I Promise, Best Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 March 2017

Pagi Ini, aku ingin jalan-jalan bersama sahabatku, Elisa. Kami sangat dekat sudah hampir lima tahun.

“Elisa!” seruku. “Eh, Zahra,” kata Elisa. “Mau ke Taman Cendrawasih, nggak?” tanyaku. “Yuk, kapan?” tanya Elisa dengan senyuman manisnya. “Besok aja gimana?” kataku. “Oke, aku pulang dulu yaa,” kata Elisa. Aku mengangguk pelan. Lalu aku segera mencari ojek lalu pulang ke rumah.

Saat sampai rumah, aku langsung tiduran di sofa karena kelelahan belajar tadi pagi.
“Eh, Zahra. Mau makan nggak?” tawar Mbak Zika. “Nggak deh Mba, gak laper,” aku menjawab. “Ya udah, kalo mau makan, ke kamar mbak aja ya,” kata Mbak Zika. Aku mengangguk pelan.

Di Kamar.
Aku menatap layar handphoneku.
“Haih, Elisa kenapa?” aku bertanya sendiri, karena grup angkatanku semua bilang Get Well Soon Elisa. Lalu aku segera scroll up untuk mencari tahu.

Ternyata, Elisa kecelakaan ojek. Syukurlah tidak terlalu parah lukanya, hanya kakinya terbentur di trotoar. Lalu aku dapat berita dari group, kalo Elisa ternyata masuk UGD. Kata dokter, ternyata kepala Elisa terbentur juga. Aku semakin panik dengan kondisi Elisa.

“Mending aku jenguk, Elisa aja deh,” aku berkata, lalu aku menanyakan rumah sakit tempat Elisa dirawat. Aku pun segera berangkat karena sudah diizinkan oleh Mama.

Di Rumah Sakit Cikampek.
“Sus, Elisa Fathira di mana ya ruangannya?” tanyaku kepada Suster. “Elisa? dia udah pulang, alhamdulillah beberapa menit yang lalu dia udah sembuh,” kata Suster. “Wah, terima kasih Sus,” kataku.

Keesokannya..
“Lis, kamu kenapa?” aku bertanya. “Nggak, pusing aja. Mungkin gara-gara masih trauma sama kejadian kemaren,” kata Elisa pelan. “Oooh,” aku menjawab. Lama-lama Elisa tiduran di meja. “Lis?” aku terus memanggilnya, tetapi dia tak kunjung menjawab. “Lisaaa?” aku memanggilnya lebih kencang. “ZAHRA!” tegur Pak Ali. “Eh, Maaf Pak,” aku menjawab dengan rasa maluku.

“ELISA!” Pak Ali menegur Elisa yang terus-terusan tiduran di meja. “Eh, maaf Pak. Pusing,” katanya. Pak Ali terus menjelaskan pelajaran Bahasa Indonesia.

“Lis, kamu gak papa kan?” tanyaku pelan. “Gak, gak papa,” jawab Elisa.

DUBRAK!
Kursi Elisa terjatuh. “Elisaa?” aku menatap Elisa yang tak sadarkan diri di lantai. Kelas menjadi ricuh karena pingsannya Elisa. Pak Ali kebingungan. Dibawanya Elisa ke ruang kesehatan. Ternyata, Elisa hanya sakit panas. Tetapi sangat tinggi.

“Zahra, kamu hafal nomor telfon orangtua Elisa?” tanya Bu Izah. “Ini aku tulis dulu ya,” kataku seraya menulis nomor telepon di buku catatan. “Ini bu,” lanjutku. “Baik, Terima Kasih, Zahra,” kata Bu Izah. Aku mengangguk pelan.

Lalu, Elisa akhirnya sadar saat di Rumah Sakit Cikampek.
“Huh?” kata Elisa. “Elisaaa!” seruku. “Ini di Rumah Sakit ya?” tanya Elisa. “Iya, kamu cuman dicek sama dikasih obat. Abis itu pulang! Tapi sedih ya, kita gak jadi ke Taman Cendrawasih,” ucapku. “Gak marah kan? Aku tau kamu pasti kesel sama aku,” kata Elisa. “No way, aku gak akan marah,” kataku. “Eh, Dokter dateng tuh,” kata Elisa. “Eh, dik, keluar dulu ya. Mau dicek,” kata Dokter. Aku mengangguk. Lalu aku segera keluar dari ruangan itu.

Aku selalu menunggu kabar Elisa. Sampai akhirnya dokter keluar.
“Elisa tidak boleh pulang, dia terkena penyakit yang cukup besar, Anemia,” kata Dokter. Aku terkaget tak main-main. “Apa ini karena kecelakaan ojek kemarin?” kata Dokter. Aku yang tak tahu apa-apa, hanya cuman bisa mengangguk-angguk. “Baiklah. Besok jenguk lagi ya,” kata Dokter.

Keesokannya..
Aku kembali ke Rumah Sakit Cikampek.
“Dok, Elisa gimana?” tanyaku. “Keadaan Elisa memburuk,” ucap Dokter. “Hah?!” aku terjerit kecil. “Sudah, tenang. Banyak berdoa, karena hanya tuhan yang tau. Apakah Elisa masih bisa bertahan. Atau tidak.”
Aku mengangguk kecil.

Di Rumah..
Aku terus memikirkan kondisi Elisa sekarang. Aku sangat takut jika nyawanya harus diambil tuhan. Tapi aku tak bisa menolong apa-apa. Sampai akhirnya aku memilih untuk menjenguk Elisa lagi.

Di Rumah Sakit Cikampek..
“Dokterr, gimana Elisaa?” aku menanya dengan muka ketakutanku. “Alhamdulillah, Elisa membaik,” kata Dokter.
Aku sangat bahagia, menunggu kapan Elisa bisa kembali. “Besok, Elisa boleh pulang,” ucap Dokter. “Terima kasih banyak, Dok,” ucapku bahagia.

Sampai akhirnya Senin.
Sudah seminggu Elisa masuk. Kita sudah berjalan-jalan ke Taman Cendrawasih. Aku sangat bahagia, bisa berseru-seru lagi dengan Elisa.

Tetapi, Elisa mulai batuk-batuk lagi. Gimana ini? Aku mulai khawatir dengan Elisa. Aku langsung memanggil Pak Ali dan Bu Izah untuk membawanya ke Rumah Sakit Cikampek lagi.

Di Rumah Sakit Cikampek..
“Huft, Elisa gimana ya?” tanyaku terus memikirkan Elisa. Dokter keluar dengan muka sedih, “Elisa, terkena kanker. Tadi saya sempat terkejut,” kata Dokter. Aku kaget, kaget luar biasa, Apa yang saya bisa bantu? Apa!?

Aku terus saja menunggu kabar Elisa di RS itu. Dokter selalu bolak-balik ke kamar Elisa. Sampai akhirnya pada malam hari. Aku memasuki ruangan Elisa.

“El..,” ucapku pelan. “Zahra, jangan sedih kalau aku pergi,” kata Elisa halus. “Nggak, kamu gak bakal pergi, El. Percaya sama aku,” kataku. “Nggak, pasti ada saatnya aku harus ninggalin kamu. Masih ada yang lebih baik dari aku, Zah,” kata Elisa. “No,” aku menjawab. “Kalo, aku pergi, jangan lupain aku ya,” kata Elisa. “Gak bakal, kamu gak bakal pergi.” Saat kulihat, detak jantung Elisa semakin lemah, jantungku mulai berdegup kencang.
“Jangan l-lupain aku ya, Zah,” kata Elisa. Aku menangis, lalu berkata, “Aku gak bakal lupain kamu, I Promise, Best friend,” kataku. Lalu.. Elisa menghembuskan nafas terakhirnya.

Saat itulah, aku menjadi pendiam, suka marah, selalu mengurung. Aku sering tidak masuk sekolah.

I Promise, Best friend.
I will never forget you.

Cerpen Karangan: Fara Nadira

Cerpen I Promise, Best Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Flower Crown Yang Luar Biasa

Oleh:
“ZaKirah Andin Qlueria! Berapa kali Mama sudah bilang Mama gak bisa beliin kamu flower crown!” marah Mama kepada Kira “huaaa!! Mama beliin dong temen Kira sudah punya semua!” bentak

Karung Terakhir

Oleh:
Sejak bilal masjid mengumandangkan bacaan niat sahur untuk esok, Baba pun mulai berganti ‘baju dinas’. Ke luar masjid dengan mulut komat-kamit. Hatinya bergumam, “ini malam ke-29 ya? masih ada

Pohon Berlian

Oleh:
Namanya Shaqueena Mardhiyyah. Biasa dipanggil Dhiyyah. Namanya cantik pemberian Almarhum dan Almarhumah orangtuanya. Memang Dhiyyah tinggal di tenda. Ia tinggal di hutan tetapi tak terlalu dalam. Sebenarnya, Dhiyyah harus

Malaikat Kecil Bersayap (Part 2)

Oleh:
“Kamu lihat kan, Tari itu sakit aku udah bilang ke kamu buat tanayain apa yang terjadi sama dia, aku udah beberapa kali mergoki dia berwajah pucat” ucap Ayah kepada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *