Dinda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 October 2016

Pagi hari yang cerah. Aku mengenakan kemeja kotak-kotakku dan kerudungku. Aku langkahkan kaki menuju teras rumahku sambil melakukan olahraga ringan, untungnya hari itu sekolah sedang libur.

Tak lama kemudian, datang 2 orang gadis yang wajahnya tak asing bagiku. Mereka adalah saudara dekatku yang bernama Amel dan Dinda. Mereka mengajakku bermain.
“Res, main yuk!” ajak Amel.
“Mau main apa?” tanyaku.
“Sepeda-an keliling kampung!” jawabnya dengan disambut anggukkan Dinda.

Dinda adalah seorang gadis tunarungu. Usianya 11 tahun. Dia seorang gadis yang periang dan suka bermain. Tetapi, dia tak patah semangat menjalani hidupnya yang penuh dengan ejekkan. Aku ingat dengan kata-kata yang diucapkan Dinda dengan gerakkan tangannya:
“Cantik itu tidak penting. Tapi, kita harus semangat menjalani hidup ini yang penuh cobaan.” ~ DINDA ~

“Euh… Ayo! Aku pinjem sepeda dulu ke kakak aku, ya!” aku pun setuju. Lalu, aku meminjam sepeda kakakku. Maklum, sepedaku tidak bisa dikendarai, sebab bannya bocor. Hehe…
Tiba-tiba, Dinda memanggilku dengan ucapannya yang tidak jelas.
“Eh! Eh!” panggilnya, mungkin maksudnya adalah “Res! Res!”
“Ada apa, Din?” tanyaku.
“Num… Num…” jawabnya sambil memperlihatkan botol minumnya. Aku mengerti, maksudnya adalah “Jangan lupa bawa botol minum!”. Aku mengacungkan jempolku tanda setuju.

Setelah sepeda dan botol minum siap, kami pun mulai bersepeda. 30 menit kemudian, Dinda memanggilku lagi. “Eh! Eh!” panggilnya,
“Apa?” tanyaku.
“Njid, u! Aus! Olat.” jawabnya. Katanya “Ke masjid, yuk! Haus! Sambil sholat.”. Saat itu, memang sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
“Tapi, Din, sekarang kan belum adzan.” kataku.
“Biarlah, istirahat di teras masjid aja! Aku juga haus!” rengek Amel. Dinda pun mengangguk.
“Oke…” aku setuju.

Kami memarkirkan sepeda kami di tempat yang aman. Lalu, kami berjalan menuju teras masjid dan istirahat. Dinda bercakap-cakap denganku dan Amel. Tiba-tiba, Dinda berkata…
“Mamah a ama papah agi.” katanya. Dia berkata begini.. “Mamah gak sama papah lagi”. Tiba-tiba, fikiranku berubah menjadi penuh pertanyaan.
Mengapa anak difabel yang masih muda sepertinya harus bernasib demikian? Kasihan.. Dinda yang berkebutuhan khusus harus melihat pertengkaran orangtuanya sampai CERAI.
“Sabar ya, Din… Kamu anak hebat!” pujiku. Dinda mengangguk. Tetapi, Dinda menangis. Aku merasa iba.
“Jangan nangis, Din. Nanti cantiknya hilang dong!” pujiku lagi. Dinda menghapus air matanya dan tersenyum.
“Mel, sekarang Dinda tinggal sama siapa?” tanyaku pada Amel.
“Sekarang Dinda tinggal sama mamahnya dan Kakak Eka.” jawab Amel.
“Oooohhh…”
“Au edih…” kata Dinda. Maksudnya adalah “Aku sedih…”
“Sabar ya. Kamu tetap anak yang pintar.” rayuku sambil mengusap-usap punggung Dinda.

Tiba-tiba, aku mendengar suara anak cekikikan. Ternyata, ada 2 anak kecil laki-laki menertawakan cara bicara Dinda.
“Hahaha… Gak bisa bicara!” ejek mereka.
“Hei! Gak boleh ngejek! Dosa!” aku mulai emosi. Dinda menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Mungkin dia berkata. “Jangan marahin mereka.”
“Tapi, Din, mereka keterlaluan!” aku tetap ngotot. Dinda tetap menggelengkan kepalanya.
“Pulang yuk!” ajak Amel.
“Yuk!” aku setuju.
Kami pun segera pulang.

Aku sudah dekat dengan rumahku. “Daah!” sapa Amel.
“Daah..” aku balik menyapa.
Aku masih terus befikir. Bagaimana kalau aku seperti Dinda? Apakah aku akan bisa bersabar sepertinya? Dinda, kamu tetap jadi saudara terbaikku…

TAMAT

Cerpen Karangan: Resty Nur Wahyuni
Facebook: Resty Nur
ASSALAMU’ALAIKUM…
Hai kawan-kawan! Namaku Resty nur wahyuni. Umurku 11 tahun. Aku duduk di kelas 5 SD, tapi tahun sekarang aku akan masuk kelas 6 SD. Aku harap, kalian bisa menjadi seperti DINDA saudarku yang penyabar yaaaa…

Cerpen Dinda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lampion Terakhir

Oleh:
Mungkin itu hanya kenangan. Biasanya, aku dan Reila membuat lampion bersama, untuk dijadikan hiasan kamar kami. Tapi, ada satu lampion yang istimewa, membuatku selalu ingin memegangnya, seolah ketika aku

Belum Besar

Oleh:
Pagi cerah di minggu ini ayah berencana mengantarkanku bersama ibu ke pasar untuk membeli bahan pangan. “mell ayo berangkat” teriak ayah “iya yah” ucapku. Aku dan ibuku segera masuk

Hamburger Shop

Oleh:
Sore itu, aku dan Ibu tengah melayani pelanggan terakhir kami sebelum kami menutup toko. Setiap hari, aku dan Ibuku sudah biasa capai karena saking banyaknya pembeli. Tapi kami senang

Sahabat Yang Sebenarnya

Oleh:
Tessa adalah anak yang terlahir dari sebuah keluarga miskin. Ia ada kesalahan tulang di kakinya dan tidak bisa berlari. Tidak ada yang mau berteman dengan Tessa. Ia mendapatkan beasiswa

Setelah Setahun Dua Bulan

Oleh:
Tok, tok, tok. Ketukan kuat pun terdengar di pintu kamar, suara Kak Sifa pun terdengar dari balik pintu. “Caa, buka pintunya, ayo ke sini, ayo keluar, lihat Papa sebentar,”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *