Dari Verona Untuk Feny

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 June 2014

Medan, November 24, 2013. Bau tanah sehabis hujan pagi itu masih bercampur dengan harum bunga yang mengantarnya pergi beberapa waktu yang lalu. Rasa tak percaya masih begitu kuat ku rasakan mengingat beberapa waktu yang lalu juga kami masih bercerita tentang tempat-tempat yang masuk dalam list travel kami. “in my place” begitu kami menyebutnya.

Cerita kami tak akan menjadi panjang, tak lebih dari waktu yang dibutuhkan oleh kepompong untuk terbang sebagai kupu-kupu. Cerita ini belum lengkap, belum sampai pada klimaks, belum sampai pada top chart dari list kami, tempat yang ingin dijadikan perhentian terakhir, “rest in place”.

Dan di pagi yang masih basah dengan bau bunga yang masih melekat pada kemeja hitam yang ku kenakan. Janjiku pada tanah mati yang ku pijak, akan ku selesaikan cerita ini untuknya. Dengan kuntum melati yang tak lagi putih di atas tubuhnya, aku berjanji akan membawanya ke “rest in place”, tempat dimana dia seharusnya “rest in peace”.

Batam, Agustus 10, 2013. Tak ada yang berubah dari tempat ini. Sudah kali ketiga aku datang kemari, meski kali ini dengan urusan yang berbeda. Kali ini aku di batam untuk mengantar sepasang tamu dari medan. Jadwal yang tadinya direncanakan hanya untuk beberapa minggu, ternyata harus diubah karena tamu yang kubawa tak balik ke hotel. Ternyata mereka bertengkar, karena si pasangan pria kepergok wanitanya tengah bersama wanita lain. Dan sekarang masalah beralih padaku, karena aku harus menemukan si tamu yang hilang dan kemudian membawanya pulang.

Hah, untungnya aku tahu kemana tempat biasanya para wanita lari dan kemudian menangisi para prianya. Jembatan barelang, kesanalah pertama kali otakku menyuruh untuk mencari. Bersama si pasangan pria aku pergi kesana. Dan syukurlah wanita itu ada disana, dan belum melakukan hal yang aneh seperti beberapa tahun yang lalu ketika seoarang wanita nekat lompat dari atas jembatan di barelang ini. Suasana haru menyelimuti pada sabtu dini hari itu. Dengan mata kepalsuan si pria mencoba meminta maaf kepada si wanita yang dengan mata ketulusan memberikan maaf pada si pria. Meski urusan belum selesai mereka memutuskan untuk pulang, begitu juga aku.

Agustus 17, 2013. 2 jam sudah kami menunggu di atas km. Kelud untuk berangkat, tapi sepertinya kapal ini belum angkat berangkat. Begitu banyak masalah teknis yang sepertinya dibuat menjadi kritis yang akhirnya membuat harapan semakin tipis kalau kapal akan segera berangkat. Ku keluarkan komputer jinjing yang selalu ku bawa, di dek 7 bagian luar kapal, aku kembali berselancar di dunia maya. Hal yang sepertinya paling tepat dilakukan ketika kapal tak juga kunjung berlayar. Facebook, akun jejaring yang paling bayak digunakan di seluruh dunia. Klik sana, klik sini, entah apa yang sebenarnya kucari. Mungkin hanya ingin basa-basi pada waktu yang sedang ku nanti agar segera datang dan membawa kapal ini pergi. Puluhan kali ku lirik daftar teman yang sedang online, tapi coba tebak, dari 1000 lebih teman dan 100 lebih yang online, tak satu pun dari mereka yang merupakan teman di dunia yang nyata. Ku lemparkan kembali pandanganku jauh ke laut, coba mencari, mungkin saja ada teman yang ku kenal di laut sana. Haha, tawaku dalam hati yang merasa dipermainkan oleh kebosanan.

Segera setelah sadar bahwa tak kan ada teman yang akan ku temui di laut sana, mataku kembali ku jatuhkan pada daftar teman yang sedang online, dan ternyata, aha, belum ada juga teman yang ku kenal. Perlahan ku tarik kursor ke bawah sampai akhirnya mataku seperti tersandung pada salah satu nama yang ada dalam daftar teman yang online.

Verona feny. Nama yang tak biasa, ujarku dalam hati. Klik kanan dan buka halaman di lembar yang baru. Wajah dari negeri baltic seperti terpampang di wajahnya, nama dan raut yang istimewa, kali ini kukatakan dengan suara, tak lagi dalam hati. Klik sana klik sini, mencoba mencari tahu sesuatu dari profilnya untuk bisa memulai perbincangan dengannya dengan topik yang tepat. Lalu dengan meghiraukan kalau dia mungkin tidak akan membalas pesan yang akan kukirim, jari-jari ku mulai meraba pada papan keyboard, mencari huruf-huruf yang tepat untuk dijadikan kata pertama untuk memulai perbincangan kami. Tapi meski tanganku sampai basah oleh keringat, tak ada satu huruf pun yang muncul di layar. Bingungku pada kata apa yang harus dituliskan agar dia mau membalas pesanku. Akhirnya setelah otakku menyerah untuk berpikir, dengan terpaksa aku mulai menekan huruf-huruf yang sangat lazim digunakan. Hai.. Itulah kata yang mampu dikirimkan otak ke jari-jariku. Tapi, baru saja tombol enter ku tekan, ternyata lampu hijau di samping namanya tak lagi menyala.

Hampir setengah jam berselancar di dunia maya tapi kapal belum juga berlayar dari sandarannya. Akhirnya kebosanan terhapuskan setelah bunyi klakson kapal yang teramat sangat keras disertai pemberitahuan dari bagian informasi kalau kapal akan segera berangkat. Rasa lega sedikit membasahi hatiku mengetahui kalau kapal akan segera berangkat, meski masih butuh 24 jam lagi untuk sampai di medan. Bergeraknya kapal mengalihkan perhatianku dari nama yang tadi coba ku sapa. Suara yang keluar dari komputerku kembali membawa perhatianku pada nama tadi, dan ternyata, waw dia membalas pesanku.

Hai juga… rasa senang yang ku dapat dari balasannya lebih dari rasa senang mengetahui kalau kapal sudah bergerak. Kembali otakku berpikir mencari kata-kata selanjutnya setelah kata pertama yang berhasil hanya karena keberuntungan atau memang ada cerita di balik ini semua nantinya. Nama kamu bagus, seperti orangnya.. kata-kata pujian yang lebih terdengar sebagai rayuan sepertinya menjadi jurus pertama yang ku keluarkan untuk mendapat perhatiannya. Terima kasih, sambungnya sebagai balasan.

Dan setelah jurus pertama yang ku keluarkan, akhirnya perbincangan melalui dunia maya berjalan lancar dan menarik. Sepertinya nyambung dalam segala hal dan semakin menarik. Tanya dan jawab dilontarkan dalam kurun waktu beberapa jam yang lalu setelah kapal akhirnya bergerak. Dari sini kami sama-sama tahu kalau ternyata tempat tinggal kami tidak terlalu jauh, dan kami juga punya teman-teman yang sama di dunia nyata.

Semakin menarik dan semakin menarik perbincangan ini sebelum akhirnya kapal melewati perairan malaysia dan kemudian jaringan terganggu olehnya. Ah, rasa kesal datang mencekal setelah menunggu beberapa saat ternyata jaringan tak kembali normal. Komputer kembali kumasukkan ke dalam tas, dengan langkah tergesa ku coba berjalan dan pindah mencari spot baru, berpikir mungkin saja jaringan sudah kembali normal di sisi lain kapal dan berharap tidak kehilangan kesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang verona feny.

Dan ternyata, aha, benar dugaanku, jaringan telah kembali normal, karena memang kapal telah melewati perairan malaysia. Kembali ku masuk ke situs jejaring sosial, tak sabar ingin segera berbincang lagi dengannya. Dan perbincangan terhubung kembali. Mengetahui kapal akan kembali melewati perairan singapura setelah malaysia, dan pastinya jaringan akan terganggu kembali, aku memberanikan diri untuk meminta nomor ponsel yang dia miliki meski tau kalau hal ini masih terlalu dini. Tapi entah kenapa dan apa yang sedang merasukinya, dia memberikan nomornya untukku sebelum kemudian dia offline.

Senandungku dalam hati, sedikit tidak percaya namun bahagia akan apa yang sedang terjadi. Ponsel yang tidak terlalu pintar langsung keluar dari saku. Dengan lincah jariku mencatat nomor yang baru ku dapat dan tanpa perlu melihat, ting, sebuah pesan terkirim dari ponselku ke ponsel verona feny. Dan perbincangan berlanjut melalui pesan singkat setelah berakhir dari dunia maya. Tanya jawab coba dilontarkan kembali lebih dalam dengan menelisik sedikit demi sedikit tentang hal-hal yang mungkin bisa jadi referensi untuk perbincangan selanjutnya yang diharapkan bisa lebih dari sekedar short message service.

Waktu berlalu begitu cepat, tak ku sangka senja telah tiba. Senang berbincang denganmu.. kalimat dari pesanku yang terakhir untuk mengakhiri perbincangan kami yang ku harap tidak akan lama dan dapat segera berbincang kembali dengannya setelah melewati perairan “no goddamn signal in the middle of the sea” tentunya.

Dan dari sinilah cerita ini bermula. Dari sini aku tahu banyak hal yang ternyata sama dari kami. Meski tidak kusadari kalau ada arti dari pertemuan kami. Traveling, satu hal yang sama yang begitu kami cintai. Daftar tempat terbaik telah kami ketahui. Dan satu hal lagi yang membuat ku begitu tertarik tentang verona feny, dia memiliki tempat yang sama pada top chart daftar list yang aku miliki. 4 dari 5 daftar list kami, tak ada yang sama kecuali 1 tempat terakhir yang ingin di jadikan sebagai tempat perhentian kami yang terakhir.

Tengah laut, agustus 18, 2013. Pagi itu dahiku mengkerut, gigiku menggerutu mengetahui kalau tak ada sinyal di tengah laut ini. Kemudian imajiku melayang membayangkan sepeti apa sosok verona feny jika nanti aku diizinkan bertemu dengannya. Tapi sayangnya tak akan ada pertemuan untuk kami di dunia nyata, karena semua bermula dan berakhir di dunia yang tidak nyata.

“mohon perhatian penumpang sekalian. Diberitahukan kalau lebih kurang 1 jam lagi, kapal akan bersandar di pelabuhan belawan medan. Silakan periksa kembali barang bawaan anda dan turunlah dengan tenang”. Suara yang keluar dari pengeras suara yang ada di setiap dek kapal. Setelah 1 jam, kembali ku pijakkan kaki di medan.

Agustus 20, 2013. Dua hari setelah tiba di medan, 48 jam istirahat sebelum perjalananku ke tujuan berikutnya. Sedikit waktu yang ku miliki sedapat mungkin ku manfaatkan untuk bisa tahu lebih banyak tentang verona feny. Masih melalui sms, kami tetap berhubungan. Kali ini kami bertukar daftar list travel kami masing-masing. Kami punya tempat yang berbeda pada list kami, kecuali untuk satu tempat terakhir yang belum dan ingin didatangi. Verona, italia. Itulah tempat yang menduduki top chart pada list kami.

Singapura, agustus 30, 2013. Seiring dengan waktu, kami semakin dekat. Meski sedang di luar kota medan, kata dan bahasa tetap terikat, meski belum pernah bertatap dan berjabat. Perbincangan melalui telepon menjadi hal yang rutin. Pagi, siang, malam, bahkan meski harus sampai begadang kami tetap berbincang. Suara serak dan lembut disertai batuk seperti mengindikasikan kalau dia sedang tidak sehat, tapi dia bilang kalau hal itu sudah biasa. Itu memang karena sakit yang pernah dia ceritakan padaku.

Mencoba menjadi pendengar yang baik, meski di saat yang sama aku justru ingin bercerita banyak untuknya. Tak hanya tentang sakitnya, dia juga pernah bercerita tentang hubungannya dengan pacarnya yang tak lain juga temanku sendiri. Dia cerita kalau hubungan mereka sedang tidak baik. Terlalu banyak keegoisan dengan sedikit pengetian yang tengah terjadi di antara mereka. Solusi juga ku bagi meski berharap dia tidak ada yang memiliki.

Medan, september 8, 2013. Tak ada yang berbeda pada minggu malam itu. Sebuah panggilan masuk ke ponselku. Tapi kali ini dia menangis di telepon. Dia menangis karena hubungan mereka sudah berakhir. Aku merasa bersalah dan kemudian membuatku berfikir dan bertanya, apa ini karena ku?. Masukan coba kuberikan agar dia tak terlalu mendalami masalah ini. Ku coba mengalihkan pembicaraan pada tempat yang begitu ingin kami kunjungi. Tanyaku padanya tentang apa yang membuatnya begitu tertarik akan kota verona di italia. Dan coba tebak, ternyata dia adalah pengagum william shakespeare, sama seperti aku. Dan verona adalah tempat dimana romeo dan julliet dikisahkan oleh william. Casa di giulietta, rumah julliet yang merupakan saksi dari kisah cinta mereka. Kesanalah dia ingin menapakkan kakinya, berdiri pada salah satu balkon di rumah tersebut dan berharap romeonya datang dan memberikan ciuman padanya.

Tanyaku dalam hati tentang seberapa besar kemungkinan ini terjadi. Seberapa besar kemungkinan bahwa kami yang sebenarnya dekat tapi jauh, seberapa besar kemungkinan kalau kami punya tujuan yang sama dengan alasan yang sama. Seberapa besar kemungkinan itu bisa terjadi?.

September 15, 2013. Seminggu setelah ultimatum putusnya hubungan asmaranya. Proposal coba ku ajukan dengan maksud untuk bisa berkunjung ke rumahnya. Tapi jawaban maaf dengan nada serak dan lembut disertai batuk yang diberikannya. Dan kesehatan menjadi alasan yang logis. Lagu rindu menjadi galau ketika tahu kalau tidak akan bertemu. Tak apa, ucapku membela dalam hati, mungkin saja dia memang benar sakit atau hanya aku yang tergesa ingin segera berjumpa.

Jakarta, september 22, 2013. Dua minggu setelah hubungannya berakhir dan seminggu setelah proposalku ditolak. Masih lewat ponsel. Minggu malam itu kami kembali berbincang, panjang. Masih dengan suara serak dan lembut tapi kali ini tidak disertai batuk. Mulai dari shakespeare, bakso sampai sendal jepit menjadi pembahasan kami malam itu. “jika diizinkan, sebelum waktuku habis, aku ingin bisa pergi ke verona”. Dengan tawa ku tanggapi perkataannya sambil bertanya bolehkah aku ikut bersamanya. Dan dengan tawa juga dia melarangku untuk ikut bersamanya, dan bertaruh siapa yang bisa tiba disana lebih dulu.

Harapanku jadi lebih besar dari dunia yang berputar. Mraz dan mayer berlomba melagukan cinta pada ponselku yang tak terlalu pintar.

Medan, september 28, 2013. Tiga minggu setelah hubungannya berakhir dan dua minggu setelah proposal pertamaku ditolak. Dengan kepercayaan penuh, proposal kedua kembali ku ajukan. Kali ini berisi rujukan untuk makan di malam minggu itu. Tapi kembali, jawaban dengan alasan yang sama seperti proposal ku yang pertama yang ku terima. Pesimis menjadi pilihan ketika optimis semakin kritis. Mungkin aku yang terlalu berharap lebih, bisikku sambil menyalahkan diri. Mungkin dia hanya butuh teman buat curhat setelah asamaranya cacat, atau hanya waktu dan tempat yang tidak tepat. Ingin rasanya aku menghujat dan kemudian cepat minggat meninggalkan yang tak berhasil ku dapat.

Korea, oktober 22, 2013. Sebulan setelah optimis menjadi pesimis. Sebulan tanpa kabar, tanpa pesan, tanpa panggilan, tak ada apa pun. Semua seperti berakhir begitu saja.
Kemudian sungkan menjadi hidangan ketika lapar akan rindu tentang kabar. Gengsi dan malu terasa membelenggu lidah dan pikiran meski hanya untuk bertukar pesan. Atau mungkin perasaan yang terkecewakan memaki dengan lantam akan kesalahan pada harapan.
Lalu sungkan, gengsi, malu dan makian tadi seperti tak mampu menghalangi untuk mencicipi sedikit foto dengan mataku. Mataku begitu lahap menyantap semua foto yang ada di facebooknya. Sampai akhirnya mataku terperangkap pada pemberitaan yang membuat mataku terbelalak dan perasaanku tersentak. Ucapan-ucapan perpisahan dari mereka-mereka yang telah dia tinggalkan. Verona feny, ternyata dia sudah meninggal di usianya yang belum genap 26 tahun.
Oktober gugur di korea juga merambat ke hatiku. Rasa sedih dan tak percaya menambah hujatku pada diri karena tak menerima sakit yang ingin dia bagi, dan kemudian mementingkan diri sendiri dengan menganggap kalau aku hanya korban dari semua ini.

Kini aku tau arti dari semua ini. Arti dari pertemuan tanpa tatapan dan jabat tangan. Arti dari perpisahan dan kemudian kehilangan. Arah dari cerita yang belum terselesaikan dan langkah yang harus tersampaikan.

Verona, november 10, 2013. Dari bawah, di jalan yang bersusun dengan batu rapat dan berjuta surat di dinding yang padat aku menatap kosong ke atas balkon dimana dia seharusnya berdiri disana. Ucapku dalam hati kalau mungkin dirinya telah lebih dulu sampai disini. Casa di guiletta, selembar surat ku titipkan di antara berjuta di dinding yang padat, berharap jiwanya akan selalu tersemat di antara batu dan dinding casa di guiletta.

Medan, november 24, 2013. Sore hari di tanah mati yang tak lagi basah, tanpa harum kuntum melati yang tak lagi putih. Aku bersila kemudian membaca, sebuah kisah tentang list yang terlengkapi, aku berbicara tentang romi dan juli yang rumahnya telah aku singgahi, aku bercerita tentang verona untuk feny.

In memoriam, verona feny (24/11/1987 – 22/10/2013)

Cerpen Karangan: Arif Leon
Blog: Arifleon.blogspot.com

Cerpen Dari Verona Untuk Feny merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu

Oleh:
Lambaian angin seakan mengajak jiwa untuk beranjak dari alam bawah sadar. Mulai, sedikit dan akhirnya… yess aku berhasil menyelesaikannya. Ku berjalan menyusuri jalan setapak yang licin hasil dari tangisan

Menanti Fajar

Oleh:
“Dre, tarik!” jerit Chris. Wusssh! Layangan mereka terbang tinggi ke langit, biru muda. Kemudian terdengar tawa bangga dari keduanya. Sedangkan yang satu lagi duduk di antara rumput yang dipermainkan

Aku Kangen Dia

Oleh:
Pada suatu hari, di mana hari itu aku dan ibuku pergi mendaftar untuk masuk sekolah dasar (SD). Setelah itu, akhirnya aku di terima dan aku masuk di kelas 1A.

Mengertilah Bi

Oleh:
Hari hari aku bagaikan awan hitam yang menyelimuti langit di angkasa, tak ada sinar cahaya yang menuntunku untuk bisa menyinari orang yang ku sayangi. Perasaan sakit, tak rela, semua

Namanya Juga Sahabat

Oleh:
Velinia Azahra itulah namaku, aku adalah siswi kelas 8 SMP. Kata teman temanku aku itu cewek yang heboh, cerewet, agak bawel, riweuh tapi baik hehe. Suatu hari di taman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *