Girls Under Twilight

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 December 2016

Kupandangi lagi sosok di atas kursi roda itu. Kulangkahkan kakiku mendekatinya. Bertanya siapa namanya. Dia menjawab, “Elise”. Ingatanku jatuh ke masa lalu.

Aku berlari penuh semangat. Tak sabar menceritakan apa yang terjadi padaku beberapa hari ini. Angin berhembus mengiringi langkahku. Tepat dugaanku. Gadis berkursi roda itu berada tepat di bawah matahari senja. Menatap indahnya warna senja. Dia seperti berlian yang disinari cahaya senja. Kulangkahkan kakiku menuju ke arahnya. “Elise!” Kusebut namanya. Dia menoleh. Mata hitam teduhnya menatapku lembut. Kupeluk dirinya. Kutumpahkan seluruh kerinduanku selama beberapa hari ini. “Hai Rani, kamu semakin cantik,” Puji Gadis bernama Elise. Aku menggeleng. “Elise lebih cantik!” Aku masih ingat. Waktu itu aku membentangkan tanganku. Bercerita banyak hal padanya. Elise sesekali tertawa. Dia memandang matahari senja. “Aku ingin seperti matahari,” Ucapnya tiba-tiba. Aku duduk di sebuah bangku. “Kenapa?” Pertanyaan itu terlontar dari mulutku. Elise tersenyum sangat manis. Sungguh, mengalahkan manisnya permen di dunia. “Karena bisa bersinar sangat terang,” Jawabnya. “Kamu sudah seperti matahari Elise, kamu cantik dan selalu bersinar!” Seruku. Elise tertawa hampa. “Aku takkan bersinar di atas kursi roda,” Ucapnya. Aku menatapnya. Aku tahu, walaupun Elise tertawa. Dia pasti amat sangat sedih. “Elise,” aku menarik kursi rodanya menghadap ke arahku. “Aku sahabatmu, jadi bagiku kamu tetap matahari yang bersinar lebih terang,” Kataku. Elise memandangku. Dia tahu, aku bukan tipe anak yang pandai bergaul. Aku anak yang penyendiri. Sampai aku bertemu Elise. Seseorang yang mau bersahabat denganku. “Berjanjilah satu hal padaku Rani,” Elise menggenggam tanganku. “Saat aku tiada, kamu harus memiliki teman sebanyak mungkin,” Ucap Elise. Aku terdiam. “Kenapa kamu bilang begitu? Memangnya kamu mau kemana?” Tanyaku. Elise kembali memandang matahari senja. “pergi jauh. Sangat jauh dan takkan kembali,” Setetes air mata jatuh di pangkuannya.

Setelah hari itu, aku tak pernah bertemu Elise. Aku selalu setia menunggunya di taman itu. Pada waktu yang sama. Berdiri di bawah senja. Menunggu kehadiran gadis berkursi roda itu. Selama berminggu-minggu aku melakukan itu. Sampai akhirnya aku menyerah. Elise benar-benar pergi. Tapi aku tidak tahu dia pergi kemana. Aku tak tahu dimana rumahnya. Kami selalu bermain di taman itu, saat senja muncul. Tetapi pada suatu hari seseorang datang padaku. Seorang wanita paruh baya. Dia datang dengan memberiku sebuah kotak. Lalu pergi tanpa berkata apa pun. Kubuka kotak itu.

Maharani Callista
Hai sahabatku. Aku tahu kamu pasti masih menungguku di taman itu. Di bawah senja. Tapi aku sudah pernah berkata padamu. Aku takkan kembali. Aku sudah berada di sisi tuhan sekarang. Maafkan aku baru memberitahumu. Membuatmu terus-menerus menungguku. Rani, aku senang bersahabat denganmu. Kamu penyemangatku untuk hidup. Aku menderita penyakit yang parah. Aku tak bisa memberitahumu. Aku tak ingin kamu sedih. Rani, ingat janjimu padaku?. Carilah teman sebanyak mungkin ya?. Kenanglah aku selalu di hatimu. Jika kamu merindukanku. Lihatlah saja foto yang ada di liontin dalam kotak itu. Itu adalah hadiah terakhir dariku. Jangan menungguku lagi di bawah senja, Rani
Salam
Elise

Beberapa tetes air mata mengalir di pipiku. Kuambil sebuah liontin orange. Kubuka liontin itu. Aku menangis hebat. Foto Elise dengan diriku. Aku memeluk liontin itu. Aku mengejar Wanita tua itu dan menanyakan dimana Elise dimakamkan. Wanita tua yang sebagai ibunya itu menjawab tempat perkuburan Elise. Dengan berderai air mata, aku berlari. Sesampainya di sana aku terduduk di depan kuburan Elise. Kupeluk batu nisan Elise. “Aku janji Elise. Aku janji akan mencari teman sebanyak mungkin, terima kasih untuk semuanya,” Bisikku. Berharap Elise akan mendengarnya. “Selamat tinggal Elise,”

Ya, Elise. Gadis berkursi roda yang sangat kusayangi. Elise, aku bertemu seorang gadis yang mirip denganmu. Bernama Elise, dia juga gadis berkursi roda. Melihatnya, seperti melihatmu. Elise kutepati janjiku. Aku memiliki banyak teman sekarang. Elise, aku masih menunggumu. Di taman itu. Di bawah matahari senja. Elise, kamu tahu?. Orang-orang menyebutku “Gadis di bawah senja”.

Cerpen Karangan: Nafidzah Salsabila Firdausi
Facebook: Slsbilaa
Hai, aku Salsabila. Aku tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Aku berumur 13 tahun. Aku baru saja belajar membuat cerpen. Kuharap para pembaca menyukai cerpenku

Cerpen Girls Under Twilight merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Matter of Love

Oleh:
Aku begitu bahagia saat bersama dengan dia yang selalu mengisi hari-hariku yang kosong. Entah mengapa di mataku dia begitu sempurna. Dia adalah Maxi sosoknya yang begitu populer di sekolahku

Sahabat Sejati

Oleh:
Waktu demi waktu terus berganti hari demi hari terus berganti dentingan jarum jam terus berbunyi menit dan detik pun bersilih berganti malan telah berganti pagi sang fajar pun mulai

Setia (Part 2)

Oleh:
Mobil sedan Ez terparkir di tepi rumah Albi. Ketiga gadis tersebut turun dan menghampiri post satpam yang ada di dalam rumah. “Misi pak, ibunya ada?” Tanya Clay yang langsung

Loser (Part 2)

Oleh:
Hari itu, sama seperti hari yang lain. Tesan masuk ke dalam bus saat pulang sekolah dan duduk diujung kursi belakang sambil memejamkan matanya, pura-pura tidur agar tidak perlu ngobrol

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *