Diary Vienna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 May 2014

Vienna atau yang akrab disapa Vi adalah siswi kelas 5 sd yang hidupnya serba kekurangan. Ayah Vi bekerja sebagai tukang bangunan yang penghasilannya sebulannya hanya Rp. 100.000,- Ibu Vi hanya seorang buruh cuci. Terkadang Vi membantu kedua orangtuanya dengan berjualan gorengan sepulang sekolah.

Pada hari kamis guru bahasa indonesia yang menyebalkan (menurut Vi) memberi PR untuk menulis buku harian. Vi bingung. Hutang-hutang orangtuanya saja belum lunas. Untuk makan saja Vi kesusahan sementara Ia diharuskan membeli diary yang harga paling murah Rp. 20.000,-

Sesampainya di rumah Vi langsung berlari ke kamarnya yang kecil. Tidak menyapa ibunya seperti biasa. Ibu Vi memanggil Vi, “Vi, ada temanmu yang bernama Fero dia ingin memberimu sesuatu.”

Vi keluar dari kamar ada Fero yang memakai blus biru laut dan membawa sebuah bungkusan. “Ini untukmu, Vi. Aku membeli sebuah diary untukmu semoga kamu suka dengan diary ini,” kata Fero dengan malu-malu.

Deg… Diary sebuah benda yang sangat diinginkan Vi. “Terima kasih, Fero,” balas Vi.

“Kalau begitu aku pulang dulu ya…” pamit Fero.

Malam harinya Vi menulis di diary untuk pertama kali. Ayah Vi belum pulang sejak seminggu yang lalu. Hari ini Vi hanya makan dua kali sehari. Diary itu bergambar bunga dan kupu-kupu berwarna jingga warna favorit Vi.

Hari-hari berikutnya dilalui Vi untuk menulis diary dan membantu ibunya. Sejak kemarin ibu Vi sakit-sakitan, Vi sudah tidak masuk sekolah sejak kemarin. Hanya ada Vi dan Ibunya di rumah Vi.

Pada keesokan harinya ada berita buruk. Ayah Vi tewas karena terjatuh saat membangun gedung tingkat lima di jakarta. Mendengar hal itu Vi dan ibunya sedih. Kondisi ibu Vi bertambah buruk.

Esok harinya ada yang lebih buruk. Ibu Vi meninggal karena penyakit itu dan shock karena ayah Vi meningggal. kini… Vi hidup sendiri tanpa sanak saudara. Tidak bersekolah dan hidup dari penghasilannya berjulan gorengan. Vi masih tetap berkeluh kesah dengan diary itu hingga tinggal satu halaman lagi diary itu habis.

Malam ini Vi menulis di halaman terakhirnya membaca tulisannya yang dulu tentang masa lalunya. Hidup memang butuh perjuangan Kata Vi dalam hati. Jika masih bersekolah mungkin Vi sekarang sudah kelas VII SMP. Setiap hari Vi memandang teman-temannya yang masih bersekolah, masih mempunyai orangtua dan masih ada kasih sayang.

Saat akan berjualan seperti biasa. Vi membawa diarynya. Akan tetapi tiba-tiba ada mobil yang kehilangan kendali. Vi pun ditabrak oleh mobil itu dan pelakunya kabur. Vi hanya terbujur kaku tak bernafas sambil tetap memeluk diarynya.

Cerpen Karangan: Nabila Azzah
Facebook: Nabila Azzah Aprilia (ila)

Cerpen Diary Vienna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Parasit Yang Kurindukan

Oleh:
Sinar matahari telah membangunkanku dari keranda pingsanku tadi malam, tak kukira ia telah melambaikan sinarnya hampir di atas kepala, dengan menggebu gebu aku langsung mengambil ponselku. Bulu kudukku merinding

Kenangan Terindah

Oleh:
Eh, eh, kenapa ya? Hari-hari ku itu selalu campur aduk? Eh, tapi selalu senang kalau ada dia. Dia yang selalu hibur aku kalau lagi sedih. Dia juga selalu ngebelain

Surat Terakhir Darinya

Oleh:
Hembusan angin malam dan suara ombak yang menghantam karang membuat aku terpaku di keheningan malam ini. Kegelapan menutupi diriku dari terangnya cahaya di sudut desa ini. Duduk di tepian

Gadis Kecil Ayah

Oleh:
Lama duduk sambil menikmati suara hujan membuat Ayah ingin minum teh, tangannya meraba meja yang ada di samping kursi, Ayah berusaha menggapai cangkir teh. Kehilangan penglihatan menjadi hambatan untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *