Eternal Sakura (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 February 2016

“Masalah ini sangat langka. Rumah sakit ini baru pertama kali menerima masalah ini. Jantungnya seperti ada kelainan fungsi,” Dokter menghela napas.
“Mengapa kelainannya baru muncul sekarang?” tanya wanita itu.
“Itulah yang menjadi pertanyaannya,” Dokter sedikit menyela. “Apakah suami Anda mempunyai riwayat yang sama?” tanya Dokter. “Ya,” ibu Jurina mengangguk.
“Menurut hipotesis saya, saya bisa menyimpulkan bahwa, kelainan jantung anak itu karena Ayahnya. Apakah suami Anda sudah…” Dokter tidak mau meneruskan perkataannya.
“Ya dokter!” jawab Ibu Jurina.

Ibu Jurina merasakan kesedihan yang mendalam. Wanita itu tidak mau kehilangan Jurina, anak satu-satunya. Ia sudah lama menjanda sejak ayah Jurina meninggal karena penyakit jantung, sejak Jurina berumur dua tahun. Kesedihan dirasakan oleh Jurina. Ia tidak menyangka bahwa, jantungnya sudah tidak mau bersahabat dengannya lagi. Emm, sungguh menyedihkan. Akibat masuk rumah sakit, Jurina tidak masuk sekolah selama dua hari. Tentu saja, Acchan, Takamina, Itano, dan juga Mayu kebingungan, mengapa sahabatnya tidak masuk sekolah. Mereka berempat memutuskan menjenguk ke rumah sakit tempat Jurina dirawat.

“Hai!” sapa Itano.
“Hai!” Jurina tersenyum.
“Kau sakit apa Jurina?” tanya Acchan.
Jurina terdiam, seakan menyembunyikan sesuatu dari sahabat-sahabatnya.
Acchan mengerutkan dahi. “Kau kenapa?”
“Aku hanya demam biasa,” jawab Jurina dengan sedikit gugup.
Mayu tersenyum. “Jurina, aku membawakanmu catatan pelajaran-pelajaran yang ku catat tadi,” Mayu mengeluarkan buku-bukunya.

“Aku juga membawakanmu kue stroberi kesukaanmu,” Itano menyerahkan sekotak kue.
“Aku tidak membawakanmu apa-apa Jurina. Maafkan diriku!” Acchan menunduk.
“Kau tidak usah begitu… kalian datang ke sini menjengukku, aku sudah merasa senang dan bersemangat,” Jurina tersenyum manis. “Kau harus banyak istirahat, agar sehat kembali dan berbagi bekal bersama-sama lagi,” Takamina mengelus rambut Jurina. Ibu Jurina tiba-tiba membuka pintu kamar dan membawa sesuatu.
“Lihat semua! Aku membawakan biskuit favorit kalian semuanya,” Ibu Jurina tersenyum.
“Wah… terima kasih banyak Bibi,” Acchan menepuk-nepuk tangannya.
“Terima kasih Bibi,” Takamina, Itano, dan Mayu berbicara kompak.

Akihabara, 18 Januari 2016
“Sebaiknya kia harus menemui Jurina!” ucap Mayu.
“Tapi, apakah Jurina juga di kota ini?” tanya Itano. Takamina dan Acchan hanya bisa menaik turunkan pundaknya, pertanda tidak tahu. Terakhir mereka bersama Jurina adalah, di saat upacara kelulusan mereka bersekolah. Setelah itu, mereka berpencar entah ke mana.
“Siapa yang tinggal di daerah sini?” tanya Mayu.
“Aku!” jawab Acchan. Mayu mengangguk. “Ayo kita ke rumahmu!”
“Baiklah!” jawab Acchan sembari menganggukkan kepala.

Setelah sampai di kediaman Acchan. Mayu, Itano, dan Takamina segera duduk bersila kaki di ruang tamu.
“Apakah buku angkatan sekolah kita masih ada?” tanya Mayu.
“Aku masih mempunyainya, tapi kemungkinan sudah berdebu,” Acchan mulai berdiri dan mencari buku itu.
“Aku akan membantumu!” Itano juga ikut berdiri dan membantu Acchan mencari buku itu.
Buku angkatan itu sudah dipenuhi oleh debu dan usang, jadi, keempat wanita itu agak terbatuk-batuk saat membacanya. Mayu menunjuk foto Jurina yang berada di buku tersebut.

“Ini dia Jurina! Kita harus ke alamatnya! Alamatnya sudah tertera di sini,”
“Tapi, kapan kita akan ke rumahnya?” tanya Takamina bertopang dagu.
“Emm,” Itano juga bertopang dagu. Acchan sedikit menaikkan alis kanannya. “Bagaimana kalau besok?”

Tokyo, 6 Juni 2010
Waktu cepat berlalu bagi kelima sahabat yang sedang duduk berbagi bekal di bawah pohon Sakura sekolah. Acchan tampak lesu dan tidak nafsu makan. Takamina tahu apa yang dirasakan Acchan saat ini. “Kenapa? Memikirkan ujian kelulusan?” tanya Takamina. Pertanyaan Takamina begitu tepat sasaran, Acchan mendongak. “Ya,” Acchan memberi anggukan kecil. “Bagaimana kalau kita belajar bersama di rumahku?” tanya Jurina.
Itano mengangguk sembari mengunyah rotinya. “Aku setuju denganmu!”
“Emm, baiklah!” Mayu juga ikut mengangguk.

Memang ujian kelulusan akan dilaksanakan kurang lebih seminggu lagi. Tentu saja semua murid bersiap-siap untuk menghadapinya. Begitu juga dengan Acchan, Takamina, Itano, Mayu, dan Jurina, mereka memilih belajar bersama untuk menghadapi ujian kelulusan. Tampak perdebatan di antara Mayu dan Jurina. Mayu sepertinya tidak ingin mengalah.
“Aku rasa yang benar adalah rumus yang pertama,”
“Tidak! Aku tidak setuju padamu!” Jurina menggeleng. “Rumus yang kedualah yang seharusnya benar!” Jurina juga tidak ingin mengalah. Acchan mulai melerai perdebatan mereka. “Sudah sudah! Cukup! Kalian jangan berdebat!”
“Sebaiknya kalian berdua minum teh ini dulu!” Itano menyodorkan dua gelas teh hangat.
Mayu dan Jurina mengangguk dan sedikit menyeruput teh hangat itu. Jurina menatap Mayu. “Mayu, ku rasa jawabanmulah yang benar!” Mayu tersenyum dan mengangguk.

Tokyo, 20 Juni 2010
Acchan sedikit menggigit bibir karena, soal ujian kelulusan matematika sedikit sulit baginya. Bel berbunyi, semua siswi segera mengumpulkan kertas penentu masa depannya. Setelah itu, semua siswi segera ke luar dan pulang untuk menunggu hasil ujian yang telah mereka kerjakan. Hari ini adalah hari terakhir ujian dan juga penentu masa depan mereka. Acchan sedikit tegang apabila ujian kelulusannya nilainya buruk.

Gadis itu mulai duduk dan memandangi foto sewaktu Acchan bersama keempat sahabatnya. Tiba-tiba Acchan mendapat pesan dari ponselnya, kalau Jurina masuk rumah sakit. Acchan segera mengambil tas yang berisi beberapa uang. Di waktu yang sama, Takamina, Itano, dan Mayu sudah menunggu di rumah sakit. Mereka berempat berusaha menenangkan ibu Jurina yang tengah menangis. Takamina juga ikut menangis. Bau khas rumah sakit mulai menggelitik hidungnya, bau yang ia benci selama ini.

“Apakah aku terlambat?” tanya Acchan yang terengah-engah. Mayu dan Itano hanya menggeleng.
Terlihat dokter ke luar dari ruang pemeriksaan. Dokter itu memasang muka sedikit cemas. “Jurina koma,” katanya pelan lalu pergi. Ibu Jurina, Takamina, Acchan, Mayu, dan juga Itano terbelalak. Mengapa ini terjadi pada Jurina? Mengapa cobaan yang berat terjadi pada orang yang sebaik Jurina? Acchan mulai memegang bahu ibu Jurina.

“Jurina sebenarnya sakit apa?”
“Jantung,” jawab Ibu Jurina yang mulai jujur.
“Jantung? Seberat itukah penyakitnya? Apakah tidak ada obat yang lain?” Itano berkaca-kaca.
Ibu Jurina menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku kekurangan biaya untuk pengobatannya. Menjual biskuit dan kue memang tidak seberapa untuk membayar pengobatan ini,”
Acchan tersenyum di tengah air mata yang sedang membanjiri sahabatnya.
“Tenang. Bibi masih punya kami, kami adalah sahabat-sahabat Jurina yang akan selalu membantu Jurina semampu kami. Kami akan terus membantu semampu kami! Bahkan kalau jantungku cocok dengan jantung Jurina, aku akan mendonorkannya,” Acchan memeluk Ibu Jurina. Suasana haru terjadi di situ. Pandangan Takamina sedikit kabur, karena air mata yang ia tahan di mata.

“Aku, Minami Takahashi, berjanji akan terus membantu Jurina! Aku akan kumpulkan dana semampuku. Aku rela, kalau jantungku diambil demi Jurina,”
“Aku juga rela, kalau jantungku diambil demi Jurina,” Itano mengangguk.
“Aku juga merelakan jantungku,” Mayu mengucek matanya yang basah.
Ibu Jurina menggeleng. “Seumur hidupku, aku belum pernah melihat persahabatan tulus dan penuh pengorbanan seperti ini. Tapi kalian semua tidak usah berbuat demikian!” Ibu Jurina menangis sejadi-jadinya.

Esoknya, Acchan, Takamina, Mayu, dan Itano berpencar untuk mencari sumbangan bagi sahabatnya yang tengah tergolek lemah di rumah sakit. Acchan berada di taman kota, Takamina di area parkir mall, Mayu di mall, dan Itano di area pedesaan pinggir kota. Syukur perlu dipanjatkan untuk Yang Maha Kuasa, karena dana yang terkumpul cukup banyak. Malamnya, keempat sahabat itu segera menuju ke rumah sakit untuk menyerahkan hasil jerih payah mereka berempat.

“Mungkin ini tidak banyak, tapi, inilah hasil jerih payah kami. Semoga bermanfaat dan mendukung kesembuhan Jurina, sahabat kami,” Acchan menyerahkan setoples uang receh dan uang kertas. Ibu Jurina menghapus air matanya. “Alangkah beruntungnya Jurina mempunyai sahabat seperti kalian ini. Sahabat yang penuh akan cinta dan ketulusan,”
Takamina menepis air matanya. “Sudahlah Bibi, ini adalah tugas kami sebagai sahabat yang selalu bersama Jurina,”
Mayu menunduk dan menghapus air matanya. “Kebahagiaan Jurina adalah kebahagiaan kami!” Mayu mendongak.
Itano menangis dengan keras. “Aku sudah tidak tahan dengan air mata ini. Air mata ini adalah permulaan untuk menuju masa depan. Aku yakin Jurina pasti akan sembuh. Aku rindu akan Jurina yang sering berbagi dengan kami, sering tertawa bersama kami, sering bermain bersama kami. Aku akan selalu mendoakan kesembuhannya.” Itano menutup mulutnya.

Akihabara, 19 Januari 2016
Keempat sahabat itu segera menunggu kereta datang jurusan Tokyo. Mereka memutuskan ingin bertemu dengan Jurina. Acchan sibuk mengecek barang bawaannya dan sibuk mengenakan jaket tebalnya, karena dingin. Takamina memandangi Acchan. “Kau tidak meninggalkan sesuatu kan?”
Acchan mendongak lalu menggeleng. “Tidak. Semua sudah ku siapkan, mulai dari pie kismis kesukaan Jurina, dan kado kalung untuk Jurina,”
“Kereta akan datang tiga menit lagi,” ucap Mayu yang menatap ke jam tangannya.

Itano memakan pop corn yang ia beli tadi. “Ada yang ingin meminta pop corn ini?” tanya Itano.
Acchan dan Takamina hanya menggeleng. Sedangkan Mayu mengangguk dan mengambil sekepal pop corn untuk dimakannya. Kereta pun datang, keempat sahabat itu segera masuk ke dalam kereta itu. Mereka memilih duduk bersebelahan. Saat kereta berjalan, pemandangan sawah di kanan kiri mulai terlihat. Ada rindu yang sudah mulai terlupakan, namun, terulang lagi.

“Semoga Jurina baik-baik saja,” ucap Itano.
“Iya,” Takamina mengangguk.
“Aku sudah tidak sabar menemuinya, apakah Jurina sekarang bertambah cantik?” Acchan tersenyum.
“Aku tidak tahu,” Mayu menaikkan pundaknya.

Tokyo, 29 Juni 2010
Setelah upacara kelulusan berakhir, dan sekolah ini dinyatakan lulus seratus persen dengan nilai yang spektakuler. Kebetulan juga, keadaan Jurina sudah memulih dan juga ikut dalam upacara itu. Tapi, Jurina harus memakai kursi roda agar tidak terlalu kelelahan. Setelah upacara itu, kelima sahabat itu segera memandangi pohon yang menjadi saksi bisu mereka tertawa dan saksi bisu tentang kebersamaan dan rasa persaudaraan yang telah mereka rangkai hingga saat ini.

“Sudah tidak terasa kita bersama sudah lama sekali,” Acchan memandangi pohon sakura itu.
“Hmm, kau betul Acchan,” Itano mengangguk.
“Sekarang, kita sudah punya masa depan masing-masing. Di punggung kita sudah terbentang sayap mimpi, yang siap menerbangkan kita ke masa depan kita yang akan datang nanti,” Takamina memegangi pegangan kursi roda Jurina. “Aku tidak akan melupakan jasa kalian yang telah membuat diriku berarti,” Jurina tersenyum.
“Aku menyayangi kalian semua,” Itano tersenyum. Acchan hanya berpandangan kosong. Takamina mengerutkan dahi melihat tatapan sahabatnya itu.

“Bagaimana kalau kita menulis surat untuk diri kita masing-masing, atau suatu harapan di masa depan, dan kita akan sembunyikan di pohon ini,” Takamina tersenyum.
“Ya… aku setuju padamu Takamina,” Itano dan Mayu kompak. “Aku setuju!” Acchan dan Jurina berbarengan. Mereka berlima menulis di seuatu kertas yang warnanya berbeda-beda. Acchan menulis di kertas yang berwarna merah, Takamina yang berwarna kuning, Itano berwarna hijau, Mayu berwarna jingga, dan Jurina memilih kertas yang berwarna biru, warna kesukaannya. Suatu harapan adalah, acuan untuk meraih masa depan. Yang membuat seseorang lemah adalah keputusasaan, yang membuat seseorang bersemangat adalah dorongan yang diberikan dari orang-orang yang dicintai.

Tokyo, 19 Januari 2016
Keempat sahabat itu segera ke luar dari stasiun. Terlihat muka lesu Acchan dan disusul dengan senyum kecut.
Takamina memegang bahu Acchan. “Kau kenapa?”
“Aku kehilangan uangku,” jawab Acchan.
“Rupanya, Dewi Fortuna belum memihakmu,” Itano tersenyum.
“Ya sudah, lupakan saja masalahmu! Kita tidak boleh terlihat lesu di depan Jurina nanti!” Mayu bertepuk tangan.

Rupanya, keempat sahabat itu tidak mengetahui persis di mana rumah Jurina. Padahal, keempat sahabat itu waktu dulu sering bermain dan belajar bersama di rumah Jurina. Sesekali Acchan berinisiatif untuk bertanya pada penduduk sekitar. Dan, dari bertanya tersebut, telah dipastikan bahwa rumah itu berada di dekat jalan besar.
Acchan mulai mengetuk pintu rumah dengan sopan. “Permisi, apakah ada orang di dalam?”
Terdengar tidak ada jawaban. Mayu berkerut alis. “Hm… coba kau ketuk sekali lagi!” Acchan mengetuknya sekali lagi. “Permisi,”

Pintu terbuka, terlihat wanita tua yang sedang memakai celemek hijaunya. Wajah wanita itu tidak asing bagi Acchan dan lainnya. Acchan terlihat melontarkan senyum lebar di wajahnya. “Hai Bibi, bagaimana kabar Bibi? Lalu bagaimana kabar Jurina sekarang? Apakah sekarang ia sudah bekerja?” cecar Acchan. Wanita itu menunduk dan menghela napas. “Ikutlah aku, masuklah ke rumah,” Ibu Jurina berjalan ke dalam rumah dan diikuti oleh Acchan dan lainnya. Ibu Jurina menceritakan semua yang telah terjadi, semenjak upacara hari kelulusan sekolah enam tahun silam.

“Jurina telah pergi meninggalkan kita semua. Jurina telah pergi enam tahun silam. Aku sangat ingat akan hari terakhirnya. Hari itu adalah, hari upacara kelulusan. Sepulangnya dari upacara itu, Jurina kejang-kejang dan aku berniat menelepon kalian, tapi Jurina menggeleng. Saat ditangani oleh dokter, nyawa Jurina tidak bisa terselamatkan. Jadi, Jurina tinggal kenangan. Jurina telah mengukir kenangan manis di pikiranku,” Acchan menggeleng akan semua cerita itu. Seakan ibu Jurina adalah pembohong besar. Namun, ini sudah takdir. Jurina telah membuat sepenggal hidupnya berarti bersama sahabat-sahabatnya.

“Jurina, Jurina,” Acchan bergumam lirih.
Takamina menghapus air matanya. “Di mana Jurina dimakamkan?”
“Pemakaman Itchada,” jawab ibu Jurina singkat.
“Kami harus ke sana!” tekad Mayu sembari berdiri.
“Iya, aku setuju pada Mayu!” Itano berdiri.

Pemakaman Itchada tampak sunyi. Keempat sahabat itu segera menaruh bunga di depan nisan Jurina. Keempat sahabat itu hanya bisa menangisi kepergian Jurina, walaupun terlambat dan hanya bisa memandangi nisan yang bertuliskan nama sahabatnya. Suasana duka juga menyelimuti keempatnya saat keempatnya datang kembali ke sekolahnya dulu. Terutama, pohon sakura di tengah tamanlah yang menjadi saksi keempat sahabat dan Jurina bertengkar, bercanda, menangis, dan juga bertemu untuk terakhir kalinya pada Jurina. Mereka berjalan dan memandangi pohon sakura itu. Secara cepat kertas berwarna biru muncul dan terbang di sekitar pohon itu. Acchan meraih dan membukanya. Ternyata, itu adalah surat yang ditulis oleh Jurina pada saat hari kelulusan mereka. Mereka berempat membacanya dengan bersandar di pohon sakura itu. Duka kembali mendominasi di tempat itu.

“For my best friends. Di bawah langit lembut musim semi. Dirimu pun mulai melangkah seorang diri. Masa depan yang dulu kau angankan. Menunggu dirimu melangkah maju. Saat kau menoleh ke belakang. Sembunyikan ragu di balik senyum itu. Tetes air mata di pipimu. Permulaan untuk kau bertambah dewasa. Bagaikan pohon sakura yang tak lekang waktu. Aku tak akan beranjak sedikit pun di sini. Suatu saat bila hatimu kehilangan arah. Aku kan menjadi penanda awal mula langkahmu. Suatu saat kau akan kembali ke lapangan sekolahmu, agar dirimu kembali menemukan, kilauan dirimu di hari kelulusan. Walau seluruh bunga sakuraku telah gugur, namun, sepasang dahanku akan selalu terulur untuk dirimu. Air mata bukanlah akhir dari segalanya, tapi, air mata adalah permulaan untuk menjadi lebih dewasa. -Jurina Matsui, 29 Juni 2010-

Persahabatan tidak ada yang sempurna. Yang ada adalah persahabatan yang penuh dengan pengorbanan dan kebahagiaan.

Cerpen Karangan: Bimadianiswara
Facebook: Bima Dianiswara

Cerpen Eternal Sakura (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dikala Indah Teringat Ayah

Oleh:
DUDUK SELALU di bangku bagian belakang. Semenjak kelas lima hingga naik kelas enam sekarang, tak pernah mataku melihat dia berada di bagian depan. Entah karena sudah diatur wali kelasnya

Otanjoubi Omedeto Gozaimasu

Oleh:
Namaku Reika, lengkapnya Origashi Reika. Aku anak kedua dari 4 bersaudara. Kakak pertamaku bernama Anama lalu Adikku yang pertama Yukka, dan yang kedua Lilyana. Orangtua kami selalu sibuk dengan

Medul dan Nedul (Part 2)

Oleh:
Sialnya itu cuman harapanku saja. Masalah ini semakin kronis saja. Selang 4 hari dari problem coklat itu. Amel kembali mengadukepada ku. Namun kali ini sepertinya Yoyo tidak bisa dimaafkan.

Aku Sudah Mati ?

Oleh:
Lia Widyawati Herlambang, begitulah nama panjang gadis berusia 18 tahun yang tengah berkuliah semester 2 ini. Ia mempunyai wajah cantik, berambut lurus sebahu dengan poni se-alis ala dora the

Lukisan di Hati

Oleh:
Aku ingin melukiskan dirimu, terutama senyuman manismu, layaknya leonardo da vinci yang telah berhasil melukiskan monalisa hingga sekarang dengan senyuman misteriusnya… Angin berdesir gemuruh ombak membahana, kicauan burung memperindah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Eternal Sakura (Part 2)”

  1. Andara Claresta Rabbani says:

    Cerpen nya bagus, juga cerpen nya menyentuh hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *