De Javu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 September 2017

Rambut blonde panjang mengikuti semilir angin yang menyambut dan memakai seragam sekolah yang koyak. Tubuh yang membekas karena luka dan Bibir pink yang pecah-pecah. Wajah yang memucat seperti mayat akibat makan dan minuman yang tidak cukup untuk kebutuhan hidup. Kenangan yang masuk ke dalam pikiran membuat terulang kembali kejadian yang dialami. Cewek tersebut berada di atap sekolah untuk bersembunyi dan membersihkan sisa luka yang baru di tubuhnya. Rasa sakit yang sekarang tidak sebanding dengan penderitaannya. Wajahnya mendongak ke atas dan melihat langit yang lembut. Awan-awan yang berlarian mengikuti atmosfer dengan tenang. Kehidupan yang sudah lama ia inginkan. Tangan kanannya mencoba meraih langit itu dan memandang meminta ‘awan dan langit’ itu adalah dirinya. Ia berkeinginan meraih kedamaian dan hidup tenang. Ia pernah membayangkan ada dunia yang tercipta untuk kedamaian, Tidak seperti dunia ini sudah mati dalam kegelapan, kefanaan dan melupakan sang pencipta.
Ya, Namaku Akiko Hoshi. Keturunan orang jepang dan menganut agama Kristen. Arti “musim gugur dan bintang”. Bintang di musim gugur, Nama yang tidak cocok untukku.

‘Aku ingin seperti dirimu… menjadi manusia yang tak berdosa dalam kehidupanmu. Andaikan kamu bertukar peran untukku, Jiwaku dan jiwamu bertukar untuk merasakan yang tidak pernah kita rasakan. Kemungkinan, Aku mendapatkan kebahagiaan itu.’

Akiko berdiri setelah selesai pengobatan p3k dan menepuk-nepuk pelan seragamnya yang berdebu. Ia memandang malas saat mata irisnya bertemu seseorang dengan nafas terengah-engah. Sosok itu menunjukkan senyuman menawan kepada Akiko yang membalas dengan dengusan kesal. Sosok itu menghampiri dan menepuk pundak Akiko pelan. Rambut cokelat dengan hair style yang memukau para cewek, tubuh tinggi dengan warna porselen dan mata hitam kelam.

“Kiko-chan, kenapa kamu menahan sakit yang kamu derita? Ini seragam ganti yang kamu minta.”
Wajah khawatirnya menunjukkan simpati untuk Akiko yang merasa mual melihatnya. Akiko menggeleng-gelengkan kepala sebagai jawaban dengan pipi yang merona. Cowok tersebut menghela nafas lega dan melihat plester dan perban di mana-mana di tubuh Akiko untuk menutupinya. Cowok ini tidak mengerti keadaan Akiko saat ini. Akiko menggeram kesal dan beranjak pergi dari tempat itu. Dasar Izumi bodoh, Itulah ejekan Akiko kepada cowok itu dengan menahan malu. Cowok itu tercengang dan mengeluarkan senyum andalannya. Cowok itu melihat punggung temannya sudah menjauh dan berjalan ke arah pagar untuk melihat kehidupan manusia yang hidup. Tangan kekarnya memegang kuat kawat dari pagar itu dan melepasnya. Darah segar dari luka yang dibuatnya dan menjilati.
‘Sangat menarik.’

Akiko berjalan cepat dan tidak mempedulikan keadaan sekitarnya. Penjuru pasang mata memandang benci kehadiran Akiko dan menggosipinya. Sebagian dari mereka menyeringai dan menjulurkan kaki. Akiko melewati dan melangkahinya. Mereka kaget dan Akiko menoleh ke belakang.

“Trik yang sama membuat mangsa merasa bosan dan mempelajari kesalahan yang dibuat predator. Buat trik yang berbeda ya!”.
Akiko memasang senyuman yang dipaksa dan melanjutkan perjalanan. Sesampainya, langkah kaki semakin perlahan. Tangan Akiko memegang dinding dan keringat dingin mengalir turun dari wajahnya. Pupil matanya mengecil dan tidak percaya kenangan lama membentuk ingatan.
“Tidak mungkin. De…ja…vu?!”

Akiko memasuki portal masa lalunya. Gelap dan sunyi. Tubuh Akiko melayang dan mencari jalan keluar. Dirinya terjebak dan tidak bisa keluar dari hal itu. Walaupun Akiko berusaha memegang kendali pikiran yang berhenti dan meraihnya. Ia berteriak keras dengan nada memohon kepada seseorang. Akiko tersentak kaget saat Sebuah kepingan ingatan berdiri di depannya dan membentuk layar besar dengan hitungan mundur. 3… 2… 1. Cahaya dari layar tersebut menyilaukan matanya dan semuanya putih.

11 februari 2013
Seorang cewek memandang takjub dengan di depannya. Hari yang baik untuk memasuki ajaran pertama di sekolah ini. Sekolah baru dengan luasnya setara istana bangsawan dan taman yang indah. Mata hitamnya membulat saat bendera Jepang berkibar santai tertiup angin. Sepatu hitamnya menjejaki lapangan dan melihat sekeliling. Ia berlari kesana kemari melihat ruangan yang tidak dijumpai dari sekolah kecilnya yang jauh.
“Sangat berbeda dari sekolahku ya? Di sini pemandangannya sangat memukau.”

Cewek itu mengabdikan foto sekolah dan seisinya di kamera Canon pemberian pamannya yang baik hati. Ia menjepret berbagai macam bunga dan manusia yang sibuk dari tugas sebagai murid. Tak lupa kucing yang memandang takut dan kupu-kupu yang hinggap di bunga mawar merah. Pipinya merona mendapatkan hasil jepretan yang bagus dan berputar gembira seperti anak kecil. Murid-murid di sana memandangnya aneh dan cewek itu tersenyum kikuk. Kacamata yang dipakai bertengger indah di hidung mancungnya, rambut blonde dikepang dua dan rok hitam yang panjang. Aneh dan cupu, itulah di dalam pikiran semua orang. Cewek itu tidak peka dengan komentar mereka berikan dan menyimpan kamera di tas sandang warna hitam.

Bel berbunyi dan cewek itu memasuki ke dalam kelas yang sudah dipilih dari ketua panitia. Ia membuka pintu dan menggesernya pelan. Terlihat seisi kelas memandangnya bingung dan guru tersenyum tulus sambil memberi izin untuk masuk.

“Anak-anak, kita kedatangan anak baru. Silahkan sesi perkenalan dimulai.”
“Ohayou, Minna. Namaku Akiko Hoshi. Berumur 15 tahun dan hobi menulis diary. Bakat belum diketahui dan cita-citaku menjadi penulis. Warna hitam, putih, merah dan biru serta menyukai makanan manis.”
Cowok yang berbaris paling belakang mengacungkan jari ke atas dan memasang senyuman. Semua cewek memandang dengan tatapan love kepada… pangeran dan malu kentara.
“Kamu tinggal di mana?”
“Aku tinggal kos bersama bibi pemilik kos yang baik.”
“Hoho… kenapa kamu memakai kacamata yang menyebalkan itu?”
“Anu… Aku sudah terbiasa memakainya. Jadi..”
Cowok itu berdiri dan menghampirinya. Tangan kekarnya memegang kado kecil berwarna merah polos dengan hiasan pita. Ia memberikannya dan berbisik pelan.
“Namaku Izumi Akio. Aku membeli hadiah ini untukmu. Sebagai ketua kelas, Aku mewakili dari kelas ini dan bertanggung jawab kan?”
Semuanya tersentak kaget perlakuan ‘pangeran’ kepada murid baru itu. Banyak memandang tidak percaya dan iri. Iri kepada si Cupu dan aneh itu.

“Izumi-kun, kamu menganggu pelajaran bapak. Duduklah!” perintah sang guru menunjukkan jari telunjuknya dengan nada gusar. Izumi mengangkat bahu dan keluar dari kelas. Izumi menoleh dan mengedipkan matanya ke arah Akiko. Teriakan nyaring dari fansnya yang menggila membuat kelas ini semakin ramai.
“Akiko, kamu malu dikasih kado sama pangeran?”
Cewek ini menggeleng-gelengkan kepala dan menghabiskan roti lapis yang dibelinya susah payah di kantin. Cewek berambut cokelat pendek yang di sampingnya mendengus kesal sambil melipat tangan di depan dada. Mata hijau zamrud memerhatikan kerumunan fans Izumi semakin dekat. Aura mereka membuatnya mati kutu dan berdadah ria kepada Akiko yang memandang tidak mengerti.
“Hei kamu, jangan dekat dengan pangeran kami ya?! Kalau kamu tidak menurutinya, kamu dapat balasannya.”
Akiko berdiri dan membungkuk hormat sambil meminta maaf. Mereka memandang tidak suka langsung menyeretnya ke gudang. Berbagai siksaan diterima oleh Akiko yang meratapi nasibnya yang naas. Rambutnya yang digunting tidak beraturan, memberikan luka yang mengalir dan semakin membiru. Tertawa nista yang menggema dikeluarkan mereka membuat gendang telinga Akiko merasakan kesakitan. Kenapa aku mendapatkannya? Apa salahku di mata mereka?

6 Maret 2013
Sudah satu bulan Akiko menjalaninya dengan kehadiran mereka yang menjahili dan tatapan tidak suka. Senyuman menyeringai membuat Akiko mengerti permainan kasta dari mereka. Setiap pulang sekolah, permainan itu dimulai dengan tanpa saksi mata. Daun-daun pohon yang bergesekan karena dipermainkan angin dan kicauan burung yang membuat matanya mengerjap berulang kali.

‘Sudah pagi ya?!’
Akiko bangkit dari ‘tidur panjang’nya dan menahan sakit sekujut tubuhnya yang mengeluarkan darah. Ia menekuk kakinya dan menangis sendu. Air matanya turun untuk menyesalinya.
Andaikan kamu temanku, Aku mohon pertolongan darimu. Tubuh hangatmu akan melenyapkan penderitaanku yang sementara. tangan yang mengajakku dari kubangan neraka yang mereka ciptakan membuat aku tersenyum tipis. Tangan putihku yang semakin kurus menerima uluranmu. Cahaya yang mengalir dari tubuhmu akan menjalar ke lubuk kalbuku yang paling dalam.
Cahaya yang masuk sela-sela jendela menerangi jiwa Akiko yang redup.

Aku terbangun dan mendapatkan diriku dipeluk erat oleh Izumi. Mata biruku memandang kabur dengan perasaan sakit yang menghujam ragaku. Darah yang mengalir bagian kepalaku saat tanganku menyentuhnya. Darah yang segar satu per satu turun dari sela-sela jariku dan mengenai wajahku. Tatapan kosong menyelimutiku dan membiarkan Izumi meraung keras untuk memanggil namaku.
“sa..yo..nara.”
Suara serakku keluar dan tersenyum bahagia. Hidupku kelam seperti mata biruku yang memandang kosong kehidupan. Izumi tersentak kaget dan memperkuat pelukannya.
“Jangan pergi, Kiko-chan. Aku mohon!”

Wajah porselennya dibasahi oleh air mata yang tidak berhenti untuk kepergianku. Semua mata memandang syok melihat jiwaku yang keluar dari ragaku. Mata biruku memandang mereka dengan tatapan tulus. Walaupun mereka membenci keberadaanku, aku tetap memaafkan kesalahan mereka. Mereka yang menatap iri denganku, Aku membalas senyuman bahagia.
Jiwaku kembali ke asal dari sang pencipta. Aku berharap, reinkarnasiku tidak sama denganku yang sekarang.

Tanpa sadar, izumi membiarkan tubuhku tergeletak di tanah dan mencari sinar kehidupan dari mataku. Ia tertawa nista dan auranya menyeruak keluar. Mata Izumi berubah menjadi kuning keemasan.
‘Tugasku sudah selesai.’

Cerpen Karangan: Ajeng Fani Yustina
Facebook: ajengfanicute[-at-]yahoo.co.id/

Cerpen De Javu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ringgit dan Rupiah

Oleh:
“Kang, mau sampai kapan kita seperti ini?” “Aku malu tinggal bersebalahan terus-terusan dengan ibu?” “Aku malu dengan saudara-saudaraku yang semuanya udah punya rumah sendiri Kang?” Itulah perkataan yang masih

Kenangan Terindah

Oleh:
Eh, eh, kenapa ya? Hari-hari ku itu selalu campur aduk? Eh, tapi selalu senang kalau ada dia. Dia yang selalu hibur aku kalau lagi sedih. Dia juga selalu ngebelain

Ayah, Ini Persembahan Terakhirku

Oleh:
Ayah, mengapa engkau seperti ingin aku pergi? Mengapa engkau menganggapku sebagai Pembantu? Bahkan babu yang tidak berakal. Aku, William. William yang pengecut, Penakut, Ceroboh, bahan pembullyan bahkan pelabrakkan. Walaupun

Berujung di Senja Kelabu

Oleh:
Sabtu malam di ambang pintu. Rinai hujan tak menggentarkan hati nuraniku walau sekadar untuk menutup pintu. Biarlah. Di sini hanya ada aku dan pilu yang telah menewaskan seluruh kebagaiaanku.

Mama Adalah Segalanya

Oleh:
Ada seorang anak bernama lia. Lia adalah anak yang cerdas, baik dan kreatif. Ia tinggal di dalam keluarga yang sederhana. Lia termasuk kedalam anak yatim, karena ayah meninggal pada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *