Janji

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 October 2017

Bukk…
Suatu benda terjatuh dari meja belajarku. Sebuah buku yang tidak terlalu tebal namun mampu menghasilkan suara yang sedikit keras hingga membuat kedua mataku terbuka. Sedikit usapan tertuju pada kedua mataku untuk memperjelas penglihatanku yang sedikit buram akibat tidur yang kurasa begitu singkat. Kutelusuri setiap sudut ruangan berukuran sedang ini, ada cahaya terang di balik tirai jendela. Betul saja, saat kulihat jam di dinding ruangan ini ternyata jarumnya sudah menunjuk di angka 9.

Dengan tubuh sedikit gontai, aku berjalan menuju ruang tengah. Tak seorang pun kudapati di ruangan ini. Tidak ada niat sedikit pun memanggil nama mereka untuk mengetahui di mana keberadaannya. Lantas aku berjalan menuju dapur, kering rasanya kerongkonganku ini. Kudapati bibi sedang mencuci tumpukan piring di wastafel.

“Bi, kok rumah sepi banget, pada ke mana?” Tanyaku dengan suara khas orang baru bangkit dari tidurnya
“Tadi sih mas Pandu lagi nganterin ibu ke pasar, kalau bapak kayaknya lagi nyari tukang servis kulkas mba Resti” Jelas bi Parmi
Aku hanya mengangguk sambil meneguk segelas air putih.

Tiba-tiba terdengar suara bel rumah, aku bergegas menuju pintu utama untuk mengetahui siapa gerangan yang hendak berkunjung ke rumahku ini. Sesampainya di pintu utama, tak lantas aku membuka pintu. Aku sedikit mengintip dari tirai jendela, dan aku merasa sedikit aneh dengan orang yang sekarang berada di balik pintu rumahku ini. Dengan ragu, kubuka pintu di hadapanku ini.
“Hai Resti, jadi gak kita mainnya?” Tanya orang yang sekarang bertatapan langsung denganku ini.
“Hah, main?” Jawabku kebingungan.
“Iya Res, parah ih gua udah jauh-jauh ke sini malah gitu jawabannya” Jawabnya sedikit kesal.
“Duh, eh, gini maaf dong. Gua lupa kalo ada janji sama lu Ta” Jawabku sekenanya.
“Oh gitu, yaudah ayu. gua mau nunjukin sesuatu sama lu”
“Oh iya deh, masuk dulu gua mau siap-siap”

Kupersilakan orang yang tak asing bagiku ini untuk duduk di ruang tamu sambil menungguku untuk bersiap-siap. Sambil menuju kamar mandi, aku meminta bi Parmi untuk membuatkan minum sebagai teman menunggu untuk tamuku itu. Aku bergegas mandi dan mempersiapkan diri untuk mengikuti kemana gerangan tamuku itu hendak mengajakku pergi. Ada rasa bingung yang menyelimuti diriku yang aku tak tahu apa itu, wajah itu tak asing bagiku, suaranya pun begitu. Ah sudahlah.

“Eh udah rapi. Ayo let’s go!” Dengan senyum sumringah ia menyambutku.
“Oke let’s go!” Sedikit kupaksakan wajahku untuk memberi kesan semangat.

Langkah kakiku terasa berat, ada keraguan besar yang menyelimutiku. Aku tak tahu ke mana ia mengajakku pergi. Berbeda denganku, ia begitu semangat berjalan di depanku, seperti baru kali pertama ia berada di tempat seperti ini. Padahal yang aku tahu ia lumayan sering berkunjung ke rumahku. Namun sudah hampir sebulan ini memang sedikit jarang, karena yang aku tahu ia sudah pindah tempat tinggal. Sedikit aneh, karena bagiku kabar yang seharusnya aku ketahui belum pernah diceritakan langsung oleh orang yang bersangkutan.

“Eh tunggu, ini kita ada di mana Ta?” Tanyaku keheranan.
“Udah tenang aja, pokoknya lo gak bakal nyesel kok Res” Jawabnya dengan santai.
“Eh tapi gue gak pernah ke tempat ini. Kayak taman-taman gini ya”
“Iya, udah yuk duduk di sana”

Kami pun duduk di salah satu bangku yang telah disediakan di taman yang tak pernah kuketahui ini. Aku masih tak mengerti apa maksud semua ini, seperti mimpi tapi aku merasa detak jantungku masih teraba di urat nadiku.

“Lo ini Prita kan?”
“Iya Resti. Kenapa? Ngerasa aneh?”
“Ya, iya udah lama gue gak ketemu lo, sekitar sebulanan lah, eh tiba-tiba lo ada di sini. Gue udah coba ke rumah lo, tapi kosong. Tetangga bilang lo lagi ke Semarang, apa lo pindah rumah?”
“Haha gak Res, iya gue ke Semarang. Tapi gak mungkin balik lagi ke rumah itu”
“Loh, kenapa? Lu pindah gak bilang-bilang, ortu lu juga gak ngasih kabar”
“Hehe sorry, gue gak pindah kok cuma….”

Braaakkkk…
Aku sangat terkejut. Disaat obrolan kami berlangsung, sebuah mobil sedan mengalami kecelakaan tepat di jalan besar yang berada di depan kami. Segera aku menghampiri mobil tersebut tanpa mengajak Prita yang tengah duduk di kursi taman itu. Aku berusaha berteriak meminta pertolongan, namun sepertinya hanya ada aku, Prita, dan orang-orang yang berada di mobil yang tengah mengalami kecelakaan ini. Karena tidak ada satu orang pun yang menghampiriku, akhirnya aku memutuskan untuk melihat siapa yang berada di dalam mobil naas itu.

Betapa terkejutnya aku saat melihat kenyataan bahwa penumpang yang berada di dalam mobil tersebut adalah Prita dan kedua orangtuanya. Seketika aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Aku baru sadar bahwa tadi aku sedang duduk bersama Prita, dengan sisa keberanian yang aku punya, aku menoleh ke arah kursi taman tadi. Aku tak menemui siapa pun yang sedang duduk di sana, aku justru melihat sekumpulan orang sedang lalu lalang di taman yang tidak kuketahui ini. Aku merasa aneh dan terasingkan. Saat kulihat kembali ke arah dimana mobil tadi mengalami kecelakaan, tidak ada satu pun yang kutemukan. Hanya jalan aspal yang sedang dilalui beberapa orang pejalan kaki.

Peluhku mulai menetes, jantungku berdegup kencang. Aku bingung, di mana sebenarnya aku? Mataku terus mengitari ke seluruh arah di tempat ini, berharap ada seseorang yang kukenal agar bisa menunjukiku jalan pulang.

Bukk…
Suatu benda terjatuh dari meja belajarku. Sebuah buku yang tidak terlalu tebal tetapi cukup menghasilkan suara yang sedikit keras hingga mampu membuat kedua mataku terbuka. Sedikit usapan tertuju pada kedua mataku untuk memperjelas penglihatanku yang sedikit buram akibat tidur yang kurasa begitu panjang dan membingungkan. Kutelusuri setiap sudut ruangan berukuran sedang ini, apa aku sudah kembali ke rumah?. Aku menyeka peluh yang masih menetes di dahiku, jantungku masih berdegup, aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Mba Resti… (tok tok tok), mba ada surat dari pos…”
Teriak bi Parmi dari balik pintu kamarku. Dengan sedikit gugup aku berdiri, mencoba bersikap seperti orang layaknya baru bangun tidur.
“Iya bi, sebentar”
“Ada surat dari pos mba. Tukang antar suratnya minta maaf, soalnya pengirimannya lama. Ada yang bermasalah, hambatan-hambatan gitu” Jelas bi Parmi sambil memberikan surat tersebut kepadaku.
“Iya bi, makasih” Ucapku dengan nada dibuat-buat.
“Mba Resti belum mandi to? Sudah jam 9 lho mba ” Tanya bi Parmi.
“Eh iya nih bi, ini baru mau hehe” Jawabku dengan sedikit kebingungan.

Kembali aku dibuat bingung oleh keadaan, aku rasa perjalanan anehku tadi bisa memakan waktu 1-2 jam. Tapi kenyataannya, saat kulihat jam yang menggantung di dinding kamarku masih menunjukkan pukul 9, sama persis seperti saat aku terbangun dalam mimpi di balik mimpiku. Aku coba memastikan dengan bertanya satu hal kepada bi Parmi.

“Eh iya bi, ibu, bapak sama mas Pandu ke mana?” Tanyaku dengan nada berharap suatu jawaban.
“Oh itu tadi mas Pandu nganterin ibu ke pasar. Nah kalau bapak kayaknya lagi nyari tukang servis kulkas mba” Jawab bi Parmi yang membuat ekspresi wajahku sedikit terkejut. “Lha kenapa to mba?” Tanya bi Parmi.
“Eh gak papa bi, ya udah deh bibi lanjutin aja kegiatannya”
“Iya mba, ini bibi juga lagi nyuci piring. Permisi dulu ya”
Dan ini dia, semuanya sama. Kembali aku bertanya, apakah semua ini nyata?. Kubuka surat yang bi Parmi berikan, tertulis…

Untuk Restiku sayang
Hai Resti, apa kabar? Kangen gak sama gue? Langsung aja nih ya, gue mau cerita. Gue lagi bete banget nih, HP gue ilang. Semua kontak temen-temen, dosen, kakak kelas, gebetan (hahaha), termasuk kontak lu juga ilang bareng sama HPnya. Jadi sorry nih gak bisa ngabarin atau bales chat/pesan dari lu(ya itu juga kalau lu ngirim haha). So, gue ngirim surat ini via pos, habis di sini masih jadul banget, harus pake pos itu pun jaraknya jauh.

Oh iya sekarang gue lagi di Semarang, sorry ya ga ngabarin (lagi) haha. Gue mudik dadakan banget, bareng ortu juga sih, mungkin beberapa hari lagi gue balik ke rumah. Oh iya kemarin tuh gue liat ada taman kota bagus banget, gue pengen ngajak lu ke sana. Pokoknya kalau gue udah balik lagi gue bakal ngajak lu main ke sana, biar pasti gue kasih tau tanggalnya deh, tanggal 19 ya. Eh tapi itu pun kalau kita sama-sama bisa, maksudnya biar lu yakin kalau gue pasti ngajak lu ke sana

Oke deh, udah dulu ya, nulis-nulis gini bikin tangan gue pegel. Lu gak perlu bales ini surat, yang penting lu udah baca, dan kalau gue ajak ke tempat itu lu harus mau. Oke sayang byee

Prita

Sejenak aku terdiam, kulihat kalender di handphoneku. Tertanggal, 19 Maret 2001.

Cerpen Karangan: Adimatul Fadliyah
Blog: adimdima.blogspot.co.id
Facebook: Adimatul Fadliyah

Cerpen Janji merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Scorned Love

Oleh:
Aku melihat berita di televisi pagi ini. Tentang kejadian yang ‘katanya’ sudah sering terjadi pada sekolah-sekolah umum. Aku tidak tahu kenapa hal seperti ini dianggap biasa. “Gadis yang berinisial

Dolls

Oleh:
Aku masih berdiri disini. Ya, setiap hari aku memang selalu berdiri disini. Setiap hari aku selalu memasang pose yang sama. Aku terdiam di kotak kaca besar, berdiri mengenakan kimono

Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)

Oleh:
Rom dan Sam masih menodong supir bus yang malang itu. Karena ditodong, akibatnya supir itu tidak konsentrasi dalam menyetir. Seekor anjing tiba-tiba melintas mendadak. Supir bus terkejut bukan main.

Datangku Deritaku

Oleh:
“Ku mendengar tangisan bayi mungilku yang semalam menetas, kurasa dia sedang kedinginan dalam dekapan lembut Ibunya.” Kataku dalam hati sambil merentangkan sayap putih bercorak kuning oranyeku lebar-lebar mencari makanan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *