Dia Teman Pertamaku dan Aku Teman Terakhirnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 December 2017

Kulihat sepanjang taman, orang-orang sebaya denganku asyik bermain. Terbenak dalam hatiku, kapankah aku bisa seperti mereka? Yang memiliki banyak teman yang selalu setia di samping mereka. Rasanya ada rasa iri sedikit ketika melihat mereka bercanda riang, lalu aku pun pergi dengan rasa kecewa.

Aku mengayuh sepedaku berstiker Minie Mouse berwarna ungu. Air mataku ini hampir saja membasahi pipiku. Dari pertama aku masuk sekolah sampai sekarang pun aku tidak pernah mendapatkan teman, alasannya pasti karena aku adalah anak yang aneh, culun, dan apapun itu yang pasti tak pernah ada julukan yang baik untukku. Aku berpikir pasti karena rambutku yang selalu dikepang dua dan kacamataku itu.

“Eh… dek Nafa pasti mau cari bukunya Sakeyla salamah. Sekarang edisi 16 udah ada lho.. judulnya ‘Teman Selamanya’ Nah.. ini bukunya”. Kata Pak Gembul pemilik kios toko buku langgananku.
“Oh makasih pak, jadi berapa?” Tanyaku
“Biasalah buat dek nafa bapak kasih diskon deh… tiga puluh empat ribu lima ratus aja.” Sebenarnya diskon yang dikasih pak Gembul cuma potongan lima ratus rupiah. Tapi ya sudahlah namanya juga berjualan.
“Nih pak, uangnya” Aku pun beranjak dari kios itu sambil memperhatikan buku itu.

Saat ingin menuju sepedaku tiba-tiba, Bruuuk…
“Eh maaf aku gak sengaja maafin aku ya..” Kata seorang perempuan cantik berambut panjang cokelat, berkulit putih dan memiliki dua lesung pipit yang dalam. Dia tersenyum kepadaku, baru kulihat orang yang tersenyum tulus kepadaku. Di situ aku hanya terdiam terkagum melihat dia yang senyum kepadaku.

“Hallo, namaku Syahla.” Katanya sambil menjabatkan tangannya kepadaku.
“Oh..i-iya.. na-namaku Nafa.” Aku rasanya ingin teriak ketika dia berkenalan denganku. Sungguh, ini seperti mimpi. Tubuhku gemetar jantungku berdenyut kencang.
“Maaf ya, Nafa kamu tahu toko buku dekat sini.” Katanya sembari mengambil buku.
“Oh.. di sana ada kios toko buku pak Gembul.” Kataku sambil menunjuk kios itu.
“Thanks ya..” Dia pun pergi beranjak dari tempatnya. Aku pun menuju sepedaku.

Tapi ada yang salah dengan buku milikku bukankah buku yang tadi tebal mengapa sekarang sangat tipis? Hah.. ternyata bukunya tertukar! Aku kembali ke toko buku yang tadi, tapi sayangnya pak gembul bilang dia baru saja pergi. Yah… mau gimana lagi akhirnya aku pun pulang.

“Ibu… Nafa pulang.” Kataku lemas
“Nafa ayo kita makan siang bareng. Ibu udah masakin ayam semur kesukaanmu.” Bujuk ibu
“Tidak terima kasih, Nafa hari ini lagi tidak nafsu makan.” Aku pun menaiki tangga dan langsung merebahkan tubuhku ke tempat tidur sambil memandangi buku milik Syahla. Aku berpikir perempuan yang bernama Syahla itu suka membaca sepertiku bedanya dia suka komik sedangkan aku suka novel.
Kubuka komik Syahla yang berjudul ‘Peri penghibur hati’, dan kubaca dengan serius. Ternyata komik ini seru juga.

Setelah lumayan lama membaca komik itu, aku pun menuju balkon rumah dan saat melihat ke bawah ada anak perempuan yang sepertinya kukenal, jangan-jangan itu Syahla. Aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Sampai di bawah aku melihat anak itu sudah mau berbelok ke tikungan jalan aku memanggilnya dengan keras tapi dia masih tidak dengar. Mau tidak mau aku harus mengejarnya dengan sepedaku.

“Eh.. Syahla tunggu aku.” Aku memberhentikan sepedaku tepat di belakang Syahla, dan Syahla pun menengok ke arahku.
“Oh.. kamu, aku ingin mengembalikan bukumu.” Sembari memberikan bukunya kepadaku.
“Terima kasih ya, tapi komik milikmu ada di rumahku, oh, iya kamu udah makan siang belum?” Tanyaku
“Belum.” Jawabnya singkat
“Ok, gimana kalau kalau kamu makan siang di rumahku? Sekalian aku mau mengembalikan komik punyamu.” Setelah itu Syahla menganggukkan kepalanya.

Sesampainya di rumah…
Syahla dan aku makan siang bersama dan kami berdua bercanda riang bersama, memberi tahu hobi masing-masing. Di situ aku sangat merasa terharu dan air mataku menetes, Syahla yang melihat itu pun langsung mengambil sapu tangan biru dan mengelap air mataku.
“Makasih ya, Syahla.” Kataku terharu. Dia pun tersenyum kepadaku.

Aku bercerita semua hal tentang tentang diriku sebelum aku bertemu dan berkenalan dengan Syahla. Sepertinya Syahla mengerti aku dan dia selalu menghiburku. Setelah itu dia memberikanku boneka beruang hasil rajutannya, boneka itu sangat lucu. Tidak mau kalah dengan Syahla aku pun memberikannya kain batik hasil karyaku. Kedua barang tersebut adalah awal persahabatan kita berdua.

“Syahla, kamu ingin aku kasih lihat foto-fotoku di albumku gak?” Tanyaku. Syahla pun mengangguk. Setelah mengambil album aku melihat Syahla sedang kesakitan sepertinya dadanya sesak.
“Syahla kamu kenapa?” Tanyaku khawatir.
“Gak apa-apa kok, eh udah sore nih, aku pulang dulu ya.” Katanya
“Beneran gak papa?” Kataku
“Bener…” Kata Syahla. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu dariku tapi dianya saja yang tidak ingin menceritakan kepadaku.
“Besok ada konser lho… kamu mau ikut gak?” Tawarku. Dia pun mengangguk sambil tersenyum. “Ya udah aku tunggu ya di sana jam sembilan.” Kataku menuruni tangga menuju pintu rumah. Dan kita berdua sampai di pintu rumah.
“Dah…” Aku melambaikan tangan
“Bye Nafa…” Syahla pun pergi dari rumah.

Malamnya, Syahla dibawa oleh ibunya ke dokter karena penyakitnya itu dia terpaksa harus dirawat di rumah sakit. Tapi Syahla meminta kepada mamanya agar tidak memberi tahuku.

Aku pamit kepada ibu ingin pergi ke konser. Saat konsernya sudah dimulai aku bingung kenapa Syahla belum datang juga.

Di rumah sakit…
“Ma… Syahla udah gak kuat…” kata Syahla lemas.
“Kamu jangan bilang kayak gitu nak.” Mama Syahla menangis.
“Ma… Syahla punya satu permintaan, sebelum Syahla mau pergi. Aku mau ketemu Nafa untuk terakhir kalinya.” Pinta Syahla.

Mamanya pun meneleponku.
“Apa tante? Ya udah, Nafa langsung aja ya ke sana.” Aku kaget dan langsung menuju rumah sakit.

Sesampainya di sana…
“Nafa makasih ya, udah mau jadi temanku untuk yang terakhir.” Syahla pun menangis
“La.. kamu jangan tinggalin aku..” Aku tak bisa lagi menahan air mataku.
Syahla membisikkan sesuatu kepada mamanya dan mamanya pun mengangguk.
“Selamat tinggal semuanya..” Aku tak percaya Syahla meninggalkan aku secepat itu. Alat yang dipasangkan pada untuk mengukur denyut nadinya itu berhenti. Seisi kamar itu hanya bisa menangis. Terima kasih Syahla kamu sudah jadi teman pertamaku…

Selesai pemakaman Syahla mamanya menghampiriku dan memberikan secarik kertas dan boneka rajut.
“Itu titipan terakhir dari Syahla, tante pulang dulu ya Assalamualaikum..” Mamanya Syahla pun pergi

Di rumah kubaca surat itu dan isinya adalah…
“Hai Nafa…jangan sedih ya, kalau kita gak bisa sama-sama lagi kamulah teman terakhir dalam hidupku, aku sayang sama kamu. Walaupun aku hanya bisa berteman denganmu hanya sekejap menurutku itu adalah pengalaman paling menyenangkan. Salamku Syahla..”

Kutatap langit biru yang berselimut awan putih. Lagi apakah Syahla di atas sana aku akan selalu ingat kamu dan aku menjaga pemberian darimu boneka ini akan ku berikan nama Syahla. Aku juga sayang kamu, semoga kamu tenang di sana. Love untuk Syahla.

Cerpen Karangan: Shakila Salma Tania

Cerpen Dia Teman Pertamaku dan Aku Teman Terakhirnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Mengerti

Oleh:
Aku Riza 20 tahun aku ada di bumi ini, aku berteman dengan matahari dan angin, matahari yang memberiku cahaya dalam petangku, dan angin selalu memberiku kesejukan dalam penatnya jiwaku.

Ke Mana?

Oleh:
Aku selalu bermimpi punya seorang teman. Yang jelek juga gak apa apa, dekil juga gak masalah, bahkan yang bodoh pun bakal gua terima. Tapi dari banyaknya spesies manusia, gak

Ayahku Koruptor

Oleh:
2 tahun ayahku menjabat sebagai Bupati di Kabupaten penghasil jeruk terbesar. Semenjak ayahku diangkat dan menjabat menjadi Bupati keluarga kami langsung kaya raya. Aku tak peduli kenapa kekayaan keluargaku

Dan Aku

Oleh:
Boneka beruang berwarna merah muda yang masih terus kupegangi. Kenang-kenangan terakhir yang kau berikan. Aku masih mengingatnya, kau memberiku boneka ini sebelum kau pergi. Satu jam berlalu, boneka itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *