Jalan Depan Gang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 November 2017

Rinai hujan basahi tanah yang sebulan ini tandus bagai sahara. Sepersekian detik yang lalu aroma petrikor tercium mengudara. Perlahan tetesan air itu merembes ke pot yang berjejer rapi di teras melalui lubang-lubang kecil di atap. Gemercik hujan terdengar saat menghantam pelan ubin teras.

Kenanganku lagi-lagi berhamburan, mendesak keluar ingin agar tetap kukenang. Saat hujan, Saat hadirnya petrikor, saat itulah anganku kembali membuncah tatkala mengingat saat-saat terindah yang pernah aku dan dia lewati. Rasanya teramat singkat 6 tahun saja waktu yang Tuhan kasih untuk aku bersamanya.

Sesak, itulah yang kurasa. Luka yang masih menganga sejak kepergiannya saat itu. Aku bahkan tak pernah berfikir kita akan dipisahkan dengan cara seperti ini, Aku belum bisa memberi semua yang dia inginkan, hingga malapetaka itu terdengar olehku, bagai guntur yang menghantam keras pohon yang semula rindang.

22 Mei 2006
“Rianti” seseorang berteriak dari luar rumahku.
“iyaa,, sebentar” sahutku dari balik pintu.
“ada kabar duka” tambahnya menjelaskan.

Seketika itu mataku terbelalak, nafasku tertahan sepersekiandetik.

“ke.. ke.. kenapa?” jawabku dengan terbata-bata.
“kucing kamu ketabrak mobil, jasadnya masih di jalan depan gang” panjang lebar seseorang tadi memberi penjelasan.

Rasanya seperti aku kehilangan nafasku untuk kedua kalinya.

“Meli, don’t let me go” aku mulai menangis mengerti keadaan bahwa kucing kesayanganku kini telah pergi.

MELI:
LAHIR (lemari kain) 16 Januari 2000
WAFAT (jalan depan gang) 22 Mei 2006

Cerpen Karangan: Fita Adelina Rabiasa
Facebook: far
terima kasih cerpenmu.com

Cerpen Jalan Depan Gang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Membenam Rasa Kepedihan

Oleh:
Hati ini belumlah lupa bagaimana ia menilaiku. Tak melihatku dan semakin melupakanku, terdiam tiba-tiba aku di tepi jembatan kota jakarta ini. Dengan berlinangan air mata dalam hati ku pantulkan

Rindu

Oleh:
Lambaian angin seakan mengajak jiwa untuk beranjak dari alam bawah sadar. Mulai, sedikit dan akhirnya… yess aku berhasil menyelesaikannya. Ku berjalan menyusuri jalan setapak yang licin hasil dari tangisan

Tanpa Judul

Oleh:
Gerlap–gerlip cahaya kehidupan ini membuat diriku bingung untuk menjalankannya. Seolah hidup ini berjalan cepat tanpa kita sadari. Waktu terus berjalan hingga aku tidak bisa mengejarnya. Terkadang aku heran dengan

Takdir

Oleh:
Aninditha citra, gadis yang biasa dipanggil citra, seorang gadis cantik, pintar dan manis ini bersekolah di sma cendrawasih. Citra memiliki kakak perempuan yang bernama cindy. Orang tua citra adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *