Ismail Kecilku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 January 2014

Pagi yang sangat cerah. Tadi malam begitu lelap tidurku. Yah, karena Adik yang tidur satu kamar denganku sedang pulang ke kampung. Dan rencananya, pagi ini mereka baru akan datang ke kos. Minggu ini adalah waktu istirahatku. Aku ingin merasakan kenyamanan, kesegaran pikiran, dan aku ingin bebas dari semua pekerjaan. Aku ingin badan dan fikiranku segar di esok hari. Aku tahu, besok akan ada setumpuk pekerjaan di meja kerja yang harus aku selesaikan. Oleh karena itu, aku ingin mengistirahatkan badan dan fikiranku.

Di kos-kosan, aku adalah orang yang paling tua, umurku 25 tahun. Kebanyakan, yang kos di sini anak-anak kuliahan, sekitar 18-21 tahun. Dan anak yang satu kamar denganku Dia berumur 18 tahun, Dia baru masuk kuliah tahun ini. Karena aku paling tua di sini, banyak anak-anak yang sering curhat denganku. Pikiranku jadi tambah banyak. Terkadang, aku pusing memikirkan masalah anak-anak. Belum lagi masalah rekan kerjaku di kantor. Ya Tuhan, bebanku begitu banyak. Ingin pecah rasanya kepalaku ini.

Satu hal yang membuat emosiku memuncak. Hal yang paling membuatku suntuk saat bekerja. Andaikan aku mempunyai pilihan untuk bekerja di tempat lain, aku akan pindah sekarang juga. Berat untuk melakukan aktivitas kerjaku. Hal yang selalu membuatku naik darah. Resty. Yah.. anak baru, yang masih mempunyai hubungan saudara dengan rekan kerja satu tingkat di atasku. Sikapnya sudah seperti karyawan lama. Bertindak seenaknya, tidak tahu sopan santun, menyuruh sesuka hatinya.

Suasana kerjaku semakin kacau dengan kehadirannya. Bukan aku saja, rekan kerjaku yang lain juga mengeluhkan hal yang sama denganku. Cerewet, bawel. Mentang-mentang saudaranya mempunyai kedudukan yang tinggi di kantor, Ia bisa seenaknya menyuruh karyawan di kantor.

“Kak Re, kamu merasa ada yang aneh tidak dengan Ajeng?” Tanya rekan kerjaku – Andin -, yang meja kerjanya ada di samping kananku. “Memangnya ada apa dengan Dik Ajeng?” Tanyaku sambil mengetik di komputer. “Mm.., cuma tanya saja.” Katanya datar. “Memangnya, Dik Ajeng tidak cerita apa pun ke Mbak Revi?” Tanyanya dengan nada menyelidik. “Dik Ajeng tidak cerita apa pun sama Mbak, memangnya kenapa, Din? Sepertinya, kamu ingin mengetahui sesuatu tentang Dik Ajeng” Kataku yang masih fokus pada pekerjaanku.
“Atau mungkin, Kak Laras yang tahu, ya? Dia kan satu kos dengan Ajeng” Kata Andin yang masih penasaran, gayanya seperti detektif saja. “Kalau begitu, kamu tanya saja sama Mbak Laras.” Kataku yang sudah sempat menatap Andin, dari tadi aku hanya menjawab pertanyaannya, tanpa menolehnya sedikit pun. Tatapanku tertuju pada komputer yang ada di depanku.
“Yah, si Resty sudah datang Mbak. Miss cerewet, miss bawel” Kata Andin. Dia anaknya berani melawan Komsatun. Karena Dia seumuran dengannya (20 tahun). Aku dan rekan kerja yang lain, hanya diam menghadapi segala macam ulah Resty, cemoohan, gunjingan dan segala fitnah yang Ia sebarkan. Kami memilih diam, karena tidak ada gunanya meladeni anak seperti itu. Kita harus menjaga image. Kita lebih dewasa, sehingga harus bisa bersikap bijak menghadapi anak seperti Dia. Kalau tidak, reputasi dan pekerjaan yang akan menjadi taruhannya.

“Ada gosip baru, sudah tahu belum? Jangan sampai ketinggalan..” Kata Resty saat berjalan di depan meja kerjaku. Kemudian Dia duduk. Meja kerjaknya di sebelah kiriku. “Baru datang sudah bilang gosip. Dasar gondes” celetuk Andin dengan nada sinis. “Sinis sekali kamu sama aku. Lihat saja! Akan ada berita menghebohkan.” Katanya dengan senyum sinis yang memperlihatkan bibirnya yang ditarik ke kanan. Untung bisa kembali seperti semula. Coba saja, bibirnya kaku. Seperti apa wajahnya, Tambah jelek saja.
“Sebaiknya, kamu jangan cari masalah lagi” Kataku pada Resty. “Aku tidak cari masalah, aku hanya memberi tahu. Karena ini menyangkut reputasi perusahaan tempat kita bekerja” Katanya dengan nada yakin. ‘Apa sebenarnya yang Ia sembunyikan. Kalau sudah menyangkut masalah perusahaan, Dia tidak mungkin main-main dengan ucapannya. Salah-salah, Ia bisa dipecat dari kantor. Meskipun Kakaknya menduduki posisi penting di perusahaan, aku yakin Pak Dani tidak akan memberi toleransi atas sikapnya.
“Teman-teman, ada rekan kerja kita yang sedang tertimpa masalah. Aku ingin mengajak kalian untuk membantunya. Ajeng membutuhkan biaya untuk mengobati penyakit miomnya.” Kata Kak Laras. “Ajeng kena miom?” Tanyaku terkejur. “Iya, kemarin Dia cerita sama aku” Kata Mbak Laras. ‘Tapi, aku kemarin melihat Dia muntah-muntah di kamar mandi. Wajahnya pucat, dan terlihat lemas. Seperti istrinya Mas Ari saat hamil. Apa benar Ajeng terkena miom. Penyakit apa?’ Tanya Andin dalam hati, Ia menyimpan segudang pertanyaan.
“Miom apa hamil? Perutnya saja membuncit seperti orang hamil” Kata Resty dengan nada menyindir. “Mbak Laras kan di sini paling tua, sudah menikah juga. Masak, hamil atau bukan, tidak bisa membedakannya. Ups.., maaf. Mbak Laraskan di sini perawan tua. Belum menikah. Jadi, belum tahu, ya..,” Kata-kata Resty membuat hati Mbak Laras panas seperti terbakar api. Aku dan Andin hanya bisa menatap Resty dengan tatapan yang penuh gereget. Ingin rasanya tanganku meremas mulutnya yang bawel. Akan aku cubit bibirnya yang manyun.

“Mbak, apa sebenarnya yang terjadi dengan Dik Ajeng?” Tanyaku pada Mbak Laras. “Dia terkena miom, Re” Jawabnya. “Tapi, aku kemarin melihat Ajeng muntah-muntah di kamar mandi Mbak, wajahnya telihat pucat, lemas. Seperti Istrinya Mas Ari saat hamil” Kata Andin. “Andin, gejalanya memang seperti orang hamil. Muntah-muntah, dan perutnya juga membuncit seperti orang hamil” Mbak Laras menjelaskan. “Mbak dulu juga pernah mengalaminya. Kemudian Mbak Laras melakukan operasi” Mbak Laras jadi curhat.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk membantunya, Mbak?” Tanyaku pada Mbak Laras. Dia lebih tahu mengenai Dik Ajeng. “Sebaiknya, kita bantu biaya operasinya. Aku kasihan dengan kondisinya sekarang. Orangtuanya hidup dengan kondisi yang kekurangan. Adiknya juga masih sekolah. Dia adalah tulang punggung keluarga” Cerita Mbak Laras begitu menyentuh hatiku dan Andin.

Selang bebera hari, Andin mulai absen dari kantor. Semua orang terlihat cemas. Termasuk Mbak Laras, teman satu kamarnya. Tersiar kabar bahwa Dik Ajeng hamil. Kabar yang sangat mengejutkan. Aku, Andin dan Mbak Laras sudah berusah membantu mencari dana untuk biaya operasinya. Pinjam sana, pinjam sini. Bahkan banyak rekan kerja yang ikut membantu. Tapi, apa kenyataannya. Dia hamil. Dengan status belum menikah. ‘Apa yang sebenarnya terjadi, ada apa dengan Dik Ajeng. Dia anak yang polos, pendiam, baik. Kenapa cobaan ini menimpanya?’ Pikirku yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada.

Aku, Andin dan Mbak Laras pun berusaha mencari keberadaan Dik Ajeng. Kami datang ke rumah orangtuanya. Tapi, Dik Ajeng tidak ada di sana. ‘Kemana perginya anak itu?’ Tanyaku dalam hati. ‘Dimana kamu, Dik? Kenapa kejadiannya seperti ini. Apa sebenarnya yang terjadi?’ Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di pikiranku.

Karena kondisi kos-kosan yang kurang nyaman, akhirnya aku memilih untuk mengontrak rumah. Entah kenapa, pagi ini hujan turun deras, aku membuat secangkir teh agar tubuhku merasakan kehangatan dan sebuah roti pengganjal perut. Tiba-tiba, ada orang yang mengetuk pintu di depan. ‘Siapa pagi-pagi bertamu?’ Tanyaku dalam hati, berat untuk meninggalkan meja makan. Aku ingin bersantai. ‘Siapa, sih? Pagi-pagi bertamu?’ Kataku dalam hati dengan nada kesal.
“Aku pun membuka pintu. Dan betapa terkejutnya aku, saat melihat orang yang ada di hadapanku. Tubuhnya basah, Rambut yang tergerai panjang, dan air yang terus menetes dari ujung rambutnya. Matanya merah, bibirnya pucat. Menggigit dengan bibir bergetar. Kedua tangannya diletakkan di dadanya untuk menahan rasa dingin air hujan. Karena Ia terkejut melihatku, Ia pun berlari. Aku pun mengejarnya, aku kenal siapa Dia.

“Tunggu Dik..!” Teriakku yang kemudian meraih tangan kananya. “Aku malu Mbak, aku malu pada semua orang. Termasuk Ibu dan Adik-adikku.” Kata gadis itu dengan tangis yang menuruni pipinya bersamaan dengan air hujan yang membasahi wajah cantiknya. “Ikutlah denganku Dik, tinggallah bersamaku” Aku memeluknya, dengan penuh kelembutan. Aku usap rambut panjangnya yang basah. Tanpa ku sadari, air mataku menetes di pundaknya.

Aku pandangi gadis nan cantik itu. Ia minum habis secangkit teh hangat yang kubuatkan. Aku keringkan badan dan rambutnya yang basah dengan handuk. ‘Kenapa kamu harus mengalami masalah serumit ini, Dik?’ Kataku yang kasihan melihat kondisinya yang memprihatinkan.
“Apa sebenarnya yang terjadi, Dik Ajeng?” Tanyaku dengan nada pelan, sambil menunduk menatap wajahnya. Ia masih belum berani menatapku, takut atau karena malu atas kondisinya sekarang. Perutnya sudah membesar. Sebentar lagi mungkin, Ia akan melahirkan. Ia hanya diam, menundukkan kepalanya. Air matanya terus menetes dan terjatuh di pangkuannya. ‘Apa aku salah bertanya seperti itu, Dik? Bicaralah…!’ Kataku dalam hati. Aku bingung dengannya, Ia justru menangis tersedu-sedu.
“Ijinkan aku tinggal di sini, Mbak” Ia mendongakkan kepalanya menatapku. Tatapan yang penuh kesedihan, setumpuk beban terlihat di kedua matanya. Aku langsung memeluknya. Membelai rambutnya, dan lagi-lagi, air mataku terjatuh. Aku tak tahan melihat kondisinya seperti itu. Begitu berat ujian yang harus Ia hadapi. Aku tak ingin bertanya hal apa pun kepadanya. Kondisi mentalnya sedang tidak baik. Pertanyaanku hanya akan menambah beban batinnya. Jika Ia sudah merasa baik, Ia akan dengan sendirinya menceritakannya padaku. “Tenaglah, Dik. Mbak Revi akan senantiasa membantumu” Kataku menenangkannya.

Akhirnya, Ia pun menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya. Ternyata, semua ini adalah perbuatan Resty. Ia iri dengan kecantikan Dik Ajeng. Resty putus dari pacarnya lantaran pacarnya suka dengan Dik Ajeng. Kemudian Ia menyuruh orang untuk memperk*sa Dik Ajeng. Gadis cantik yang sangat lugu, pendiam dan baik hati. Sungguh, Ia tidak pantas mendapatkan perlakuan jahat dari Resty. Selang beberapa hari tersiar kabar, Resty meninggal dengan cara mengenaskan di sebuah kamar hotel. Ia meninggal diduga kerena over dosis mengkonsumsi nark*ba.

Hari ini Dik Ajeng melahirkan, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kondisinya sangat lemah. Aku senantiasa mencukupi kebutuhan gizi untuk Dik Ajeng dan bayinya. Tapi, aku bertemu dengannya setelah kondisi kandungannya berumur 8 bulan. Dan aku tidak tahu dengan kondisinya saat Ia pergi dari rumah. Apakah makanan dan tempat tinggalnya layak untuk Dia dan bayinya.

Aku menghubungi Mbak Laras dan Andin. Aku mungkin bisa menyimpan rahasia keberadaan Dik Ajeng dari mereka. Tapi aku tidak bisa merahasiakan kondisinya sekarang ini. Aku butuh seseorang untuk membantuku berfikir meyelesaikan masalah ini.

Aku pergi ke makam dengan Andin dan Mbak Laras. Seorang bayi nan tampan berada di dekapanku. “Tenanglah di sana, Dik. Ismail kecilmu akan menjadi Ismail kecilku” Kataku menitikkan air mata. Aku tatap kedua mata Ismail yang berbinar-binar. Ia tampak tersenyum dalam dekapanku. Wajah yang tak terlihat ada beban sedikit pun. Aku seperti melihat kedua mata Dik Ajeng. Kini ia sudah merasakan ketenangan. Tak ada beban di kedua matanya lagi.

Selesai

Cerpen Karangan: Choirul Imroatin
Facebook: Choirul Imroatin

Cerpen Ismail Kecilku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secerca Harapan Menunggumu

Oleh:
Ku pijakkan langkah demi langkah pada setapak jalan ini. Kaki ini mengalun secara perlahan, mengikuti alunan lembut udara pagi. Mega sang surya memberikan warna untuk langit dan berikan kecerahan

Who is My Friend?

Oleh:
Kakiku tak berhenti. Aku terus berlari di tengah hujan yang menggila. Sekelebat, aku kembali melihatmu. Iya, kamu di sana. Aku terus mengikuti seseorang dengan tas coklat di punggungnya. Ingin

Miss You, Ayah

Oleh:
Teringat lagi masa-masa itu. Masa dimana seorang ayah dan anaknya bercanda gurau di tengah terik matahari. Dia mencium anaknya. Mengejarnya. Memeluknya dengan penuh kasih. “Ayah.. Aldi kalau udah besar

Fly High (Part 2)

Oleh:
Saat bel berbunyi, seluruh siswa berlari memasuki kelas mereka masing. “Anjir.. gua belum belajar. Ulangan biologi kan sekarang? Ya ampun.” Hensa berdiri sambil meremas botol minuman yang tadi dia

Sahabat Yang Bertengkar

Oleh:
Namaku Sylla. Aku punya sahabat namanya cinty. Aku dan cinty bersahabat baik sejak dulu. Aku suka sifat cinty yang baik. Beberapa hari kemudian… Cinty menjauh dariku. Entah kenapa. Dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *