Gelap Namun Bercahaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 July 2014

Terbawa arus kehidupan yang tidak pernah brhenti. Terbawa gelap malam pekat yang selalu memberi rasa tidak aman. Apa bulan merupakan simbol kegelapan? Apa matahari simbol cahaya? Tidak ada jawabannya, mereka berdua bercahaya di tempat yang berbeda.

Hari tidak mengenal kata berhenti saat Tuhan masih memberi masa aktifnya. Namun banyak yang menginginkan hari berakhir, karena ketidakadilan yang mereka terima, kesusahan yang mereka alami, kenistaan yang mereka alami. Hati mereka remuk redam lebih sakit daripada ditusuk 1000 tombak pasukan yunani.

Aku salah satu orang yang ingin hari itu berhenti. Keadilan hanya sebuah kata untuk mengelabui orang-orang awam yang sangat berharap pada sebuah kebebasan.

Di pinggiran kota, di samping bantaran sungai yang baunya lebih buruk dari kotoran manusia, di bawah pohon-pohon tanpa buah yang besar bagai di hutan rimba, di sinilah aku tinggal, bersama orang-orang yang mengharapkan “hari” akan berakhir.

Rumah kami beratapkan langit, berlantaikan tanah, dan tidak ada yang peduli dengan kami. Terkadang ‘kepala suku’ kami datang tengah malam dan membawakan makanan untuk para anak-anak sepertiku, entah dia mendapatkannya dengan cara seperti apa, jika tidak mencuri yah mengambil.

“Reno, kalau kau sudah besar, kau mau jadi apa?” Tanya salah satu bocah yang seumuran denganku.
kami sedang menatap ‘atap’ kami “Aku ingin menjadi orang yang bisa meretakkan langit” jawabku, “kenapa?” Tanyanya lagi “karena langit selalu memberiku ketidak amanan, langit selalu memberi hujan yang membuat kelompok kita kedinginan, langit yang membuat kelompok kita menjadi kepanasan saat dia bersekongkol dengan matahari” dia terdiam sejenak mendengar jawabanku yang cukup menyeramkan.

“Kalau begitu aku akan membantumu” kata bocah yang bernama andrew itu, posisi rebahannya kini menyamping, sambil membuat bantal dari tangan kurusnya, dia tidur dengan berselimutkan angin.

Hari-hari berlalu, masih dengan cambukkan rasa ketidak adillan. Suatu malam aku bermain dengan anak-anak bocah yang lainnya, tidak tahu memainkan apa yang penting kita senang dan tertawa bersama, tiba-tiba pandanganku terarah pada satu tanjakan yang tinggi namun tidak kelihatan apa yang ada di seberang tanjakan itu “apa kau tahu tanjakan itu akan membawa kita kemana?” Tanyaku, yang penasaran dengan tanjakan bak gunung di mataku.

“Itu tanjakan menuju kota. Aku suka melihat kepala suku pergi lewat situ dan pulang dengan membawa makanan” cerita salah satu temanku. Dengan rasa penasaran ala anak kecil, aku mencoba memanjat tanjakan itu, ingin melihat apa itu ‘kota’.

Dengan susah payah aku menaiki tanah-tanah bergerigi, tapi itu tidak menyurutkan semangatku. Perjuanganku sudah mencapai garis finish, aku melihat di depan mataku, ada lampu yang disangkutkan di tiang yang tinggi dan berjejer rapih, ada berpuluh bahkan beratus ratus bangunan yang tinggi dan besar berbentuk kotak, bundar, oval dengan ribuan kunang-kunang yang menempel pada bangunan itu.

Tapi ada 1 tempat yang mengambil perhatianku, sebuah bangunan dengan tulisan ‘hospital’, tepat di turunan tempat aku mengintip. Dari atas aku bisa melihat banyak orang yang berlalu lalang dengan panik masuk dan keluar dari bangunan itu, ada orang yang diletakkan di tempat tidur yang bisa berjalan, dan ada orang yang duduk di kursi yang bisa berjalan juga, wajah mereka murung dan tidak semangat, aku lebih sering mendengar jeritan dan tangisan dari dalam situ.

Berjam-jam aku memandangi tempat itu dan tidak ada habisnya orang yang berlalu lalang, sampai mataku tertuju pada seorang anak perempuan kecil didampingi oleh ibunya masuk ke bangunan itu, beberapa jam aku masih memandangi bangunan yang terang benderang, dan anak perempuan kecil itu keluar dari rumah sakit.

Mataku sudah mulai terkatup, aku memutuskan turun dari puncak menyenangkan itu dan kembali tidur dengan berselimutkan angin. Beberapa hari sampai beberapa minggu, setiap malam aku selalu memandangi rumah sakit itu dan selalu melihat anak kecil perempuan yang di hari pertama menarik perhatianku.

Hari ke 20, aku tidak bosan-bosan memandangi pemandangan ini, tidak menghiraukan ajakan teman temanku untuk bermain di kubangan lumpur.

Seperti biasa aku melihat gadis kecil dengan kuncir 2 mungil di rambutnya memasuki rumah sakit itu, tapi kali ini ada yang aneh, saat keluar dari rumah sakit hanya ibunya yang terlihat, tidak ada gadis kecilnya. Aku menunggu sampai besok dan yang datang hanya ibunya lagi dan saat keluar hanya ibunya lagi. Entah ada bisikkan darimana, aku ingin menuruni puncak ini dan mencoba bertemu dengan gadis itu, walaupun kepala suku suka menakuti nakuti kami dengan cerita harimau bertaring dan beruang hitam yang berkeliaran di sebrang puncak ini, tapi kali ini aku tau dia berbohong.

Aku memberanikan diri, melompati pembatas yang terbuat dari besi yang sudah lapuk. Kakiku yang tanpa alas terseret rerumputan tajam saat mencoba turun, tapi akhirnya aku berhasil menuju sampai bawah. Rasanya sangat berbeda saat memandang dari atas, aku sedikit bingung mencari pintu masuk ke dalam bangunan ini. Aku menunggu ada orang dan mencoba mengikutinya, aku berhasil masuk ke dalam, dan mataku terbelalak.

Tempat ini sangat indah, cahaya ada di mana-mana, tidak ada satu pun sudut yang gelap, semua orang akan merasa aman di sini, biarpun ada bau-bau menyengat yang tidak pernah kutemui sebelumnya, aku mencoba berjalan lebih ke dalam. Di depan pintu yang berjejer terdapat nama dan fotonya, aku berjalan dari alfabet A sampai aku terhenti pada alfabet C, di mana terdapat nama “Cindy” dan foto gadis kecil dengan kuncirannya.

Aku mendorong pintu yang dingin itu dengan bahuku, dan pintu itu terbuka sedikit, aku tidak melewatkan celah kecil itu. Di dalam ruangan yang aku masuki, aku melihat gadis itu sedang tenang melihat sesuatu yang kotak dan di dalamnya terdapat gambar yang bergerak-gerak, sekilas dia melihatku dan terus memandangiku, aku melihat wajahnya yang ternyata sangat cantik dilihat dari dekat, rambutnya digerai tanpa kunciran “kau siapa?” Dia bertanya, suaranya sangat indah sampai aku bisa merasakan lewat kalbuku.

Aku canggung dan menjawab “aku.. Re.. Reno..” “mendekatlah” ajaknya pada lelaki kumal sepertiku, aku mencoba mendekat “Kau kenapa bisa ada disini dan begitu kotor?” Tanyanya lagi “aku selalu memperhatikanmu dari atas” kataku.

“kau malaikat?”
“Apa itu?”
“Hhmm.. titisan Tuhan yang bersifat baik” jawabnya “oh.. Tuhan.. hubunganku tidak baik dengannya, aku membencinya” kata ku.
“aku juga” ucapnya yang membuat aku bertanya “apa alasanmu membencinya?”
“Kesehatanku, keluargaku, dan pengabaian doaku padanya”
“memangnya ada apa dengan kesehatanmu?” Tanya ku penasaran
“aku lemah sejak lahir, penyakit apapun kerap mendatangiku dan membuat aku sangat tidak nyaman”
“lalu ada apa dengan keluargamu?” Tanyaku lagi “keluargaku tidak terlalu memperhatikanku, aku tidak pernah dirawat di rumah. Aku dibilang menyusahkan mereka, jadi aku ditaruh di tempat ini, agar tidak merepotkan mereka”
“lalu ada apa dengan doa tak terkabulmu?” Tanyaku lagi untuk yang ketiga kalinya

“aku selalu berdoa pada Tuhan, agar kesehatanku membaik dan keluargaku memperhatikanku. Tapi tidak terkabul.. aku berharap ‘hari’ akan berakhir” tersentak aku kaget mendengar kata-katanya yang persis dengan keinginanku “Ti.. tidak boleh” ucapku terbata-bata “kenapa?” Tanyanya “hari.. tidak boleh berakhir.. karena aku yakin.. doamu akan terkabul” bicara apa aku ini, mungkin di dunia ini aku yang paling ingin hari akan berakhir, tapi saat ada orang yang sepemikiran denganku, aku malah melarangnya.

Dia tersenyum kecil, lekukan bibirnya sangat mungil “baiklah.. mungkin aku bisa menunggu beberapa hari lagi supaya doaku terkabul” senyumnya lagi. Aku melihat jendela yang menuju pekarangan tempat aku mendarat, aku pamit dengannya lewat jendela itu dan kembali ke rumahku.

Berhari-hari aku menemuinya melompati pagar pembatas itu, sampai aku ingin mencoba kehidupan yang ada di kota. Aku mengenal apa itu Tv, mobil, motor, pesawat terbang dan hal lainnya yang tidak aku dapati saat berada di kelompokku.

Bertahun-tahun aku meninggalkan kelompokku dan mencoba di lingkungan yang baru dan terlebih lagi aku bisa bertemu dengan Cindy. Aku baru mengenal apa itu uang, aku mencoba mencari cara untuk mendapatkan uang, dari menjadi tukang parkir, membantu kuli bangunan, menjaga peternakan, sampai menjadi pembersih taman.

Umurku kini 10 tahun, dan bekerja sebagai tukang sapu jalanan. Malam ini begitu temaram, lampu taman yang biasa menyala terang kini mati hidup mati hidup, sebuah gerombolan anak sebayaku dengan cepat berlari di hadapanku sampai aku terjatuh, dari belakang terlihat orangtua yang meneriaki gerombolan itu “berhenti, pencuri!!” Tukasnya, aku mencoba berlari mengejar mereka, aku hampir mendapati mereka di sebuah lorong kecil, tapi salah satu anak itu berhenti dan memberiku barang curiannya yang berupa roti gandum “kau lapar, kan?” Tanyanya, aku terdiam “ikut kami” ajaknya, aku terdiam dan mengikuti gerombolan itu sampai di suatu gang sepi, mereka membagi-bagikan makanan hasil curian dan memakannya bersama-sama.

“Re.. Reno?!” Ucap salah satu anak dalam gerombolan itu.

“ya .? Siapa kau?” Tanyaku bingung “aku Andrew!” Tenggorokanku seperti tersedak mendengar pengenalannya.

“aku mengikuti langkahmu yang lari dari rumah dan mencoba hidup disini. Aku tidak menyangka bertemu denganmu” ceritanya “lalu kau mencuri?” Tanyaku “iya. Sama seperti apa yang dilakukan kepala suku untuk kita” jawabnya.

“bergabunglah dengan kami.” Ajaknya, aku menerima ajakan itu, kami mencuri makanan kecil dari supermarket dan kebutuhan lainnya seperti selimut dan bantal kecil agar bisa tidur dengan nyaman. Seiring bertambahnya umur, kami mencuri yang lebih besar, dari mencuri motor, mobil, sampai senjata, dan kami bisa mendapat banyak uang dari bank dengan merampoknya.

Doa Cindy mulai terkabul, aku tetap menjaga hubunganku dengannya sejak kecil, dia berhasil menyelesaikan kuliahnya di universitas ternama, dan aku berhasil merampok dari bank ternama, serupa tapi tak sama. Sampai umur ku 22 tahun. kami berdua menyatakan cinta yang mulai tumbuh sejak pertemuan di rumah sakit, aku menjelaskan profesiku dan dia mengerti dan tidak merubah perasaannya.

Keluarganya sama sekali tidak menerimaku, namun Cindy bersedia dibawa lari olehku kalau aku mengubah profesiku itu, aku bersedia. kami kawin lari, menikah dengan didoakan oleh 1 orang pastur di sebuah gereja, angin yang berhembuslah yang menjadi saksi 2 insan yang sedang dilumpuhkan keagungan cinta saat ini.

Aku membeli sebuah apartemen dari hasil merampok dan mencoba menjauh dari kelompok perampokku. Pagi itu aku sedang merekam Cindy dengan perut yang sudah 7 bulan mengandung anakku, aku merekamnya dengan riang, ciuman demi ciuman di layangkannya untukku, aku mencium perut yang mengembung itu.

“Ting tong” bunyi bel pintu memecahkan kemesraan kami berdua, kubuka pintu itu dan terlihat teman-temanku atau kelompok perampokku, kami berpelukan 1 sama lain, mengobrol sedikit dan mereka mengajakku untuk merampok bank untuk yang terakhir kalinya, saat itu keuanganku sudah mulai menipis, aku menerima ajakannya, walaupun Cindy melarangku sampai air matanya meleleh, meneriaki “Renooo!!” Saat aku di ambang pintu keluar, tapi bagaimanapun aku harus mendapat uang untuk biaya persalinan Cindy.

Kami memakai masker pencuri kami, sudah hampir setahun aku tidak memakainya lagi. Kami mulai melakukan aksi kami, tapi sialnya, bank ini merupakan bank yang sebelumnya prnah kami rampok, mereka sudah berbenah, kami benar-benar dikepung oleh polisi. Aku menemukan jalan keluar lain, dan di depan pintu aku menyuruh teman-temanku untuk keluar lebih dulu dan aku yang terakhir, tapi aku yang tertangkap oleh polisi, teman-temanku meninggalkanku, kedua tanganku dibekap ke belakang, aku dibawa ke dalam mobil polisi dengan kamera bertebaran dimana-mana, aku rasa aku masuk tv dan aku merasa Cindy semakin menangis melihat tv yang sedang meliput perampokan.

Aku dibawa ke dalam penjara Alcatraz, San Fransisco. Di dalam penjara yang sangat dingin dan terkekang itu membuat aku mensyukuri rumahku pada waktu kecil. Cindy datang menemuiku, perutnya yang sudah membesar harusnya tidak diperbolehkan untuk berjalan-jalan.

Kami berkomunikasi lewat telepon dengan kaca pembatas, kami sedikit bertengkar di situ dan dia pergi. Beberapa hari temanku datang, Andrew. Dia minta maaf karena saat itu dia kabur, membuat aku terjebak di sini, tapi selanjutnya andrew bicara dengan kalimat yang membuat sanubariku pecah dan menghitam “Cindy.. telah meninggal.. akibat kecelakan setelah menjengukmu beberapa hari yang lalu”.

Telepon yang aku genggam terlepas dari genggamanku, aku berteriak seperti harimau yang kelaparan, “Tidak mungkin!! Kau jangan berbohong!” raungku.

Beberapa hari kemudian aku diperbolehkan untuk berziarah ke makam Cindy, istriku. Aku tidak kuasa menahan tangis, tenggorokanku tercekik sejadi-jadinya, kepalaku kutempelkan pada batu nisannya. Waktuku tidak lama, aku kembali ke dalam sel. Cambuk Ketidak adilan kembali menghampiriku, aku menyesali saat pertama kali aku penasaran dengan tanjakan itu, harusnya aku tidak kesana, harusnya aku terus berharap agar ‘hari’ akan berakhir, harusnya aku tidak bertemu dengan Cindy. Aku sempat menginginkan hari terus berlanjut, tapi kali ini.. aku benar benar berharap hari akan berakhir.. dan..

“PIIP PIIP PIIP!!!” Bunyi alarm membangunkanku dari mimpi yang seolah berjalan 22 tahun itu, mataku berair seperti ingin menangis, aku melihat di sampingku, istriku Vella, masih tertidur pulas, kucium keningnya dengan sedikit ketakutan yang masih menyelimutiku.

“Aku Adi.. kenapa di dalam mimpi aku menyebut diriku Reno..?” Aku masih bingung setengah mati dengan jalan mimpi yang tadi kualami, mimpi itu begitu nyata.

Tiba-tiba aku ingin melihat album foto yang terdapat di lemari reot yang sudah jarang di pakai. Kubuka album yang penuh debu itu, halaman demi halaman tidak ada yang menarik perhatianku sampai ada foto 2 anak bayi berumur 3 tahun, mereka seperti duplikat, tidak ada perbedaan sama sekali, aku melihat sticker nama yang tertera di kedua bayi itu “Adi” dan “Reno” aku baru menyadari saudara kembarku, Reno.

Saat umur kami 3 tahun, keluarga kami akan melakukan penerbangan dari Manchester menuju Amerika, tapi penerbangan kami mengalami kecelakaan. Keluarga kami semua selamat kecuali Reno, dia hilang, semua keluarga menganggapnya telah meninggal, tapi aku ragu. Saat aku mulai dewasa, aku mencoba untuk menerima kematiannya, tapi kini aku ragu kembali.

Aku melaksanakan penerbangan menuju San Francisco, Amerika. Aku menghampiri penjara Alcatraz dan menanyakan tentang narapidana yang bernama “Reno” dan ternyata memang ada!! Tapi dia telah meninggal 1 tahun yang lalu akibat bunuh diri di dalam sel. Aku mencoba mencari pemakaman yang persis seperti di dalam mimpiku, dan ternyata ada, aku melihat makam Reno dan Cindy bersebelahan. Kini aku yakin, Reno saat itu tidak meninggal, dia hanya hilang. Adikku, mencoba memperlihatkan kisahnya hidupnya yang pilu kepadaku. Aku menangis di depan makamnya, caranya memperlihatkan kisah hidupnya sangat terasa olehku. Keinginannya untuk menghancurkan langit.. hari yang berakhir.. Aku tidak sanggup menahan kehidupan seperti adikku. Hidupnya Gelap.. dan sempat bercahaya.. namun kembali gelap.

Cerpen Karangan: Reza Reinaldo
Blog: rezar31.tumblr.com
Facebook: rezareinaldo[-at-]yahoo.com
Reza Reinaldo
Lahir di Jakarta pada tanggal 31 Juli 1996.

Cerpen Gelap Namun Bercahaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


3 sekawan dan Gadis Berjubah Merah

Oleh:
Triple best friend bernama Safari Anatasya Sarah dipanggil sara, gadis ini berumur 17 tahun lho.. Tepatnya 3 SMA. Anisya Rizqia tasya dipanggil Icha berumur 16 tahun tepatnya kelas 2

Ukir dan Tono

Oleh:
Dua sahabat Ukir dan Tono, ikatan persahabatan mereka begitu erat semenjak 3 tahun terakhir dari mulai awal masuk SMP hingga kini sudah lulus, meski banyak perbedaan di antara mereka,

Sepatu Balet Valerina

Oleh:
“Lalalalala…Lalalala..” Senandung Valerina sambil mendengarkan kotak musik miliknya. “Syalala…Syalala..” mulut kecilnya bersenandung menirukan suara asli dari kotak musiknya. Tiba-tiba terlintas ide di benak Valerina. Ya! Sepatu balet. Dia mengambilnya

Maksimum Dive – Beginning

Oleh:
Kalian tahu ketika kita memiliki kekuatan besar maka segala kehidupan kita akan berubah. Namaku adalah Arya bisa dibilang aku adalah seorang penyendiri. Yah di sekolah aku memang tidak mempunyai

Sister, I Love You

Oleh:
“Cengeng!” Kakakku dengan wajah murka, pergi meninggalkanku. Aku masih terisak-isak, jongkok di sudut kamar. Memang sudah sifatnya memarahi aku terus. Dan… Ia sering mengataiku cengeng! Tapi memang kenyataannya aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Gelap Namun Bercahaya”

  1. Fajriansyah says:

    Saya suka ceritanya sejak bagian awal, benar-benar menceritakan potret orang pinggiran. Tapi, ketika mulai bagian tengah, kenapa saya jadi berpikir ceritanya mirip sekali dengan video clip Avenged Sevenfold yang berjudul Seize The Day. Tapi di bagian akhir saya suka twistnya.

  2. aje aja says:

    Kisah bsa brasal dari apa saja.. Tp aku td brfkirnya si reno adalah malaikat atau apa.. Bgus sih, tp dlam pesan moralnya tdk bsa d ambil plajaran.. “Ngrampok” buat nikahin anak orang.. Klo mngambil kultur masyarakat indo, sya rasa dri ujung barat smpai ujung timur negeri ini, klakuan itu brtntangan dngan norna2nya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *