Gerimis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 January 2014

HARI itu adalah hari terakhir aku bersekolah. Hari yang ditunggu-tunggu sekaligus hari yang paling kubenci seumur hidupku. Hari yang paling dinanti semua teman di kelasku, karena setelah itu mereka berpikir bahwa mereka tak akan belajar lagi. Hari besar yang membuat detak jantungku berdetak tak biasa untuk kali ini. Hari Perpisahan. Itu namanya. Mengingatnya saja selalu membuatku berkeringat. Tak ada yang istimewa dari hari ini. Tak ada yang membuatku bahagia. Aku yakin itu. Yang kurasakan hanya ucapan-ucapan selamat tinggal. Yang terdengar pahit bila dirasakan. Kemudian tangis para gadis. Yang mengundang tawa di balik kelabu. Dan bekal ilmu yang seakan sudah siap untuk terjun ke alam manusia dewasa. Hanya itu yang terpikirkan olehku. Tak ada yang lain. Selebihnya, bila hari ini berakhir, setelah lonceng tanda akhir perpisahan dibunyikan, maka aku akan berdiam diri di kamarku. Sendirian sambil menatap butiran-butiran air hujan di kaca jendela. Merengutkan wajah tanpa melepaskan pandangan dari sana, seraya berhitung satu demi satu tetesan hujan itu turun jatuh ke kusennya.

Aku berhitung. Ya. Berhitung. Menghitung semua kenangan-kenangan yang, bisa kubilang, tak pernah kupikirkan sebelumnya akan terjadi padaku bersama sahabat-sahabatku dulu di sekolah.

Aku sama sekali tak pernah membayangkan, bahwa ternyata aku adalah salah satu dari sedikit orang yang beruntung yang diberi kesempatan menikmati kenangan-kenangan di sekolah sampai ke tingkat SMA. Jujur saja, selama ini aku tak pernah bisa melupakannya: serpihan ingatanku tentang teman-teman SD-ku, yang lahir sama denganku, punya tawa dan tangis, punya teman-teman yang saling peduli sebelumnya, namun diberhentikan dari kehidupan dunia saat kelas 4, atau sekedar keluar dari sekolah karena harus mencari uang untuk mengobati ayahnya yang sedang sakit parah. Atau tentang teman SMP-ku, yang ditakdirkan hidup hanya sampai usia 13 tahun. Wajahnya yang polos dan ceria masih bercanda denganku waktu itu. Namun keesokan harinya aku berada di antara kerumunan orang, berdiri diam menatap dirinya yang sudah terbujur kaku di tengah jalan, dengan selembar kain putih menutupi wajahnya dan cairan berwarna merah mengalir seperti sungai di sekujur tubuhnya. Atau teman SMA-ku, yang terlalu miris untuk dikenang, yang bahkan hanya tinggal beberapa hari lagi untuk mencicipi naskah Ujian Nasional, namun takdir berkata lain padanya. Takdir jiwanya yang kutahu selalu mengumbar senyuman itu tak pernah ku mengerti secara logika sampai sekarang. Aku tak kuat membayangkan tangis seperti apa yang dikeluarkan ibunya, atau ayahnya, yang dapat kupastikan bahwa ia sudah memiliki tujuan-tujuan hidup bila sudah lulus nanti.

Aku tak bisa melupakan semua itu. Walau aku tahu, memang semua sudah berjalan dengan guratan-guratan takdir yang sudah terlukis, tapi aku belum bisa mempercayai semua itu terjadi padaku dan duniaku. Dan dunia mereka, kehidupan teman-temanku yang tersisa. Aku sama sekali belum bisa.

Karena itulah aku hanya bisa mengernyitkan dahi, sambil mendekap lutut, dan menopang dagu, seperti sedang menunggu seseorang yang akan menyadarkan lamunanku suatu saat nanti.

Seperti di hari ini, saat hujan turun dengan deras di luar sana, aku berbaring diam. Kenangan tentang Hari Perpisahan tadi siang sudah membuat pertahananku runtuh seutuhnya. Mengenang segala sesuatu yang kulalui bila melihat kebisingan canda dan tawa. Selama tiga tahun ini. Di sekolah yang telah membuat kami bersama-sama tumbuh dewasa ini.

Cerpen Karangan: Benny Rahmat
Facebook: Benny Rahmat

Cerpen Gerimis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love You More

Oleh:
Saat ini aku sedang tengkurap di atas kasur sambil membaca novel karena hari ini adalah hari libur. Aku sangat menyukai novel dan tak jarang aku dibuat menangis oleh ceritanya.

Keikhlasan Hati Amir

Oleh:
Glkkglkkk.. “Uhhh leganya..” dalam benak amir. Melepas hausnya dengan air dari keran masjid… Hari ini dia berjalan menyusuri jembatan gantung itu, di bawah teriknya matahari yang begitu menyengat siang

Aku Tak Pernah Membencimu Yah

Oleh:
Gemerlap sinar itu mungkin telah lenyap ditelan ombak di laut, entah ke arah mana, dimana bahkan bagaimanapun aku juga tak tahu pasti, kejadian itu terjadi saat aku masih di

Bukan Aku Mama

Oleh:
Tak kusangka ini sudah mendekati lebaran. Hari yang seharusnya menjadi menjadi hari yang sangat bahagia, namun apa daya aku, anak kumal yang hanya membuat susah hidup mamaku. Perkenalkan namaku

Pukul 15.00

Oleh:
“kau tetap temanku, walau dirimu tak menganggapku ada.” Mata Vina melihat langit-langit kamarnya setelah terbangun dari mimpi buruknya, peristiwa dimana dirinya melakukan dialog terakhir dengan salah satu temannya, Syifa.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *