Fly High (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 April 2017

Bagi sebagian orang, sekolah bukan tempat yang menyenangkan. Begitu pula saat mereka mempunyai pengalaman yang pahit misalnya dibully. Mereka enggak akan menginjakkan kaki di sana. Ingin lari sekencang-kencangnya. Terbang tinggi sebebas-bebasnya. Dan berharap semuanya cepat berakhir.

3 tahun yang lalu…
Uvi masuk ke SMA Kartika 45 bersama dengan seorang temannya, Verly. Dulu saat mereka masih SMP, Verly pernah bersekolah bersama dengan Uvi di SMP Bunga Putih II. Tetapi saat mereka kelas 2, Verly pindah karena mengikuti orangtuanya dinas. Sekarang, mereka berada di kelas yang sama, 1-A. Dan mereka juga duduk bersama. Di sekolah, Verly adalah orang yang rajin, pintar, dan selalu mendapat peringkat pertama. Dia adalah anak yang aktif dan selalu melakukan semua tugas yang diberikan oleh guru. Dia selalu menjadi panutan dan disenangi teman-temannya. Banyak yang ingin menjadi sahabat dekatnya dan setiap ada diskusi kelompok, Verly selalu menjadi bahan perebutan. Tetapi Verly mempunyai sifat yang tidak diketahui oleh teman-temannya kecuali oleh Uvi yaitu Verly adalah seorang yang keras kepala, pendendam, egois, tidak mau kalah, dan selalu meremehkan teman-temannya. Dia selalu belajar mati-matian untuk mendapat peringkat satu agar semua teman-temannya memuji dan menyukainya. Dia pandai dalam memanipulasi teman-temannya Di depan teman-teman sekelasnya dia selalu terlihat baik dan menutupi semua keburukannya.

Berbeda dengan Verly, Uvi adalah anak rajin dan baik tetapi Uvi terlalu pendiam dan tidak terlalu pintar. Teman-temannya hanya beberapa, itu pun karena dia berkumpul dengan teman-teman Verly saat ada tugas berkelompok. Karena sifat pendiamnya, banyak yang tidak suka kepadanya. Mereka kadang seperti tidak menganggapnya ada. Mereka juga iri terhadap Uvi karena dia selalu berkelompok dengan Verly apalagi geng nakal yang ada dikelasnya padahal dia tidak bisa apa-apa dan tidak pintar. Mereka menganggap Uvi hanya memanfaatkan Verly. Tetapi Uvi cuek dan tidak mempedulikannya karena menganggap Verly adalah sahabat sejati dan sahabat terbaiknya.

Selain Verly, Uvi pun mempunyai sahabat laki-laki yang bernama Rafli. Rafli adalah yang terhebat dalam olahraga, walaupun nilai akademik Rafli tidak sebagus Uvi dan Verly. Mereka bertiga adalah sahabat sejak kecil dan sekarang mereka berada di sekolah dan kelas yang sama. Mereka selalu bersama-sama, baik saat mengerjakan tugas, belajar di perpustakaan, bahkan ke kantin pun mereka selalu bertiga. Namun, karena ada tugas sekolah yang mengharuskan Rafli pergi ke luar kota selama beberapa hari untuk mengikuti lomba. Karena kebersamaan mereka, Verly memiliki perasaan terhadap Rafli.

Di kelasnya juga ada anak yang bernama Zena, dia adalah orang yang baik, rajin, ramah, dan sangat pintar di kelas mereka. Walaupun Verly yang mendapat peringkat pertama, tetapi Zena lah yang selalu ahli di berbagai macam pelajaran. Hal itu membuat Verly kadang iri.

Ketika pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Lucky memberikan tugas membuat sebuah film kelompok kepada kelas 1-A. Karena jumlah siswa di 1-A ada 30 maka pembagian kelompok dilakukan dengan berhitung satu sampai 6. Masing-masing kelompok berisi 5 orang. Uvi berada di kelompok pertama. Sedangkan Verly berada di kelompok terakhir bersama dengan geng nakal, yaitu Lizzy, Hensa, dan Violine. Dan satu orang yang sangat Verly benci yaitu Zena.

Verly sangat kesal karena ia merasa tersaingi Zena. Verly kemudian bercerita kepada Uvi rencananya untuk mengerjai Zena. Ketika pulang sekolah, Verly menunggu Uvi yang sedang piket kelas di depan perpustakaan. “Hai, Vi…” sapa Verly sambil melambaikan tangan. “Hai… Lama yah? Sorry ya abis nyapu. Biasalah.. hehe” Uvi pun merangkul Verly sambil tersenyum. “Aelah.. Pembantu mingguan mah rajin banget hahaha..” ucap Verly sambil menepuk pundak Uvi. “Ya kali gua gitu, hahaha..”
“Oh ya Vi, lo tau kan Zena? Ya ampun.. masa iya sih gua sekelompok sama dia? Lo tau lah dia sok-sokannya kaya gimana. Gua nggak mau dia lebih diandelin dari gua. Gua nggak terima dia sekelompok sama gua. Gua bakalan ngerjain dia abis-abisan kalo sampe dia macem-macem dan bla bla bla bla…” Verly terus berbicara panjang lebar. Dia berbicara sampai jalan menuju halte sekolah. Tetapi Uvi cuek dan terus berjalan sambil memakai headsetnya untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.

Sesampainya di halte…
“Jadi gimana, Vi? Lo setuju nggak? Heh Vi… denger nggak sih?” Verly pun melepas headset yang ada di telinga Uvi. “Hah? Apaan?” tanya Uvi kebingungan dan dia hanya membuka mulut dan mengangkat satu alisnya ke atas.
“Ah lo mah emang sama dari dulu. Otaknya nggak konek terus.. Hahaha. Ya udah sanah pulang aja, udah ada bus tuh ntar mamah lo nyariin, gua yang kena lagi dikira ngumpetin lo. Hahhaaha..”
“Hahaha.. lanjut besok deh ya. Bye.” Kemudian, Uvi pulang ke rumah seperti biasa. Di rumah, Uvi tidak terlalu memikirkan apa yang Verly katakan. Dia fokus terhadap tugas matematika yang harus dikumpulkan besok.

Keesokan harinya..
Uvi berjalan menuju ruang kelas. Namun, dia tidak melihat Verly di kelas. Kemudian dia membaca buku pelajaran untuk ulangan hari ini dan mengecek kembali tugas matematikanya. Kemudian ia melihat Verly berjalan menuju kelas bersama geng nakal yang ada di kelasnya itu.

Kemudian, bel masuk berbunyi. Semua anak berlari menuju tempat duduk masing-masing. Ibu Musdian memasuki ruang kelas untuk mengajar matematika. “Selamat pagi, anak-anak. Bagaimana tugas yang ibu berikan? Sudah dikerjakan?” Ibu Musdian mengeluarkan beberapa buku dan spidol untuk menulis di papan tulis.
Verly membuka tasnya dan berteriak “Buku tugas gua dimana ya? Kok nggak ada sih. Eh Uvi, lo tau nggak? Kok di sini nggak ada sih? Perasaan udah gua taruh disini deh.” Verly panik dan memberantakan semua yang ada di dalam tasnya. “Kenapa kamu ribut Verly? Ada apa?” Bu Musdian pun berdiri kemudian mendekati meja Verly.
“Itu, Bu. Buku tugas matematika aku ilang. Padahal aku taruh diatas tas, Bu. Disini ada buku biologi, buku tugas matematika, sama buku ulangan biologi, Bu. Tapi yang ilang cuma buku tugas matematika, Bu. Aku cari di tas nggak ada, Bu.” Verly masih terus panik, matanya berkaca-kaca dan menunjukkan terakhir kali ia meletakkan bukunya.
Bu Musdian bertanya kepada Uvi, “Kamu tau buku tugas matematika Verly?” “Tidak, Bu. Saya berangkat terakhir dan tidak ada buku sama sekali di sini, Bu.” Jawab Uvi dengan yakin. Bu Musdian memutuskan untuk memeriksa semua tas yang ada di kelas ini. “Karena ada kejadian ini, Ibu akan memeriksa semua tas yang ada di kelas ini. Verly kamu ke depan. Semua siswa berdiri dan keluarkan semua buku kalian sekarang.”

Semua siswa berdiri dan mengeluarkan semua buku yang ada di tas mereka. Tiba-tiba saat Zena mengeluarkan buku tugasnya, Verly tersentak dan berteriak “Bu, itu buku saya. Itu bu yang di pegang sama Zena.” Bu Musdian tersentak dan heran. “Kamu serius, Verly?” “Seratus persen serius bu. Itu buku saya.” Bu Musdian pun berjalan menuju meja Zena. “Maaf, Bu. Tetapi ini buku saya, Bu.” Ucap Zena dengan lirih. “Coba sini ibu cek dulu.”
Bu Musdian tersentak lagi setelah mengecek buku tugas itu karena memang benar ini adalah buku Verly. “Benar, ini adalah buku Verly. Kenapa kamu melakukan ini, Zena?”
Zena kaget dan langsung duduk lemas dibangkunya. “Hah? Saya tidak pernah mencuri, Bu.” “Yakin lo? Bukti udah ada. Lo nggak mau ngaku?” sindir Hensa. “Tapi jujur, Bu. Saya benar-benar tidak tahu itu buku Verly.” “Mana ada maling ngaku, kalo ngaku penjara penuh kali, hahahaha” Seluruh siswa tertawa. “Sudah, sudah. Nanti akan ibu selesaikan. Sekarang kembali ke pelajaran. Buka buku paket kalian hal 89 kerjakan semua soal di selembar kertas kemudian dikumpulkan. Ibu ada tugas sekolah yang harus diurus. Jadi, mohon kerjasamanya. Untuk Zena, setelah jam pelajaran selesai kamu ke ruangan saya ya.” Bu Musdian mengakhiri pelajarannya dan meninggalkan kelas.

Geng nakal mendekati Zena. “Heh Zena cupu!! dasar yah maling. Periksa mata, kacamata lo tambah tebel kali. Lo ngapain ngambil buku Verly trus lo ngaku itu buku lo. Mentang-mentang lo kalah pinter gitu dari Verly trus lo mau ngambil segalanya dari Verly. Helloww.. lo itu harusnya sadar. Lo itu nggak ada apa-apanya dibanding Verly.” ucap Lizzy sambil menarik-narik rambut Zena.
“Lepasin aku.. lepas… Sumpah, aku nggak tau. Tiba-tiba ada buku Verly di tas aku, aku juga nggak tau kalo itu tugas Matematikanya Verly.” Zena terus menangis dan mencoba untuk menghentikan pembullyan itu.
Tiba-tiba… Tidak tahan atas perlakuan geng nakal tersebut, Uvi berlari menuju bangku Zena dan mencoba menghentikan pembullyan itu. “Stopppp… Kalian itu apa-apaan sih. Zena kamu nggak papa?” Teriak Uvi. Kemudian Uvi melepaskan tangan Lizzy yang menarik rambut Zena dan memeluk Zena.

Verly berjalan dengan anggun menuju bangku Zena yang ada di belakangnya dan duduk di atas meja. “Eh Uvi, gak usah sok jadi pahlawan, nggak usah sok ngebelain Zena deh. Zena tuh udah jelas-jelas salah. Liat buku gua ada di tas dia itu maksudnya apalagi kalo nggak ngaku itu tugas dia. Liat ini tulisan gua, tapi namanya dia.” Ucap Verly dengan nada lembut sambil memegang buku tugas matematikanya yang diganti nama menjadi Zena Azaeni Fadillah kemudian melemparnya kearah Zena.
“Emang kalian punya bukti kalo Zena yang ngambil buku itu dari tas Verly sampe-sampe kalian kaya gini sama Zena hah?” Uvi berdiri berusaha melawan.
Kemudian Violine ikut duduk di meja di samping Verly. “Bhakk.. sejak kapan lo berani ngelawan Verly, hah? Kok lo jadi temen nggak tau diri sih. Verly lagi ada masalah lo malah ngehianatin temen lo sendiri. Bukannya selama ini Verly ngebantuin lo ya? Ohya lo kan cuma manfaatin Verly. Ya kan? Dimana-dimana orang tuh harus tahu diri!” Violine mencengkram dagu Uvi dan menatapnya dengan sinis.
“Gua nggak pernah sekalipun manfaatin Verly. Verly yang maunya kelompokan sama gua. Gua emang nggak sehebat kalian tapi gua nggak terima kalo ada orang yang belum tentu salah ditindas kaya gini. Gua nggak bakal biarin lo semua bully orang yang nggak bersalah cuma gara-gara Zena lebih pinter dari kalian.” Uvi menatap Violine dengan berani. Violine melepaskan tangannya pelan-pelan, kemudian bertepuk tangan. “Udah berani lo ya sekarang. Jadi lo yang mau kita bully buat gantiin dia hah?” Violine mendorong Uvi sampai terjatuh. Verly yang melihat kejadian tersebut merasa kasihan terhadap Uvi tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Udah ah guys. Kita ke kantin aja yuk. nggak usah ngurusin anak-anak cupu ini.” Ajak Hensa dengan menggandeng Verly dan Violine. Mereka pun keluar dan berjalan menuju kantin.

Uvi tidak menyangka bahwa sahabat yang ia kenal dulu menjadi berubah setelah berteman dengan geng nakal tersebut. Dia sangat merasa kasihan kepada Zena yang difitnah dan dipermalukan di depan kelas padahal Uvi yakin bahwa Zena bukanlah orang yang seperti itu. Zena justru diam, dia tidak seperti biasa. Biasanya, saat ia disalahkan pasti dia akan membela diri. Tetapi tidak ketika berhadapan dengan Verly.
Semua siswa melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh geng nakal tersebut kepada Zena dan Uvi, tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Banyak dari mereka yang sibuk dengan urusan masing-masing dan banyak pula yang hanya menonton, menganggap bahwa bullying yang dilakukan oleh geng nakal itu sebagai suatu hiburan.

Saat geng nakal tersebut menuju ke kantin, Verly menceritakan seluruh perasaannya setelah ia melihat Violine mendorong Uvi hingga terjatuh. “Lin, jujur gua nggak enak sih sama si Uvi. Ya lo tau lah gua sama dia kaya gimana. Masa gua gitu ke sahabat gua sendiri.? Dia juga nggak denger kayanya rencana gua buat ngerjain Zena.” Violine menghentikan langkahnya dan kemudian menatap Verly, “Helow baby… Uvi itu ngebelain Zena. Emangnya lo nggak kesel apa ngeliat sahabat lo hianatin lo kaya gitu. So think, jangan mau diinjek. Kita yang harus nginjek. Okey? Biarin aja Uvi nggak tau rencana kita, karena lo tau lah Uvi itu terlalu baik malah yang ada rencana kita gagal.” Verly berpikir sejenak, “Hm… bener juga sih, ya udah ah ayo kantin. Laper nih.” Verly berlari menuju ibu kantin dan memesan makanan. Mereka duduk di meja pojok yang terdapat kipas angin, itu merupakan tempat favorit geng nakal apalagi setelah jam olahraga. Mereka selalu menyingkirkan dan mengusir semua siswa yang duduk di tempat itu. Bahkan mereka menandai meja dengan tulisan-tulisan ancaman bagi orang yang duduk di bangku itu kecuali mereka.

Cerpen Karangan: Salshabila Dhani Chasanah
Facebook: Salshabiladch

Cerpen Fly High (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tiga Lilin

Oleh:
Tiga orang gadis yang bernama narumi furusawa, namika kanada dan arisa arakida sedang terlelap. Mereka menyembunyikan wajahnya dalam lipatan kedua tangan yang diletakkan di atas meja. Walau tidur di

Dari Daun Pintu Kamarmu

Oleh:
Tak seharusnya kau begitu, terus-menerus bahkan tak pernah lelah memanjakanku. Setiap pagi kau tak pernah alpha mengantarkan teh hangat untukku, anakmu yang sudah tak berdaya ini. Kau juga terbiasa

Si Anak Baru

Oleh:
Di sekolah Merli ada anak baru, lalu Merli menceritakan hal itu pada kakaknya. Topik yang sama Merli ungkapkan lagi di sekolah bersama dengan teman-temannya, semacam gunjingan ibu-ibu arisan. “hari

Cintailah Cinta

Oleh:
Di pojok bangku belakang. Anak laki-laki super tajir duduk di sana. Dalam ruangan kelas mewah. Anak baru nan cantik dan sholihah duduk di depannya. Sembari memanggil nama depan cewek

Angga

Oleh:
Dia adalah Angga, anak sekolah yang sering tidur di kelas. Bahkan, teman-temannya sering memanggilnya tumor -tukang molor. Suatu ketika dia ketiduran hingga jam pelajaran usai, untungnya Niwi segera membangunkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *