Hidupku Sunyi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 July 2017

Namaku Sila, umurku 10 tahun. Aku berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Ayah dan ibuku selalu bertengkar, entah hal apakah yang membuat pertengkaran itu terjadi.
Aku punya adik yang masih kecil, namanya Andra. Namun sayang, dia telah meninggal 2 tahun silam akibat sakit yang dideritanya.

“Kasih Ibu” itulah lagu yang kunyanyikan ketika aku merasa sendiri, merindukan belaian orangtuaku. Disaat aku menyanyikan lagu itu, aku hanya bisa menangis, karena harapanku mendapat kasih sayang dari kedua orangtuaku mungkin tidak akan pernah terjadi.

Sekarang aku menginjak kelas 4 SD. Aku bersekolah di SD Merah Putih, Surabaya. Hidupku bagai tak berarti. Entah di rumah maupun di sekolah, teman-temanku menjauhiku, entah apa sebabnya. Untunglah ada satu teman yang baik kepadaku, Dita namanya. Dia selalu membuatku ceria, disaat semua teman melemparkan kata-kata yang tak semestinya terdengar di telingaku.

“Sudahlah, jangan dengarkan apa yang mereka katakan padamu.” kata Dita sambil mengusap air mataku.
“Diamlah ada aku, mereka mencelamu karena mereka tak merasakan apa yang kamu rasakan sekarang.” ungkap Dita.
“Terimakasih Dita, karna engkau telah mau menjadi sahabat setiaku dikala ku susah.” kata manis yang keluar dari mulutku.
“Iya, tidak papa kok. Lagipula aku senang bisa punya teman sepertimu Sila.” jawab Dita dengan mata yang berkaca kaca.

Suatu ketika saat aku hendak tidur, tiba-tiba telepon genggamku berdering. Seraya aku langsung mengangkatnya (langsung kubuka selimut hangatku dan ku segera bangun).

“Halo, apakah ini Sila?” kata seseorang yang belum aku kenal.
“Iya, memang benar ini Sila.” jawabku.
“Begini nak, saya Pak Hendra, ayahnya Dita temanmu.” kata seorang pria yang ternyata adalah ayahnya Dita.
“Saya ingin memberitahumu tentang Dita nak.” kata Pak Hendra.
“Iya pak, kenapa pak dengan Dita? kenapa suara bapak sendu seperti itu?” tanyaku heran.
“Dit… Dita… diaaaa!” jawab Pak Hendra dengan suara tersengal sengal.
“Ada apa pak dengan Dita? katakan saja pak!” kataku dengan nada tinggi.
“Dita meninggal nak.” jawab Pak Hendra.
“Please pak jangan becanda, ini tidak lucu pak!” kataku kaget.
“Saya tidak bercanda nak, saat dia pulang dari pasar dia menyeberang jalan, sebuah truk melintas. Dan tanpa dia sadari, truk tersebut sontak menghantam tubuhnya hingga dia tergeletak di jalan, dengan darah yang membasahi jalan di mana dia tergeletak. Akibat kecelakaan fatal yang dialaminya, seketika dia meninggal di tempat nak.” ungkap Pak Hendra dengan isak tangis ketika menceritakannya.

Seketika setelah Pak Hendra selesai menceritakan kejadian tragis tersebut, dengan histeris sontak aku melepaskan telepon dari genggamanku.
“Oh Tuhan….kenapa orang yang telah mengubah hidupku menjadi ceria, kini kau ambil nyawanya.” kataku dengan marah dan dengan wajah yang berlinang air mata.
“Kini hidupku kembali lagi seperti dulu. Tak ada lagi orang yang menyayangiku, tak ada lagi orang yang mempedulikanku selain Dita.” jeritku dengan isak tangis yang mendera.
Kini teman baikku Dita, telah menjadi teman khayalanku. Dan hidupku kembali lagi menjadi sunyi.

The End

Cerpen Karangan: Nanda Dwi Irawan
Facebook: Nanda Dwi Irawan
Nama: Nanda Dwi Irawan
Kelas: X(10)
Sekolah: SMKN 4 Semarang
Alamat: Jalan Mayangsari Selatan 1/5 Rt 11 Rw 2

Cerpen Hidupku Sunyi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengamen Jalanan

Oleh:
Kuku yang biasa kugunakan untuk memetik senar gitar kini sudah mulai memanjang dan menampakkan setumpuk kotoran disana. Kotoran yang tampak lebih kotor dari setumpuk sampah di jalanan Ibu kota

I Promise, Best Friend

Oleh:
Pagi Ini, aku ingin jalan-jalan bersama sahabatku, Elisa. Kami sangat dekat sudah hampir lima tahun. “Elisa!” seruku. “Eh, Zahra,” kata Elisa. “Mau ke Taman Cendrawasih, nggak?” tanyaku. “Yuk, kapan?”

OSIS Displeasure

Oleh:
Sialan, tahu begitu kutendang tulang keringnya lebih keras dari kemarin hingga dia meringis kesakitan seperti seorang bayi yang merengek minta susu pada ibunya. Bagaimana tidak, orang itu telah menipuku

Surat Terakhir Untuk Sahabatku

Oleh:
Jam menujukan pukul 06:30, aku masih saja tertidur pulas, saperti biasa lina sahabatku masuk kamarku tanpa seijin ku. Dan membangunkanku seenak jidat, “banguuuunnn” (suaranya yang bagaikan kleng rombeng) aku

Platinum

Oleh:
Air mataku menetes. Aku masih memandang foto itu. Tidak terasa, dua tahun sudah kakakku, Malik pergi. Sebenarnya bukan untuk meninggalkanku, hanya menjagaku dari suatu tempat di atas sana. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *