Kembali Berpisah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 July 2017

Rui sedang asyik membaca buku di meja belajarnya. Tangan kanannya sedang menopang dagunya, sedangkan tangan kirinya menahan bukunya agar tidak menutup. Tiba-tiba hp di sebelahnya berdering. Rui menatap layar di hpnya, oh… ternyata Isha, sahabatnya sejak kelas satu SD, dan sekarang sudah kelas enam SD. Serta sedang liburan kenaikan kelas menuju SMP. Rui membaca pesan dari Isha,
“Rui, kita bertemu di kafe langganan kita ya.. Aku mau membicarakan sesuatu denganmu. Aku tunggu..” Rui membalas pesan dari Isha sembari mengganti bajunya. Mengambil tas kecilnya dan memasukkan dompet serta hpnya. Kemudian turun ke lantai bawah.

“Mama, aku mau bertemu dengan Isha di kafe ya..” Rui mengecup pipi mamanya.
“Hati-hati di jalan ya, sayang…” ucap mama Rui sambil mengecup balik pipi Rui.
“Ya, ma” jawab Rui sambil berlari ke garasi. Rui menuntun sepedanya ke luar gerbang, kemudian mengayuhnya menuju kafe.

Rui sampai di kafe setelah itu memakirkan sepedanya di depan kafe. Rui masuk ke dalam kafe. Cafe tersebut memiliki gedung yang memanjang ke belakang, mejanya disusun dua baris secara zig-zag. Dindingnya dicat dengan warna polkadot cokelat tua dan cokelat muda. Kasirnya berada di belakang sudut kiri dan menjorok ke dalam. Di sebelah kanan kasir terdapat sebuah pintu menuju dapur. Rui mencari sosok Isha dari sekian banyaknya pelanggan yang ada. Ternyata Isha berada di sudut kiri, di depan kasir. Rui pun melangkah menuju tempat Isha duduk. Isha pun tersenyum saat mengetahui Rui sudah datang. Rui pun menarik kursi yang berhadapan dengan Isha. Seorang pelayan mendatangi meja mereka dan menanyakan pesanan Rui dan Isha. Rui memesan milkshake, sedangkan Isha memesan yogurt strawberry. Pelayan pun mencatat pesanan mereka kemudian ke dapur untuk memberitahu pesanan mereka ke sang koki.

Pesanan mereka pun datang setelah menunggu sepuluh menit lamanya. Isha menyeruput yogurtnya.
“Hmm, enak seperti biasa.” Puji Isha
“Yup. Oh ya Isha, apa yang ingin kamu katakan kepadaku?” tanya Rui mengingatkan alasan mereka berkumpul di kafe.
“Emmm..i.. ni.. ten.. tang.. sekolah SMP.” Kata Isha ragu, tangannya bergerak-bergerak gelisah.
“Memangnya ada apa dengan SMP, apakah kamu tidak ingin sekolah ke SMP yang telah kita sepakati? Bukankah kita sudah berjanji..” Rui mengehela napas perlahan kemudian melanjutkan perkataannya “Selalu bersama di manapun dan kapanpun selamanya..”
“Bukan itu, tapi..” Isha ragu mengucapkannya. Langit mulai gelap, awan-awan sudah siap menurunkan bulir-bulir airnya ke Bumi. Bulir-bulir di atas gelisah tak sabar untuk turun ke Bumi, segelisah hati dua sahabat tersebut, namun dengan perasaan yang berbeda. Dingin mulai menyelimuti daerah sekitarnya. Satu.. dua.. lima belas bulir air mulai turun ke Bumi, lama-lama semakin banyak yang berjatuhan.
“Tapi apa?” Rui semakin penasaran. Hujan yang awalnya rintik-rintik berubah menjadi deras. Suasana di meja makan tersebut mulai tidak nyaman. Rui menatap wajah sahabatnya tersebut, menunggu jawaban.
“Sebenarnya.. aku tidak bisa sekolah di SMP yang telah kita sepakati, karena papaku disuruh bosnya untuk mengerjakan proyek yang ada di Mesir selama dua tahun. Jadi, papaku memutuskan untuk pindah ke Mesir selama dua tahun itu. Maafkan aku Rui, sebenarnya aku ingin sekali kita bisa satu sekolah lagi, tapi sayangnya tidak bisa.” Isha menundukkan kepala, berusaha menerima apapun reaksi yang akan sahabatnya lakukan.
Rui terkejut mendengar hal itu, tak percaya dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh sahabatnya. Ia memegang ujung meja dengan sebelah tangannya, berusaha menguatkan diri.

“Tak bisakah jika kau tinggal di sini saja sedangkan orangtuamu pindah ke Mesir. Memang terdengar egois, tapi kau tahu kan kita sudah berjanji tidak akan melanggarnya.” Kata Rui tidak setuju, bagaimana mungkin, setelah enam tahun bersama tiba-tiba berpisah, itu tidak adil. Guntur mulai terdengar dari dalam, petirnya menyambar dengan ganasnya, membuat kilatan cahaya terang di langit. Mewakili perasaan Rui yang sekarang sedang dirasakannya. Isha semakin menunduk kemudian berkata lirih,
“Maafkan aku Rui, aku sudah membujuk papaku agar aku tetap tinggal di sini saja bersama bibi di rumah. Tapi papaku tetap bersikeras agar kami semua pindah.”
Isha mendongakkan kepala, menatap mata Rui yang berkaca-kaca menahan tangis. Rui yang sadar ditatap oleh sahabatnya, memalingkan muka. Isha menjulurkan tangan lalu memegang tangan sahabatnya untuk menenangkannya, Rui spontan menarik tangannya. Isha menarik kembali tangannya, kaget dengan yang Rui lakukan.

“Maafkan aku Rui, aku tidak tahu kalau ini akan terjadi. Lagipula kita tidak akan selamanya berpisah, kita masih akan bertemu, dua tahun lagi.” Kata Isha menghibur sahabatnya. Isha tersenyum tegar kepada sahabatnya. Rui bangkit dari kursi, matanya merah menahan tangis yang siap meledak. Rui melangkah pergi menuju pintu, muak dengan kenyataan yang diterimanya sekarang. Ia masih tidak terima dengan takdirnya sekarang. Isha menatap kepergian Rui dengan linglung. Setelah terpaku beberapa menit, Isha tersadar, kemudian bangkit dan membayar minumannya serta Rui. Lalu mengejar Rui yang sudah di luar kafe.

Rui mendorong pintu kafe dengan kasar sembari melangkah menuju tempat sepedanya diparkir. Rui sudah tidak peduli lagi dengan hujan yang mengguyur tubuhnya, yang ia inginkan hanya pulang ke rumah. Dadanya sesak menahan tangis dari tadi. Tiba-tiba dari arah belakang, Isha memegang tangan kanannya dengan erat, lalu membalikkan tubuh Rui menghadap Isha. Rui melihat mata Isha sembab karena menangis, tubuh Isha juga basah terguyur hujan. Rui memalingkan muka seraya menyentakkan tangannya ke belakang, melepaskan geggaman tangan Isha.

“Ru.. Rui, kumohon dengarkan aku… Ja.. jan.. gan.. buat per..pi..pisahan kita menjadi seperti ini.” kata Isha sesenggukan. Tes… tes… tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya meledak juga. Rui berbalik pergi meninggalkan Isha sendiri yang menangis tersedu-sedu di bawah guyuran hujan, berusaha tidak menoleh ke arah Isha. Rui mengambil sepedanya kemudian menuntunnya sampai ke rumah.

Rui sampai di rumah. Hujan sudah reda namun bajunnya masih basah terkena guyuran hujan. Tubuhnya menggigil kedinginan. Segera Ia masukkan sepedanya ke dalam garasi, masuk ke dalam rumah kemudian berlari ke lantai dua, ke kamarnya. Mamanya yang melihat kejadian tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ingin ke atas, menghibur anak semata wayangnya. Dari wajahnya sepertinya Rui sedang bertengkar lagi dengan sahabatnya Isha, matanya sembab karena habis menangis.
“Ah, biarkan tenang dahulu nanti akan marah jika dinasehati, emosinya sedang labil. Lagipula Rui sudah besar, biarkan Ia mencoba memecahkan masalahnya sendiri kali ini.” batin Mama Rui.

Rui menutup pintu kamarnya lalu melempar tas kecilnya ke kasur dengan kasar. Tubuhnya merosot ke bawah, menyandar ke pintu. Rui memeluk lututnya, wajahnya dibenamkan ke lututnya. Marah, sedih, kesepian, semua bercampur aduk dalam benaknya. Tubuhnya menggigil lagi, giginya bergemeletuk kedinginan. Walaupun hujan sudah reda, tapi hawa di luar masih dingin, ditambah ac di kamarnya yang dinyalakan membuat suhu di kamarnya bak di pegunungan. Ia berdiri, lalu berjalan gontai ke arah remote ac ditaruh. Rui mematikan acnya, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Rui mengambil baju dan handuk seraya melangkah ke arah ke kamar mandi yang di dalam kamarnya.

Sepuluh menit kemudian, Rui telah selesai mandi. Rui menggosok-gosokkan handuknya ke rambutnya dengan perlahan. Setelah kering, Rui menyisir rambutnya di depan cermin. Rui melihat pantulannya di cermin. Matanya bengkak karena menangis, mukanya pucat. Rui menyentuh keningnya dengan punggung tangannya, panas. ‘Tring.. tring..’ hp Rui berdering, Rui mengambil tas kecilnya yang tadi Ia lempar ke atas kasur. Rui melihat layar hpnya, ada tiga pesan yang sama dari Isha dan satu panggilan tak terjawab. Rui membuka salah satu pesan dari Isha.

“Maafkan aku, Rui. Sebenarnya, aku juga tak ingin ini terjadi, sama denganmu. Tak ada yang mau ini terjadi, tapi ini sudah takdir yang mengharuskan kita untuk berpisah. Aku akan berangkat ke Mesir besok, pukul delapan pagi. Tak apa kamu marah padaku, tapi jangan membuat persahabatan kita terputus sampai di sini. Aku mohon Rui. Oh ya Rui, aku ingin membenarkan motto persahabatan kita, yang benar adalah ‘Selalu di manapun dan kapanpun selamanya… walaupun jarak dan waktu memisahkan kita…’
Sahabatmu, Isha.”

Rui mengelap air mata bersalah yang mengalir di pipinya. Segera Ia membalas pesan dari Isha.
“Aku memaafkanmu. Aku juga salah, maafkan aku Sha, tentang tingkahku di kafe tadi. Persahabatan kita tidak akan pernah berakhir… karena kita adalah sahabat sejati. Ah.. sepertinya aku terlalu egois tadi, sampai menhilangkan kata penting itu… Sekali lagi, maafkan aku, Sha…
Sahabatmu, Rui.”
Rui tersenyum sembari mengirim pesan tersebut ke Isha. Kemudian beranjak naik ke kasur, menyelimuti tubuhnya lalu tidur dengan lelap. Lelah menangis dari tadi. Tapi bersyukur karena ini hanya perpisahan sementara dengan sahabatnya.

Dua tahun kemudian…
‘Teet.. teet..’ “Kita sudahi pelajaran Bahasa Indonesia kali ini. Selamat pulang.” Kata Bu Nia. Rui melangkah keluar kelas kemudian melangkah ke tempat sepedanya di parkir. Menuntunnya ke gerbang dan menaikinya sampai ke rumah. Rui sampai di rumah, menaruh sepeda kesayangannya di garasi. Kemudian masuk ke rumah,
“Surprise!!” Isha memeluk Rui dengan erat, Mama Rui yang melihatnya tersenyum senang.
“Isha!! Aku kangen sama kamu!” teriak Rui sambil membalas pelukan Isha dengan sama eratnya.
“Ya sudah, mama mau melanjutkan aktivitas yang lain dahulu.” Kata Mama Rui sambil berlalu.
“Ya, ma.” “Ya, tante.” Kata Rui dan Isha dengan serempak. Kemudian mereka tertawa bersama.
“Isha, kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu sudah pulang dari Mesir.” Kata Rui cemberut tapi dalam hatinya Ia bahagia bisa bertemu dengan sahabatnya kembali.
“Kan surprise, jadi tidak boleh diberitahu. Oh ya, Rui aku punya hadiah untukmu.” Kata Isha seraya kembali duduk di sofa, Rui ikut duduk di samping Isha. Isha mengeluarkan kalung perak bertuliskan ‘Ruisha’ dari dalam tas kecilnya dan mengenakannya ke leher Rui.
“Terima kasih, Sha.” Kata Rui terharu.
“Sama-sama Rui. Ini akan menjadi lambang persahabatan kita untuk selamanya. Masing-masing memegang satu buah kalung seperti ini.” kata Isha sambil memperlihatkan kalung peraknya yang Ia sembunyikan sedari tadi dibalik bajunya.
“Kalau kamu kalung, aku traktir kamu ke kafe langganan kita.”
“Mama, aku mau ke kafe sama Isha ya…” kata Rui sambil menarik tangan sahabatnya keluar rumah.
“Ya, sayang.” Teriak mama dari dapur.
“Oh ya Sha, kamu senang tidak tinggal di Mesir?” tanya Rui memulai percakapan.
“Yah.. begitulah, awalnya memang membosankan, tapi, lama-kelamaan senang juga. Tapi… tetap saja, tinggal di Indonesia lebih menyenangkan, apalagi ada sahabat yang selalu menemaniku dari kecil.” jelas Isha sambil tersenyum kearah Rui dengan manis. Rui membalas senyuman Isha tak kalah manis. Kemudian mereka berdua tertawa bersama sambil saling merangkul pundak sahabatnya.

Mereka telah sampai di pertigaan, di seberang mereka, kafe langganan mereka berdiri kokoh. Dari arah kafe tersebut, Isha melihat seorang ibu dan anak kecil sedang menunggu lampu merah menyala. Anak itu tampak tak sabar dan akhirnya nekat menyeberangi jalan dengan berlari, sedangkan dari arah kiri, sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan cepat. Tanpa pikir panjang, Isha pun mendorong anak kecil tersebut, Isha pun jatuh dengan lutut yang terjatuh dahulu, kakinya terkilir. ‘Brakk’ ‘Trakk’ tubuh Isha tertabrak mobil dan terpental beberapa meter, kepalanya terantuk aspal dengan keras, membuat darah mengucur deras dari kepalanya. Rui terpaku sepersekian detik menatap kejadian tersebut, kemudian sadar dan menghambur ke arah Isha yang sudah dikeremuni banyak orang.
Rui gemetar menatap sahabatnya yang sudah tak bernyawa. Dinggenggamnya tangan sahabatnya itu dengan kedua tangannya. Sahabat yang Ia rindukan selama dua tahun. Dan sekarang… Rui harus menerima kenyataan, bahwa mereka harus berpisah kembali… selamanya…

Cerpen Karangan: Izza
Facebook: Izza
Kritik dan sarannya, kawan..

Cerpen Kembali Berpisah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan 3 Sahabat

Oleh:
Pada suatu hari, ada murid baru bernama Sekar, dia pindahan dari Temanggung. Dia pindah karena ikut orang tuanya, dan sekarang dia bersekolah di SD N 1 Bukateja. Paginya, dia

Senyum Tipis Dilla

Oleh:
Dia terdiam sembari menyandarkan kepalanya di bawah pohon yang terdapat di pojok panti asuhan kasih bunda. sementara langit di luar sana telah tebentang merah membelai langit memanjakan lemparan mata

Bunga yang Layu Sore itu

Oleh:
Matahari menunjukkan senyumannya, awan-awan putih seakan menjadi perhiasan langit biru yang membentang bagai gulungan kertas polos. Benar-benar hari yang cerah. Cocok untuk menghabiskan waktu Minggu di luar bersama keluarga,

Heart Sounds (Part 2)

Oleh:
“Kita pergi ke karaoke, bagaimana?” pertama kalinya Zack mengajakku ke luar untuk berkencan. Bahkan aku tidak tahu ia menganggap ini kencan atau bukan. “Hmm. Kapan?” jawabku yang sok jual

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *