Hilangnya Balon Hitamku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 July 2018

Sabtu pagi, aku terbangun dengan riangnya. Aku sadar bahwa inilah kamar istimewaku. Kubuka jendela tua ini dengan senyum semangat. Udara pagi ini menyegarkanku. Aku segera beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi.

Pagi ini udara sejuk sekali di Pekanbaru. Aku ingat bahwa pagi ini juga aku dijemput oleh sahabatku, Andrean. Si dia berulangtahun pada hari ini dan kami akan merayakannya di sebuah tempat wisata yang indah di Sumatera Barat, Kebun Teh tepatnya.

Aku melihat arloji di tanganku, waktu telah menunjukkan pukul 06:35 WIB. Aku mendengar suara klakson mobil di depan rumahku. Iya dia Andrean, Dandy dan Rezki yang sudah sampai di luar pagar depan rumahku, mereka bertiga adalah sahabat yang selalu menemani hari-hari di kampusku. Aku pun keluar dari rumah dan aku langsung memasuki mobilnya Andrean, Honda Jazz yang berwarna merah. Iya ini mobil milik ayahnya.

Kami langsung on the way menuju tujuan kami “OTW Kebun Teh”, ujar sahabatku Dandy sambil senyum riang. Lalu di tengah-tengah perjalanan, kami pun mampir di sebuah toko cantik yang dihiasi aneka hiasan manik-manik dan beraneka ragam kue. Iya kami membeli kue ulangtahunnya Andrean dan dihiasi atasnya oleh lilin yang angkanya 22, itu artinya usia sahabat kami Andrean, sudah genap 22 hari ini. Selain itu, Andrean juga membeli serta ia pun mengambil balon-balon berwarna hitam saja. Balon hitam lebih bagus untuk menemani kebahagiaan kita hari ini, ujar Andrean. Aku berharap Andrean akan mengambil balon-balon yang lebih cerah warnanya, ada merah, kuning, hijau, biru dan aneka macam balon yang berwarna pelangi pun ada di toko itu, tapi Andrean hanya menyukai balon-balon hitam saja. Sudahlah mungkin itu baik menurut pilihan sahabat kami, Andrean.

Selesai belanja peralatan ulangtahunnya Andrean, kami langsung berangkat lagi melanjutkan perjalanan ke Kebun Teh. Di dalam perjalanan kami bersenda gurau, kami sudah membayangkan betapa asiknya jika sudah sampai di tempat tujuan dan kami akan merayakan Party sambil foto bersama, foto selfie adalah salah satu hoby kami di kampus. Pokoknya seru banget hari ini, riang gembira yang kami rasakan di dalam perjalanan.

Ketika terbangun, aku sudah berada di ruangan yang cukup luas. Aku tak tahu ini di mana? Ujarku.
Aku terbaring di sebuah kasur yang beralaskan seprai putih berseri dan sebuah bantal yang serupa warnanya. Aku kembali melihat jam dinding di ruangan yang bercatkan kuning air ini, waktu telah menunjukkan pukul 13:42 WIB. Aku menoleh ke arah kanan, kiri, dan aku melihat 2 orang perempuan paruh baya dan seorang lelaki yang berusia sekitar 30 tahun telah terbaring di kasur yang serupa denganku. “Aku lagi di mana?” Ujarku.

Uhhhhh rasanya kepalaku berat sekali seakan memikul beban yang berat, dan kaki aku kram sekali rasanya. Aku mencoba untuk selalu kuat berdiri dan ternyata aku masih pusing dan kepalaku mencekam. Aku menoleh ke arah kakiku rupanya berdarah dan sudah dibalut dengan kain kasa putih, tandanya kakiku terluka. Aku ke luar dari ruangan yang berwarna kuning air itu tanpa menghiraukan kondisiku, aku melihat 4 orang perempuan sedang sibuk dengan aktifitasnya menggunakan kostum biru langit dan masker berwarna hijau toska.
Aku langsung mendekati ruangan itu dan bertanya, “aku lagi di mana Kak?” seorang menjawab saudara Khoir, saudara sedang berada di rumah sakit. Sebaiknya saudara istirahat dahulu di dalam ruangan, lalu ia mengantarkanku di tempat semula.

Tak lama kemudian, aku langsung keluar dari zona ini, dan aku langsung berjalan lari-lari sedikit hingga sampai di luar pekarangan rumah sakit, aku langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu hingga aku langsung sampai ke persimpangan jalan.

“Mau ke mana dek?” ujar seorang tukang ojek kepadaku. Aku langsung menaiki ojek itu dan aku minta tolong untuk mengantarkanku di pangkalan travel, biar aku mudah untuk pulang ke rumahku.
Aku meraba saku, aku mengambil ponselku, ahhhhh ponselku batlow, jaringannya sudah off. “Bagaimana aku bisa untuk menghubungi sahabat-sahabatku yang telah meninggalkanku sendiri di Rumah Sakit?” Aku kecewa dan sedikit bersedih melihat keadaanku yang telah ditinggalkan oleh sahabatku sendiri.

Sekarang matahari telah hampir tenggelam di ufuk Barat, pendar warna senja mulai meredup, safak merah sudah mulai bermunculan, burung-burung sudah terbang dan kembali pulang ke sarangnya. Itu tandanya malam akan segera membutakan bumi.

Sebelum aku sampai di rumahku, tentunya aku melewati jalan di depan rumah sahabatku, Andrean. Aku menoleh ke arah rumah Andrean dan aku melihat papan bunga berbaris di depan rumahnya. Tanpa berpikir ulang, aku langsung turun dari angkutan umum travel itu. Aku berlari hingga sampai di rumah Andrean. Mataku berkaca-kaca melihat suasana yang mencekam itu, aku melihat orang yang datang berpakaian hitam polos seakan membuatku takut untuk menatapnya lebih lama, aku pun langsung masuk ke dalam rumah Andrean, aku menoleh ke arah kananku, aku melihat sesosok jasad yang terbujur kaku dibalut dengan kain panjang yang bercorakkan motif batik kacang yang berwarna kecoklatan. Aku mendengar tumpang tindih suara mengaji dan sesekali aku dengarkan suara tangisan, iya itu suara ayah dan ibu Andrean. Aku langsung mendekati ortunya Andrean. Aku menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada kami. Ayah Andrean telah menceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi hari ini, kami kecelakan ketika di tengah perjalanan sebelum sampai di tempat tujuan, aku yang pingsan ketika kecelakaan tadi, Dandy yang mengalami luka parah di bagian tangannya, Rezki yang mengalami patah tulang di bagian kakinya, hingga dilarikan di RS ternama ketika itu. Andrean yang mengalami luka parah di bagian dada dan kepalanya hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Ketika itu juga aku tergeletak tak berdaya mendengarkan peristiwa yang terjadi pada kami berempat. Aku meneteskan air mata sambil memegang surat yasinan ketika melihat jasad sahabatku, Andrean. Aku mencium Andrean untuk terakhir kalinya di hari ulangtahunnya, aku melihat Andrean sedang tersenyum tipis walaupun matanya sudah terpejamkan ketika di hadapanku.

Suasana semakin hening pada malam itu, sesekali aku mendengarkan suara mengaji yang diperuntukkan untuk sahabatku, Andrean. Aku mengira bahwa hari itu balon hitamku sudah menghilang dan diganti dengan pakaian hitam yang digunakan oleh warga yang melayat ketika itu di rumah kediaman sahabatku, Andrean.

Cerpen Karangan: Akmal Khairi
Blog / Facebook: Akmal Khairi Zein

Cerpen Hilangnya Balon Hitamku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Brie, Itu Aku

Oleh:
Aku Brie. Ini kisah hidupku. Kejadian itu sudah lama, saat itu kami masih sangat kecil, saat aku masih senang-senangnya mengejar seekor cicak sombong, ia meledekku dengan ekornya yang jelek.

Bougenville

Oleh:
Sebuah sepeda berjalan menyusuri jalan setapak di tepi danau. Sttt… begitulah suara rem sepeda yang hendak menghentikan roda yang melaju kencang di atas rumput hijau di samping sebuah kursi

Tempat Terakhir

Oleh:
2 sahabat, Vira dan Arya, selalu berpetualang mencari tempat-tempat yang asik dan indah buat mereka kunjungi, udah banyak tempat yang mereka kunjungi, dari dalam kota maupun luar kota, ini

Liontin Dari Sahabat

Oleh:
Sebutlah gadis cantik berambut panjang bernama kennia dan pria tampan bernama diego. Mereka berteman sejak kecil sampai saat ini, mereka terpisah karena status ekonomi. Diego adalah anak orang kaya

Sahabat Sejati

Oleh:
Ini adalah tahun ke-5 ku di sekolah dasar (SD). Dan aku sangat senang karena aku mendapat teman-teman baru. Aku berteman dengan Febri. Sebelumnya aku dan Febri memang sudah saling

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hilangnya Balon Hitamku”

  1. Fitri Ayu Lestari says:

    Pada bagus semua cerpennya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *