Goresan Jingga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 December 2016

Jeritan-jeritan penuh kemenangan menusuk indra pendengaran.

Aku berpijak di atas bumi pertiwi yang hijau nan indah ini. Kupandangi para siswa yang berhamburan ke luar kelas mereka masing-masing, tidak lupa dengan tas ransel yang mereka sandang. Apakah bel pulang sudah berbunyi? Aku tidak dengar. Kalau begitu aku harus mengambil tasku yang masih tertinggal di dalam kelas!

Dengan gesit kuselipkan tubuh tegapku di antara kerumunan itu, hingga pada akhirnya aku tiba di kelasku yang berada di gedung lantai tiga. Amat sangat jauh dari halaman sekolah tadi. Senyumku mengembang begitu sahabatku, Rendi, dengan sabar menantiku di depan pintu kelas kami yang tergembok. Aku bisa tahu dia menungguku karena ia menyandang tasku juga. Kuhampiri dirinya,

“Terimakasih, kawan.” Ucapku tulus sembari menyodok rusuknya main-main, lalu merebut tasku.
Rendi tertawa kecil dan berkata, “Ah, mana mungkin aku membiarkan benda milik temanku dalam bahaya. Tahu kasus kemarin?”
Lagi-lagi aku tersenyum. Dia ini sangat perhatian, batinku senang.

Kemarin, temanku dari kelas lain kehilangan ponselnya yang berharga. Kudengar, adik kelas kami yang bertangan panjang menjahilinya dan mencemplungkan ponsel tersebut di ember toilet perempuan. Untungnya, ada teman perempuan dari temanku itu yang kebetulan disaat yang sama ingin pergi ke toilet dan menemukannya. Ponselnya baik-baik saja, toh dilindungi lapisan anti air. Temanku itu orang berada, asal kalian tahu.

“Si Doni itu kaya, jadi ponselnya hilang pun bukan masalah besar baginya!” Cibir Rendi seakan-akan iri pada Doni, temanku yang kuceritakan tadi.
“Jangan bicara sembarangan!” Tegurku terpancing oleh perkataannya. Dulu kami pernah menimba ilmu di sekolah dasar yang sama, maka aku tahu seluk beluk kehidupan Doni. Orangtuanya yang sama-sama pebisnis itu pelit sekali. Dalam satu minggu, Doni hanya diberi uang saku sebanyak empat belas ribu rupiah. Sulit dibayangkan bagaimana caranya ia membagi uang tersebut untuk kebutuhan sekolah, misalnya seperti uang kas atau uang jajan. Membeli ponsel seharga tujuh juta rupiah itu adalah perjuangan setengah mati baginya, bahkan ia rela memakan sisa bekalku agar bisa menabung.
Remaja di hadapanku ini menaikkan sebelah alisnya heran, “Kau ini kenapa ‘sih? Oh iya, kau itu temannya, ya? Maaf deh, maaf.” Ucapnya dengan wajah bersalah kemudian.

Kuelus dada bidangku ini. Ya Tuhan, sejak pubertas datang aku semakin temperamen. Adikku pernah sampai menangis tersedu-sedu karena kusembur tiba-tiba. Aku malu, teman-teman perempuanku jauh lebih cerdas mengolah emosi mereka ketimbang denganku.

Keheningan tercipta di antara kami sesaat, lalu aku kembali membuka suara untuk menghilangkan ketegangan,

“Sepertinya aku yang harus berkata begitu.” Gumamku pelan, amat sangat pelan.
“Kalau begitu ayo pulang, lihatlah gradasi kejinggaan di sana!” Sambungku seraya menunjuk langit yang dipenuhi siluet para merpati.

Ia merogoh sakunya, lalu mengeluarkan sebuah benda yang kuketahui sebagai kunci sepeda. Kami pun berjalan cepat menuruni tangga, lalu menaiki sepeda biru muda di halaman parkir sekolah. Rendi sebagai pengemudi dan aku sebagai penumpang. Haha.. jujur saja, aku takut mengendarai sepeda, karena tahun lalu aku pernah tercebur dalam got kotor karenanya. Penakut, itulah nama tengahku.

Sepeda itu pun mulai dikayuhnya, kutopang diriku dengan memegang bahu kokohnya. Tenaganya bak kuda terlatih, tak kusangka tubuhnya yang jauh lebih kecil dariku dapat menggerakkan sepeda secepat ini, hingga tak terasa kami sampai di padang rumput tinggi dekat rumahku. Aku terheran-heran kenapa sepeda ini ia bawa ke sini, ia juga menyuruhku untuk turun.

“Turun.” Titahnya datar.

Dengan perlahan aku turun, dan kulihat ia menjatuhkan sepeda kesayangannya dengan sembrono. Sontak aku pun panik,

“Kau gila! Nanti bisa rusak!” Hardikku kaget. Namun ia mengangkat bahunya acuh tak acuh,
“Aku tak membutuhkannya lagi. Ini kendaraan terakhirku.” Ucapnya cuek. Aku mendecih,
“Biasanya kau mengamuk kalau aku menjatuhkan sepedamu. Kenapa jadi sebaliknya?” Tanyaku yang lagi-lagi heran.
“Aih, kaki mulusku ini begitu pegal…” Ucapnya mengabaikan pertanyaanku. Kulirik kakinya yang tidak ditumbuhi bulu-bulu lebat seperti laki-laki pada umumnya. Sial, berbanding terbalik dengan kakiku.

Kami pun terpaku pada sang raja siang yang nyaris tenggelam sepenuhnya.

Di padang rumput ini, semuanya terlihat. Entah kenapa, padahal rumah-rumah di sini bertingkat. Kami memilih untuk menduduki rerumputan di sana. Yah, mengakrabkan diri dengan alam…

Seekor merpati hinggap di atas kepalaku.

“Kau ingin menikmatinya juga, eh?” Aku mencoba untuk menyapa merpati ini. Rendi mengusir merpati itu kasar, seperti merasa terganggu.

Mendadak, ada hawa hangat di dekat wajahku yang kuyakini sebagai hembusan nafas.

“Aku harap kau mau berlama-lama di sini, karena aku tak yakin akan bisa berlama-lama lagi di sini.” Bisiknya tepat di gendang telingaku. Aku mengangguk. Mau pulang cepat pun percuma, toh di rumah aku selalu sendirian.

Sampai malam menjelang, kami tetap bergeming. Aku mulai khawatir karena sedari tadi ia tak bersuara, pandangannya lurus ke depan.

“Rendi, ayo kita pulang.” Ajakku. Kugoncangkan tubuhnya perlahan. Ia pun berbalik menghadapku,
“Jangan!!” Cegatnya dengan airmata menggenang di pelupuk matanya. Aku terperangah melihat orang skeptis semacamnya bisa berekspresi seperti itu. Kumiringkan kepalaku tak paham,

Berkali-kali ia bersujud seakan menyembahku. Bisa kuartikan sebagai permohonan untukku agar tetap di sini.

‘Rendi, ada apa!?’ Batinku bergejolak.

Aku tak mengerti.

Hari demi hari pun berlalu.

Sejak saat itu, bangku Rendi kosong. Kemanakah ia gerangan? Teman sebangkunya pun tak tahu. Terlebih lagi aku yang letak bangkunya sangat jauh dengannya. Kuhubungi nomornya, namun tak diangkat. Kukirimkan pesan singkat, namun tak dibalas. Kudatangi rumahnya, namun para tetangga di sekitarnya bilang sudah pindah. Bodoh. Rendi bodoh. Kalau dia masuk besok akan kuparut hidung peseknya, biar tahu rasa, hahaha!

Rencana jahilku terputus, begitu petir menyambar benakku.

“Kau tahu, Andi? Rendi sudah meninggal dunia.”

Gagang telepon putih gading rumahku retak begitu menghantam lantai porselen itu begitu keras. Keras, cukup keras untuk merobek bendungan airmataku. Aku tak dapat menahannya. Untuk pertama kalinya aku menangis histeris, tetes demi tetes mengalir dan menganak sungai, hingga seluruh anggota keluargaku berbondong-bondong menghampiriku.

Kubayangkan jenazah Rendi yang tertelan bumi. Kubayangkan nisan batu dimana namanya tertoreh. Kenapa aku baru mengerti?

Perilaku Rendi berubah, karena ia tahu ia akan mati. Oh astaga…

Hingga sepuluh tahun kepergiannya, aku tetap tak bisa melupakan bayang-bayangnya, suaranya, dan segala hal tentangnya yang takkan pernah mati seperti raganya.

Di sini. Diriku yang telah dewasa, sebuah pena, dan secarik kertas putih. Di antara rerumputan itu kala senja. Kutulis ulang kisah kami, yang kuberi nama… goresan jingga.

TAMAT

Cerpen Karangan: Mellisa Ghassani W.
Facebook: facebook.com/mellisa.widyani

Cerpen Goresan Jingga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuanku Dengannya

Oleh:
Aku baru saja ke luar dari gedung sekolahku pada sore itu. Sungguh lelah hari ini, mengikuti pembelajaran sore yang membosankan. “Akhirnya, selesai juga latihan menari sore ini.” Gumamku sambil

Ku Yang Tersakiti

Oleh:
Alfi dan Agas adalah seorang sahabat mulai dari kecil. Mereka selalu bersama dalam suka maupun duka. Namun perasaan persahabatan berubah menjadi rasa cinta ketika Alfi mencintai atau memiliki perasaan

Sahabat Sejati

Oleh:
Namaku Dinda, dan mempunyai seorang sahabat bernama Sintia. Aku dan Sintia sudah lama bersahabat dari kelas 7 sampai sekarang. Pada suatu hari di sekolah kami ada murid baru yang

Happy Birthday Nadia

Oleh:
KRINGGGG!!! Bel tanda istirahat pun berbunyi. Aku, Fika, dan Ghani berjalan beriringan menuju kantin. “Eh, temen-temen, besok ultahnya Nadia kan?” Ucap Ghani mengawali pembicaraan. Aku dan Fika pun baru

Suratku Untuk Ku

Oleh:
Hari itu, hari Selasa siang. Sepertinya matahari tak mempunyai cukup sinar untuk menerangi bumi pada hari Selasa itu. Rintik air hujan berirama berjatuhan turun dari langit, diiringi nada-nada gemuruh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *