Kembang Api Buat Maya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 December 2016

Hari ini sekolah sudah mulai masuk kembali, setelah kemarin liburan semesteran sekaligus tahun baru, dua minggu di rumah bagaikan tiga hari saja, tak terasa karena liburan kemarin setiap hari kota Demak diguyur air hujan, tapi walaupun begitu liburan selalu terasa mengasikkan karena kumpul-kumpul dengan keluarga di rumah walau tidak pergi kemana-mana.

Maya dan Meisa, mereka bersahabat sejak kecil, mereka pun tinggal satu kota, tapi beda jarak, rumah Maya berada di pusat kota Demak, sedangkan rumah Meisa berada di sebuah desa. Mereka bersahabat sejak kecil, persahabatan mereka seperti kertas dan pena, yang saling membutuhkan satu sama lain, setiap Meisa pergi, dia selalu mengajak Maya, sekolah pun dari SD mereka selalu bersama, Cuma beda waktu SMP, Maya yang sekolah di sebuah SMA Luar biasa di Demak karena dia mempunyai kekurangan di bagian indra pengelihatannya, Maya buta sejak usia 3 tahun, waktu itu ibu Maya yang sedang masak dan Maya digendong ibunya, waktu itu dia terkena percikan minyak goreng, sudah beberapa rumah sakit didatanginya tapi semua berpendapat sama, Maya boleh dioperasi waktu usia 17 tahun dan pada waktu itu pun harus menunggu pendonor mata yang cocok dengan bentuk mata Maya. Tapi dengan kondisi seperti itu tak pernah menyurutkan semangat Maya untuk terus maju dan berkembang, itu karena sahabat Maya yang bernama Meisa yang selalu menyemangati Maya agar tetap selalu berusaha walau bagaimanapun keadaan yang dialaminya.

“makasih ya Sasa kamu suah setia banget jadi sahabatku”. Kata Maya di depan Meisa.
“ealah May itu karena kan aku kamu bayar, heheh”. Kata Meisa sambil bercanda.

Di rumah Maya diatas atap kecil tersembunyi sepetak kecil tempat untuk mereka berdua menghabiskan malam sambil melihat bintang di atas langit yang sangat luas dikala langit sedang cerah, mereka berdua saling sharing tentang kegiatan di sekolahnya masing-masing, tentang liburannya kemarin dan tentang nilai prestasi yang diraih Maya.

“Sasa ayo turun, waktunya makan malam nak”. Teriak ibunya Maya di bawah.

Setelah mereka puas bercerita mereka pun langsung turun ke bawah buat makan malam bersama, menu makanan keluarga Maya kebetulah hari ini kare ayam dan capcay kuah kesukaan Meisa, Meisha di keluarganya Maya sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya sendiri.

“hari ini om beum pulang tante?”. Kata Meisha.
“om farid hari ini lembur Sasa, banyak kerjaan kantor yang belum terselesaikan, sudah makan dulu dengan Maya”. Jawab tante Desy ibunya Maya.

Dengan lahab Maya dan Meisa menikmati hidangan yang disajikan oleh Ibunya Maya.

Pagi harinya di sekolah Meisa, kedatangan murid cowok yang pindahan dari lampung, namanya Doni, anaknya tak kalah cakep, tapi sedikit ngeselin, sempat heran Meisa dengan tingkah lakunya, sewaktu di kantin dia masuk kantin cewek dan pesen makan di kantin cewek, bahkan mie ayam yang sempet dipesen anak-anak cewek dikerjain dikasih sambal yang begitu banyak, anaknya lumayan baik walau sedikit aneh.

“Doni kasihan temen-temenkan kepedasan, kamu keterlaluan banget jadi orang, gak baik kayak gitu Don!”. Tegur Meisa.
“iya iya maaf deh, gak aku ulangin lagi, tapi cium aku dulu dong”. Kata Doni sambil cengengesan.
“aneh-aneh saja kamu”.

Sepulang sekolah Meisa langsung jemput Maya ke sekolahnya, karena tadi Tante Desy sudah berpesan kepada Meisa untuk menjemput Maya di sekolahnya.

“tumben kamu sorean May pulangnya?”. Kata Meisa.
“iya Sasa, hari ini les piano dimajukan jamnya, kok kamu yang jemput, mama kemana?”. Tanya Maya
“oh, tante Desy katanya hari ini belanja bulanan sekaligus cek ke rumah sakit May, tapi pesan aku suruh jemput kamu, gak ngerepotin kok”. Jawab Meisa dengan tersenyum.

Sesampai rumah Maya, segera Maya ganti pakaian dan duduk di atas sofa, sedangkan Meisa membantu tante Desy beres-beres belanjaannya yang baru saja datang. Menu makan hari ini sop dan ayam goreng saja, jadi Meisa yang masak dan tante Desy bersih-bersih rumah.

“mama, gimana tadi cek di rumah sakit? Ada donor mata yang cocok buat aku?”. Kata Maya.
“maaf ya sayang, kata dokter masih belum ada orang yang matanya cocok buat Maya, Maya sabar ya, Tuhan tidak tidur kok, Maya pasti bisa melihat lagi”. Bujuk ibunya sambil meneteskan air matanya.

Setelah Meisa selesai masak, semua disiapkan di meja makan dan waktunya untuk makan malam bersama, kebetulan mala mini papa Maya pulang cepat, jadi bisa makan malam bersama, waktu makan pun mereka asik ngobrol dengan aktivitas masing-masing di sekolahnya. Meisa menceritakan kalau ada teman baru yang super jengkelin, aneh, tapi baik juga di sekolahnya dan satu kelas dengan Meisa. Sampai-sampai makan pun pada saat itu Meisa masih kesal dengan cowok tersebut.

“kapan-kapan ajak kesini ya Sasa cowok itu, aku mau ngerasain sesebal apa sih dia”. Kata Maya dengan nada meldek Meisa.
“pasti-pasti akan aku kenalin ke kamu May”.

Pagi harinya sebelum Meisa berangkat sekolah dia menghampiri Maya terlebih dahulu, kebetulan hari ini sekolah Meisa free karena ada lomba kebersihan kelas, jadi Meisa datang agak telat, Meisa datang ke tempat Maya, mengantarkannya pergi ke sekoah, setelah menagntar Maya, Meisa lansung cepat-cepat menuju ke sekolahannya. Tiba-tiba dia melihat Doni yang duduk sendiri termenung di bawah pohon beringin, Meisa pun menghampirinya.

“pagi-pagi sudah ngelamun, kemasukan setan tar”. Ledek Meisa.
“lagi bête saja Sa, pengen cari suasana baru, di rumah gitu-gitu saja”. Kata Doni.
“oh ya, aku kenalin kamu keteman aku gimana? Anaknya cantik dan asik low”.
“boleh juga Sa”. Kata Doni.

Sepulang sekolah, Meisa dan Doni langsung menjemput Maya di sekolahannya dan mengajak Maya makan siang di sebuah Resto burger, Meisa memperkenalkan Maya kepada Doni.

“dia cantik sekali, sayang dia buta, no problem, berteman kan gak mandang-mandang, asalkan dia asik”. Kata hati Doni.

Mereka bertiga bercerita tentang aktivitas seharian mereka di sekolah tadi, Doni pun menceritakan tempat kelahiran dia di Lampungdulu, tentang situasi dan keadaan disana seperti apa, begitu pula Maya dan Meisa, mereka bertiga seperti sudah kenal lama sekali.

“malam ini aku undang makan malam di rumahku, kamu ada acara gak Don? Nanti aku sms saja alamatnya, kita bertiga makan malam bareng, gimana?”. Pinta Meisa.
“aku sih ok-ok saja, ya sudah sampai jumpa nanti malam ya”. Jawab Doni.

Sore itu pun Meisa menjemput Maya di rumahnya, malam ini Maya kelihatan cantik sekali, dengan baju berwarna biru yang anggun dan kaca mata putih, orang lihat pun tidak tau kalau Maya buta. Bergegas Meisa dengan Maya pulang ke rumah dan menyiapkan hidangan buat makan malam. Setelah selesai semua di meja, tak lama kemudian Doni datang, mereka bertiga makan malam di belakang rumah Meisa, taman yang indah, dihiasi mawar kuning di sekitar taman Meisa itu dan semerbak tercium bunga melati yang baunya sangat harum, ditemani tiga buah lilin cantik terhias di meja makan itu dan lampu taman yang remang-remang, sepeti makan di hotel bintang lima, masakan Meisa juga tak kalah enaknya.

“wah kalian berdua seperti princess, ngedate dengan pangeran ditemani dua princess”. Canda Doni.
“ada-ada saja kamu Don”. Kata Meisa sambil mengambilkan nasi untuk Maya.
“Sasa, hari ini aku senang banget, apalagi dapat teman baru kayak Doni, andai saja aku bisa melihat, oh ya Sa, aku pengen sekali melihat kembang api yang bertaburan di langit, lusa kalau aku sudah bisa melihat lagi aku ajak lihat kembang api ya, bersama Doni juga”. Kata Maya dengan wajah sedih.
“itu pasti kok May, kamu pasti bisa melihat lagi dan kamu akan aku ajak melihat kembang api di langit”. Jawab Meisa dengan tersenyum.

Sehabis makan malam bertiga, Doni dan Meisa mengantarkan pulang Maya ke rumah, kebetulah Doni membawa mobil jadi Meisa pun ikut sekalian, setelah sampai rumah Doni bergegas putar balik dan mengantar Meisa pulang.

“makasih ya Don dan mau datang dan mau jadi teman Maya, aku bangga punya teman kayak kamu, walau baru aku kenal, tapi kamu oranngnya asik ternyata, oh ya Don, sewaktu saat jika aku sudah tak ada, jikalau Maya belum juga bisa melihat, kamu mau kan kasih tau ibuku untuk mendonorkan mataku ke Maya, barang kali cocok”. Kata Meisa.
“hust apa-apaan sih kamu Sa, aneh-aneh saja, Maya akan melihat dan kamu pun masih hidup”. kata Doni dengan nada yang agak jengkel.

Setiap pulang sekolah, Meisa, Maya dan Doni selalu jalan bareng bersama-sama sebelum pulang ke rumah, mereka bertiga semakin hari semakin akrab, ibu Maya melihat Maya pun sangat senang dapat teman baru. Setiap kali bercanda ria, makan ice cream bersama, pokoknya mereka kemana-mana bertiga.

“oh ya May, 2 minggu ada pesta kembang api di alun-alun, menyambut expo yang akan dimeriahkan di lapangan Tembiring, kita nonton ya”. Kata Meisa dengan girangnya.
“wah ide bagus Sa, andai saja aku…”.
Tiba-tiba Meisa menyela pembicaraan Maya.
“1 minggu lagi kan kata tante Desy donor matamu datang, sedangkan kembang apinya 2 minggu lagi, kesampaian May pastinya”.
“yoi May, kita pasti bisa nonton bareng, santai saja”. Kata Doni dengan semangat.

Satu minggu pun berlalu, hari ini waktunya Maya cek up ke rumah sakit buat memastikan apakah hari itu ada pendonor mata buat dia atau tidak, hari itu kebetulan hari minggi, hari free, jadi Maya ke rumah sakit bersama ayah dan ibunya, serta diantar Meisa dan Doni.

“Sa kamu pakai sepeda motor sendiri?”. Kata Doni dalam telepon.
“iya Don, kamu kalau sudah sampai duluan di rumah Maya langung antar kerumah sakit saja, nanti aku nyusul, soalnya masih nganter ibu belanja dulu, tapi bentar kok”. Jawab Meisa.

Setelah Doni sampai di rumah Maya, bergegas mereka semua menuju rumah sakit. Meisa yang sudah selesai mengantarkan ibunya belanja bergegas menuju rumah sakit, sesampai di jalan waktu hendak berbelok Meisa terserempet mobil yang melaju cepat di belakangnya, Meisa terjatuh dan kepalanya terkena trotoan pembatas jalan, mobil yang menyerempet Meisa kabur dengan kelajuan cepat, tak bisa terkejar oleh orang, semua orang mulai berdatangan, bergegas Meisa dilarikan ke rumah sakit, sampai rumah sakit tiba-tiba Doni melihat Meisa yang berbaring di dorongan menuju ruang ICU, bergegas Doni lari mengejarnya sambil menangis, Doni menghampiri ibu Meisa yang berada di rumah.

Sewaktu dokter keluar dari ruang ICU.
“gimana keadaan anak saya dokter?”. Kata ibu Meisa sambil menangis.
“maaf bu, tadi anak ibu sempat siuman beberapa saat, dan dia berpesan kalau matanya didonorkan kepada temannya yang bernama Maya, setelah itu dia sudah tidak bernafas lagi bu, itu dikarenakan karena benturan yang dialaminya sangat keras sehingga memutuskan beberapa sarafnya”. Kata Dokter yang menangani Meisa.
“Meisaaa…!!!”. Teriak ibu Meisa.

Sewaktu ibu Desy menanyakan ke dokter ternyata mata buat Maya belum ada, pas hampir pulang, ibu Desy dipanggil oleh ibunya Meisa, dia menceritakan semuanya tentang kejadian yang dialami Meisa, ibu Desy turut berduka cita, tapi kejadian tersebut jangan sampai Maya tau sebelum operasi matanya berhasil dan berjalan lancer, akhirnya setelah diperiksa ternyata mata Meisa sama dengan mata Maya, operasi berlangsung, setelah 3 jam kemudian akhirnya operasi selesai, kedua mata Maya yang masih dibalut perban putih dan boleh dilepas 1 minggu kemudian supaya hasilnya lebih maksimal.

Satu minggu telah berlalu, tibanya membuka mata Maya yang selesai dioperasi seminggu lalu. Dia di rumah sakit ditemani Doni dan keluarga Maya.

“buka matamu pelan-pelan May”. Kata dokter.

Maya membuka mata pelan-pelan setelah balutan perban dilepasnya.

“dokter sedikit buram pengelihatanku”. Kata Maya.
“coba kedipkan matamu pelan-pelan”.

Setelah Maya mengedipkan matanya berkali-kali mata Maya akhirnya dapat melihat dengan jelas.

“mama Maya bisa melihat”. Dengan senang Maya memeluk ibunya yang di sampingnya.
“ini pasti Doni ya, mama dimana Meisa sahabat karibku?”. Kata Maya sambil memanggil nama Meisa.
“malam ini kamu ditunggu dia di alun-alun May, kita kan sudah janji buat nonton kembang api bareng”. Kata Doni sambil tersenyum.
“wah jahat Meisa, masak dia tidak ikut ke rumah sakit sih”.

Malam harinya waktu di alun-alun, hamper kembang api dimulai tapi Meisa belum juga datang, Maya yang hanya ditemani Doni dan keluarga Maya yang di sampingnya.

“Meisa lama banget Don”. Grutu Maya.

Akhirnya pesta kembang api pun dimulai, bertaburan kembang api yang banyak dan indah di langit, tapi Maya tampak gelisah karena sahabatnya telat datang menemaninya.

“kamu bohong Don, hampir setengah kembang api dinyalakan, tapi Meisa belum juga datang, coba kamu telepon dia Don”. Kata Maya.
“kamu lihat bintang yang paling cerah itu May yang berada di langit, itu adalah Meisa, dari tadi kita bersama Meisa, hanya dia berada di langit dan kita berada di bumi”. Jawab Doni.

Maya masih tidak paham dengan ungkapan-ungkapan yang dibicarakan Doni, setelah itu Doni menceritakan semua kejadian yang dialami Meisa waktu dia hendak ke rumah sakit untuk menemani Maya cek up donor mata.

“ternyata ini… mata Meisa? Tidaaaak”. Kata Maya sambil menangis.

Malam itu pun cepat-cepat Maya suruh mengantarkan Doni dan keluarga Maya untuk ke makam Meisa.

“Sasa kamu sahabatku, sahabat yang sangat baik, tak ada satu pun orang yang mau berkorban sebesar sampai seperti ini, terima kasih buat hadiah yang kamu berikan ke aku Sa, kembang api yang kamu janjikan ke aku sagatlah indah, aku janji aku tak akan melupakanmu Sa, aku janji akan menjaga mata kamu baik-baik Sa”. Tangis Maya di atas makam Meisa.

Cerpen Karangan: Aris Munandar
Facebook: Tiramitshu Thaiank Bunda
TTL: Demak, 20 Juni 1990

Cerpen Kembang Api Buat Maya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tunggu Aku Kembali

Oleh:
Khoirotunnisa adalah temanku teman yang baik dan cantik tentunya. Dia adalah salah satu orang yang sangat pengertian padaku tapi di sisi lain dia tidak begitu care terhadapku karena yang

Aku, Sahabatku dan Pacarku

Oleh:
“Tutt… tuttt” nada sms dari ponsel Raya membuyarkan konsentrasinya. Dia pun segera mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya. “kamu dimana, Ray?” pesan singkat dari Doni, teman satu kampus

Kuingin Sebebas Kupu Kupu (Part 1)

Oleh:
Terik mentari menyinari hari. Beberapa ekor kupu-kupu berterbangan mencari madu. Hinggap pada setiap bunga yang dilewatinya. Bebas melayang bagaikan tanpa beban sedikitpun. Samar-samar terdengar nada indah mengalun lembut. Alunan

Kau Tetap Sahabatku

Oleh:
Persahabatan itu memang indah, siapa pun ingin memiliki sahabat yang selalu mengerti dan memahami perasaan sahabatnya, rela berkorban dan selalu ada dalam suka dan duka. Pagi ini aku merasa

Cinta Untuk Feril

Oleh:
Mata sipit Feril sejenak melirik ke arah dinding di kamarnya yang telah menunjukkan pukul 06.00 tepat. Sekejap Feril langsung bangun dari tempat tidurnya loncat kesana kemari menyiapkan keperluan untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *