Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 February 2016

Pagi-pagi sekali mama sudah sibuk menyiapkan sarapan, tak lupa juga mama selalu menyanyi dengan suaranya yang cempreng dan bernyanyi dengan nada-nada yang kurang pas. Bukannya mengolok, tapi hanya memberi saran sebaiknya jangan nyanyi. “Ma.. harus banget ya?” tanyaku sambil melahap sesendok mie. “apanya yang harus?” tanyanya padaku.
“ituuuhhh… harus banget ya nyanyi pagi-pagi? Gak enak didengar te..te..tetangga iya, iya tetangga.” seharusnya aku ingin berbicara di telinganya.
“ini kan udah jadi hobi Mama.” katanya dengan girang.

Papa datang sambil membawa kunci mobil. “ayo udah jam berapa ini? Kita berangkat.” Mieku saja baru separuh ku makan, mau apa lagi papa sudah siap adekku juga sudah selesai makannya. Aku harus ikut mereka kalau tidak nanti aku naik angkot, uang saku berkurang deh. “udah dulu Ma nanti kalau Ray udah pulang dari sekolah kita sambung lagi, assalamualaikum.” pamitku sambil bergantian mencium tangan.

Di dalam mobil adekku Farra sibuk mengomeliku. “Kak, kakak tahu gak tadi itu kakak udah hampir keceplosan sama Mama… bla.. bla.. bla… nyu.. myu.. bla.. nyu.. nyu.. mnyu… bla.. bla…” entah mengapa omelan adikku ini menjadi terdengar begitu di telingaku. “ngerti gak sih Kak?” lanjutnya setelah mengambil napas.
“iya kakak ngerti udah diem ya nanti pidatonya di sekolah aja ya, menghadap guru Bahasa Indonesia aja oke.”

Wajah Farra berubah menjadi merah yang menandakan dia marah. Aku hanya tertawa melihat wajahnya itu. Menurutku ketika dia marah wajahnya sangat lucu, lebih lucu dari panda. Mobil berhenti tepat di depan sekolah. Aku berpamitan dengan papa dan segera saja aku masuk ke dalam. Ketika memasuki kelas para gerombolan geng anak-anak perempuan memperhatikanku. Aku duduk dan melempar tasku di meja. Entah mengapa tiba-tiba rasa ngantuk melanda. Aku menyandarkan kepalaku di atas meja dan terlelap dalam tidur.

“RAY PRASETYA… bangun.” teriak Bu Lidia sesosok guru kiler di sekolah ini. Aku terbangun, banyak yang menertawakanku. “lagi-lagi kamu tidur di kelas pagi-pagi belum sarapan ya kamu?” dengan nada marah. “udah sarapan Bu, maaf saya tadi cape mendengar suara Mama saya.”
“udah udah gak usah pake alasan, saya tidak suka dengan anak yang tidur di pagi hari di dalam kelas. Apalagi pada saat jam saya. Ingat itu Ray!! Kali ini Ibu tidak memberi ampun kepada kamu. Ibu jatuhi hukuman sebelum jam saya kamu bersih-bersih toilet mulai dari toilet cewek sampai toilet guru hingga bersih. Kalau saya tahu toiletnya belum bersih kamu ulangi lagi. Dan saat jam pelajaran sudah selesai semua kamu jangan pulang dulu. Kamu bersihkan kantin dan ruang guru terlebih dahulu. Jangan coba-coba untuk kabur nanti saya jatuhi hukuman lebih berat.”
“iya Bu. Hukumannya berapa lama?” tanyaku. “selama kamu menjadi murid ibu di sini.”
W-H-A-T!!! Lama banget. “lama banget?”
“kalau saja Ibu pindah atau sudah pensiun. Gak akan lama kan?”
“iya juga sih.. semoga Ibu cepat pensiun.” kataku asal ceplos.
“kurang ajar kamu mau kamu Ibu jadikan pembantu di rumah Ibu?” semua orang ada di kelas tertawa.
“heii.. yang lainnya tolong diam kerjakan tugas yang kemarin. Ray sekarang juga kamu bersihkan toilet.” Bu Lidia menulis sesuatu. “pakai ini, biar tahu kalau kamu ini lagi menjalani masa hukuman.” katanya sambil memberikan selembar kertas itu yang bertuliskan MASA HUKUMAN.

Aku hanya bisa pasrah menerima keadaan. Teman-teman yang lain menertawakanku begitu juga dengan David. Aku hanya menatap mereka dengan tatapan sesinis mungkin. Dimulai dari toilet guru. Banyak guru-guru yang hendak ke toilet melihat ke arahku dengan tatapan curiga + kasihan. Satu jam kemudian, ganti ke toilet murid cowok. Saat hendak membersihkan toilet ketiga, aku mendengar suara orang lagi muntah. Pikiranku kacau, bagaimana cara menolongnya dan bagaimana aku membersihkan bekas muntah orang itu.

“HOY!!! YANG DI DALEM GAK APA-APA?” aku berteriak.
Tidak ada respon apa-apa, yang terdengar hanya suara ‘huek-huek’ pelan.
“HOY!!!! YANG DI DALEM GAK APA-APA?” lagi-lagi tidak ada respon. “AKU BUKA.” ternyata pintunya tidak dikunci.
Ternyata Leo yang muntah. Kepalanya disandarkan di tembok dekat kloset. Wajahnya yang memucat membuatku semakin takut. “Lee lo kenapa? Gue anter ke UKS oke?” tawarku kepadanya. Leo berusaha bangkit dari duduknya.
“gak cuma masuk angin aja. Gak usah dibawa ke UKS.” dia mencoba berjalan tapi terjatuh pingsan. Aku menggendongnya hingga ke UKS.

Aku lupa dengan hukumanku. Aku khawatir dengan Leo dia teman sekaligus saudara.
“Ray kamu teruskan hukumanmu itu di sini kan sudah ada saya.” kata Bu Sarah guru yang tadi lewat tiba-tiba di depan toilet cowok, yang ku mintai tolong. “gak saya mau menemani Leo.”
“nanti kamu dijatuhi hukuman lebih berat loh sama Bu Lidia, sudahlah kamu lanjutkan dulu itu.” sebenarnya aku tak tega, tapi mendengar dijatuhi hukuman lebih berat lagi aku tak mau dihukum lebih berat daripada ini. “iya kalau begitu saya minta tolong temani Leo. Kalau dia sudah bangun beritahu saya.” Bu Sarah mengangguk. Aku pergi meninggalkan ruangan UKS ini.

Malam hari aku baru pulang. Gara-gara hukuman ini tidak bisa ikut siaran dan pulang terlambat. Lagi-lagi mama menyanyi lagi. Badan cape semua, pikiran kacau, mama menyanyi terus lagi, tugas-tugas juga banyak. Dan besok aku harus punya tenaga yang cukup untuk bersih-bersih toilet. Aku teringat oleh Leo tadi, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada mama. “Ma.” mama yang tadi sedang sibuk menyanyi langsung mengalihkan pandangannya ke arahku.
“ada apa? Mau tanya ya?” tebaknya. “aku mau tanya tentang Leo. Dia sakit apa sih?” mama nampak kaget dengan pertanyaanku. “Leo, Leo siapa?” tanyanya pura-pura tak tahu.

“Leo anaknya Om Handoko. Dia sakit apa sih, tadi aku ketemu dia waktu mau ngebersihin toilet–” mama memotong omonganku. “ngapain kamu ngebersihin toilet kayak cleaning service aja.”
“iya aku dihukum karena ketiduran di kelas. Aku lanjut, pas mau ngebersihin toilet yang ketiga aku denger suara orang muntah, pas dibuka ternyata Leo.”
“terus kamu pasti nanya dong dia sakit apa.” jawab mama sok tidak peduli.

“iya, dia jawab cuma masuk angin. Masa masuk angin sampai gitu, muntah-muntah dan warna muntahannya itu gak kayak orang masuk angin pada umumnya. Dan waktu dia mau berdiri dan jalan kakinya tuh kayak susah digerakin.” mama gelagapan menanggapi pertanyaan ini. “dia.. dia.. tapi kamu jangan bilang sama temen-temen kamu yang lain.” aku menganggukkan kepala. “dia.. sakit kanker Ray, kanker otak stadium 4. Dia sedang menjalani kemoterapi. Sebenarnya sudah lama penyakit ini berada di tubuh Leo tapi baru diketahui sejak SMP kelas 3 dulu.” mama pergi begitu saja menuju ke dapur. Aku masih duduk membatu di ruang makan. Tak percaya Leo sahabatku sekaligus saudaraku sakit parah dan tak mau memberitahuku tentang itu.

Keesokkan paginya tak ku hiraukan mama memanggilku untuk ikut sarapan, aku langsung berpamitan dan menaiki sepeda ontelku langsung ke sekolah. Cukup, jauh membuatku lelah. Aku menghampiri kelasnya Leo, dia belum datang. Hingga beberapa menit kemudian dia datang. “Lee… aku mau tanya sesuatu tentang kamu tapi jangan di sini, jauh dari kelas.” dia hanya mengangguk, aku menarik tangannya untuk segera pergi dari sini. “kamu mau tanya apa? Butuh aku ajarin?” tanya Leo kepadaku.

“gak usah kamu ajarin, aku mau tanya tapi sebelumnya kamu jangan kaget kalau aku tanyanya gini.” dia mengangguk. “kamu sebenernya sakit kanker kan? Kanker otak dan udah stadium 4 ya kan? kamu bener-bener kurang ajar Lee. Kamu gak mau jujur sama aku saudaramu sendiri, kamu bukan Lee Handoko yang dulu selalu terbuka sama aku setiap kamu ada masalah selalu cerita, keceriaanmu buyar setiap ketemu aku di mana pun itu, kamu jadi pendiam dan menyingkir dariku.” Leo menunduk, dan berkata. “iya, memang aku sakit kanker maaf aku bohong sama kamu. Aku rasa dengan cara apa pun penyakitku ini gak akan sembuh dengan cepat, mungkin waktuku tidak lama lagi. Aku sengaja menghindar dari kamu supaya kamu gak merasa kehilangan ketika aku pergi dan gak kembali.”

“kamu ngomong apa sih? aku gak suka kamu berkata seperti itu, kayak gak ada harapan lagi. Kamu bisa operasi atau apalah yang bisa menyembuhkan itu, walaupun hanya bisa bertahan 1 bulan atau 1 tahun. Aku tidak masalah jika kamu tinggal, tapi akan jadi masalah jika orang-orang yang kamu tinggalkan itu sedih dan tidak rela melepaskanmu. Lebih baik perjuangkan hidupmu ini. Lakukan apa yang bisa membuat keadaanmu membaik seperti operasi, lakukan itu meskipun resikonya mati di meja operasi. Perjuangkan hidupmu ini.” aku mengikuti kata hatiku. Leo hanya diam menatapku sinis.

“kamu gak tahu mereka yang ditinggalin itu begitu kehilanganmu, sosok yang selalu ada di sisi mereka ketika mereka lagi butuh, menghibur ketika lagi di landa kesedihan, sangat terbuka ketika ada masalah. Mereka gak mau kehilangan itu semua, kamu harus berjuang buat kita semua, kamu gak mau lihat Mama aku dan Mama kamu menangisi kepergianmu kan?” dia menggeleng. Wajahnya mulai pucat.

“please, perjuangin hidup lo.” kataku lagi.
“makasih sebelumnya kamu mengingatkanku masih banyak yang peduli sama aku. Tapi aku mohon, sembuhin dulu penyakitmu yang dari dulu gak sembuh-sembuh.”
“hah?” aku bingung. “iya sakit ikut campur hidup orang. Tolong sembuhin itu dulu.” katanya dingin.
“hahaha… ternyata.” aku tak habis pikir. Leo tersenyum tipis.
“baru nyadar? Aku duluan kelas udah mau dimulai nanti aku dihukum kayak kamu lagi ngebersihin toilet. Oh iya kamu gak bersih-bersih?” tanyanya sebelum pergi dari hadapanku.
“biarin nanti aja pas istirahat. Please masukin kata-kataku tadi dalam otakmu cerna kata-kata itu!” Leo pergi dari hadapanku. Tanpa sepatah kata pun ke luar dari mulutnya. Aku tidak tega melihat Leo saat ini di dalam dia kesakitan namun dia mencoba untuk menyembunyikannya.

Waktu terus berlalu. Sudah satu bulan ini aku menjalani hukuman menjadi cleaning service sementara di sekolah, doaku selama ini terkabul juga. Bu Lidia tidak mengajarku lagi karena dia pindah mengajar di sekolah luar Jawa. Hatiku sangat senang karena hukumanku ini tidak berlaku lagi. Beberapa saat kemudian aku mendapatkan berita buruk dari teman Leo, dia tidak masuk hari ini karena sakitnya itu mengharuskan dia tidak masuk. Aku takut jika kemoterapi yang dijalaninya itu tidak berhasil.

Pulang sekolah aku tidak langsung pulang, aku menyempatkan diri untuk ke rumah Leo. Ternyata Leo dirawat di rumah sakit. Kedengarannya kemoterapinya itu tidak berhasil. Ketika masuk ke ruang pavilium nomor 134. Leo tertidur lemas di atas kasur, wajahnya sangat pucat, badannya yang dulu agak gemuk sekarang menjadi kurus lebih kurus daripada aku, badannya ditempel banyak alat entah apa alat itu.

“Tante bagaimana keadaan Leo sekarang?” tanyaku kepada Tante Arum yang duduk di sebelah kasur tempat Leo tidur, wajahnya tampak takut kalau saja anak satu-satunya ini tidak akan membuka matanya lagi. “sudah 3 hari ini Leo dirawat di sini keadaanya makin buruk, sekarang sudah stadium 6 kamu sudah tahu kan kemo yang dijalaninya itu?” aku menganggukkan kepala. “kemonya hampir berhasil tapi entah mengapa keadaannya bisa langsung memburuk seperti ini, sungguh Tante takut kalau stadiumnya sudah di stadium akhir. Hanya bisa menunggu keajaiban yang membuatnya sembuh.”

Leo sudah cukup berjuang, dia sudah mencerna kata-kataku itu. Tapi lagi-lagi dia menyerah. Mungkin dia sudah bosan meminum obat yang begitu banyaknya, harus mengalami pusing yang gak karuan, dan muntah-muntah yang mengharuskan dia untuk bolak-balik ke kamar mandi. Sebenarnya aku sedih kalau dia meninggalkanku, waktu itu aku hanya berbohong saja. “dokter bilang Leo harus segera dioperasi, namun resikonya mati di meja operasi. Operasi ini sudah Tante bicarakan sama Om. Om setuju, namun Leonya tidak mau dioperasi dia bilang lebih baik mati karena penyakitnya sudah di stadium akhir daripada harus di operasi dengan resiko mati di meja operasi.”

“Tante harap kamu bisa membujuk Leo untuk mau dioperasi.” Tante Arum berkata dengan penuh harap. Apakah aku bisa? Sedangkan Leo saja orangnya keras kepala.
“uuhh.. kalau saya tidak berhasil?” tanyaku ragu-ragu.
“pasti berhasil tidak mungkin tidak berhasil. Dari kecil kamu sudah menjadi penasihatnya. Kamu pasti bisa!” katanya menyemangatiku. Aku mengangguk, “akan aku coba.”

Bel pelajaran usai berbunyi. Aku sudah menunggu Leo di depan kelasnya. Aku akan membujuknya untuk mau dioperasi.
“Lee jangan pulang dulu ikut aku!” aku menarik tangannya dan pergi dari depan kelas.
“ada apa lagi? kamu gak tahu aku baru saja ke luar dari rumah sakit kemarin, aku harus banyak istirahat.”
“Lee please kamu harus menjalankan operasi itu. Aku sudah bilang dari dulu apapun resikonya kamu harus jalanin.” wajah Leo mulai berubah sinis.
“kamu enak tinggal ngomong aja. Aku harus berjuang menjalani itu, t*lol! Dan kalau aku gak sanggup terus mati di meja operasi gimana? Betapa sedihnya Mama dan Papa dan yang lain.” katanya dengan nada sebal.

“aku tahu itu. Aku tahu. Tapi setidaknya buat Mama kamu senang, dia yang meminta agar aku mau membujukmu untuk melakukan operasi itu. Jika kamu tidak mau ya sudahlah itu terserahmu. Hidupmu yang menentukan adalah kamu bukan aku bukan Papa dan Mama kamu. Ini hidupmu. Aku hanya memberitahu kalau operasi ini sangat penting untuk kamu dan kedua orangtuamu. Jika aku yang jadi kamu operasi apa pun akan aku lakukan demi mereka bisa melihatku tetap berada di dekat mereka meskipun hanya sebentar.”

Aku menelan ludah dan melanjutkan pembicaraanku. “pikirkan itu. Ini hidupmu. Aku tidak bisa memaksa. Kalau kamu tidak mau ya sudahlah, toh itu kehidupanmu.”
Leo hanya diam melongo. “apakah Papa dan teman sekelasku peduli denganku jika aku mati? Sewaktu aku tidak sakit saja Papa jarang menemaniku, sejak Papa tahu kalau aku kena kanker otak dan sudah stadium 2 pada saat itu, Papa sering menemaniku dan terkadang cuti beberapa hari. Sewaktu sehat saja dia sibuk dengan pekerjaannya.”

“sesibuknya Papamu dia tetap seorang Papa yang membanting tulang demi keluarga mencari nafkah, dan mencintai keluarganya meskipun jarang bertemu karena sibuk bekerja. Om Han sebenarnya sayang sama kamu, dia selalu berkata padaku ‘jadilah teman yang baik untuk Leo, buat dia bahagia. Kalau Leo sedih hibur dia. Karena Om sibuk dengan pekerjaan Om hanya kamu yang bisa Om andalkan’ dia sebenarnya care sama kamu namun karena harus mencari nafkah agar kamu bisa bersekolah dengan layak.”

“apa benar itu? Kamu pasti bohong demi aku bahagia iya kan?” benar-benar kepala batu.
“tidak aku tidak bohong sama kamu. Kalau kamu perlu bukti tanya saja sama om Han.” aku langsung pergi tak ku hiraukan Leo yang masih berdiri terpaku.

Seminggu kemudian aku mendapat berita kalau Leo mau dioperasi. Operasinya dilaksanakan 3 minggu lagi. Sekarang sudah waktunya Leo menjalankan operasi. Aku menemaninya sebelum dibawa ke ruang operasi. Sikap Leo yang dulu mulai muncul kembali. Kami bercanda tawa hingga suster datang untuk membawa Leo ke ruang operasi. “Lee jangan pergi! Berjanjilah kamu akan berjuang di operasi ini. Jangan pergi!” Leo sudah dibawa ke ruang operasi. Aku hanya bisa berdoa agar operasinya lancar.

Leo meninggal dua tahun setelah operasinya berjalan lancar. Hari ini adalah hari di mana dia dikebumikan. Aku melihat jasad Leo di tanam di bawah tanah dari kejauhan. Om Handoko juga hanya melihat dari ke jauhan bersamaku. “oh iya Ray Om lupa ini dari Leo. Kenapa kamu tidak mendekat?” katanya sambil menyodorkan amplop.
“Om juga kenapa gak mendekat?” aku kembali bertanya. “karena ini terakhir kalinya Om melihat dia. Om tahu dia tidak mau kalau Om sedih karena kematiannya. Lebih baik Om di sini.”
“Leo akan lebih sedih kalau seorang Papa yang disayangnya tidak melihat dari dekat. Kalau Ray cukup melihat dari sini saja, dia pasti tahu kalau aku sudah datang. Dia akan sedih jika melihatku mendekati dia.”

“kenapa begitu?”
“karena sewaktu dia sakit dia berkata, ‘aku sengaja menghindarimu agar kamu tidak merasa kehilangan sewaktu aku pergi dan tak kembali’ ketika dia berkata seperti itu aku memarahinya tapi aku tetap merasa kehilangan seorang teman dan saudara yang ku sayang.”
“kalau itu yang dimau oleh Leo saya ke sana dulu, Om tinggal ya. Oh iya baca surat yang ada di dalam amplop itu. Itu dari Leo.” aku hanya mengangguk. Om Handoko pergi mendekat ke tempat pemakaman.

Aku membuka amplop itu. Surat itu bertuliskan: to Ray
“Ketika kamu membaca ini mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini. Oh iya jangan lupa sembuhkan penyakit ikut campurmu itu. Maafkan aku tidak memberitahu kalau aku punya sakit kanker otak, aku malah berbohong kalau aku hanya masuk angin. Aku sangat berterima kasih kamu rela melakukan apa pun agar aku mau dioperasi. Aku sudah berusaha berjuang mempertahankan hidup namun akhirnya ajal menjemputku.” Aku melihat tinta yang memudar karena air mata, pasti Leo sedang menangis saat menulis ini.

“P.s. Jangan menjadikan masalah kalau orang-orang yang aku tinggal itu sedih dan kehilangan aku. Ingat Ray waktu terus berjalan, aku sudah mati dan kamu masih hidup. Tak perlu terikat masa lalu. Kalau kamu merasa kehilangan aku kamu boleh melupakan aku, biar aku saja yang mengingatmu sebagai saudara dan teman yang baik. Itu lebih dari cukup untukku.” Aku jatuh terduduk di tanah, lalu menutupi wajahku, aku mencoba menahan air mata yang sudah hampir tak terbendung lagi.

“jujur aku merasa kehilanganmu Lee. Aku tak akan melupakanmu Lee gak akan.” Air mataku mulai menetes. Akhirnya untuk kesekian lama setelah aku dewasa aku menangis. Menangisi kepergian saudara kesayanganku ini. Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan kenangan tentang Leo hilang begitu saja tanpa membekas sedikit pun.

Cerpen Karangan: FirdaChoi
Facebook: Firda Rizqi
FirdaChoi dengan nama asli Firda Rizqi Choirunnisa. Semua aktivitasnya bisa dilihat di facebook dan instagramnya. Facebook: Firda Rizqi, Instagram: Firdachoi_

Cerpen Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sehidup Semati

Oleh:
Suatu hari di sebuah kelas dalam satu sekolah terdapat sepasang sahabat yang bernama Desi dan Wawan. Mereka selalu bersama dan terus bersama sepanjang waktu. Rumah mereka memang berbeda komplek.

Women, Gossip & Reality (Part 2)

Oleh:
Amel dan Ocha masih menatap tajam wajah Vira, sepertinya mereka berdua mengharapkan penjelasan mengenai perkataan yang keluar dari mulut Maike tadi. Vira tersenyum lalu ia menatap Lila, tidak lama

Bertemu Idola

Oleh:
Ada seorang anak bernama Gilang. Ia sangat suka dan pandai bermain sepak bola. Ia sering bermain sepak bola bersama dua sahabatnya yang bernama Ardi dan Alex. Suatu hari Gilang,

Ahh… Hidup (Part 1)

Oleh:
Aphan namaku. Umurku 16 tahun saat ini. Dan di sinilah aku, di bawah naungan pondok kecil yang aku buat beberapa pekan lalu bersama teman-temanku. Perempuan itu duduk di tepi

Buah Hati Kecilku

Oleh:
Kami sudah menikah sekitar 4 tahun, dan aku mengandung buah hati kami yang sudah berjalan 6 bulan. Banyak hal suamiku siapkan untuk kelahiran anakku ini, “aduuuuh …” lirihku menahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *