Dendam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 August 2013

Jangan tanyakan dosa padaku. Karena aku bukan Tuhan yang selalu memaafkan seorang pendosa. Jangan salahkan aku jika niatan membuatku menjadi seorang pecinta belati. Karena sejatinya aku terpaksa melakukan itu demi seseorang. Jangan kau sebut apalagi kau ungkit kenangan masa laluku. Karena itu hanya akan membuat dendamku semakin mendidih. Biarkan kenangan malam itu menjadi debu yang hilang ditelan angin. Namun meski demikian, belati itu terus bergetar ingin menemui tuannya.
Sabar!!! Karena aku, masih menahannya.
Dunia masih bulat. Langit tetap melengkung hingga seruling kiamat menempel di bibir sang malaikat. Menunggu waktu yang tidak pasti. Hanya menyeret manusia-manusia ingkar menuju tabir-tabir sesat dan jurang kebinasaan. Melenakan keindahan dengan pandangan pada tak jelasnya arti kebahagiaan kehidupan, semisal fatamorgana yang sungguh lihai menipu. Apakah kalian termasuk manusia-manusia itu? Menikmati dunia dengan hasrat dan kemauan naluri. Tanpa berfikir sejatinya hidup haruslah berbagi. Bukan untuk diri sendiri.
Tidakkah kalian mengerti kisahku? Seorang gadis kecil yang terlunta-lunta sekian tahun lamanya. Menjerit siang malam meratapi diri pada Sang Pencipta. Menangis darah bersimbah peluh di tengah terik dan di bawah dinginnya malam purnama. Terseok-seok sebatang kara tanpa ada seorang insanpun yang peduli. Aku hidup menikmati sisa-sisa kudapan manusia. Aku menekuri diri dengan bersujud di teras ruko kumuh tak bertuan. Aku tidur di sembarang tempat asalkan nyaman. Tanpa nyamuk, tanpa preman, tanpa bajingan, dan tanpa manusia rakus bukan kepalang.
Hingga Tuhan menemukanku dengan seorang bapak berhati malaikat. Orang yang merubah jalan hidupku. Beliau adalah manusia setengah malaikat kedua yang kumiliki. Meski dirinya bukan dari kalangan konglomerat. Namun kebaikannya sungguh sebanding dengan seribu malaikat.
Sosok itu, mengingatkanku pada manusia setengah malaikat yang dulu pernah kumiliki. Manusia yang harus meregang nyawa demi menjaga dan melindungiku. Manusia semacam dia tak seharusnya mati. Seharusnya dia masih hidup dan membantu orang-orang di sekitarnya. Terutama aku.
Tapi, takdir Tuhan siapa yang tahu?! Aku bukan manusia yang tidak berdosa. Tak sepantasnya aku menyalahkan kuasa itu. Meski hati kecilku sesekali berkata. Kenapa Tuhan melakukan itu.
Tapi sepertinya hidupku telah di takdirkan untuk selalu sendiri. Bahkan lelaki yang telah menyelamatkan hidupku ketika aku kehilangan kakakku itu. Lelaki yang sudah menjadikan diriku seorang abdi. Kini harus pergi begitu saja. Tanpa sempat aku membalas kebaikannya. Tapi aku tidak akan lupa dengan semua apa yang telah ia berikan. Karena dia, kini aku menjadi seorang yang berarti.
Aku hanya bisa mendoakan bapak tua yang tak pernah punya keluarga itu agar selalu dalam lindungan Tuhan. Semoga kebaikan dan jasanya padaku mengantarkannya ke hadapan Sang Kuasa dengan layak dan semestinya. Amin.

Cerpen Dendam

Pasienku masih terbaring lemah. Keringat dingin sesekali menetes membasahi dahinya. Matanya masih terpejam. Bibirnya bungkam. Napasnya terasa berat. Sedangkan di sebelahnya, terbaring seorang remaja tampan masih terpekur dalam buaian senandung malam. Namanya Miko. Cucu nenek sekarat itu.

Wajah tua sang perempuan tak sedikitpun membuatku iba. Setelah memeriksa bagian dadanya. Aku duduk sebentar. Menulis resep obat yang ketika Miko terbangun, berharap segera ia menebusnya. Setelah itu aku kembali. Istirahat di ruanganku.
Matahari belum sempurna terbit. Bunyi ketukan pintu terdengar agak berisik. Suara Miko terdengar panik. Agak berat langkahku menjemput suara itu. Mau bagaimana lagi? Ini tugasku.
“Ada apa, Miko?” wajah remaja itu tampak cemas.
“Nenek, Bu Dokter. Nenek saya, tersengal-sengal…” katanya semakin cemas.
“Baiklah…”

Serta merta dengan peralatan medis aku menjenguk sang perempuan tua. Kulihat wajahnya pasi. Napasnya sesak. Dua orang perawat telah memberesi beberapa peralatan lain; selang infus, tabung oxygen, assering, dan beberapa alat lain. Wajah Miko tampak khawatir. Sedangkan neneknya hanya melotot menatap langit-langit kamar.
“Kita bawa ke ruang operasi…”
“Baik, Dokter…”

Sejam telah berlalu. Aku kehabisan stock darah. Kuminta Neni, salah seorang perawat untuk menghubungi orang labor, mengecek stock di gudang. Naas, darah yang sama dengan nenek itu tak ada. Aku bertanya pada Miko. Golongan darahnya tidak sama. Aku menghela napas.

Di ruanganku aku hanya mondar-mandir. Antara ingin dan tidak aku berfikir. Apakah layak aku menjadi malaikatnya? Ah tidak! Ingatlah Risa. Siapa dia? Siapa nenek itu? Jangan kau tolong dia. Ingat kakakmu. Siapa yang sudah melakukan penistaan malam itu? Biarkan saja. Dia sudah tua. Sudah seharusnya dia meregang nyawa. Bahkan lebih layak jauh dari masanya. Risa. Ingatlah waktu hujan malam itu.

Aku menitikkan air mata. Di ruang operasi dua perawat dan seorang dokter pembantu telah lama menungguku. Mereka berusaha semaksimal mungkin demi keselamatan sang nenek. Nenek tua yang aku kira sudah sepantasnya kembali pada Sang Maha Pengasih. Peduli apa?

“Dokter, pendonor darahnya sudah ada. Apakah operasi ini bisa dilanjutkan…?” Tanya Hendri. Dia adalah dokter muda yang sudah tiga bulan ini membantuku. Aku berjalan menuju meja peralatan. Sebilah belati tampak berkilau di balik laci. Mataku berbinar. Sudah tiga minggu aku menyimpannya. Ku tatap wajah nenek tua itu. Menyedihkan.

Miko masih setia menunggui neneknya di ruang ICU. Aku memberikan resep obat yang harus segera ditebus pasca neneknya menjalani operasi. Entah mengapa, kini Miko tampak aneh menatapku. Matanya tajam. Seolah menyimpan seribu dendam. Aku terdiam.

Malam menjadi saksi. Ketika seorang malaikat telah melepaskan sayapnya demi sang kekasih hati. Menuai bencana dari semesta. Melawan kaidah sang Maha Pemurah. Antara menjalankan naluri hati dan membalas sakit hati. Ah, peduli apa?!
Ini bukan keinginanku. Ini bukan mauku. Dan aku tidak memulainya. Hatiku hanya ingin menyelesaikannya. Mengakhiri semua penderitaan dan nestapa yang telah lama kurasakan. Hatiku digerogoti rindu mendalam yang menjadikan hati, jiwa dan asaku meradang dalam kehausan. Ingin sekali aku memeluk kakakku. Ingin sekali aku berkacak di depannya dan berkata…
“Kak, lihatlah. Aku sudah menjadi dokter…”
Air mata ini menetes. Jiwa ini pun teriris kenangan pahit. Semakin pahit jika benak dan bayangan itu memaksaku dengan menyeret-nyeret diriku pada sebuah titik awal kesedihanku, sampai-sampai kurasakan sesak dadaku tak kepalang.
Oh, Tuhan! Kenapa aku harus seperti ini. Kenapa?

Inalilahi Wa inailahi rojiun…
Miko menjerit-jerit di depan mayat neneknya. Ia menangis sejadi-jadinya. Air matanya tumpah seiring hatinya pecah berkeping-keping. Aku bisa merasakan itu. Sebab aku, telah merasakan apa yang Miko rasakan. Aku terdiam. Miko perlahan bergumam. Sesekali ia menatapku. Tajam.

Siang itu aku turut ke pemakamanan. Sebait kata sewujud doa. Tak banyak yang melayat. Tak banyak yang berbela sungkawa. Bahkan kurasa, malaikat turut melaknat perginya sang pengkhianat. Aku tidak tahu ini pertanda apa. Hati kecilku berbisik pada gundukan tanah merah. Bahwa mayat yang sedang di semayamkan akan mendapatkan ganjaran yang sesuai. Dari Sang Maha Bijaksana.

Sore itu hanya aku dan Miko yang masih berdiri di depan makam. Langit di ufuk mulai kelam. Burung gagak mulai bernyanyi dan aroma kamboja menari-nari di angkasa. Miko masih menangis. Tak sedikitpun hatiku teriris tatkala melihatnya menangis. Mungkin karena aku telah sering menangis. Atau karena aku kehabisan air mata karena saat itu semua tumpah ruah di dalam keheningan malam. Atau juga karena aku tidak bisa menangisi mayat seorang yang kejam. Entahlah. Peduli apa?!

Suara azan mengingatkan Miko untuk pulang. Hidupnya sebatang kara. Seperti aku sekarang. Tak sedikitpun sepatah dua ia berkata. Hanya diam meninggalkan pemakaman. Aku berjalan tak jauh di belakangnya. Di ujung gerbang makam. Miko membalikkan badan. Ia menatapku tajam. Penuh dendam.

Serta merta anak itu menyerangku. Tak peduli ia pada jasa. Habis aku dihajarnya. Bibirku berdarah. Dahiku terluka. Jiwaku meronta. Aku tersenyum. Lampiaskan saja maumu, Miko. Kelak kau akan menyesal. Aku duduk menyudut di depan gapura. Bau kamboja masih semerbak. Miko terengah-engah. Air matanya tumpah.
“Kenapa, Bu dokter…? Kenapa?!” teriak Miko menangis. Aku bungkam.
“Apa salah nenekku padamu? Apa?!” remaja sekolah lanjutan tingkat pertama itu masih menangis. Tersedu-sedu.
“Kau bilang darahku tidak cocok dengannya, padahal darah kami sama! Kau bilang ia tak butuh dioperasi, padahal seharusnya jauh hari dia sudah menjalani operasi! Kau bilang nenekku hanya perlu minum obat dan istirahat, padahal dia butuh perhatianmu, Bu dokter… Kenapa kau lakukan semua ini pada nenekku? Apa salahnya? Apaaa?!!!” Miko memekik di tengah keheningan pemakaman. Aku bungkam.

Ku tatap wajah Miko tajam. Ku balas rasa dendam itu. Ku katakan padanya. Tak seharusnya Miko megumpatku. Tak sepantasnya dia menghujamku.
“Kau tidak mengerti! Kau masih labil! Kau tidak akan pernah tahu isi hatiku…” kataku kelu. Mata Miko membulat. Jantungnya tersentak.
Ku ajak remaja itu ke tempat yang sama. Berjarak beberapa puluh meter dari nisan neneknya, aku menyungkurkan dirinya. Miko berlutut di depan sebuah nisan yang telah lama bercokol. Matanya terperenjat. Dibacanya kalimat pada kijing itu.
“Si-siapa? Fahri?!” tanya Miko terbata.
“Kenapa kau bertanya padaku? Seharusnya kau tanya pada nenekmu…” Miko terdiam. Agaknya dia mulai mencerna kata-kataku. Sepertinya dia mengerti masa lalu. Namun ia tidak mau membahasnya sekarang.
“Jangan salahkan aku. Jika kau ragu. Tanya saja pada mayat di dalam makam itu. Tanyakan padanya, apa yang sudah nenekmu perbuat padanya selama ini…?” kataku lagi lalu masuk ke dalam mobil.

Ternyata sehari setelah malam itu. Miko datang ke rumah sakit. Dia duduk persis di deretan bangku pasien. Bukan untuk berobat. Melainkan menemuiku. Aku pun menemuinya. Berbicara empat mata di ruanganku. “Katakan… Kenapa kau membiarkan nenekku, meninggal?” tanya Miko garang. Aku bungkam. Antara harus dan tidak perlu, akhirnya aku menjelaskan. Kalau sudah cukup aku memperlakukan neneknya sebagai pasien yang layak selama ini. Tidak membeda-bedakan dengan siapapun. Hanya saja, aku kurang tulus merawat dan mengobati neneknya.
“Keparat! Kurang ajar, kau! Kenapa kau lakukan itu?” Sela Miko menyentakku. Sejenak aku mengatur diri. Menata hati. Aku berdiri dan berjalan menatap jendela. Melihat gedung tinggi di sebelah gedung rumah sakit ini.
“Kalau kau sudah bicaranya. Maka sekarang aku yang akan bicara…” Aku berjalan menuju mejaku. Membuka laci dan mengeluarkan sebuah belati. Ku letakkan belati itu di atas meja. Ku tunjukkan pada Miko.
“Kau tahu, ini punya siapa?” tanyaku tegas. Remaja itu menggeleng. Kini amarahnya seakan mengendur.
“Kau tahu, nyawa siapa yang sudah hilang karena pisau ini?” Miko tetap menggeleng.
Air mataku tumpah. Nadiku seakan terputus-putus.
“Kau tahu, bagaimana rasanya melihat orang yang sangat kau sayangi, lalu meregang nyawanya ketika sebilah belati ini menusuk lambungnya? Apa kau akan membiarkan pembunuh ini berkeliaran bebas, sementara kau menangis menjerit-jerit di tengah rintik hujan?” kataku ketus. Miko menggeleng.
“Kau tahu bagaiamana rasanya? Hah?!!!” tanyaku semakin garang. Kini Miko benar-benar bungkam. Agaknya dia mengerti bahwa diriku sedang naik pitam. Kujelaskan padanya siapa aku. Siapa kakakku. Siapa nenek Miko. Aku menangis sejadi-jadinya.

Ku ceritakan masa kecilku yang tragis. Kakakku mati-matian bekerja srabutan demi membiayaiku yang terbaring lemah di rumah sakit kala itu. Hingga akhirnya ia menjual harga dirinya demi mendapatkan biaya berobatku.

Kakakku menemui neneknya Miko. Tante Maria. Seorang muc*kari yang telah menjadikan masa depan kakaku sirna. Seorang perempuan yang sudah tega memaksa kakakku menjadikan ladang berlian baginya. Tidak jarang siksaan dan kekerasan Tante Maria hujamkan ke tubuh kakakku. Aku melihatnya. Aku menyaksikannya. Ketika Kak Fahri menolak untuk kembali ke lembah hitam.

Ku katakan pada Miko tentang pada siapa seharusnya aku menumpahkan kesalku selama ini. Kepada siapa seharusnya aku membalas rasa sakit hatiku ini. Lebih pantas aku mengatakan dendam. Dendam yang telah sekian lama aku simpan. Hingga menjadi daging dalam diriku, mengalir bersama darah dan hilang dengan sendirinya bersama angin kenangan.

Dan malam terakhir aku memeluk kakakku yang demam itu. Di tengah rintiknya hujan yang temaram. Aku harus menyaksikan orang yang kucintai itu tersengal-sengal meregang nyawa dalam keterbatasan napas. Ketika sebuah belati menghujam lambungnya. Dalam malam yang kelam itu aku berjanji dalam hatiku. Aku akan membalaskan sakitku ini pada orang yang seharusnya.
Tapi aku tak melakukan itu semua. Ketika mimpi-mimpi malamku bertemu dengan manusia setengah malaikat itu. Dia memintaku untuk tidak menuruti nafsu. Agar jangan mengotori tanganku dengan darah manusia yang tak berhati. Maka pada itu aku menurut. Aku pun mengubur keinginanku dalam-dalam. Hingga hatiku berjanji.
“Sempat aku akan membalas dendam. Jika manusia setengah malaikat itu tidak mencegahku. Kau tahu, nenekmu pembunuh!”

Miko mengerti. Miko menyadari. Miko pun minta diri. Setelah ia meminta maaf dan memohon padaku agar kesal ini tak diperpanjang. Agar neneknya tenang. Miko menangis. Tidak tahu apa yang ditangisinya. Ia berlari keluar dan hilang entah kemana. Padahal aku sangat butuh bantuannya.

Kini aku duduk menepi. Memegang perutku yang tertusuk belati. Darah menjalari lantai keramik ini. Hingga napasku tersengal-sengal dan detak jantungku seolah berhenti. Oh Miko. Kenapa kau pergi? Tahukah kau perasaanku saat ini? Berkata pun aku tak bisa.

Malam. Ada sebuah kisah yang begitu menyakitkan. Ada segelintir cerita yang begitu menyedihkan. Ada segores harapan kecil dalam kenistanaan. Ada doa suci dalam dosa-dosa malam. Malam. Kau begitu temaram. Apakah kisah hidupku harus serupa? Dengan manusia setengah malaikat yang dulu pernah sekarat?

Malam. Kini aku menyadari. Bahwa kau begitu kejam. Dalam kebisuan yang diam. Malam. Katakan pada Tuhan. Aku merindukan kakakku. Aku ingin menjumpainya. Malam…

SELESAI
NB: Kisah ini adalah dwilogi dari cerita sebelumnya “Manusia Setengah Malaikat”. Di dedikasikan buat Fahri dari adiknya tercinta. Risa. Juga buat Bapak Agung yang telah membesarkan Risa hingga menjadi seorang dokter bedah sekarang.

Cerpen karangan: Imuk Yingjun
Twitter: @_imuk
Facebook: Shimuxc[-at-]gmail.com

Cerpen Dendam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selalu Ada

Oleh:
Aurel… sahabat baikku sekaligus seniman cilik. Beratus-ratus lukisan hasil karyanya dipajang di sebuah ruangan khusus yang sengaja dibangun untuknya. Kanvas, kuas, cat air, dan perlengkapan melukis lainnya tersusun lengkap

Sebuah Diary

Oleh:
Suara tangis sayup-sayup terdengar dari balik kamar. “Rini, ini ayah nak! Buka pintunya Rini” bujuk ayah Rini. Hening sebentar. Tampak Rini dengan mata sembab membuka pintu kamarnya. Lalu dia

Matahariku Telah Pergi

Oleh:
Bulan tersenyum padaku, bintang menari-nari di atas awan, terlihat sangat bahagia. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa ku sadari saat ini aku telah berusia 16 tahun lebih, ya sebentar lagi

Mendung di Akhir Senja

Oleh:
Malam ini, entah mengapa, Hamid merasakan kantuk yang teramat sangat. Bagai semburan radiasi TV yang tiada habisnya tatkala dihidupkan. Ia sedikit memaklumi, ia belum tidur pada siang ini. Waktunya

Aku Mau Jadi Sahabat Kamu

Oleh:
Aku mempunyai teman yang bernama Mario. Biasa di panggil Rio. Dulu saat pertama masuk SMP aku deket sama dia. Kami suka bercanda. Kadang kalau dia enggak ngerti pelajaran, dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Dendam”

  1. Ozie says:

    Menyentuh sekali

  2. Emil says:

    Cerita epik.
    Pembelajarannya, ikhlaskan yg sudah2.

  3. Andara Claresta Rabbani says:

    Terharu bacanya. Sampai mau nangis….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *