Disaat Aku Haus Penghargaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 November 2013

Suara gemercik air dari sudut rumah telah membangunkan ALUYSIUS SENO AJI dari tidurnya. Pagi itu cuaca terlihat sangat bersahabat, semangat yang menggebu gebu dan perasaan yang tenang selalu ENO bawa dimana saja dan kapan saja.

Setelah sarapan ia langsung mencium tangan kedua orang tuanya dengan halus dan penuh kasih sayang, Kebiasaan mencium tangan kedua orang tua memang sudah diajarkan oleh Ayahnya sejak dulu jika ENO hendak berangkat ke sekolah.

SMA N 03 itulah nama sekolah ENO, setiap harinya ia berangkat sekolah dengan menggunakan kendaraan pribadinya yaitu MOTOR. Pelajaran pertama hari ini adalah olah raga, pelajaran yang paling ENO favoritkan. Seperti biasa seluruh siswa berolah raga di Alun alun dekat sekolahnya. Lari 5 kali keliling alun alun serasa sudah biasa ia lakukan, lelah ataupun letih tidak menjadi alasan ENO untuk terus berlari. Tidak mudah menyerah dan terus berusaha memang sudah menjadi tumpuhan hidupnya selama ini, tak heran jika ENO telah banyak mendapatkan Piala piala kejuaraan KARATE yang sudah ia kuasai. Namun sayangnya setelah Dokter mendiagnosa bahwa ENO terkena Asam lambung ayahnya melarangnya mengikuti kegiatan yang berat berat di sekolah seperti mengikuti Extrakurikuler KARATE. Awalnya ENO menuruti nasihat Ayahnya, tapi setelah itu ENO merasa bosan dan teringat masa masa indahnya bermain karate yang akhirnya membuat ENO mengikuti Taekwondo tanpa sepengetahuan Ayahnya.

Cerpen Disaat Aku Haus Penghargaan

“No, gimana kabar pacar kamu di jakarta?”. Ujar salah satu teman Karate nya Ardi.
“Katanya sih baik, Aku kangen banget tau sama dia?”.
“Ya udah suruh Ratu datang ke pemalang aja, oh ya bukannya Ayah kamu sudah melarangmu mengikuti karate?”. Ujar Ardi.
“Udah tapi katanya dia sibuk! Karate itu sudah menjadi bagian dari hidupku, lagi pula ini hanya penyakit Asam lambung yang tidak terlalu membahayakan.
“sabar aja NO, kamu jangan mengambil kesimpulan sendiri, kalau Ayahmu malarang berarti itu membahayakan bagi diri kamu sendiri”. Ujar Ardi menasihati.
“Sudahlah dari pada kita ngeribetin penyakit aku, gimana kalau kita bertarung karate?”.
“Kamu yakin?”.
“kapan sih aku pernah gak Yakin sama diri sendiri?”. Ujar Seno dengan lantang.

Mereka pun bertarung habis habisan, sampai akhirnya ENO terjatuh menahan rasa sakit reaksi dari penyakit Asam lambungnya itu. Pelatih dan teman temanya yang melihat kejadian itu langsung membawa ke UKS sekolah. Melihat keadaannya yang tak kunjung baik Pelatih Hiroshi akhirnya membawa ENO ke rumah sakit.

“Asam Lambung Akut”.
Itulah kata kata terakhir yang ENO dengar, percaya atau tidak ENO, tetapi itu memang penyakitnya. Ia takut, gelisah dan bingung. ingin cerita masalah ini kepada kekasihnya Ratu tetapi selalu Pending, menelfon teman temannya tidak bisa dihubungi, mereka semua sibuk dengan urusannya masing masing sampai ia bertekad untuk tidak memberitahu penyakitnya itu kepada kekasih dan teman di sekolahnya. Semua orang di sekolahnya tidak tau akan penyakitnya itu bahkan guru di sekolahannya itu pun tidak mengetahuinya.

Keesokan harinya…
ENO berangkat sekolah seperti biasa, seakan tidak terjadi apa apa padahal wajahnya sangat pucat dan banyak teman yang bilang.
“ENO kenapa kamu berangkat, bukannya kamu lagi sakit?”. Ujar salah satu teman sekelasnya.
“Aku nggak sakit kok, sehat banget malah?”. Sambil menutupi penyakit akutnya itu ENO menjawab.
“Ohhh, syukurlah!”.

Ttenggg… Tenggg… Tengg… (suara bell istirahat berbunyi)
“NO, kamu di panggil pelatih Hiroshi tuh di depan!”

“Pelatih Hiroshi, ada apa?”. Ujar ENO.
“Apa kamu sudah baikan ENO?”. Ujar Pelatih Hiroshi.
“Sudah pelatih?”. Ujar ENO.
“Jadi begini, saya ingin menunjuk kamu agar mengikuti perlombaan karate di Bali, apa kamu mau?”.
“Mau banget Pelatih, kalau diinget inget terakhir aku ikut lomba karate dan memenangkannya itu waktu aku kelas 9 smp”. Ujar ENO
“Baiklah seminggu ini berarti kau harus banyak latian!”. Ujar Pak Hiroshi.

Sepulang sekolah ia langsung membuka pesan di hp nya yang ternyata dari kekasihnya ENO, Ratu.
“Maaf ya kemaren kemaren aku gak bisa bales sms kamu soalnya akhir akhir ini aku sibuk banget.” Sms dari Ratu.
“Iya gak papa kok, kapan ke pemalang?”. Balasan sms ENO.
“Sabar ya, karena aku sibuk banget jadi palingan ke pemalangnya kalau ada acara penting aja!”. Balasan Ratu lagi.
“Baiklah, mau kapan pun kamu ke sini aku akan selalu menunggu kamu sampai akhir hayatku”.

Setelah berhari hari meminta izin kepada Ayahnya dengan alasan sebagai perlombaan terkhirnya, ENO akhirnya berhasil mengantongi izin dari ayahnya. Latihan demi latihan ia lakukan semata mata hanya untuk memberikan pengharagaan terakhirnya itu kepada Ayahnya. Semakin hari wajahnya semakin pucat saja, menunjukan bahwa penyakitnya itu sudah semakin parah.

Hari ini ENO sempatkan berangkat sekolah walaupun keadaannya sudah sangat memprihatinkan, hal ini ia lakukan karena ENO ingin mengikuti Ulangan semester 1. Di tengah tengah heningnya keadaan ulangan seendag endag nafas ENO mulai terdengar, ENO pun akhirnya jatuh dari kursi dan kejang kejang layaknya serangan jantung. Teman temannya yang panik pun segera membawanya ke rumah sakit terdekat, tak lupa pihak sekolah juga member tau keluarga ENO masalah tersebut.

“Lambung kirinya pecah”.
Begitulah yang mereka dengar dari mulut dokter yang menangani ENO. Percaya atau tidak tapi itu kenyataannya. Mereka semua termasuk teman temannya kaget mendengar berita itu karna sebelumnya ENO tak pernah bercerita tentang penyakitnya itu.

“Mungkin ini memang sudah menjadi keputusan sang Kuasa”. Ujar Dakter.
Semua orang yang disana menagisi ENO dan Bagas bergegas mengambil HP ENO untuk member pesan kepada kekasihya ENO.
“Ratu segerahlah ke pemalang ini sangat penting?”. Sms yang dikirim Bagas melalui HP ENO.
“Baiklah aku akan kesana sekarang, memangnya ada acara apa sampai kau bilang sangat penting”.

Mengetahui ENO tak membalas pesannya lagi Ratu jadi semakin penasaraan dan bergegas menuju ke pemalang. Pagi harinya ia sampai di pemalang dan langsung menuju rumah ENO.
“Ada apa itu rame rame di rumah ENO, sepertinya sedang ada acara besar?. Ujar Ratu penasaran.
“Ratu, akhirnya kamu datang juga?”. Ujar Bagas.
“Siapa itu, siapa mayat yang ada di depanku ini, mana ENO? Cepet katakan dimana ENO?”. Ujar Ratu dengan gelisah.
“Kau selalu sibuk dengan urusanmu sendiri sampai tidak sadar kalau mayat yang ada di depan kamu itu ENO?”. Ujar lantang Aldi.
Tas yang Ratu pegang terlepas dari genggamannya, perasaan dan kekecewaan bercampur aduk dalam hatinya sampai ia tak bisa membendung air matanya yang mengalir. Walaupun sudah 1000 tetes mata yang ia keluarkan tetap tidak bisa mengubah segalanya. Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa di lakukan lagi selain sabar.
“Eno sayang aku kangen bnget sama kamu, sayang jangan tinggalin aku?. Begitu kata Ratu di depan makam ENO.”
“Ragamu memang telah tiada, namun semangatmu selalu hidup dan menjadi tauladan bagi kami”. Ujar Bagas.
Seakan sudah tidak ada harapan untuk ENO mendapatkan penghargaan itu, namun ia sudah di beri penghargaan oleh teman temannya karena semangatnya dalam hidup.

THE END

Cerpen Karangan: Mega Resiana
Facebook: Mega Threejiee

Nama lengkap: Mega Resiana
Tanggal lahir: 15 April 1999, pemalang
Sekolah: SMPN 02 Pemalang

Cerpen Disaat Aku Haus Penghargaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Cinta Remaja

Oleh:
Pada suatu hari di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) sedang membuka pendaftaran murid baru banyak siswa yang mendaftar, tapi ini bukan kisah tentang mereka semua, ini kisah Cinta antara

Deja Vu

Oleh:
Tak. Tak. Tak. Pukul 08.00. Jam dinding yang berdetak sejauh 3 meter arah Barat Daya itu sekan disambungkan dengan pengeras suara. Terasa keras sekali hingga memekakkan teligaku. Gemericik air,

Migegil

Oleh:
Waktu menunjukkan pukul 05.00, sudah menjadi kebiasaanku untuk bangun tidur lalu membantu pekerjaan rumah, kemudian mandi, sarapan dan berangkat sekolah. Kemudian aku bangkit dari tempat tidur sambil menutup mulutku

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Semuanya berawal dari persahabatanku dengan Sindy sejak kami SMP sampai sekarang kami berdua sudah masuk SMA. Walaupun kami berdua tidak satu kelas tetapi kami sering bertemu pada saat bel

Penyesalanku Hingga Kau Pergi

Oleh:
Namaku biasanya dipanggil dengan sebutan Mala. Aku adalah anak kelas 3 SMA N 8 palembang pada tahun 2005. Anaknya minder karna bentuk tubuhku yang tidak ideal, humoris, care sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *