Diary Sang Penyandang Kanker

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 June 2017

2 January
Hatiku remuk. Hidupku hancur. Baru saja kemarin aku merayakan tahun baru dengan sahabat-sahabatku. Namun kini aku didiagnosis terkena penyakit kanker otak stadium 1. Mungkin hidupku akan segera berakhir, namun untunglah aku belum masuk rumah sakit. Aku masih dapat merasakan angin kebebasan.

6 January
Aku mulai kemoterapi sejak 4 hari lalu. Hal itu membuat rambutku yang panjang rontok satu-persatu. Tapi itu tak masalah, aku mempunyai sebuah wig yang dibelikan Mama untukku.

26 February
Aku pingsan kemarin. Dan begitu sadar, aku berada di rumah sakit. Mama bilang aku memasuki stadium 3. Astaga, sangat cepat perkembangannya. Dan atas saran dokter, aku dirujuk ke sebuah rumah sakit di Singapura.

28 February
Aku telah berada di Singapura. Tempat ini lebih baik ketimbang jakarta. Udara di sini sedikit sejuk. Jalanannya juga tidak berlubang seperti kebanyakan jalanan di Jakarta.

31 Maret
Aku kembali ke Indonesia. Kata dokter, keadaanku sudah sedikit membaik. Aku sangat senang. Aku dapat kembali bertemu dengan Aisyah dan Mila.

1 April
Seekor anjing kecil tergeletak mati di jalanan dekat rumahku. Keadaannya sangat mengenaskan. Untunglah Papa mau menguburnya. Kulihat orang-orang hanya memotret mayat anjing malang tersebut tanpa peduli. Oh Tuhan, dunia ini sudah sangat gila.

3 April
Aisyah dan Mila membawaku ke Dufan pada hari selasa. Sekolah kami libur, jadi tak masalah. Dufan tidak terlalu ramai hari ini. Maklumlah, ini hari kerja.

4 April
Sudah beberapa bulan aku kemoterapi. Dan hasilnya rambutku rontok tanpa sisa. Aisyah dan Mila mendukungku agar tidak minder dengan kejadian yang menimpaku.

6 April
Aku masuk rumah sakit lagi. Tiba-tiba saja aku pingsan saat mata pelajaran ke-6. Dan alhasil aku kembali masuk rumah sakit.

7 June
Kata dokter aku sudah memasuki stadium lanjut. Aku harus menginap di rumah sakit sampai aku sembuh.

8 June
Aku sudah kemoterapi hari ini. Rasanya sangat menyiksa. Tapi aku harus bertahan hidup. Cita-citaku yang ingin menjadi seorang model dan bertemu dengan CJR belum terwujud.

10 August
Sudah memasuki stadium akhir. Kata dokter, hidupku tinggal 3 bulan lagi. Aku tak bisa menerimanya. Aku harus mematahkan pemikirannya. Aku yakin aku dapat hidup sampai usiaku diatas 20 tahun.

11 August
Rasanya hampa. Tidak ada yang bisa kulakukan di sini. Hanya tiduran di ruang serba putih sialan ini dengan selang infus menancap di tanganmu.

13 August
Aku hanya ingin mati. Mati dengan tenang. Aku tidak mau mati di sini. Aku lebih suka mati di tempat lain. Pokoknya jangan di kamar ini.

6 November
Aku tak bisa berkutik lagi. Aku ditempatkan di ruang ICU karena sakitku makin parah. Mungkin benar kata dokter. Mungkin aku akan mati 4 hari lagi.

9 November
Aku akan dioprasi. Mungkin gagal mungkin sukses. Tapi aku merasa kematianku semakin dekat. Aku sudah tak berdaya. Hanya ada satu kata yang ingin kuucapkan padamu, selamat tinggal.

Cerpen Karangan: Zhavira Aprilia Jaya
Zhavira Aprilia Jaya. Lahir di Balikpapan pada tanggal 8 April 2004. Cewek penggemar One Piece ini sudah mengenal dunia tulis-menulis sejak kelas 3 SD. Juga menyukai kebudayaan Jepang.

Cerpen Diary Sang Penyandang Kanker merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Pulang

Oleh:
Samar-samar kudengar dehasan nafas Ayahku. Kami sedang mendaki sebuah gunung menuju rumah tempat kami bercerita, tempat kami melepas piluh, tempat kami tertawa. “Ayah, biarkan Aku Jalan sendiri Yah.” mintaku

Jangan Bohong Kak

Oleh:
Aku punya kakak. Dia tinggi dan tampan. Dia segalanya bagiku. Sejak orangtuaku meninggal, aku hanya bergantung padanya. Dia selalu melakukan hal yang benar. Dia sempurna. Kadang, jika aku punya

Penyesalan Riana

Oleh:
“Allaahuakbar.. Allahuakbar,” suara adzan subuh berkumandang, sang ibu membangunkan anaknya yang masih tertidur pulas. “Nak… Riana bangun! Salat Nak…” dari bilik kamar terdengar suara menyahut. “Aduh apaan sih Bu!

Gamis Lebaran Untuk Ibu

Oleh:
“boleh kak baju nya silahkan di lihat-lihat” “ayo kak boleh bajunya murah” Ramainya suasana pasar menjelang lebaran diwarnai dengan pedagang yang bersaing menjajakan baju dagangannya dan terlihat pembeli yang

Penantian Sheila

Oleh:
Sebuah taman tempat pasangan remaja berkumpul di pojok senja. Di bawah pohon-pohon cemara berhias lampu-lampu kecil yang berkerlip bergantian dan lampu-lampu dengan tiang berukir bergaya Venesia. Sebuah air mancur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Diary Sang Penyandang Kanker”

  1. dinbel says:

    Terharu bacanya.

  2. Zhavira Aprilia Jaya says:

    Thank’s kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *