Kembali Dengan Orang Tersayang Dan Meninggalkan Yang Tersayang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 April 2016

“Aduh.. Sakit… Kepalaku terasa sangat sakit, kenapa ini? Mungkin aku terlalu kecapean,” gumamku sembari menahan rasa sakit yang teramat sakit.

Ku rebahkan tubuhku di atas kasur empuk kesayanganku dan terpejamlah mataku. Hingga terbawalah aku ke alam yang sangat indah. Alam yang di mana hanya bisa aku pijak ketika aku terlelap dan tak sadarkan diri. Ku lihat sosok ayah dan seorang laki-laki yang aku sayangi. Mereka berdua. Mereka tersenyum indah kepadaku dan mereka mengajakku untuk pergi ke alam sebelah yang sama sekali aku tidak mengenalinya. Yang aku tahu, tempat ini indah, ditambah dengan kehadiran kedua pria yang sangat aku sayangi.

Aku terjatuh dalam alam itu hingga ayah memanggilku. “Dinda, kenapa kamu mengikuti Ayah? Seharusnya kamu pulang. Ayah tak ingin mengajakmu ke sini. Bangun dan pulanglah putriku,” ucap ayahku yang membuatku sakit hati. Ayah tak ingin aku mengikutinya. Aku tak membalas ucapan ayahku satu patah kata pun, hatiku sakit karena orang yang aku sayangi. Dan bangunlah aku, dengan berat hati aku meninggalkan ayahku dan Gio yang aku sayangi. “Nak, bangun.. Ini sudah sore loh,” suara ibu membangunkanku dari mimpiku. Perlahan ku buka mata dan dengan pandangan sedikit kabur aku melihat sesosok ayah di belakang ibu. Ku kedipkan mata untuk memastikan ayah hadir di hidupku lagi, tapi ternyata itu hanya bayangan ayahku saja.

“Dinda, udah ayo bangun, malah ngelamun sih putriku,” ucap ibu yang bagiku mengagetkanku.
“Eh, iya Bu. Hehe..” ku balas ucap ibuku dengan tersenyum manis.
“Bangun, terus mandi sayang,” lanjut ibuku.
“Iya Ibuku yang cantik,” jawabku sambil menggoda.

Aku segera bangun dari tempat tidurku, dan aww.. Sakit sekali. Kepala ini seakan-akan mau pecah dan penuh dengan air, berat sekali. Tuhan.. Ini apa? Aku sakit apa? Apa yang terjadi padaku? Ku biarkan sakit ini mengganguku selama dua hari. Aku tidak menceritakan kepada siapa pun, termasuk ibuku. Ku jalani aktivitas seperti biasa. Aku bersekolah di SMK harapan, SMK ternama di kotaku. Beberapa bulan lagi aku ujian nasional. Sungguh tak pernah ku duga akan secepat ini. Ku jalani sekolahku seperti biasa. Jam kosong, saatnya pergi ke perpustakaan nih. Ku langkahkan kakiku menuju perpustakaan. Hening, sepi, ramai oleh buku-buku, dengan penghuni sibuk menyapu habis buku-buku itu. Ya, itu ciri-ciri perpustakaan, tapi aku suka.

Satu tahun lalu, setiap aku ke perpustakaan selalu ditemani seorang pangeran ganteng bernama Gio. Tapi sayang, saat ini dia sudah di alam yang berbeda. Dia meninggal pada saat dia ingin memberikan kado untukku. Dia kecelakaan saat di jalan menuju rumahku. Sejenak aku mengingat masa-masa itu, suasana berubah menjadi kalut, hatiku terasa sakit, dadaku terasa sesak. Tuhan.. Apakah itu kado darimu? Mengapa Tuhan memberiku kado yang begitu menyakitkan? Setelah kau ambil ayahku lalu kau ambil Gio dariku. Saat itu aku benar-benar terpuruk. Yang ada hanya kado terakhir dari Gio, yaitu boneka yang terdapat rekaman suara Gio mengucapkan selamat ulang tahun untukku dan ucapan I love you dari Gio. Itu satu-satunya barang pengobat rinduku padanya.

Hatiku sakit dan teramat sakit bagaikan tercabik-cabik ketika aku mengingat perjuangannya untukku. Terima kasih Gio, kamu telah menjadikanku yang terakhir, dan terima kasih kamu mencintaiku dengan tulus dengan perjuanganmu. Aku menyayangimu Gio. Bel pulang sekolah berbunyi, mengagetkanku dari lamunanku. Akhirnya aku pulang ke rumah. Hari ini tepat satu minggu menuju UN. Aku harus belajar lebih giat lagi. Tapi sayang, sakitku terus menghampiriku. Aku sekarang sering pingsan, kepala terasa sangat sakit. “Tuhan, sehatkan aku,” hari demi hari berlalu. Tak terasa UN tinggal menghitung hari. Kurang satu minggu lagi.

“Hari ini cerah sekali ya Nay, di sini juga sangat ramai, aku ingin sering-sering ke sini bareng kamu Nay,”
“Iya Din, makanya kamu jangan sering-sering sakit, bentar lagi juga UN dimulai,”
“Hehe, iya Nay. Aku juga gak mau sakit kali,”
“Iya, iya. Eh, beli buburyul, laper nih,”
“Ayu, tapi gendong,”
“Idih, udah gede masih minta gendong,”
“Hem, kamu gitu Nay sama aku,”
“Hehe, udah, ayo cepetan,”
“Iya iya,” kami pun langsung pergi membeli bubur di pinggir taman ini. Tiba-tiba kepalaku sakit, dan seketika terasa gelap dan tak sadarkan diri. Ketika aku terbangun ternyata aku sudah di rumah sakit. Ku buka mata dengan perlahan dan terlihat ibu dan Nay di sana dengan wajah yang begitu panik.

“Ibu, Nay, kalian kenapa?”
“Gak apa-apa Nak, kamu mau minum?”
“Emm, enggak Bu,”
“Aku sebenarnya sakit apa Bu?”
“Yang sabar ya Nak, kamu pasti sembuh, kata dokter kamu mengidap kanker otak stadium akhir,” seketika ibuku terlihat sangat sedih.
“Jangan sedih Bu, aku yang sakit juga tersenyum. Iya kan Nay?”
“Iya Din, kamu yang kuat ya,” balas Nay.

Hari demi hari sekarang ku lalui dengan baju biru dan bau obat yang tidak menyenangkan. H-2 menuju UN. Bumi ini terasa hampir runtuh, bergetar, bergelombang. Tuhan.. Apakah ini akhir cerita hidupku? Akankah engkau menemukanku dengan ayah dan Gio? Andaikan iya, ibuku dengan siapa di dunia ini Tuhan? Jangan ambil nyawaku dulu Tuhan. H-1 UN. Aku sungguh-sungguh tak berdaya. Ibuku, Nay sahabatku kini berada di dekatku dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Nay, andai aku harus kembali, kamu harus janji sama aku. Kamu harus menyayangi Ibuku seperti Ibumu sendiri dan menjaga ibuku seperti kamu menjaga Ibumu sendiri,”
“Kamu ngomong apa sih. Iya aku menyayangi Ibumu seperti ibuku sendiri. Aku akan menjaga Ibumu seperti Ibuku sendiri,”
“Terima kasih Nay,”
“Ibu, aku mau Ibu menganggap Nay seperti aku, menyayanginya seperti menyayangiku,” aku pun menangis, dadaku terasa sesak.
“Sayang, iya, Ibu akan menuruti semua maumu, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh,” digenggamnya tanganku erat-erat.
“Ibu, Nay, aku lelah. Aku rasa Ayah dan Gio sudah menjemputku, jaga diri kalian baik-baik Ibu, Nay,” dengan suara terbata-bata dan napas terengah-engah. Akhirnya, tiiiittt. Detak jantungku tak bekerja lagi, nyawaku terbangun dari ragaku. Selamat tinggal ibu, Nay, aku menyayangi kalian. Mereka menangisiku namun aku sudah tidak bisa lagi memeluk kalian. Maafkan aku ibu. Maafkan aku Nay sahabatku. Aku menyayangi kalian.

Cerpen Karangan: Nani Susanti
Facebook:Nama: Nani Susanti
Alamat: Ayah, kebumen
Sekolah: SMK N 1 KARANGANYAR, KEBUMEN
Kelas: XII
TTL: Kebumen, 06 Januari 1998 Nani Susanti

Cerpen Kembali Dengan Orang Tersayang Dan Meninggalkan Yang Tersayang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sehidup Semati

Oleh:
“Wahahaha!”, “ayo kesini! Disini!” begitulah teriakan anak-anak sore itu di taman bermain. Banyak anak-anak yang bermain di taman bunga yang indah sore ini. Maklum saja hari itu adalah hari

Kasih Sayang Yang Terlupakan

Oleh:
Tempat yang pas untuk rangga memulai aksinya. Di belakang sekolah, di tengah pelajaran ia masih sempat melakukan hal yang tidak pantas untuk dilakukan seorang pelajar. secara sembunyi-sembunyi diambilnya sebungkus

Sebuah Elegi

Oleh:
Seseorang melambaikan tangan ke arahku sambil setengah meneriakkan namaku. Aku menoleh dan melihatnya duduk santai di bawah pohon mangga, tepatnya di atas sebuah kursi kecil setengah jadi. Aku menyebutnya

Cinta Kakek

Oleh:
Saat itu aku masih berumur 8 tahun. Aku dan seluruh keluargaku pergi untuk mengunjungi kakek dan nenek menggunakan mobil. Aku masih ingat saat itu hari sangat mendung. Angin berhembus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *