Jangan Panggil Aku Dengan Sebutan Fad

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 March 2017

Namaku Fadiyah sesuai dengan penulisnya aku biasa dipanggil FAD karena itu julukan yang artinya Fadiyah Anak penDendam aku sangat benci kata Fad.
“Kenapa harus kata itu? Kenapa gak Diyah? Atau yang lainnya?” gumamku.

Awalnya memang mamaku memanggilku Fad tapi semenjak aku bilang ke mamaku jangan panggil Fad dia mulai memanggilku Diyah di sekolah

“Hay FadFad, lagi ngapain? Lagi bikin strategi ya buat bunuh gua… hehe gak bisa deh?” kata kakak kelasku sambil melet. Aku hanya sabar sabar dan sabar “eh kakak kelas yang, yang abis diputusin sama cowok terHits di sekolah kan, hehehe kacian deh…” kataku sambil meninggalkan kakak kelasku
“Iiih nyebelin banget sih lo”.

Sesampai di kelas tidak ada yang mau berteman denganku. “Eh Fad kamu udah ngerjain pr belum? Aku mau nyontek dong” kata salah satu temanku bernama Rena “kerjain aja sendiri, kan bisa lagian kan elo ilmunya lebih tinggi” jawabku spontan menaruh tas

Bel pulang sekolah berbunyi aku segera pulang dan masuk ke kamarku. Dengan malas ku mengganti pakaian lalu ku menulis satu kalimat demi kalimat, kurasa umurku akan berhenti jantungku serasa mau copot nafasku sesak mungkin ini yang terakhir kalianya, semuanya gelap dan kulihat ibuku telah menangis di sampingku, banyak orang. Nafasku telah berhenti di sini.

1 minggu berlalu setelah kematianku
“Nonya gak sengaja lihat ada kertas di kamar non diyah” kata bibi
Mama pun membacanya.

“Aku sudah stress dengan semua ini mah, satu sekolah mengejekku, menjuluki dengan sebutan Fad yang artinya Fadiyah anak penDendam hatiku sakit, aku tidak tahan lagi dengan semua ini mungkin ini cara terbaikku dengan cara meninggalkan dunia dan isinya, selamat tinggal”

Cerpen Karangan: Fadiyah
Facebook: Fadiyah

Cerpen Jangan Panggil Aku Dengan Sebutan Fad merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Platinum

Oleh:
Air mataku menetes. Aku masih memandang foto itu. Tidak terasa, dua tahun sudah kakakku, Malik pergi. Sebenarnya bukan untuk meninggalkanku, hanya menjagaku dari suatu tempat di atas sana. Aku

Ulang Tahun Kesedihan

Oleh:
Seperti biasa setiap pagi aku selalu santai berangkat sekolah. Tak ada firasat apa pun yang ku rasakan. Ku teruskan langkahku menyusuri jalan. “Mei, apa benar?” Tanya Efran yang kembali

Sekolah Terakhir

Oleh:
Aku memandang langit yang tampak mendung pagi ini. Kebetulan, hari ini adalah awal kami masuk SMP. Aku dan Nala begitu bersemangat mempersiapkan segala keperluan murid SMP. Aku dan Nala

Sahabat Tanpa Kata

Oleh:
Rambutnya yang hitam legam terurai hingga pundak serta berirama seiring gerak tubuhnya yang lincah, gadis kecil itu sedari tadi mondar mandir seperti setrikaan, semua sudut rumah sudah ia telusuri,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *