Dandi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 September 2012

Hingga malam ini, aku berharap itu kabar bohong. Aku berharap kamu masih hidup de, masih suka lari lari kayak dulu, suka manjat pohon, rumah, bahkan seringkali membantu kakak dan yang lainnya. Kamu mengerjakan semuanya, menjaga adikmu, membantu orangtuamu, belajar, membantu kami, dan aku sayang padamu. Namun, Tuhan lebih sayang padamu de’, Tuhan lebih ingin kamu disisinya daripada kamu disisi kami. Namun, tetap saja ini menyayat hati kakak de’, 4 tahun kita tidak berjumpa, kakak jua tidak dengar kabarmu, dan yang paling membuat kakak merasa berdosa adalah kakak yang tidak pernah sekalipun mencari kabarmu. Kakak terlalu sibuk dengan diri kakak sendiri, dan hanya penyesalan yang menggantung dihati kakak saat ini. Kabar yang kuperoleh, setelah ujian nasional, dandi jatuh dari pohon sebanyak 2 kali, bahkan pernah hingga tak sadarkan diri. Sebelum meninggal, dia sering batuk disertai darah, kemudian kadar Hb turun, bahkan mata sebelah kanannya bengkak hingga buta. Dan dokter tak memberikan diagnose apa-apa. Gosip ditengah masyarakat, dandi suka menenggak miras (aku sama sekali tak percaya, usianya bahkan belum 13 tahun), namun ada juga yang mengira akibat jatuh dan terjadi cedera pada organ dalamnya, aku sungguh menyesali akses yankes di desa dandi karenanya.

Yang tak dapat kubayangkan, bagaimana anak seusia dandi menahan sakit ditubuhnya saat itu. Dan kabar yang kudengar, dandi juga harus transfuse darah beberapa kali. Ya Robbi, mengapa aku terlambat tahu

dandi

4 tahun lalu, aku menginjakkan kaki disalah satu desa di sebuah kabupaten yang masih mengalami pemekaran di pedalaman provinsi borneo ini. Kami menyebut kegiatan ini kegiatan KKN, anggotaku ada 6, terdiri dari satu pria dan 5 wanita. Yang aku ingat, kamu anak lelaki yang pertama kali bertandang keposko, awalnya kamu malu malu, dan hanya mau senyum, namun aku tahu, kamu pasti ingin mengenal kami. Nama kamu dandi, hidung kecil yang mancung, kulit yang terbakar matahari, namun tidak hitam pekat, dengan rambut berdirimu, aku langsung mencapmu salah satu anak lelaki tercakep dan keren di antara anak anak lelaki lainnya. Bahkan sikap kepemimpinanmu sudah jelas terlihat, kamu tidak pernah berbuat onar, tidak juga suka bikin ribut, dan seringkali membantu di posko kami. Awalnya kamu hanya dekat dengan omen, namun rasa penasaranku, membuatku ikut mengakrabkan diri denganmu. Awalnya, kamu datang keposko sambil membawa keperluan kami, ya, kamu membantu omen (salah satu dan satu2nya anggota pria dikelompokku) mengambil buah dan membeli beberapa keperluan dapur, dandi datang sambil memegangi tangan kirinya.

“dandi kenapa?” tanyaku dengan isyarat menyuruhnya mendekat padaku, berhubung aku satu satunya mahasiswa kesehatan, aku lebih aware terhadap hal hal demikian yang terjadi pada sekitar
“jatuh kak, dari pohon” jawabnya singkat dengan mimic wajah cool
“lho?kok bisa?” aku terkejut
“iya, tadi kak omen minta ambilkan buah”
Hayah,,,,omen omen, anak kecil disuruh manjat, kuurungkan niat untuk memberi omelan pada omen, dan kusuruh dandi mendekatkan tangannya dan melepaskan genggaman tangan kanannya, terlihat agak bengkak dan sakit sekali. Dengan lembut kugosokkan minyak gosok yang selalu kubawa kemana mana itu, kupijat lengan kiri dandi dengan lembut awalnya, dan setelah kurasa urat ototnya agak rileks aku agak menguatkan pijatanku. Tidak ada ringisan sakit dari wajahnya, tahan sakit juga rupanya anak ini, pikirku. Cukup lama aku memberi pijatan pada dandi, dan kemudian Alhamdulliah, dandi bilang rasa sakit ditangannya sudah tidak ada. Hihihi,,,,aku berbakat jadi tukang pijat rupanya, dan dandi tidak terjatuh sekali itu saja. Pernah terjatuh karena berlari, terguling karena menyebrang parit, dan lain lain. Jadilah sejak itu aku akrab dengannya, anaknya sangat penurut, dia selalu membantu apa saja yang aku suruh, dan sangat rajin.

Pernah sekali aku mencium aroma tidak sedap dari telinga dandi. Aku bertanya, apakah telinganya sakit, dia menggangguk. Aku memintanya untuk membersihkan dengan cotton bat, dan aku menyuruhnya agar air tidak masuk ketelinganya, jikapun masuk saat mandi, harus dikeringkan dengan kapas dan dibersihkan setiap hari. Dandi mengangguk tanda menurut. Pernah suatu hari aku berkunjung ke sekolahnya, pada saat istirahat dandi langsung menghampiriku tanpa banyak kata, aku tahu, dia sayang padaku, begitu juga aku, kondisi sebagai anak bungsu dirumah, aku jadi sangat care pada adik, apalagi lelaki. Dan mungkin juga selama ini, dandi merindukan sosok kakak, mengingat dia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Walau aku tidak terlalu tahu kondisi keluarga dandi sepenuhnya, aku mengira dandi kurang mendapat perhatian dari orangtuanya, dan begitulah kehidupan dikampung itu, bapak ibu bekerja dari subuh buta, pulang tengah hari, dan lapar, kemudian tidur, malam hari entahlah apa mereka sempat memeriksa kondisi anak mereka, menanyakan kegiatan sekolah, dan lain lainnya. Sehingga ketika kami, mahasiswa kkn yang datang dengan membawa segudang perhatian pada mereka, anak2 itu bagai anak ayam yang berombong2 datang dan bahkan seringkali tidak mau pulang dari posko kami. Saat berkunjung itu adalah waktu istirahat di SD dandi, kami dengan kakak kkn lainnya dan beberapa teman teman dandi berjalan jalan dikebun sekolah, dengan iseng aku dan Diana menunjuk buah2 mangga yang belum masak, buah buah hutan yang menggelantung, ada yang masak, adan yang besar namun belum matang, dan ketika mataku lepas dari dandi, kemudian mencari carinya, dandi sudah menggelantung dipohon yang kami tunjuk tadi dengan memegang salah satu buah yang membuat aku dan Diana mengecap liur. Dengan senyum tipis, dandi memamerkan buah digenggamannya, aku dan Diana dengan panic memintanya turun dengan pelan, namun apa yang terjadi, dandi berhasil turun, namun bukan pendaratan mulus. Kuhampiri segera dia, kuperiksa kaki, tangan, dan kepalanya, tapi sambil tertawa tawa, dia bilang tidak apa apa. Dandi dandi…………..

Selama 2 bulan kami kkn, aku dan dandi semakin dekat. Begitu juga dengan anak2 lain. Namun, kegiatan tetaplah sebuah kegiatan yang bersifat sementara, akhirnya, hari terakhir kami berada disana tiba jua, semua anak menangis melepas kepergian kami. Tak terkecuali dandi, tangisnya paling keras, bahkan membuat matanya yang sipit bengkak sehingga makin sipit. Dan aku, yang tak terbiasa menangis, hanya menanggapi kesedihan mereka dengan senyum dan tawa sambil menghibur. Aku juga mengucap janji pada mereka, bahwa akan berkunjung lagi jika libur kuliah. Aku tak ingat apa salam perpisahan ku dengan dandi, namun yang aku ingat, wajah menangisnya yang sama sekali tidak tersenyum saat kami pergi. Dan janji tinggal janji, 4 tahun aku dan teman2 tidak pernah menginjakkan kaki kesana lagi. Hingga kabar semalam mengejutkan aku, jujur aku sangat shock, dandi sudah pergi lebih dari 3 minggu lalu, dan aku baru dapat kabar sekarang. Namun, siapa yang salah?berapa kali dandi sms, menelpon, 4 tahun lalu saat kkn baru berakhir, sekitar 3 tahun sebelumnya juga dandi melayangkan sebuah sms menanyakan kabarku, namun aku dan teman2 sudah tidak menggubris anak2 lagi. Kami sudah sibuk dengan skripsi, kuliah, dan kegiatan masing masing. Kami tidak sadar, bahwa meninggalkan separuh hati disana, mereka, anak anak itu, benar2 sayang pada kami, menganggap kami layaknya saudara sendiiri. Dan kami, hilang……

Kubuka laptop, kucari sisa sisa memori kkn masa lampau. Kuharap ada banyak wajah dandi disana, dengan senyum atau bahkan berfoto berdua denganku, mengingat kami sering bersama. Namun, hanya satu gambar yang jelas tertangkap kamera HPku. Itupun tanpa senyum, dan itupun tanpa aku disisinya. Ada rindu dan sedih menggeliat dalam hatiku, betapa ingin aku memeluknya. Kakak sayang dandi, ketika tangan ini ingin gapai raganya, jiwa itu telah tiada, jiwa itu telah pergi mendahului.

Tiada kata mampu terucap
Hanya sesal dan sedih yang tersisa
Dari kenangan bagai sebuah mimpi
Seperti sebuah drama klasik tanpa polemik
Ada gurat tegar diwajahnya
Ada gurat kuat dipelipisnya
Dan ada cinta di mata dandi
….adikku sayang…dandiku malang
Pergi menutup mata untuk selamanya
Pergi tinggalkan kakak
Dan sesal dijiwa
Karna tangan tak pernah gapai dia lagi
Selamat jalan dandi, hati ini takkan lelah cinta padamu de
Selamat jalan adik kecilku, yang sematkan makna padaku
Selamat jalan bintang kecil nan terang dimataku
Selamat jalan dandi……………………

Borneo, west kutai, agustus 2012
In memory Dandi, meninggal pada usia 12 Tahun

Nama Penulis: rahmi
Blog: bunda-zalfa.blogspot.com

Cerpen Dandi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dark Rain

Oleh:
“Apa yang kau lakukan ha? Apa yang kau dapatkan setelah melawan preman itu? Jangan sok jagoan. Sekarang lihat dirimu?! Kau… Untung kau tak tewas di tempat kejadian” “Aduh sudahlah

Fall For Her

Oleh:
Alan duduk tenang di atas jendela kamarnya. Kakinya bermain, membuat suara dengan daun pohon-pohon. Angin malam berhembus, meniup rambutnya. Ia tersenyum simpul. Tidak ada yang lebih baik dari ini.

When You (Part 1)

Oleh:
“Hey bro,..” Aku tahu suara itu, dia salah satu teman yang telah bersamaku dari kecil, entah kenapa kita merasakan bahwa hubungan kita sudah bukan teman lagi, hubungan kita sudah

Sepenggal Memori Saat Holokaus

Oleh:
“Kau dan aku, jangan jadikan pertempuran ini sebagai bongkahan batu besar yang menghalangi kita untuk melihat masa depan. Aku yakin, Aris, kamu pasti bisa bertahan di Holokaus ini. Suatu

Mawar Untuk Mawar

Oleh:
Butir-butir air berjatuhan keras menimpa genting warung di pinggir jalan. Semua orang menatapku dengan iba, bahkan di antara mereka pun ada yang meneteskan air mata. Aku duduk di bangku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *