Dunia Yang Tak Terlihat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 January 2017

Jalan di luar sana masih sama, basah. Bahkan beberapa bangunan di tepi pekiknya kota besar mengalami hal yang serupa. Ribuan langkah kecil berhamburan di sisi badan jalan dan kemudian berhenti pada tempat teduh namun lembab, sebuah halte yang letaknya tak jauh dari perempatan jalan besar. Tepat di depan sebuah toko roti milik paman Sean. Tirai hujan di luar sana masih kukuh sejak sejam yang lalu. Pembalasan untuk dua bulan terakhir sejak November bulan lalu yang sempat mengawali musim kemarau berkepanjangan.

Garry memaku dagu, memandang keluar bingkai jendela dari sebuah Coffee Shop tempatnya sekarang. Letak bangunan itu diapit dua bangunan besar, sebuah toko roti dan sebuah boutique. Lamunannya terbang mengawang ke sudut-sudut pinggir kota yang basah. Menari. Berlari. Lalu menembus dinding tua berarsitektur. Sebuah aroma khas racikan biji kopi masuk melalui cuping hidungnya. Tersadar. Seorang pelayan telah berdiri, tersenyum ramah dengan membawa pesanan secangkir kopi susu panas berukuran medium dengan satu saset gula kadar rendah kalori di atas sebuah talenan berwarna perak.

“Permisi Mas, silahkan..” katanya ramah.
“Ahh, iya. Terima kasih.”

Pelan cangkir berisi kopi susu panas itu mendarat di atas meja kayu ukiran motif khas jawa. Pelayan itu pun lalu beranjak pergi. Diseruputnya pelan minuman itu. aroma khas itu kembali terhirup. Menyatu bersama rasa. Saraf sekujur tubuhnya bereaksi. Memberikan efek refleksi.

Tak lama ponsel genggam miliknya berderit dalam saku celana. Sebuah pesan singkat tanpa nama. Garry tersenyum kecil lalu sigap membalas pesan itu. Nadira. Garry tahu persis gadis kecil itu pasti sudah menunggunya lama. Sudah hampir tiga hari Garry tidak menyempatkan diri ke rumah sakit membesuknya. Terakhir sejak pasca operasi pertama pengangkatan tumor di kepalanya. Hari ini, hari istimewanya. Umurnya genap dua belas tahun. Garry telah menyediakan lima tangkai bunga kecil yang tumbuh dalam pot berukuran mini, hadiah yang yang ia bawa dari negara kangguru. Bunga ini adalah bunga kedua puluh sejak pertama kali gadis kecil itu mengenal dan menyukai bunga, jika Garry tidak salah menghitung jumlahnya atau masih ingat cara menghitung bilangannya. Ini adalah bunga yang ingin sekali ia kenal. Tidak hanya dalam cerita yang sering dibacakan mengiringi langkah mimpinya. Bunga iris. Bunga yang dalam mitologi yunani kuno dipercaya sebagai Dewi Iris, Dewi penghubung antara bumi dan surga melalui sebuah pelangi.

Dua belas tahun bukan hal yang mudah bagi seorang gadis kecil yang hidup dalam kegelapan. Abstrak. Warna pertama yang sampai sekarang ia kenal hanya hitam sedangkan warna lain hanya ia kenal karena cerita. Sesekali gadis itu pernah bertanya mengenai keindahan dunia pada Garry dan Garry selalu mengalihkan topik pembicaraan. terdiam tanpa alasan.
Nadira. mungkin satu dari sekian anugrah di dunia. Termasuk sebuah senyuman mungil nan indah yang selalu menghias raut wajahnya. Senyum yang masih sama. Sama seperti pertama kali Garry menemuinya enam tahun silam di sebuah panti. ya panti! mengingat ceritanya terasa sesak di kepala. bagaimana tidak? Garry hanya bisa mengumpat dan mengutuk di hati untuk orang yang telah membuang seorang bayi di depan gerbang panti. seorang bayi yang sekarang tumbuh seperti bunga. mekar. menguraikan semerbak wangi kepada sesamanya. meskipun kembali, bahwa tidak semua bunga sempurna. tapi yang melihat dan merasakan mengetahui arti syukur. begitulah Garry mendeskripsikan hatinya.

Hujan di luar sana mulai reda. Beberapa kendaraan sudah tampak lalu lalang mengisi badan jalan, begitu juga dengan kerumunan manusia yang hinggap di bawah halte tadi. Garry bangkit dari tempat duduknya menuju meja kasir yang letaknya di sisi ruangan cafe depan pintu masuk. Membayar secangkir minuman tadi. Udara diluar begitu lembab, segar. Tampak beberapa pohon melambaikan daun hijau muda seakan mengisyaratkan rasa syukurnya untuk pengakhiran dua bulan kemarau panjang. diliriknya jam tangan yang melekat padu dan kontras dengan kulitnya. Pukul 15.45. “Sekitar sepuluh menit untuk sampai di sana,” batinnya.

“Hai, cantik!” sapanya lembut. Nadira tidak menjawab, hanya tersenyum untuk kesekian kalinya. Garry mendekati gadis itu. tangan hangat dan mungil itu melekat meraba wajah kasar Garry, memastikan bahwa seseorang yang ditunggunya sejak tiga hari terakhir adalah Garry. Semenit kemudian, bibir mungil putih pucat itu mendarat di daun telinganya.
“Sepertinya aku mencium sesuatu yang indah di sini?” bisiknya. “Tidak mungkin seorang malaikat di tempat tidurku sekarang adalah setangkai bunga.” sambungnya, lalu tertawa kecil.
“Hahaha..” tawa garry menyusul. “Jika begitu, bisakah kau menebaknya?”
“Jika aku diizinkan untuk memberi salam padanya pertama kali, mungkin.” tegasnya. Garry menuntun tangan kanan gadis itu pada pot berisi bunga yang ia bawa. Gadis itu mulai merabanya pelan. sisi demi sisi bagian bunga itu tersentuh halus lalu terhenti. ia mengangkat pelan tangkai bunga itu dan menciuminya.
“Wangi, seperti bunga bulan Februari. Kelopaknya cantik, tersusun rapi dan halus. Wanginya juga sangat tegas,” komentarnya.
Garry tersenyum. Analisanya tidak meleset. Dua indera itu berfungsi baik. Lagi-lagi Garry terkagum.
“dan terakhir….,” gadis itu menggantung kalimatnya dan memandang dimana Garry berada. “bunga ini dapat hidup juga di darat. Betulkah?” sambungnya mengakhiri analisanya. Garry mencubit pelan pipi tirus itu lalu mengecup lembut keningnya. “Lalu jika begitu, siapa namanya?” tanya gadis itu lagi
“coba tebak, dia adalah bagian dari cerita favoritmu,” jelas Garry singkat.
Ia tersenyum lebar, lebih lebar dibanding biasanya, bahkan gigi putih yang tersusun rapi itu tercetak jelas memadu senyumnya, tak lama ia memeluk tubuh berisi Garry. Garry terdiam, tau bahwa gadis itu bahagia. Itu cukup. tidak! mungkin lebih bagi Garry.

Ruangan itu mensunyikan diri, termasuk empat orang penghuni. Tiga diantaranya pasien yang seruang inap dengan Nadira. Garry masih fokus pada tabletnya, membaca beberapa bahan untuk presentasi yang akan dipaparkannya besok. Suara teduh Nadira membangunkan kesadaran konsentrasinya.
“Bisakah kau membawaku ke beberapa tempat yang ingin aku kunjungi sebelum operasi keduaku?”
“Kemana?” tanya garry balik.
Nadira tidak menjawab, gadis itu hanya memberikan secarik kertas kecil berisi nama tempat yang tak asing di kepala garry. Garry mengernyit, keningnya mengkerut. Sejumlah pertanyaan melayang mengitari kepalanya. Tak dapat bertanya apa lagi, Garry hanya mengangguk. Ruangan kembali sepi. Terang semakin menepi. Malam pun datang membayangi kawasan dan seluruh pinggiran tepi kota.

Embun melembabkan kulit daun perkasa, lalu menetes. Jatuh di antara semak bunga terompet berwarna kuning yang tumbuhnya berhimpit bahagia. Suara burung menyapa, bersahut-sahutan. menghidupkan teduhnya alam, kini bayang malam berlari. Lalu bersembunyi. Hari baru lahir. Begitu tenang. Pelan. Lalu memekik melalui gerak penghuni bumi. Sudah tiga minggu gadis itu diinap, dan satu hari gadis itu pergi. Mata Garry terasa sembab. Tangisannya mengering. Ia hanya bisa menatap teduh tanah yang berbukit kecil di hadapanya. Tanah yang masih basah. berselimut tebaran bunga mawar. Hanya nama. Ya, hanya sebuah nama di sana. Tercetak tebal di sebuah nisan. Apa yang dikatakan orang mengenai asal mula manusia. Nadira membuktikannya. Ia telah menyatu dengan tanah.

Garry jongkok di hadapan makam gadis itu. Secarik kertas yang lalu. Garry membukanya lagi. Sebuah nama. Nama tempat. Tempat itu di sini. Tempat yang tak diduga. Pertanyaan gadis itu masih teringang jelas. Mengorek ingatannya. Lalu Garry meletakan pot berisi bunga iris. Masih sama. Ada lima tangkai di situ. Tepat tersandar di depan nisan makam gadis itu. bunga itu mekar. Semerbaknya damai. Cerita mengenai bunga itu kini benar-benar menghantarnya tidur. Tidur dengan harapan yang mitologi sua kan.

Cerpen Karangan: Petronius Hendri
Facebook: petronius henry

Cerpen Dunia Yang Tak Terlihat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pertama

Oleh:
Bunyi burung yang berkicau begitu indah, ditambah lagi langit yang mendung menambah kan hawa yang sejuk di pagi ini… “Eh ra lo gak papa tuh ngeliatin doi lagi sama

Alone

Oleh:
Selama dalam perjalanan, kejadian tadi selalu terulang dalam pikiranku. Entah apa yang aku mimpikan tadi malam sehingga ini harus terjadi padaku. Perasaan bersalah selalu bernaung dan menghantuiku. Untuk yang

Story of My Live

Oleh:
Langit begitu cerah. Yucan, yang biasa dipanggil Can itu tinggal bersama keluarga kecilnya. Ia memiliki adik laki-laki yang bernama Rey. Suatu hari, Can sedang duduk di ruang tamu. Tiba-tiba

Tira

Oleh:
Tira, seorang gadis manis dan periang. Dikenal sebagai murid yang pintar, aktif dan disiplin. Gadis ramah yang tersohor namanya di seluruh penjuru sekolah ini, merupakan murid kesayangan para guru

Tetap semangat menjalani Hidup

Oleh:
“pada hari ini… Kulantunkan puisi ini untuk seorang ibu… Doa yang selalu kulantunkan saat sholat… Ibu yang membesarkan ku… Yang membelaiku dengan kasih sayang sepenuhnya… Yang mengandungku selama 9

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *