Hujan Kala Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 April 2014

Ada segelintir cerita yang begitu perih menyedihkan, ada segores luka yang teramat dalam, ada setitik harapan yang begitu jauh dari kenyataan, sehingga menuntut Cares untuk terus menggerakkan kakinya selangkah demi selangkah. Ia pasrah kemana pun kaki itu akan membawanya. Akankah tetap maju atau memilih jalan lain, entahlah. Kepalanya menunduk semakin dalam. Matanya terasa mulai memanas. Semakin berusaha menahannya justru air mata itu semakin ingin berdesakkan keluar.

Cares merentangkan kedua tangannya. Menghirup udara untuk mengisi kehampaan. Matanya terarah pada langit senja, namun itu tak berlangsung lama. Kini ia duduk dengan posisi kedua kaki ditekuk di depan dan kepala terbenam di antara dua lututnya. Ya, sekarang ia disana, di bukit kenangan itu.

Cares terdampar di bukit itu, duduk lemah bersanding dengan bunga yang ceria, rerumputan yang asyik menari, dan burung yang riang berkicau. Cares menengadah ke langit, mencari sesuatu yang hilang. Matahari, dia tak lagi ada disana. Sang surya tak lagi memancarkan sinarnya ke bumi. Ia menjadikan langit pucat dan muram, langit tak lagi ceria setelah ia tiada. Begitupun dengan bumi. Tatkala ia menatap bumi dan memalingkan pandangannya dari langit, ia mendapati dedaunan telah meninggalkan ranting dan berserakan di tanah terombang-ambing oleh angin. Keadaan itu benar-benar mencerminkan keadaan gadis yang saat ini sedang menatapnya.

Dan tak lama kemudian, terjadi suatu hal di tempat ini. Apa yang terjadi saat ini memang bukanlah hal baru yang melanda bumi. Hujan. Ya, sebuah peristiwa alam biasa yang menyapa tanah ini. Tiupan angin yang kencang membuat tumbuhan di sekitar Cares berada bergoyang dan menggugurkan daunnya karena tak kuat menahan dinginnya sore ini. Petir menyambar. Kilatan cahayanya terlihat semakin nyata dalam gelap.

Dingin semakin menusuk tulang, semakin kuat membelai setiap makhluk. Di bawah naungan cakrawala, Cares termenung seorang diri. Sampai saat ini, hujan masih menumpahkan gejolaknya seolah langit menumpahkan seluruh isi dan kerinduannya pada bumi.

Hujan hari ini berbeda. Memang masih seperti kemarin, hujan masih dari air, turun dari langit, dan ada mendung sebelum hujan. Namun bagi Cares ini berbeda. Ia yang biasanya takut hujan, secara tiba-tiba kini ia berani menghadapi hujan. Cares tak lagi menyembunyikan diri dari guyurannya, ia tak lagi menutup telinga karena kilatan petir, ia tak lagi takut dengan semua itu.

Jingga telah berganti hitam. Meski sudah selama itu ia masih menunggu, ia tetap menginginkan hujan turun lebih lama lagi. Cares mengulurkan tangan hingga air hujan mengenainya. Sambil menengadahkan kepala, hatinya bergumam, “Dapatkah kau lunturkan cerita sedih dalam kisahku?”

Tatapan Cares begitu sendu, terlihat garis kesedihan terpancar dari wajahnya, air mata pun menetes tak terelakkan lagi. Cares tak mencoba untuk menahannya, ia juga tak berusaha untuk menghapusnya. Cares membiarkannya mengalir melintasi pipinya dan menyatu dengan guyuran dari langit.

Hati Cares tengah berlalu lalang, pikirannya tengah gamang, dan rasa itu selalu datang. Ia terus coba mengelak rasa itu namun apa daya? Ia tetap tak bisa melenyapkan rasa tulus dari Sang Kuasa itu. Hatinya kini terbalut oleh rasa semu yang tak kan penah mampu untuk ia lupakan.

Tubuhnya telah basah kuyup, tapi ia masih setia di bawah angkasa ini, memandang cakrawala yang tak bisa digapai dan tak dapat disentuh. Hujan ini telah membekukan tubuh dan pikirannya, pikiran yang tertuju pada satu titik –hanya pada dia– kristal bening mengalir semakin deras di pipi, rasa sesak itu semakin menjadi, Cares sudah tak lagi mampu menahannya. Detik itu pula, ia kehilangan kesadarannya.

Cerpen Karangan: Deyanggi Bhi
Blog: www.http//world-sastra.blogspot.com
Facebook: Deyanggi Bhi Author
Deyanggi Bhi adalah seorang remaja yang gemar menulis fiksi sejak kecil.Sedang mengenyam pendidikan kelas XI jurusan IPS di SMAN 6 Garut. Penulis Novel, Pengamat Sastra, Pecinta Fiksi.

Cerpen Hujan Kala Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Life

Oleh:
Pada suatu siang yang cerah, ada seorang gadis cantik yang bernama alika pevita dia adalah, seorang pecinta komik dan novel. saat itu ia sedang berada di dalam toko buku

Pelangi, Beri Aku Warna

Oleh:
Tak selamanya benang itu selalu rapi, seringkali pintalan benang itu kusut, sulit diterjemahkan hingga berakhir kejenuhan. Begitulah keadaanku sekarang, berada di tengah tikungan tajam persahabatan yang memaksa aku memilih,

Maafkan Aku Ayah

Oleh:
Kehidupan keluarga kecil Andi begitu bahagia. Kebutuhan materi keluarga itu berkecukupan karena Ayah Andi berprofesi sebagai pegawai di salah satu perusahaan besar di Surabaya; kebutuhan kasih sayang juga terpenuhi

Surat Terakhirku

Oleh:
Angin bertiup kencang dan meniup daun-daun pohon mangga yang sudah tua. Ketika aku pulang sekolah, aku melihat Ayah dan Ibuku yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ibu yang sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *