Hello Venus Goodbye Venus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 August 2013

Seperti biasa, pagi ini aku duduk di balkoni rumahku dan di temani teropong peninggalan kakekku untuk melihat planet venus yang agak samar namun nyata di pagi hari. Aku tidak gila, aku hanya menyukai hobiku ini. “Venus/Bintang Kejora adalah planet terdekat kedua dari matahari setelah Merkurius. Memiliki radius 6.052 km, diameter 12.104 km. Atmosfernya mengandung 97% karbondioksida (CO2) dan 3% nitrogen, sehingga hampir tidak mungkin terdapat kehidupan disana.”
Tiba-tiba ibuku datang “Venus, apa yang kau katakan tadi itu sebuah mantra?” Aku menggelengkan kepalaku dan berkata tidak. Namaku Venus, lebih tepatnya Venusyla Tachibana. Aku gadis keturunan Jepang – Venezuela. Sebenarnya alasanku menyukai planet Venus bukanlah karena namaku Venus, tetapi aku memang menyukai semua benda langit yang ada di angkasa, contohnya ya planet Venus.

Aku melihat jam yang ada di dekat balkoni rumahku yang menunjukan pukul 08.50 AM “Astaga ini sudah jam 9 kurang 10 menit, aku akan terlambat datang ke Sekolah” dan aku berlari menuruni tangga dengan cepat, apa kau bertanya-tanya mengapa aku tidak mandi/memakai seragam sekolah dulu sebelum berangkat ke sekolah? Lebih tepatnya aku sudah siap di balkoni rumahku dari jam 06.00 AM dan sudah menggunakan seragam sekolah yang lengkap dan pastinya aku sudah mandi.

Aku berlari menggerakan kakiku sekuat tenaga dan hasilnya aku sampai ke sekolah tepat waktu, betapa terbelalaknya mataku melihat jam besar yang ada di dinding gedung pertama sekolah, disitu menunjukan jam 08.00 AM “astaga apa aku salah melihat jam?” Pikirku, mungkin lebih baik aku menuju ke atap gedung sekolah dan kembali mengamati langit, mungkin Venus sudah tersamarkan oleh awan tapi tidak ada salahnya jika aku mencoba melihatnya dan jika tidak ada aku akan mengamati pergerakan awan dan meramal cuaca.

“Kurang lebih 96,5% Karbon dioksida, 3,5% Nitrogen, 0,015% Belerang dioksida, 0,007% Argon, 0,002% Uap air, 0,0017% Karbon monoksida, 0,0012% Helium, 0,0007% Neon, jejak Karbonil sulfida, jejak Hidrogen klorida, jejak Hidrogen fluorida.” Aku tercengang mendengarnya, dia mengamati langit dan memegang teropong dan itu tadi komposisi dari planet Venus. Siapa dia? Aku baru pertama kali melihatnya dan dia telah mengambil tempat persinggahanku! Aku mendekatinya lalu bertanya “Permisi, anda siapa ya?” laki-laki itu kaget melihatku. “Maaf, nama saya Xi Lu Han.” Ia tersenyum dan membungkuk sambil memperkenalkan diri. “maaf, apa aku pernah mengenalmu sebelumnya?” ia menggeleng.
“Saya dari kelas 1-1, kebetulan saya waktu acara penerimaan murid baru saya tidak ada dan jadi, mungkin… maaf, saya harus memanggil anda apa?”
“panggil aja Venus, aku dari kelas 3-2”
“dan mungkin kak Venus baru pertama kali bertemu denganku”.
“Oh, dan kalau aku boleh tau. Apa yang kau lakukan tadi?”
“Sama seperti kakak, seminggu ini aku terus mengamati kakak yang selalu membawa teropong kemana-mana dan duduk disini sendirian sambil melihat langit dan aku pikir kita memiliki hobi atau kesukaan yang sama.” Ia tersenyum dan meninggalkanku begitu saja. Apa maksudnya? Aku tak mengerti. Dia adik kelasku kan? Ah sudahlah, lebih baik aku turun ke kelasku.

Bel istirahat berbunyi, kali ini aku tidak ke atas gedung sekolah. Aku bersama sahabatku Rin, Minami dan Yuko pergi ke kantin untuk memakan bekal kami, biasanya aku memakan bekalku di atas gedung sekolah, tapi kali ini aku sedang tidak ingin pergi kesana. Mungkin karena sudah ada penghuni baru disana, entahlah untuk saat ini aku sedang tidak bersemangat kesana. “Hei, gimana pulang sekolah nanti kita ke theater? Ada film baru loh.” Ajak Yuko, tidak ada yang menjawab dan Yuko tau artinya. “Aku bayarin deh” Kami bertiga langsung bertingkah seperti prajurit yang sudah siap berperang “AYOOO!!!”. “Hei ini masih jam istirahat.” Kami bertiga kembali ke posisi semula dan memasang wajah datar sambil memakan bekal kami dengan tenang. Tiba-tiba terjadi panggilan alam yang membawaku ke toilet, kebetulan toilet putri di kantin sedang dalam masa perbaikan jadi aku pergi ke toilet putri yang berada di dekat lapangan sepak bola. Aku melihat seseorang sedang bermain sendirian disana, entah siapa yang pasti laki-laki itu berambut blonde. Aku berlalu menuju toilet putri.

“Jam menunjukkan pukul 04.00 PM, waktunya kami semua pulang ke rumah. Tapi tidak untuk aku, Rin, Minami dan Yuko. Biasanya sebelum pulang kerumah kami selalu bermain-main di bukit belakang sekolah sambil menunggu senja tiba. Aku rasa itu saat-saat yang indah bersama mereka semua. Tiba-tiba aku teringat tentang awal pertemuan kami. Awalnya aku dan Yuko sedang duduk berdua di kantin, karena Bahasa Korea kita masih kurang lancar jadi kami ngobrol menggunakan Bahasa Jepang. Tiba-tiba Minami dan Rin datang, mereka sangat fasih berbicara Bahasa Jepang, awalnya aku dan Yuko kaget tapi setelah kita ngobrol banyak ternyata mereka berdua itu gadis keturunan Korea – Jepang. Pantas saja bagi aku dan Yuko wajah mereka nampak tidak terlalu asing. Semenjak itu, Rin dan Minami selalu bersama kami. Rin dan Minami selalu bersama dari mereka TK sampai SMA sekarang ini, persahabatan yang abadi antara Rin dan Minami membuat aku dan Yuko kagum. Karena itu, aku dan Yuko merasa tidak salah memilih teman. Aku dan Yuko masih berhubungan saudara, dia itu sepupuku. Lebih tepatnya ayahnya itu kakaknya ibuku. Yuko itu gadis keturunan Jepang – Kanada dan dia…” Tiba-tiba suara yang tak asing di telingaku itu memanggilku, ya mereka Yuko, Minami dan Rin. “Venus! Mengapa kau selalu berkutat dengan bukumu dan pasti tempatnya di atas gedung sekolah, I ASK YOU, WHY?” Tanya Yuko padaku sambil mengambil bukuku. “Nothing Yuko haha.” Jawabku. “Astaga, selalu begini, liputan tentang benda luar angkasa haha. Ayo kita pergi.” Ajaknya. Kami turun dan langsung menuju theater yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah kami jika di tempuh menggunakan busway, tapi sayangnya kami harus jalan kaki demi Yuko. Ia akan membelikan tiket film jika kita jalan kaki kesana.

Sesampainya di theater, Yuko memesankan tempat di bagian tengah namun di ujung. Astaga, Yuko. Ternyata ini film horror, Rin yang sangat benci akan hal yang berbau horror pun memaksa kami keluar dan akhirnya kami gagal nonton. Yuko menawarkan tiket gratis film yang terlalu dramatis dan sad ending. Minami yang benci akan hal yang berbau sad ending pun menolaknya. Dan lagi, Yuko menawarkan film action yang agak seram dan tentu saja Rin menolaknya. Akhirnya aku melihat film tentang luar angkasa, karena tidak ada pilihan lain jadi akhirnya kami menonton film itu.

Kami duduk di deretan bangku paling belakang karena hanya deretan itu yang tersisa. Tiba-tiba ada seseorang di sampingku dan berkata “Hai” Aku hanya membalasnya dengan senyum karena aku tidak terlalu melihat jelas wajahnya karena lampu sudah di matikan. Di tengah film kami berdua mengobrol dan saling bertukar ilmu tentang benda-benda di luar angkasa, ternyata kami mempunyai kesukaan yang sama. Yaitu mengamati langit dan mengamati pergerakan awan. Tapi aku terkejut ketika film sudah selesai dan lampu menyala, wajahnya seperti tidak asing. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi aku lupa dan dia memakai seragam yang sama sepertiku, rambutnya blonde dengan wajah yang manis seperti perempuan. Ah, Aku tidak bisa memaksa kepalaku untuk berpikir terlalu keras.

“Yuko, Venus. Aku dan Minami pulang duluan ya, kebetulan rumah kami agak jauh dari sini. Bye~” “Bye” Kami berpisah di depan theater. Tersisa aku dan Yuko berdua, tapi karena Yuko ada keperluan dengan teman satu klubnya jadi aku harus pulang sendirian. Sebetulnya di tengah perjalanan aku merasa ada yang mengikutiku dan ternyata memang benar. Dia laki-laki yang ada di theater tadi. “Hai kak.” Sapanya.
“Siapa ya?”
“Kakak lupa? Aku Luhan.”
“Luhan Luhan Luhan Luhan, aku lupa.”
“Aku yang waktu itu ada di atas gedung sekolah.”
Aku kaget dan langsung membulatkan mataku, entah ada perasaan apa aku kepadanya yang pasti aku tidak bisa menjelaskannya.

“Kak, aku boleh tanya sesuatu?.”
“Boleh.”
“Boleh ga aku antarkan kakak sampai di depan rumah kakak? Please.”
“Untuk apa?.”
“Nothing, tapi aku pingin banget kak.”
“Terserah deh.”

Sepanjang perjalanan kami mengobrol dan tidak terasa sudah sampai di depan rumahku. Aku pamit kepadanya dan dia juga menyuruhku untuk cepat masuk ke rumah karena malam ini sangat dingin. “Selamat malam, Venus.” Aku kaget, betapa beraninya dia memanggil kakak kelas menggunakan nama saja. “Hei, lain kali lebih sopan dengan yang lebih tua.”. “Tadi aku menemukan ini, aku melihat biodata kakak dan semua yang ada disini. Disini menunjukkan kakak lahir pada tanggal 16 September 1996, dan aku juga.” Ia menyerahkan buku diary ku yang tertinggal di atas gedung sekolah. “Hello Venus, Goodbye Venus.” Setelah mengatakan hal itu ia langsung berlari dan aku mencoba mengejarnya tapi tak bisa. Dan aku tak dapat mencerna kata-katanya tadi.

Besoknya aku ke kelas 1-1, karena aku curiga kepadanya. Aku tanya kepada semua teman di kelasnya dan aku sangat shock ketika seseorang bilang kalau Luhan sejak seminggu yang lalu sedang koma dan berada di rumah sakit sampai sekarang. Aku semakin shock ketika seseorang yang lain masuk ke kelas dan berkata bahwa Luhan sudah tidak bisa di selamatkan, dan itu artinya Luhan telah tiada. Astaga, apa yang ku alami? Ini hanya mimpi kan?. Aku kembali ke kelasku dan mengecek apa yang ada di dalam diary-ku. Astaga… Otak ku sudah tidak mampu berpikir dengan jernih. Disitu tertuliskan “365 hari untuk Venus, 24 jam untuk Venus, 60 menit untuk Venus, 60 detik untuk Venus. Planet Venus itu panas, tapi jika ada Venus disitu semua akan menjadi hangat. Tak mungkin ada makhluk yang tinggal disana, begitu pun kita. Aku akan pergi, sampai jumpa. Aku menunggumu di neverland. My first and my eternal love. I love you to death.” Tiba-tiba teman sekelasnya datang dan menyerahkan sesuatu ke aku. Ternyata sekumpulan foto-fotoku yang dia ambil semenjak setahun ini. “OH MY!!!”.

Sore harinya aku pergi ke rumahnya bersama dengan teman-temannya. Aku melihat dirinya yang terbaring di peti dengan balutan jas dan wajahnya yang pucat. Aku memegang tangannya dan menangis di tangannya. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di atas tanganku, itu tangan Luhan. Dia hidup lagi, astaga. Apa aku gila? Tiba-tiba suara samar-samar terdengar “Hello Venus, Goodbye Venus.” Lalu Ia kembali tertidur dalam tidur panjangnya itu. “Bye Luhan.” Tiba-tiba senyum terpancar dari bibirnya dan genggaman tangannya di tanganku sudah tidak terasa lagi. “Rest in peace my dearest Luhan”.

Mulai saat itu setiap kali aku melihat Planet Venus, aku selalu teringat akan dirinya. “Wait me Luhan.” Walau dia sudah tidak ada di dunia ini, tapi aku yakin dia masih ada di dunia. Namun di dalam dimensi yang berbeda denganku. “Hello Luhan, Goodbye Luhan.”

Cerpen Karangan: Norwinda Ekasaptia Purnama

Cerpen Hello Venus Goodbye Venus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setahun Bersamamu

Oleh:
Kata kangen udah nggak asing lagi di telinga. Memang udah tiap hari gue ngejalanin hidup, bersama kata kangen yang gak pernah menyingkir dari otak. Sumpah! kenapa gue harus ngalamin

Kanaria dan Putih

Oleh:
Kalimat itu pendek saja, namun artinya terasa amat panjang bagi hidupku. Sekilas saja pernah diucapkan, namun sepanjang hari aku telah mengingatnya. Waktu itu, entah kesekian kali dalam tahun di

Kebaya ini Untuk Nenek

Oleh:
“Dea… Dea… Dea, nak di mana kamu?”. Terdengar suara wanita tua yang memanggil namaku. Tak lama akupun menjawab panggilan nenek. “Aku di sini nek”. Yah wanita tua itu adalah

Kematian Yang Indah

Oleh:
Hello, nama saya Syafita Angeli. Yap saya sering di panggil dengan sebutan syafita. Kalian pasti tau kan? Kehidupan di dunia itu tidak selamanya, kita akan bertemu dengan sang kematian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Hello Venus Goodbye Venus”

  1. sahira fara nabila says:

    Keren inti banget… tapi knapa Xi Lu Han nyasar.–“

    • Norwinda Ekasaptia Purnama says:

      haha thanks lah,waktu bikin ni cerpen lagi kepikiran luhan yaudah kebetulan karakter cowok yang pingin ku bikin di cerpen ini kira-kira kurang lebih Luhan jadinya di pake aja mas Luhan-nya haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *