selalu Ada

Oleh:
Aurel… sahabat baikku sekaligus seniman cilik. Beratus-ratus lukisan hasil karyanya dipajang di sebuah ruangan khusus yang sengaja dibangun untuknya. Kanvas, kuas, cat air, dan perlengkapan melukis lainnya tersusun lengkap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *