Guruku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 May 2016

Matahari baru setengah terlihat di timur langit, sinarnya memaksa menerobos rimbunnya dedaunan. Beberapa burung menyanyi sambut pagi yang cerah ini. Di antara pepohonan terdengar suara sepeda yang berisik dan senandung pengemudinya. Aida mengayuh sepada kesayangannya dengan riang gembira. Jarak dari rumah ke sekolah yang sangat jauh membuatnya harus berangkat sepagi mungkin. Tapi itu tak akan melunturkan semangatnya untuk mencari ilmu. Aida tiba di sekolah paling awal. Lorong- lorong sekolahnya masih sepi, Aida duduk di kursinya dan mulai membaca novel yang dipinjamnya dari perpustakaan. Saat bel tanda masuk berbunyi Bu Yuli memasuki kelas X MIPA 5 dan langsung disambut dengan salam oleh Aida dan teman-temannya.

Bu Yuli adalah wali kelas sekaligus guru favorit Aida. Beliau mengajar mata pelajaran matematika. Bu Yuli sangat sabar dalam menjelaskan materi di kelas, jika ada yang belum paham maka beliau akan terus mengulang dan menjelaskan sampai semua benar-benar paham. Beliau juga selalu membuat suasana kelas menjadi menyenangkan bahkan terkadang beliau menampilkan permainan sulap di akhir pelajaran, tentunya sulap tentang matematika juga. Itulah yang membuat Aida dan semua temannya menyukai Bu Yuli. Bu Yuli membalas salam sambil tersenyum kecil, tatapan matanya tak seceria biasanya, seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Tetapi tak ada yang memperhatikannya. Semua sibuk dengan rencananya.

Setelah berdoa selesai, Alya sang ketua kelas mengangkat sebuah kue dengan lilin berangka 34 ke atas meja dan yang lain menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama. Bu Yuli sungguh kaget dan terharu. Semua siswa memberinya kejutan kecil yang tak pernah terpikir olehnya, betapa pedulinya mereka bahkan ia sendiri lupa kalau ini hari ulang tahunnya. Alya meletakkan kue itu di meja guru, yang lain juga sudah mengerubungi meja itu. Bu Yuli tampak senang ia meniup lilin dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya pelajaran matematika di hari itu berubah menjadi pesta ulang tahun. Setelah makan kue dan memberikan kado mereka berfoto bersama, hari ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Keesokan harinya Bu Yuli tidak masuk dan hanya memberikan tugas yang dititipkan ke guru piket. Aida jadi penasaran bukankah sebelumnya Bu Yuli selalu masuk dan selalu tepat waktu. Dari penjelasan guru itu Aida tahu bahwa Bu Yuli sakit. Aida berharap agar Bu Yuli cepat sembuh dan bisa mengajar lagi. Tapi harapan Aida belum terkabulkan. Sudah tiga minggu Bu Yuli tidak mengajar. Semua siswa kelas X MIPA 5 mulai resah, tanpa kehadiran Bu Yuli pelajaran matematika jadi tidak menyenangkan dan mengingat sebentar lagi UTS 2 mereka harus mengejar materi tanpa guru pembimbing.

Alya mengusulkan untuk menjenguk Bu Yuli bersama beberapa anak lain pada hari senin esok. Keberuntungan mendatangi mereka, di senin pagi itu Bu Yuli hadir saat upacara bendera dan masuk saat pelajaran dimulai. Saat Bu Yuli memasuki kelas anak-anak langsung menyampaikan kejenuhan mereka selama Bu Yuli sakit. Aida sangat bersyukur Bu Yuli sudah bisa bergabung bersamanya lagi, walaupun masih terlihat sedikit pucat dan kurang bersemangat seperti tanda penyakit itu sangat membebani beliau.

Pagi itu seperti biasa Aida sedang asyik mengayuh sepedanya sambil bernyanyi pelan sampai keasyikannya diganggu oleh mobil jenazah yang tiba-tiba lewat di depannya. Aida sampai terjatuh saking kagetnya. “Untung tidak ditabrak, kalau tadi aku ngebut mungkin aku akan naik mobil itu juga.” ucap Aida sambil membersihkan bajunya. Sampai di sekolah Aida sudah tidak sabar menunggu bel masuk. Karena hari ini adalah hari pertama kegiatan classmeeting dilaksanakan. Akan sangat menyenangkan menyemangati teman-teman yang mengikuti perlombaan dan dia sendiri akan mengikuti lomba baca puisi, kali ini dia yakin akan mendapat juara 3 besar.

Aida sudah latihan dengan sungguh-sungguh sejak seminggu lalu. Akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Semua tersenyum cemerlang saat hendak ke luar kelas untuk menuju lapangan, tapi langkah mereka terhenti oleh pengumuman yang bergema dari speaker kelas mereka. Suara Pak Yahya guru agama, terdengar menggetarkan hati. Mendengar itu mereka merasa ingin menjerit tapi tak bisa, ingin berlari tapi kaki ini terasa menempel ke lantai. Hening. Setelah suara itu berhenti hanya hening dan detak jantung yang memburu, lalu setetes air jatuh di sudut mata Aida diikuti yang lain.

Tak ada yang menyangka Bu Yuli akan pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Sulit bagi mereka untuk melepaskan beliau. Bu Yuli sudah seperti bagian dari keluarga mereka. Tapi semua sudah terjadi. Aida terdiam sendirian menatap nisan itu. Bu Yuli pasti sudah tenang di alamnya. Dan tidak ada penyakit yang membebaninya lagi. Aida tak pernah menyangka bahwa Bu Yuli memiliki penyakit yang sangat mengerikan. Kanker otak itu telah merebut nyawa guru favoritnya. Aida meletakkan kertas itu di samping batu nisan dan beranjak pergi. Di bagian atas kertas itu tertulis judul puisi tersebut, judul yang Ia berikan untuk Bu Yuli sayangnya Bu Yuli tidak sempat membacanya. Apalagi mendengarkan Aida membacanya semua sudah berlalu. Judul puisi itu adalah, “Guruku Tetaplah Bersamaku”.

Cerpen Karangan: Anisa Melianti
Facebook: Anisa Melianti

Cerpen Guruku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenyataan Pahit

Oleh:
Lily adalah seorang gadis kecil yang hidup sangat miskin dengan ibunya di desa, ibunya sendiri adalah seorang wanita yang ditinggal suaminya beberapa tahun yang lalu. Sebenarnya ibu lily adalah

Penantian

Oleh:
Aku memperhatikan pohon natal itu beberapa kali. hiasan dan ornamen pada setiap helainya menambah keindahannya. Dari balik kaca ini. aku bisa melihat pohon natal indah ini. pohon yang wajib

3 La

Oleh:
Kenalin nih, namaku Bela. Aku tinggal di Semarang. Aku punya sahabat namanya Vela dan Mela. Dari kecil, kami udah sering main bareng karena kami bertetangga satu jalan. Aku, Vela

Hujan di Medan Senja

Oleh:
Hujan di Medan Senja, Satu persatu air dari awan kelabu yang menggantung di atas langit mulai menjatuhkan diri, terhempas kedalam peluk bumi. Membuat jalanan becek, genangan air beriak-riak teriak.

Pengkhianatan

Oleh:
“Bisa gak kita berhenti melakukan ini?” Dua gadis berstatus pelajar duduk di meja masing-masing. Salah satu gadis asyik sekali menggambar di kertas sketsanya, sedangkan gadis yang lainnya berwajah kusut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *